Semarang, Pascasarjana News. Minggu 12 Juli 2026 berlangsung Gala Dinner yang diselenggarakan oleh Pemrov Jawa Tengah dalam rangka menyambut tim asesor internasional ACQUIN di UIN Walisongo Semarang.
Gala Dinner yang dihadiri oleh sekitar 40 tamu undangan ini berlangsung penuh keakraban dan kehangatan.
Dalam sambutannya rektor UIN Walisongo Prof Dr Musahadi, M.Ag menyampaikan bahwa proses akreditasi internasional bukan sekadar penilaian terhadap standar akademik, tetapi merupakan komitmen bersama untuk membangun budaya mutu yang berkelanjutan di perguruan tinggi.
Selanjutnya, perwakilan ACQUIN (Accreditation, Certification and Quality Assurance Institute), Robert Raback menyampaikan bahwa mutu (quality) merupakan nilai universal yang menyatukan program studi, perguruan tinggi, dan berbagai negara. Oleh karena itu, proses akreditasi hendaknya tidak dipandang semata-mata sebagai prosedur administratif, melainkan sebagai momentum untuk memperkuat budaya mutu dan mendorong perbaikan berkelanjutan.
“Mutu adalah unsur yang menyatukan seluruh aktivitas akademik kita, melintasi program studi, universitas, bahkan negara. Akreditasi bukan hanya tentang pemenuhan standar, tetapi tentang membangun budaya mutu dalam institusi dan dalam diri setiap insan akademik,” ungkapnya.
Menurutnya, budaya mutu tidak hanya tercermin dalam kebijakan kelembagaan, tetapi juga dalam komitmen seluruh sivitas akademika, mulai dari dosen, tenaga kependidikan, mahasiswa, hingga pimpinan universitas. Setiap program studi diharapkan mampu mengembangkan pemahaman mengenai mutu sesuai dengan karakteristiknya masing-masing, tanpa mengabaikan standar internasional yang menjadi acuan bersama.
Ia juga menekankan bahwa internasionalisasi harus dipahami sebagai proses pembelajaran bersama. Meskipun negara-negara di Eropa memiliki keunggulan dan tantangan masing-masing dalam sistem pendidikan tinggi, kemajuan justru lahir melalui kemitraan, saling belajar, dan keterbukaan untuk terus berkembang.
Dalam kesempatan tersebut, ACQUIN menyoroti pentingnya memperkuat kerja sama antara perguruan tinggi di Indonesia dengan mitra-mitra di Eropa, khususnya Jerman, dalam bidang pendidikan, penelitian, inovasi, serta pengembangan kelembagaan.
“Kolaborasi bukan hanya berkaitan dengan kepentingan akademik atau ekonomi, tetapi juga membangun hubungan jangka panjang antara universitas, industri, pemerintah, dan masyarakat untuk menghasilkan manfaat yang lebih luas,” jelasnya.
Menutup sambutannya, Raback mengajak seluruh peserta visitasi untuk memanfaatkan proses akreditasi sebagai kesempatan mengenali kekuatan institusi, berbagi praktik baik, serta menyusun langkah-langkah peningkatan mutu secara berkelanjutan.
Ia berharap visitasi akreditasi internasional ini tidak hanya menghasilkan pengakuan terhadap kualitas akademik, tetapi juga memperkuat jejaring kerja sama internasional serta mendukung agenda internasionalisasi UIN Walisongo Semarang di masa mendatang.
“Mari kita menjadikan proses ini sebagai kesempatan untuk terus bertumbuh, belajar bersama, dan memperkuat komitmen menuju keunggulan akademik yang berkelanjutan,” tutupnya.
Visitasi akreditasi internasional ini menjadi salah satu tonggak penting dalam perjalanan UIN Walisongo Semarang untuk meningkatkan kualitas pendidikan tinggi, memperluas jejaring global, serta mempertegas komitmennya dalam menghadirkan pendidikan tinggi yang unggul, bereputasi internasional, dan mampu memberikan kontribusi nyata bagi pembangunan masyarakat melalui kolaborasi global (Wd/12/07/26).


