Home / KOLOM DIREKTUR / KALA BERAGAMA LAKSANA GENGGAM BARA

KALA BERAGAMA LAKSANA GENGGAM BARA

Assalamualaikum wrwb.
      Saudaraku, mari kita tidak henti-hentinya mensyukuri anugrah dan kasih sayang Allah yang kita terima. Semoga dengan kita bersyukur, Allah akan menambah kenikmatan-Nya pada kita. Shalawat dan salam semoga tercurah pada Rasulullah saw, keluarga, para sahabat, dan pengikutnya. Semoga syafaat beliau kelak akan memayungi kita di akhirat kelak, dan hati kita makin mencintai beliau.
      Indonesia merupakan negara yang mayoritas warganya memeluk agama Islam. Bahkan merupakan negara yang penduduk muslimnya terbesar di dunia. Pada masa kerajaan Islam di nusantara sebelum kemerdekaan, Islam yang semula dibawa oleh para pedagang, Islam diterima secara menyeluruh dan merupakan panduan hidup (Islam is way of life) untuk meraih kebahagiaan hidup dunia akhirat. Di Aceh misalnya, dan di Jawa masa pemerintahan Sultan Agung hukum Islam telah diberlakukan secara menyeluruh. Di Wajo misalnya, hukum waris menggunakan hukum Islam dan hukum adat. Keduanya menyatu, dan hukum adat menyesuaikan diri kepada hukum Islam. Sultan Agung pun menyebut dirinya sebagai Abdul Rahman Khalifatullah Sayyidin Panatagama.
       Keadaan demikianlah yang oleh Van den Berg disebutnya dengan teori Receptie in Complexu. Artinya hukum Islam diterima secara menyeluruh. Kita dapat mencatat Statuta Batavia 1642 bahwa sengketa warisan antara orang Islam diselesaikan menurut hukum Islam yang sudah digunakan dalam kehidupan sehari-hari. DW Freijer menyusun Compendium sebagai buku panduan tentang hukum perkawinan dan kewarisan Islam. BJD Clootwijk menyusun Pepakem Cirebon dan Muharrar (Mogharrair) untuk Sulawesi Selatan. Nuruddin ar-Raniry menulis Shirat al-Mustaqim 1628, dan digunakan sebagai pegangan umat Islam di seluruh nusantara. Syeikh Arsyad al-Banjari menulis Syarah dari Shirat al-Mustaqim dengan judul Sabil al-Muhtadin yang menjadi panduan di Kesultanan Banjar (Surjaman, 1991:72).
     Sejak 1882 melalui Staatblad No 152/1882 Belanda mulai melakukan pengawasan terhadap jalannya hukum Islam. C van Vollenhoven (1874-1933) dan C Snouck Hurgronje (1857-1936) membuat teori baru Receptie. Intinya, hukum yang berlaku bagi orang Islam adalah hukum adat mereka masing-masing. Hukum Islam dapat diterima sepanjang diterima oleh hukum adat. Hukum adatlah yang menentukan ada tidaknya hukum Islam. Karena itu teori Receptie ini oleh Hazairin disebut sebagai teori iblis.
      Saudaraku, boleh jadi berawal dari “intervensi” Snouck Hurgronje ini, ketakutan terhadap Islam berkembang dan berkepanjangan. Tampaknya hingga sekarang pun Hurgronje-nian ini masih banyak dan bahkan makin bertambah. Dari sini tampaknya berkembang ke arah Islamophobia. Bahkan sekarang ini, fenomena Islamophobia sudah mendunia. Beberapa waktu lalu, ketika saya mendapat kehormatan menjadi salah satu narasumber dalam seminar internasional tentang Islam dan Tantangan Kontemporer di Amman Yordania 27-29/4/2017  Islamophobia ini menjadi salah satu isu global yang dilancarkan oleh beberapa negara besar dunia. Sampai-sampai negeri paman yang katanya campoin demokrasi, “harus” membuat “alibi” dengan membentuk ISIS (Islamic State for Irak and Syria) yang “ditugasi” untuk membentuk negara Islam atau daulah Islamiyah di Irak dan Syiria sebagai markasnya, dan melakukan ekspansi ke seluruh dunia. Tujuannya, melalui kekerasan, kebiadaban, pembunuhan, dan segala bentuk kejahatan lainnya, asalah untuk “merusak dari dalam terhadap ajaran dan eksistensi Islam, yang isinya kedamaian, keselamatan, dan kemanusiaan yang rahmatan lil alamin.
    Islam tidak pernah mengajarkan kekerasan dan pemaksaan untuk memeluk agama. Islam mengajarkan kasih sayang, kelembutan, persaudaraan, persamaan, saling menghormati, saling menyayangi, saling tolong menolong, dan mengedepankan keadilan. Kepentingan politik atau kekuasaan, yang kemudian tidak jarang berusaha merusak citra dan nilai Islam, seperti yang dilakukan oleh ISIS yang menebar kekerasan, tidak berprikemanusiaan, dan jauh dari nilai dan substansi ajaran Islam.
      Saudaraku, berpegang teguh pada ajaran Nabi saw saat ini sungguh amat berat, laksana menggenggam bara api.
Riwayat dari sahabat Anas bin Malik ra, Rasulullah saw bersabda:
يَأْتِى عَلَى النَّاسِ زَمَانٌ الصَّابِرُ فِيهِمْ عَلَى دِينِهِ كَالْقَابِضِ عَلَى الْجَمْرِ
“Akan datang pada manusia suatu zaman, orang yang berpegang teguh pada agamanya seperti halnya orang yang menggenggam bara api.” (HR. Tirmidzi no. 2260. Al Hafizh Abu Thohir mengatakan, hadits ini hasan).
      Dalam Kitab Tuhfatul Ahwadzi dijelaskan bahwa pada zaman tersebut, orang yang berpegang teguh pada agamanya, hingga meninggalkan dunianya, ujian dan kesabarannya begitu berat. Ibaratnya seperti seseorang yang menggenggam bara api. Orang yang tidak mampu menggenggam bara api, tangannya bisa terbakar. Orang yang iman dan Islamnya tidak kuat, lantaran makin merajalelanya kemaksiatan di sekelilingnya, pelaku maksiat pun begitu banyak dan terang-terangan, kebenaran menjadi terpinggirkan bahkan disalahkan, kebohongan karena masih seolah-olah menjadi kebenaran, kefasikan pun semakin tersebar luas secara sistematis, dan orang melakukan ajaran agamanya tersudutkan.
        Karena itulah, kita perlu melakukan usaha, ikhtiar, untuk dapat memahami, menghayati, dan mangamalkan ajaran agama kita, seperti yang Rasulullah saw ajarkan dan tuntunkan pada kita. Pada saat Rasulullah saw melaksanakan dakwah juga mengalami kesulitan yang jauh lebih berat dari pada sekarang. Karena itu, beliau wanti-wanti kepada kita agar kita memiliki kesiapan dan kesabaran yang ekstra, agar kita tetap konsisten dan komitmen, syukur bisa hidup istiqamah.
        Seseorang tidaklah mungkin mampu menggenggam bara api, kecuali dia memiliki kesabaran ekstra dan kekuatan iman yang luar biasa. Apapun risiko yang harus kita hadapi dan tanggung, urusan agama dan beragama, wajib dijaga dan dipertahankan, karena beragama adalah hak yang paling asasi dalam kehidupan manusia, yang tidak boleh diganggu-ganggu oleh siapapun.
Marilah kita cermati penegasan Allah berikut.
إِنَّ الَّذِينَ قَالُوا رَبُّنَا اللهُ ثُمَّ اسْتَقَامُوا تَتَنَزَّلُ عَلَيْهِمُ الْمَلَائِكَةُ أَلَّا تَخَافُوا وَلَا تَحْزَنُوا وَأَبْشِرُوا بِالْجَنَّةِ الَّتِي كُنتُمْ تُوعَدُونَ. فصلت ٣٠
Sesungguhnya orang-orang yang mengatakan: “Tuhan kami adalah Allah” kemudian mereka meneguhkan pendirian mereka, maka malaikat akan turun kepada mereka dengan mengatakan: “Janganlah kamu takut dan janganlahmerasa sedih; dan gembirakanlah mereka dengan jannah yangbtelah dijanjikan Allah kepadamu” (QS. Fushshilat:30).
       Semoga kita diberi kekuatan oleh Allah Swt, iman dan taqwa kita makin kuat dan berkualitas, bisa hidup istiqamah, dan saat dipanggil oleh Allah, diberi akhir yang baik dalam keadaan Islam dan husnul khatimah. Amin.
Allah a’lam bi sh-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.

Check Also

MA’HAD ‘ALY TBS: MENYEMAI AHLI FALAK YANG ASTRONOM

Assalamualaikum wrwb. Al-hamdu liLlah wa sy-syukru liLlah. Segala puji dan syukur hanya milik Allah. Marilah kita syukuri anugrah dan pertolongan Allah, hanya karena dengan kasih sayang dan pertolongan Allah kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktivitas kita hari ini. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan pengikut yang setia dan istiqamah meneadani beliau.  Semoga semua urusan kita diberi kemudahan oleh Allah dan kelak di akhirat kita mendapat syafaat beliau. Saudaraku, kemarin Sabtu, 20 Rajab 1439 H bertepatan dengan 7/4/2018 M saya mendapat kehormatan untuk ikut menyaksikan peyerahan Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Islam, oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, tentang persetujuan Pesantren TBS (Tasywiquth Thullab Salafiyah) sebagai penyelenggara Program Pendidikan Ma’had ‘Aly. Nama TBS – memang unik – karena kepanjangannya “tidak simetris” karena T diambil dari huruf “ta” dari kata “tasywiq” dan B diambil huruf terakhir kata “thullab” bentuk jama’ dari kata “thalib” yang artinya murid, siswa, atau peserta didik dalam bahasa sekarang. Seingat saya, saat saya masih menjadi “santri” huruf S itu singkatan dari kata “school” yang artinya sekolah atau madrasah. Dalam perjalanannya, huruf S ini diambil dari huruf “sin” dari kata salafiyah, yang artinya madrasah. Kata “Tasywiqu th-Thullab Salafiyah” artinya “Bronto – atau intellectual curiousity– nya Santri yang berpendidikan Salafiyah”. Salafiyah juga dalam penggunaan keseharian berbeda dengan “Salafi”.  TBS merancang dan mengelola pendidikan meskipun pada dasarnya adalah madrasah formal atau klasikal, namun desain kurikulum dan tata kelolanya, mengikuti model pondok pesantren. Saya sendiri, belajar di TBS ini selama “tujuh” tahun dengan sistem dan model yang unik juga. Setelah lulus SD dan MI di Kampung, didaftarkan di TBS. Test kemampuan dimulai dengan materi test kelas empat  MI, hari itu juga diumumkan. Besok paginya, test kemampuan untuk kelas lima, siangnya langsung diumumkan. Berarti lolos kelas 5. Besok paginya diikutkan test kemampuan kelas enam, sayang belum beruntung. Akhirnya “harus” mengikuti pelajaran dari kelas lima. Setelah satu semester, dievaluasi, dan ini yang menarik, saya diperintahkan untuk “naik kelas” di pertengahan tahun, ke kelas enam. Pendek cerita, al-hamdu liLlah, saya dinyatakan mampu melewati kelas enam MI TBS dan lulus dengan mendapat peringkat satu. Saya menerima hadiah dan senang sekali, yakni kitab “Riyadlu sh-Shalihin” dan “Sarung” yang hingga kini tidak terlupakan. Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah saya selesaikan secara normal enam tahun. Namanya juga Salafiyah, kurikulumnya, dari MI ilmu nahwunya belajar Ajrumiyah – terkenalnya Jurumiyah  – dan ‘Imrithy. Pada Tsanawiyah imu nahwu sudah harus menghafal nadham “Alfiyah” atau seribu nadham yang ditulis oleh Imam Ibnu Malik. Di Madrasah Aiyah, ilmu nahwu sudah menggunakan Syarah atau Komentar atas Alfiyah Ibn Malik, yaitu Ibnu ‘Aqil. Saya tidak sebutkan semuanya, karena dengan kitab-kitab yang menjadi maraji’ pembelajaran ilmu Nahwu tersebut, sudah terbayang model dan sistem pendidikannya, dan seperti apa lulusannya.  Maaf, ini bukan kalimat “kesombongan” karena insyaa Allah, saya tidak ada potongan “sombong”, apalagi saya sadar ilmu saya sangat tidak seberapa. Saudaraku, Ma’had ‘Aly TBS menurut data Direktorat PD Pontren Kementerian Agama adalah yang ke 27, dan memilih spesialisasi atau takhashshush Ilmu Falak. Maka, selain penyerahan SK, juga digelar Halaqah Falakiyah dengan tagline “Merawat Tradisi Menebar Innovasi”. Selain karena alasan Ilmu Falak selama ini makin “langka” peminatnya. Bahkan Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, sejak ada program Beasiswa 5.000 Doktor di Kementerian Agama, distingsinya adalah menyiapkan Doktor Ilmu Falak. Bahkan di tahun 2017, hanya terisi 7 mahasiswa. Untung saja Pascasarjana UIN Walisongo membuka konsentrasi baru Manajemen Halal dan Hukum Keluarga, jadinya “kuotanya” terpenuhi. Ma’had ‘Aly TBS juga pada saatnya akan menyuplai calon mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo tentu kalau sudah meluluskan. Pada saat saya masih di MTs, TBS sudah mengajarkan ilmu Falak dan di antaranya  mengoperasikan rubu’ mujayyab. Di TBS sangat dikenal KH Turaihan Ajhury asy-Syarafy al-Falaky, ahli falak sangat terkenal di jagad Indonesia, terutama kalender atau almanak Menara Kudus yang khas. Juga ada KH Abdul Jalil, dan masih ada beberapa ahli falak lainnya. Sebagai alumnus TBS, tidak ada kata lain kecuali mengapresiasi dan menyambut positif terselenggaranya Ma’had ‘Aly TBS ini. Kebetulan saya masih diamanati sebagai Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, yang mengelola program doktor ilmu falak, kehadiran Ma’had ‘Aly bisa menjaid mitra. Memang bagi program S1 Ilmu Falak  Fakultas Syariah dan Hukum, bisa saja ditafsiri sebagai “pesaing baru”, apalagi dengan basik yang berbeda. UIN basiknya lebih variatif, sementara di TBS rasanya “wajib” berbasis pesantren. Maka tafsirnya, musti dengan kompromi atau “al-jam’u wa t-taufiq” atau menyatukan dan mengompromikan. Dalam dunia bisnis, suatu “produk” semakin banyak produsen atau yang menjajakan, maka produk tersebut adalah produk yang menjadi kebutuhan penting. Karena itu, tidak perlu ada komentar yang tidak perlu, karena dunia pendidikan apalagi untuk menyiapkan ahli falak di dunia Indonesia ini, masih sangat diperlukan. Kalau ada pertanyaan, apakah setelah ada lulusan Ma’had ‘Aly TBS yang ahli falak rasa astrnom, apakah kemudian tidak ada lagi perbedaan dalam penentuan awal Ramadlan, awal Syawwal, dan awal Dzulhijah? Ini pertanyaan kritis tetapi jawabnya tidak mudah. Karena ini seperti pertanyaan maaf, “apakah tambahnya lulusan akpol, akmil, dan sarjana lainnya, akan berkorelasi menurunkan angka kriminalitas, gerakan separatis, atau problematika sosial lainnya”? Soal penentuan awal bulan Qamariyah, di Indonesia ini, tampak indahnya justru karena ada perbedaan itu. Mengapa, karena “instrumen test” kematangan berdemokrasi dan bertoleransi tampak matang dengan perbedaan itu. Dalam soal ibadah dan internal sesama kaum Muslim saja, bisa berjalan dengan baik, apalagi dengan penganut agama lain. Tentu ini, harus difahami dan dimaknai secara cerdas. Karena meskipun dalilnya sama, Al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan sumber dan rujukan sama, namun metode pemahamannya berbeda, akan menghasilkan rumusan atau formulasi hukum yang berbeda. Apalagi jika sudah ada pertimbangan di luar akademik dan keagamaan, maka tentu akan lebih variatif lagi. MUI sudah mensosialisasikan kaidah yang sangat dikenal, “hukm al-hakim ilzam wa yarfa’u l-khilaf” artinya “putusan hukum pemerintah itu mengikat dan menghilangkan perbedaan pendapat”. Itu teorinya, namun dalam kenyataannya, dengan dalih soal keyakinan karena terkait dengan amaliyah keagamaan, maka pemerintah juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Karena itu, tidak ada pilihan lain, kecuali merawat dan memelihara perbedaan tersebut, agar tetap menjadi rahmat dan kasih sayang. Yang terakhir ini pun, didasari kaidah selain “ikhtilafu ummati rahmah” artinya “perbedaan pedapat ummatku adalah kasih sayang”, juga ada kaidah “man lam yasyumma raihata l-khilaf lam yasyumma raihata l-fiqh” artinya “barang siapa tidak mampu mencium aroma perbedaan pendapat, berarti ia tidak mampu mencium aroma fiqh”. Yang terpenting, bagaimana kita mampu melakukan “literasi” dan mendewasakan umat kita, agar makin terbiasa dan terbudaya dengan perbedaan, sehingga kesimpulannya adalah “sepakat dalam perbedaan” atau “berbeda dengan kesepakatan”. Selamat Ma’had ‘Aly TBS, almamaterku, semoga Allah senantiasa melapangkan jalan “rizqimu” dan menggelar keberkahan padamu, untuk menyiapkan generasi Ahli Falak Rasa Astronom, atau Astronom yang Ahli Agama”. Selamat “merawat tradisi dan menebar innovasi”. Tekadmu dan kerja kerasmu, ditunggu umat. Jadilah yang terbaik dan paling member banyak manfaat. Sudah saatnya dari pondok pesantren, yang akan menjadi leader bangsa ini di masa depan. Allah a’lam bi sh-shawab. Wassalamualaikjm wrwb. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *