Pascasarjana News, Semarang, 28 Agustus 2026 — Direktur Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, Prof. Dr. Muhyar Fanani, M.Ag., mengajak mahasiswa baru membangun karakter sebagai ilmuwan yang mampu berpikir kritis, terbuka, eksploratif, dan bertanggung jawab di tengah perkembangan Artificial Intelligence (AI).

Prof. Muhyar mengajak mahasiswa belajar dari tradisi intelektual Ibnu Rusyd, terutama mengenai tingkatan kemampuan berpikir manusia. Mengacu pada pemikiran Ibnu Rusyd, kemampuan berpikir dapat dilihat melalui tingkatan retorik (khatabi), dialektik (jadal), hingga demonstratif (burhani).

Mahasiswa Pascasarjana didorong untuk bergerak melampaui kemampuan berbicara tentang persoalan menuju kemampuan menganalisis, membuktikan, dan mempertanggungjawabkan pengetahuan secara akademik.

“Seorang mahasiswa Pascasarjana tidak cukup hanya mengatakan ‘saya tahu’, tetapi harus mampu menjelaskan mengapa saya tahu, bahkan mampu membuktikan dan mempertanggungjawabkan apa yang diketahui,” tegasnya.

Lima Karakter Ilmuwan

Prof. Muhyar menegaskan bahwa gelar akademik saja tidak cukup untuk menjadikan seseorang sebagai ilmuwan. Diperlukan karakter yang mendukung proses pencarian dan pengembangan ilmu.

Lima karakter yang ditekankan meliputi curiosity, openness, eksploratif, kritis, dan tentatif.

Curiosity berarti memiliki rasa ingin tahu yang kuat dan tidak berhenti bertanya. Openness berarti terbuka terhadap gagasan dan perspektif yang berbeda. Sementara sikap eksploratif mendorong mahasiswa berani mencoba teori, metode, pendekatan, dan teknologi baru dalam penelitian.

Adapun sikap kritis menjadi semakin penting di tengah banjir informasi dan perkembangan AI. Mahasiswa tidak boleh menerima informasi begitu saja, termasuk jawaban yang dihasilkan oleh AI.

AI sebagai Alat, Bukan Pengganti Nalar

Prof. Muhyar mengingatkan mahasiswa agar menggunakan AI secara bijak dan tetap mempertahankan kemandirian berpikir. Setiap informasi yang dihasilkan AI perlu diverifikasi melalui sumber yang kredibel serta diuji argumentasi dan kebenarannya.

“Critical thinking adalah DNA mahasiswa Pascasarjana,” ujarnya.

Mahasiswa juga perlu memiliki sikap tentatif, yaitu menyadari bahwa pengetahuan akademik selalu terbuka terhadap koreksi dan penyempurnaan. Kebenaran ilmiah harus dibangun melalui bukti dan argumentasi, sekaligus terbuka terhadap temuan baru yang lebih kuat.

Karena itu, AI hendaknya ditempatkan sebagai alat bantu, bukan pengganti kreativitas, nalar, dan tanggung jawab ilmiah mahasiswa.

Membangun Tradisi Ilmiah di Era Digital

Melalui materi tersebut, Prof. Muhyar mengajak mahasiswa baru menjadikan Pascasarjana sebagai ruang untuk membangun tradisi berpikir yang lebih mendalam dan mandiri.

Mahasiswa tidak hanya dituntut mampu menyelesaikan tugas akademik, tetapi juga mampu membangun gagasan, argumentasi, dan karya ilmiah secara bertanggung jawab.

Di tengah perkembangan AI yang semakin pesat, kemampuan manusia untuk bertanya, berpikir kritis, memverifikasi, dan mempertanggungjawabkan pengetahuan justru menjadi semakin penting.

Dengan demikian, mahasiswa Pascasarjana diharapkan mampu memanfaatkan AI secara produktif dan etis, tanpa kehilangan integritas akademik, kemandirian berpikir, dan karakter sebagai ilmuwan.

(Wd, 28/08/2026)

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *