Di kalangan masyarakat ilmiah, dikenal perbedaan yang nyata antara mitos dan logos. Mitos adalah sesuatu yang diyakini benar walaupun tidak bisa dibuktikan benar. Sementara logos adalah sesuatu yang baru diyakini benar setelah bisa dibuktikan benar. Manusia, kapanpun dan dimanapun, akan selalu tergoda untuk cepat mempercayai mitos karena lebih mudah dan tidak memerlukan pikiran untuk mencernanya. Manusia akan sedikit enggan untuk mempercayai logos, apalagi ia tidak suka menggunakan pikirannya. Bagaimana mestinya umat Islam menyikapi mitos, baik mitos zaman klasik maupun mitos zaman modern seperti sekarang?
Itulah yang dikaji oleh Dr. Muhtarom, M.Ag. dalam disertasinya yang berjudul: “Demitologisasi Al-Qur’an: Kritik terhadap Mitos Masyarakat Arab Era Pewahyuan” yang berhasil dipertahankannya dalam ujian terbuka disertasi di Pascasarjana UIN Walisongo pada Senin, 20 April, 2026. Ujian diketuai oleh Rektor UIN Walisongo, Prof. Dr. Musahadi, M.Ag, Dr. Nasihun Amin, M.Ag. (sekretaris), Prof. Dr. Suparman Syukur, M.A. (promotor), Prof. Dr. Moh. Nor Ichwan, M.Ag. (co-promotor), dan Prof. Dr. Abdul Mustaqim, M.Ag., Prof. Dr, Yuyun Affandi, M.A., Sukendar, M.A., Ph.D, Dr. Mudhir, M.Ag. selaku anggota penguji.
Lebih jauh menurut Dr. Muhtarom, M.Ag., demitologisasi al-Qur’an tidak sekadar membersihkan akidah, tetapi menjadi landasan bagi pembentukan identitas, praktik ibadah, dan sistem nilai Islam yang berpusat pada Tuhan dan bertanggung jawab. Melalui disertasinya, Dr. Muhtarom, M.Ag. mengkaji proses demitologisasi al-Qur’an terhadap mitos-mitos yang berkembang dalam masyarakat Arab pada era pewahyuan al-Qur’an, baik di kalangan masyarakat pagan Makkah maupun Ahli Kitab di Madinah. Kuatnya peran mitos dalam membentuk sistem kepercayaan, nilai, dan praktik keagamaan masyarakat Arab pada era pewahyuan al-Qur’an mendapat kritikan dan penolakan oleh al-Qur’an. Ini menimbulkan beberapa pertanyaan, mengingat mitos memainkan peran penting dalam kehidupan sosial keagamaan masyarakat saat itu: Apa yang mendasari demitologisasi oleh al-Qur’an, bagaimana gaya retorika yang dipakai untuk mendemitologisasi tersebut, apa implikasinya terhadap perubahan pemikiran dan praktik keagamaan masyarakat saat itu, dan sebagainya. Pertanyaan tersebut dicarikan jawabannya melalui penelitian kepustakaan (library research) dengan pendekatan tafsir tematik (tafsīr mauḍū’iy) dan analisis historis-kritis.
Setelah meneliti sekitar tiga tahun, Dr. Muhtarom, M.Ag, berkesimpulan bahwa: Pertama, mitos-mitos yang didemitologi oleh al-Qur’an meliputi mitos tentang Tuhan dan sesembahan, takdir dan keberuntungan, jin setan dan kejahatan, mitos tentang eksklusivitas dan keselamatan serta hak kenabian kaum Ahli Kitab, dan tentang perempuan. Kedua, al-Qur’an secara sistematis melakukan demitologisasi mitos-mitos tersebut, menggantinya dari narasi dan epistemologi yang berpusat pada takhayul, taklid pada nenek moyang, dan kekuatan adikodrati yang tak masuk kepada pemahaman yang berlandaskan tauhid, akal sehat dan tanggung jawab manusia. Ketiga, argumen yang digunakan al-Qur’an dibangun di atas pondasi epistemologi yang berbasis pada: penegasan akan kedaulatan mutlak Allah, pembedaan tegas antara ḥaqq dan bāṭil, serta seruan untuk menggunakan akal dan observasi empiris terhadap fenomena sejarah. Al-Qur’an membongkar landasan mitos yang berbasis pada ẓann, amāniy, dan taklid, lalu menggantinya dengan narasi yang rasional dan tanggung jawab. Adapun gaya retorika yang digunakan berbeda-beda sesuai jenis mitos yang meliputi: konfrontatif-argumentatif, edukatif-normatif, reinterpretaif, dialogis-debat, teologis-historis, dan reformatif-progresif. Keempat, implikasi demitologisasi melahirkan revolusi eksistensial, mengubah masyarakat Arab dari dunia “tertutup” yang dikuasai takhayul menjadi dunia “terbuka” yang rasional dan terpahami[]mf
