Home / KOLOM DIREKTUR / DUGDERAN, WARAK NGENDOK, DAN SYIAR RAMADLAN

DUGDERAN, WARAK NGENDOK, DAN SYIAR RAMADLAN

Assalamualaikum wrwb.

Saudaraku, marilah kita syukuri anugrah dan kasih sayang Allah, hari ini kita sehat afiat, menghirup udara segar gratis, dan dapat melaksanakan aktifitas kita hari ini. Semoga Allah memberkahi umur kita di bulan Sya’ban ini dan diberi kesemapatan untuk menyambut hadirnya bulan suci Ramadhan, bulan penuh berkah, ampunan, dan kasih sayang. Shalawat dan salam mari kita senandungkan mengiringi shalawat Allah dan para malaikat pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan pengikutnya. Semoga segala kesulitan kita jika ada, diberi kemudahan, jalan keluar, dan terselesaikan dengan  baik.

Hari ini, Kamis, 25/5/2017 jam 16.00 digelar kirab budaya “Islam” dugderan, yang dipusatkan di Masjid Agung Jawa Tengah (MAJT). Apa sesungguhnya dugderan dan filosofi atau pesan penting dari makna dugderan bagi masyarakat Jawa Tengah, khususnya Kota Semarang? Dugderan (menurut wikipedia.org) merupakan festival untuk menandai dimulainya ibadah puasa di bulan Ramadlan yang diadakan di Kota Semarang. Perayaan yang telah dimulai sejak masa kolonial ini,  dipusatkan di daerah Simpang Lima. Perayaan dibuka oleh wali kota dan dimeriahkan oleh sejumlah mercon dan kembang api (nama “dugderan” merupakan onomatope dari suara letusan). Sejak ada MAJT, rute perjalanan menuju ke MAJT, dan di sanalah ada upacara pelaksanaan Prosesi Dugderan tingkat Provinsi Jawa Tengah.

Dalam prosesi dugderan, diawali dengan ucapan selamat datang oleh Pengageng MAJT, laporan Kanjeng Bupati Raden Mas Tumenggung Aryo Purboningrat (Walikota Semarang) dilanjutkan Penyerahan Suhuf Halaqah kepada Kanjeng Raden Mas Haryo Probo Kusumo (Gubernur Jawa Tengah). Kanjeng Raden Mas Haryo Probokusumo (Gubernur Jawa Tengah) menyampaikan sambutan, dilanjutkan pengumuman Suhuf Halaqah – yang isinya adalah tentang pengumuman mulainya dilaksanakan ibadah puasa di bulan Ramadhan hasil halaqah para Ulama – dilanjutkan dengan pemukulan Bedhug , diakhiri dengan doa.

Saudaraku, Kirab budaya ini dimulai di halaman balaikota Semarang Jawa Tengah. Kirab diikuti oleh peserta dari berbagai kalangan, sekolah, organisasi masyarakat dan lain-lain. Tak ketinggalan pula dari kami Paguyuban Tri Tunggal Semarang. Paguyuban Tri Tunggal Semarang mendapatkan undangan resmi dari Dinas Pariwisata Kota Semarang. Kirab budaya ini juga diselenggarakan di beberapa daerah, di Kudus namanya Dhandhangan, di Demak disebut Megengan, dan di Jepara dikenal dengan Baratan (ibid.).

Apabila kita cermati, dugderan, dhandhangan, megengan, dan baratan, adalah kirab budaya yang merupakan kreasi para leluhur, untuk mengolaborasikan antara pesan sakral keagamaan, berupa akan hadirnya bulan suci Ramadhan dengan tradisi dan kearifan lokal. Di sinilah kepiawaian para Ulama dan Para Pejabat (Pengageng) waktu itu, dan ini menunjukkan bahwa antara lama dan Umara, memang harus menyatu, kompak, dan guyub rukun dalam upaya mengemban amanat yang sama, mencerdaskan bangsa, baik spiritual, emosional, dan tentu intelektual.  Alhamdulillah tradisi yang baik atau “sunnah hasanah” atau “bid’ah hasanah” ini masih terus dirawat, diuri-uri, dan diteruskan sebagai “warisan budaya dan kearifan lokal spiritual” yang  memberikan makna positif kepada masyarakat, yang makin hari makin “sempoyongan” akibat serbuan budaya sekuler barat yang hedonis, materialis, dan konsumeristik.

Rasulullah saw mengingatkan kepada kita, “Dua kelompok manusia, apabila keduanya baik, maka masyarakat akan baik, dan apabila keduanya rusak, maka masyarakat pun akan rusak”, yakni Ulama dan mara’. Dalam riwayat yang lain disebut “Fuqaha’ dan Umara’” (Riwayat Abu Naim dari Ibnu Abbas).  Saudaraku, tugas Ulama adalah sebagai ahli waris para Nabi, yang memiliki tugas profetik yaitu menjaga urusan agama dan mengatur urusan dunia. Urusan agama, menjadi tugas para Ulama, dan urusan dunia, ekonomi, politik, social, dan budyaa, menjadi tugas pemerintah, agar masyarakat terpenuhi kebutuhannya, hidup nyaman, tenteram, dan bahagia. Tugas utama pemerintah atau umara’, adalah menjalankan amanat dari rakyatnya dan menjalankan hukum secara adil. Dengan keadilan inilah maka masyarakat merasa aman dan nyaman. Karena wanti-wanti Rasulullah saw, apabila tidak ada keadilan Umara’, maka sungguh manusia akan saling memangsa. Dan ini akan memantik terjadinya koflik sosial terbuka, Na’udzu biLlah. Kita semua berharap bangsa besar ini selalu dalam keadaan aman, terkendali, dan makin menyatu di dalam keragaman,  Ika di dalam ke-Bhinnekaan.

Karena itulah, dikembangkan symbol warak ngendok. Warak ngendok (bahasa Indonesia: warak bertelur) adalah mainan yang selalu dikaitkan dengan perayaan Dugderan, suatu festival rakyat di Kota SemarangJawa Tengah yang diadakan di awal bulan Ramadlan untuk menyambut, memeriahkan, sekaligus sebagai upaya dakwah. Kata “warak” sendiri (menurut wikipedia.org) berasal dari bahasa arab, “wara’a” bentuk ajektifnya wira’i yang berarti suci atau terhindari dosa kecil dan dosa besar. Orang yang wira’i harus menjauhi perbuatan yang makruh (dilakukan tidak berdosa, tetapi ditinggalkan mendapat pahala). Dari pola hidup wira’i inilah, seseorang dilambangkan ngendok (bertelur) sebagai hasil pahala yang didapat seseorang setelah sebelumnya menjalani proses suci. Secara harfiah, warak ngendog dapat diartikan: siapa saja yang menjaga kesucian di bulan Ramadan, kelak di akhir bulan akan menerima pahala di hari lebaran (ibid.).

Saudaraku, syiar Ramadlan memang benar-benar luar biasa. Semua pihak dari yang pejabat, para Ulama, para pedagang, bahkan semua lapisan masyarakat, dapat dipastikan akan berlimpah keberkahan. Bahkan termasuk yang tidak beragama Islam pun, ikut merasakan dan menikmati keberkahan. Konsumsi masyarakat yang seharusnya terjadi efisiensi, namun yang terjadi sebaliknya. Maka harga-harga sembako dan barang konsumsi lainya, sudah merangkak naik, dan ini tentu perlu upaya serius pengawalan oleh pemerintah, agar laju inflasi bias dikendalikan. Para ulama yang pada tanggal 23/5/2017 sudah dilatih di Bank Indonesia, diharapkan dapat ikut memberikan pencerahan kepada masyarakat, agar jika belanja tidak berburu keinginan, akan tetapi sesuai kebutuhan. Karena jika tidak terkendalikan, maka harga-harga barang akan melaju kencang dan inflasi menjadi tidak mudah dikendalikan. Ujung-ujungnya, para spekulan dan “para penimbun barang” yang akhirnya diuntungkan.

Semoga, Allah memberkahi kita semua, diberi kekuatan dan keringanan di dalam menjalankan ibadah puasa secara khusyu’, ikhlas, dan mampu memuasakan fisik jasmani, indra, dan ruh kita, dan kita dimasukkan ke dalam golongan hamba-hamba Allah yang pandai bersyukur, makin berkualitas iman dan taqwa kita, dan tambahan perbekalan kita menuju perjalanan dalam keabadian semakin banyak. Mari kita uri-uri tradisi budaya kolaborasi pesan Ramadhan dan manusia suci (ala warak ngendog) dalam ikhtiar menjaga al-Islam shalihun li kulli zaman wa makan.  Artinya “Islam itu selaras dengan ruang dan waktu”. Kita jaga nilai lama yang aik, dan kita ambil nilai baru yang lebih baik.

       Allah Rabbuna wa al-Musta’an, in uridu illa al-ishlah ma istatha’tu wa ma taufiqi illa biLlah, Allah a’lam bi sh-shawab. HasbunaLlah wa ni’ma l-wakil ni’ma l-maula wa ni’ma n-nashir. Marhaban ya Ramadhan, Selamat menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadhan, insya Allah kita akan mengakhiri menjadi hamba-hamba Allah yang fitrah dan suci, karena telah disiram oleh penyejuk pengamampunan Allah ‘Azza wa Jalla.

Wasaalamualaikum wrwb.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*