Pascasarjana News, Semarang, 10 Agustus 2026 — Guru Besar dan akademisi bidang studi agama serta hubungan antaragama, Prof. Sumanto Al Qurtuby, M.A., Ph.D., menyampaikan orasi ilmiah dalam kegiatan International Seminar on Indonesian Islam and Global Affairs dengan tema pembahasan mengenai “Indonesia dan Konflik Timur Tengah dalam Perspektif Global Affairs”.
Dalam paparannya, Prof. Sumanto menegaskan bahwa memahami konflik Timur Tengah membutuhkan pendekatan yang komprehensif dan tidak dapat disederhanakan hanya sebagai persoalan agama. Menurutnya, berbagai konflik yang terjadi di kawasan Timur Tengah memiliki akar persoalan yang sangat kompleks, meliputi aspek politik, geopolitik, sejarah, ekonomi, etnis, migrasi, serta kepentingan internasional.
Ia menjelaskan bahwa masyarakat Indonesia sering kali melihat konflik Timur Tengah melalui perspektif agama semata. Berbagai isu seperti konflik Palestina-Israel, konflik sektarian, maupun persoalan politik kawasan sering dikaitkan langsung dengan dimensi keagamaan. Padahal, realitas konflik di Timur Tengah jauh lebih luas dan melibatkan banyak faktor yang saling berkelindan.
“Konflik Timur Tengah sangat problematik dan kompleks. Tidak mudah menjelaskan konflik di kawasan tersebut hanya dari satu sudut pandang, terutama hanya melalui pendekatan agama,” ujar Prof. Sumanto dalam orasinya.
Menurutnya, pemahaman yang lebih mendalam mengenai Timur Tengah harus dimulai dengan melihat karakter kawasan tersebut secara utuh. Timur Tengah, kata dia, bukan hanya identik dengan bangsa Arab, tetapi merupakan wilayah yang dihuni oleh berbagai kelompok etnis dan komunitas dengan latar belakang sejarah yang beragam.
Prof. Sumanto menjelaskan bahwa kawasan Timur Tengah dan Afrika Utara yang dikenal dengan istilah MENA (Middle East and North Africa) memiliki dinamika konflik yang sangat beragam. Setiap negara memiliki karakter persoalan masing-masing, seperti Irak, Yaman, Suriah, Lebanon, Bahrain, Arab Saudi, hingga negara-negara Afrika Utara.
“Konflik di Irak berbeda dengan konflik di Yaman. Konflik di Suriah berbeda dengan konflik di Bahrain atau Lebanon. Masing-masing memiliki dinamika geopolitik dan sejarah yang berbeda,” jelasnya.
Dalam orasinya, Prof. Sumanto juga menyoroti pentingnya memahami keberagaman etnis di kawasan Timur Tengah. Menurutnya, Timur Tengah tidak hanya dihuni oleh bangsa Arab, tetapi juga berbagai kelompok non-Arab seperti Persia, Turki, Kurdi, Yahudi, Azeri, Assyria, Baluchi, dan kelompok etnis lainnya.
Ia menegaskan bahwa sejarah kawasan Timur Tengah menunjukkan adanya keberagaman masyarakat jauh sebelum proses ekspansi bangsa Arab berlangsung secara luas. Karena itu, memahami Timur Tengah harus dilakukan dengan melihat keragaman identitas yang membentuk kawasan tersebut.
Selain faktor etnis, Prof. Sumanto juga membahas peran besar migrasi dalam struktur sosial Timur Tengah modern. Negara-negara kawasan Teluk, seperti Arab Saudi, Qatar, Uni Emirat Arab, Kuwait, Bahrain, dan Oman, memiliki jumlah penduduk migran yang sangat besar.
Menurutnya, kelompok migran dari India, Pakistan, dan Bangladesh memiliki kontribusi besar dalam kehidupan sosial dan ekonomi kawasan tersebut. Selain itu, komunitas migran dari Filipina juga memiliki peran penting, termasuk dalam membentuk komunitas keagamaan dan sosial di sejumlah negara Timur Tengah.
“Timur Tengah adalah kawasan yang sangat dinamis. Tidak hanya terdiri dari masyarakat Arab, tetapi juga menjadi ruang perjumpaan berbagai etnis, budaya, agama, dan komunitas migran dari berbagai negara,” ungkapnya.
Melalui orasi ilmiah tersebut, Prof. Sumanto mengajak para akademisi dan peserta seminar untuk melihat konflik Timur Tengah secara lebih objektif, kritis, dan multidimensional. Menurutnya, kajian akademik memiliki peran penting dalam menghindari penyederhanaan isu serta membangun pemahaman yang lebih adil terhadap berbagai persoalan global.
