Home / KOLOM DIREKTUR / SPIRIT KEBANGSAAN UNTUK PERADABAN DUNIA

SPIRIT KEBANGSAAN UNTUK PERADABAN DUNIA

Assalamualaikum wrwb.
      Saudaraku, mari kita syukuri anugrah Allah SWT yang terus berlimpah untuk kita. Itu kalau kita mau dan mampu mensyukurinya. Jika hati kita sempit, hati dan perasaan kita, tidka sensitif dan tidak mampu mensyukurinya. Shalawat dan salam mari kita terus senandungkan untuk Rasulullah saw, keluarga, dan para sahabat, mengiringi shalawat Allah dan para Malaikat untuk beliau, sayyid al-anbiya’ wa l-mursalin. Semoga syafaat beliau kelak memayungi kita di akhirat.
      Hari ini, Ahad, 14/5/2017 seluruh alumni UIN Walisongo Semarang dari semua angkatan menggelar Reuni Akbar dan mengusung tema besar Meneguhkan Spirit Kebangsaan untuk Peradaban Dunia. Tema tersebut sangat strategis setidaknya menurut hemat saya karena dua alasan, pertama, ini bagjan dari kampanye visi UIN Walisongo yang berbasis pada unity of science untuk peradaban dan kemanusiaan. Kedua, komitmen seluruh alumni UIN Walisongo, yang berbasis pada spirit dan nilai harmoni. Kolaborasi antara agama dan kearifan lokal (local wisdom) sebagaimana diajarkan dan dipraktikkan oleh 9 (sembilan) wali yang dalam bahasa Jawa disebut dengan Walisongo, yang mengedepankan harmoni, dan spirit kebangsaan (nasionalisme) inklusif, untuk membangun peradaban dunia. Peradaban harmoni Indonesia atau ke-Indonesiaan yang mengedepankan semangat kemanusiaan, kebangsaan, yang dibangun di atas fondasi kebhinnekaan atau keragaman, akan memberikan contoh dan teladan, jika mampu dikembangkan, dirawat, dan dikampanyekan, pada saatnya Indonesia akan menjadi icon penting dunia, dan menjadi kiblat peradaban dunia.
       Perjuangan seluruh rakyat Indonesia dari semua komponen bangsa, yang saling bahu membahu, saling asih, asah, dan asuh, penuh persaudaraan, saling menghormati, sampai pada pintu gerbang kemerdekaan. Kemerdekaan adalah hak setiap bangsa, karena penjajahan sangat tidak sesuai dengan prikemanusiaan dan keadilan. Indonesia yang mayoritas beragama Islam, dengan spirit kebangsaannya yang inklusif, telah memberikan rambu dan nilai peradaban dan kemanusiaan, terutama yang dilakukan oleh Walisongo, hingga menjadi model kerukunan dan toleransi keberagamaan yang tidak tertandingi di dunia. Hingga Konghucu yang dari leluhurnya sebenarnya tidak termasuk agama, tetapi lebih menonjol sebagai budaya, diakui secara resmi oleh Negara sebagai agama, padahal warganya tidak mencapai 1% (satu persen).
       Pertanyaannya adalah, mengapa Para Alumni UIN Walisongo mengusung tema besar itu? Saudaraku, belakangan ini kita sama-sama menyaksikan bahwa peradaban dunia, sudah dikuasai oleh “keserakahan dan keangkuhan politik” beberapa gelintir negara. Negara paman yang katanya kampiun demokrasi, belakangan justru mempertontonkan praktik dan langkah politik yang rasis dan hegemonik, dan ini akan memicu instabilitas dunia. Kebijakan ini didukung oleh sekutu paling setianya di kawasan Timur Tengah, yang setiap hari menghabisi saudaranya di kawasan Palestina.
      Alibi yang disiapkan untuk merusak image Islam, dibuatlah ISIS atau Islamic State for Irak and Syria. Daulah Islamiyah atau negara Islam pun, dijadikan isu picisan, tetapi dibalut dengan keserakahan politik untuk menghancurkan dari dalam dan juga dari luar, agar seluruh dunia melihat bahwa praktik Islam ala daulah Islamiyah itu adalah seperti yang dilakukan oleh ISIS yang sama sekali tidak ada nilai dan dasar kemanusiaan sama sekali. Tetapi sebaliknya justru dengan tampilan ISIS itulah, peradaban dunia semakin hancur. Karena mereka ini lebih sadis dari binatang. Binatang membunuh lawannya, begitu mati selesai. Tetapi mereka ini mempertontonkan praktik-praktik genosida di depan kamera dan diunggah ke seluruh dunia.
       Lalu di mana letak visi, misi, dan tujuan Islam yang rahmatan lil ‘alamin ditunjukkan. Lebih dari itu, negara besar yang serakah ingin menguasai ladang minyak, gas, dan sumberdaya alam lainnya, sehingga hampir semua negara di kawasan timur tengah dihabisi secara fisik, semua bangunan bersejarah pun hancur berkeping-keping tata dengan tanah, jutaan nyawa melayang sia-sia, termasuk dari warga sipil, ibu-ibu, dan anak-anak yang tidak berdosa pun menjadi korban. Benar-benar tontonan jahiliyah modern dengan senjata modern dan super canggih. Ini masih ditambah dengan daftar praktik diskriminasi dan genosida warga Muslim Rohingnya oleh para tokoh agama tertentu di Myanmar, dan itu pun dilakukan dengan cara biadab. Rumahnya dan hartanya dibakar, bahkan manusianya pun dibakar hidup-hidup. Ironisnya, aktifis hak asasi manusia baik di tingkat regional maupun internasional, pada diam membisu, tak mampu lagi berkata-kata, karena tampaknya keadilan dan kemanusiaan di dunia, hanya tersisa di rak-rak buku perpustakaan, atau di mimbar-mimbar khutbah di tempat ibadah.
       Saudara kita di Palestina, sudah lebih dari setengah abad berjuang untuk menjadi negara merdeka, berdaulat, dan terbebas dari perang. Akan tetapi semua itu, hanya menjadi mimpi dan daftar ilusi, karena apa daya, badan dunia, PBB atau UNO (United Nations Organisation) tampaknya sudah terkooptasi oleh permainan para paman, dan tidak lagi mampu menjadi pemersatu dan penjaga perdamaian dunia.
      Belakangan ini kita menyaksikan dan merasakan “keserakahan politik dari “oknum” pejabat negara di Uni Eropa dan AS, sudah menampakkan permainan dan “intervensi” kepada para pemimpin negeri ini, terkait dengan vonis dua tahun bagi terdakwa penista agama di Jakarta.
      Saudaraku, acara Reuni Akbar UIN Walisongo hari ini, diharapkan tidak hanya sekedar pertemuan kembali para alumni yang biasanya habis untuk hura-hura, haha hihi, penuh dengan tawa canda, saling bertanya berapa anak dan cucu, masih aktif atau sudah pensiun, sudah punya berapa santri pondok pesantrennya, tetapi steering committe dan organizing committe benar-benar dapat membawa acara akbar dan penting ini untuk mengkampanyekan secara massif, canggih, dan terstruktur akan mulia dan pentingnya Meneguhkan Spirit Kebangsaan untuk Peradaban Dunia, yang nyaris kehilangan kemanusiaannya, karena perdamaian hanya menjadi lipservice diplomatik dari meja perundungan satu ke meja perundingan yang lain, tanpa mampu diwujudkan di dunia nyata.
      Saya menyarankan, Rektor dan Ketua Alumni untuk melakukan beberapa hal: pertama, bentuk komisi kampanye perdamaian dunia dengan spirit kebangsaan. Selain menyiapkan draft deklarasi juga membawa  langsung kepada RI 1, Pemimpin negara-negara yang tergabung dalam ASEAN, dan membawa ke Badan Dunia, yakni PBB atau UNO. Kedua, membentuk semacam badan usaha Keluarga Alumni UIN Walisongo, yang dipimpin oleh beberapa orang yang sudah terbukti sukses. Harapannya, untuk melakukan kegiatan usaha di bidang sosial, pendidikan, ekonomi, dan lain-lain.
Ketiga, membentuk divisi hukum dan advokasi yang diharapkan divisi ini akan menyiapkan draft dan nasah akademik, terkait berbagai bentuk ketidak adilan, dan bahkan belakangan ini ada upaya sistematis menjungkirbalikkan pemahaman demokrasi dan toleransi yang seakan-akan demokrasi dan toleransi hanya bisa diakui ketika kelompok minoritas yang menjadi pemimpin.
      Belakangan ini juga makin kental nuansa dimunculkan kemnaki semacam paerasaan ketakutan terhadap Islam yang dalam bahasa sehari-hari disebut dengan islamophobia. Padahal Islam sebagaimana awal mula diturunkan adalah agama perdamaian, ketertiban, dan kasih sayang bukan hanya bagi umat Islam tetapi untuk seluruh penghuni alam raya ini atau rahmatan lil ‘alamin. Boleh jadi hanya karena model pemahaman monopolistik dan tafsir tunggal sebagian umat Islam, dan menafikan pemahaman orang lain, dan dianggap kafir, didukung dengan penampilan yang keras, lalu melahirkan sikap ketakutan terhadap Islam. Inilah yang disebut dengan “gerakan” Islamophobia.
      Sikap dan prilaku para pemimpin negara dalam mengelola  negara ini jika tidak dilakukan secara adil dan berkeadilan, sesuai dengan rambu hukum, apalagi kemudian aparat penegak hukum tidak lagi independen, imparsial, tetapi sudah berpihak pada kelompok tertentu, juga sangat berpotensi besar melahirkan reaksi dari sebagian masyarakat yang bisa memicu radikalisme dan terorisme. Karena itu, siapapun yang menjadi pemimpin baik negeri kita NKRI maupun negara-negara di dunia ini, jika abai terhadap keadilan dan kesamaan di depan hukum, maka yang terjadi adalah saling memusuhi dan saling menghabisi. Dalam bahasa Rasulullah saw,
لولا عدل الامراء لاكل الناس بعضهم بعضا
“Sekiranya tidak ada keadilan para pemimlin (pejabat) sungguh manusia sebagian akan memakan sebagian lainnya”.
Dan tampaknya fenomena ini sudah dengan kasat mata terlihat. Yang terjadi saling bermusuhan dan pada saatnya akan bisa menjadi konflik horizontal. Begitu pecah secara fisik, maka perang saudara pasti di depan mata. Semoga ini tidak pernah akan terjadi.
       Saudara dan Sahabatku, selamat ber-Reuni Akbar. Semoga reuni kali ini Keluarga Alumni UIN Walisongo mampu Meneguhkan Spirit Kebangsaan (Indonesia) guna Memberikan Kontribusi Nyata bagi Terwujudnya Peradaban Dunia yang Berprikemanusiaan. Semoga misi mulia tersebut mampu mengeliminasi Keserakahan Politik dan Ekonomi baik di Tingkat Regional maupun Internasional, sehingga proxy war atau perang tanpa bersenjata yang sudah berlangsung bertahun-tahun dan sudah menguras hampis semua kekayaan alam negara kita Indonesia ini, bisa sedikit berkurang, dan diisi dengan persaudaraan kebangsaan sedunia, tanpa harus mendirikan negara khilafah baru. Dan kita masih nyaman menjadi tuan rumah di negeri sendiri, tidak sebaliknya menjadi abdi di negaranya sendiri. Semoga Allah SWT melindungi kita semua.
      Allah a’lam bi al-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.

Check Also

MA’HAD ‘ALY TBS: MENYEMAI AHLI FALAK YANG ASTRONOM

Assalamualaikum wrwb. Al-hamdu liLlah wa sy-syukru liLlah. Segala puji dan syukur hanya milik Allah. Marilah kita syukuri anugrah dan pertolongan Allah, hanya karena dengan kasih sayang dan pertolongan Allah kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktivitas kita hari ini. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan pengikut yang setia dan istiqamah meneadani beliau.  Semoga semua urusan kita diberi kemudahan oleh Allah dan kelak di akhirat kita mendapat syafaat beliau. Saudaraku, kemarin Sabtu, 20 Rajab 1439 H bertepatan dengan 7/4/2018 M saya mendapat kehormatan untuk ikut menyaksikan peyerahan Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Islam, oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, tentang persetujuan Pesantren TBS (Tasywiquth Thullab Salafiyah) sebagai penyelenggara Program Pendidikan Ma’had ‘Aly. Nama TBS – memang unik – karena kepanjangannya “tidak simetris” karena T diambil dari huruf “ta” dari kata “tasywiq” dan B diambil huruf terakhir kata “thullab” bentuk jama’ dari kata “thalib” yang artinya murid, siswa, atau peserta didik dalam bahasa sekarang. Seingat saya, saat saya masih menjadi “santri” huruf S itu singkatan dari kata “school” yang artinya sekolah atau madrasah. Dalam perjalanannya, huruf S ini diambil dari huruf “sin” dari kata salafiyah, yang artinya madrasah. Kata “Tasywiqu th-Thullab Salafiyah” artinya “Bronto – atau intellectual curiousity– nya Santri yang berpendidikan Salafiyah”. Salafiyah juga dalam penggunaan keseharian berbeda dengan “Salafi”.  TBS merancang dan mengelola pendidikan meskipun pada dasarnya adalah madrasah formal atau klasikal, namun desain kurikulum dan tata kelolanya, mengikuti model pondok pesantren. Saya sendiri, belajar di TBS ini selama “tujuh” tahun dengan sistem dan model yang unik juga. Setelah lulus SD dan MI di Kampung, didaftarkan di TBS. Test kemampuan dimulai dengan materi test kelas empat  MI, hari itu juga diumumkan. Besok paginya, test kemampuan untuk kelas lima, siangnya langsung diumumkan. Berarti lolos kelas 5. Besok paginya diikutkan test kemampuan kelas enam, sayang belum beruntung. Akhirnya “harus” mengikuti pelajaran dari kelas lima. Setelah satu semester, dievaluasi, dan ini yang menarik, saya diperintahkan untuk “naik kelas” di pertengahan tahun, ke kelas enam. Pendek cerita, al-hamdu liLlah, saya dinyatakan mampu melewati kelas enam MI TBS dan lulus dengan mendapat peringkat satu. Saya menerima hadiah dan senang sekali, yakni kitab “Riyadlu sh-Shalihin” dan “Sarung” yang hingga kini tidak terlupakan. Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah saya selesaikan secara normal enam tahun. Namanya juga Salafiyah, kurikulumnya, dari MI ilmu nahwunya belajar Ajrumiyah – terkenalnya Jurumiyah  – dan ‘Imrithy. Pada Tsanawiyah imu nahwu sudah harus menghafal nadham “Alfiyah” atau seribu nadham yang ditulis oleh Imam Ibnu Malik. Di Madrasah Aiyah, ilmu nahwu sudah menggunakan Syarah atau Komentar atas Alfiyah Ibn Malik, yaitu Ibnu ‘Aqil. Saya tidak sebutkan semuanya, karena dengan kitab-kitab yang menjadi maraji’ pembelajaran ilmu Nahwu tersebut, sudah terbayang model dan sistem pendidikannya, dan seperti apa lulusannya.  Maaf, ini bukan kalimat “kesombongan” karena insyaa Allah, saya tidak ada potongan “sombong”, apalagi saya sadar ilmu saya sangat tidak seberapa. Saudaraku, Ma’had ‘Aly TBS menurut data Direktorat PD Pontren Kementerian Agama adalah yang ke 27, dan memilih spesialisasi atau takhashshush Ilmu Falak. Maka, selain penyerahan SK, juga digelar Halaqah Falakiyah dengan tagline “Merawat Tradisi Menebar Innovasi”. Selain karena alasan Ilmu Falak selama ini makin “langka” peminatnya. Bahkan Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, sejak ada program Beasiswa 5.000 Doktor di Kementerian Agama, distingsinya adalah menyiapkan Doktor Ilmu Falak. Bahkan di tahun 2017, hanya terisi 7 mahasiswa. Untung saja Pascasarjana UIN Walisongo membuka konsentrasi baru Manajemen Halal dan Hukum Keluarga, jadinya “kuotanya” terpenuhi. Ma’had ‘Aly TBS juga pada saatnya akan menyuplai calon mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo tentu kalau sudah meluluskan. Pada saat saya masih di MTs, TBS sudah mengajarkan ilmu Falak dan di antaranya  mengoperasikan rubu’ mujayyab. Di TBS sangat dikenal KH Turaihan Ajhury asy-Syarafy al-Falaky, ahli falak sangat terkenal di jagad Indonesia, terutama kalender atau almanak Menara Kudus yang khas. Juga ada KH Abdul Jalil, dan masih ada beberapa ahli falak lainnya. Sebagai alumnus TBS, tidak ada kata lain kecuali mengapresiasi dan menyambut positif terselenggaranya Ma’had ‘Aly TBS ini. Kebetulan saya masih diamanati sebagai Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, yang mengelola program doktor ilmu falak, kehadiran Ma’had ‘Aly bisa menjaid mitra. Memang bagi program S1 Ilmu Falak  Fakultas Syariah dan Hukum, bisa saja ditafsiri sebagai “pesaing baru”, apalagi dengan basik yang berbeda. UIN basiknya lebih variatif, sementara di TBS rasanya “wajib” berbasis pesantren. Maka tafsirnya, musti dengan kompromi atau “al-jam’u wa t-taufiq” atau menyatukan dan mengompromikan. Dalam dunia bisnis, suatu “produk” semakin banyak produsen atau yang menjajakan, maka produk tersebut adalah produk yang menjadi kebutuhan penting. Karena itu, tidak perlu ada komentar yang tidak perlu, karena dunia pendidikan apalagi untuk menyiapkan ahli falak di dunia Indonesia ini, masih sangat diperlukan. Kalau ada pertanyaan, apakah setelah ada lulusan Ma’had ‘Aly TBS yang ahli falak rasa astrnom, apakah kemudian tidak ada lagi perbedaan dalam penentuan awal Ramadlan, awal Syawwal, dan awal Dzulhijah? Ini pertanyaan kritis tetapi jawabnya tidak mudah. Karena ini seperti pertanyaan maaf, “apakah tambahnya lulusan akpol, akmil, dan sarjana lainnya, akan berkorelasi menurunkan angka kriminalitas, gerakan separatis, atau problematika sosial lainnya”? Soal penentuan awal bulan Qamariyah, di Indonesia ini, tampak indahnya justru karena ada perbedaan itu. Mengapa, karena “instrumen test” kematangan berdemokrasi dan bertoleransi tampak matang dengan perbedaan itu. Dalam soal ibadah dan internal sesama kaum Muslim saja, bisa berjalan dengan baik, apalagi dengan penganut agama lain. Tentu ini, harus difahami dan dimaknai secara cerdas. Karena meskipun dalilnya sama, Al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan sumber dan rujukan sama, namun metode pemahamannya berbeda, akan menghasilkan rumusan atau formulasi hukum yang berbeda. Apalagi jika sudah ada pertimbangan di luar akademik dan keagamaan, maka tentu akan lebih variatif lagi. MUI sudah mensosialisasikan kaidah yang sangat dikenal, “hukm al-hakim ilzam wa yarfa’u l-khilaf” artinya “putusan hukum pemerintah itu mengikat dan menghilangkan perbedaan pendapat”. Itu teorinya, namun dalam kenyataannya, dengan dalih soal keyakinan karena terkait dengan amaliyah keagamaan, maka pemerintah juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Karena itu, tidak ada pilihan lain, kecuali merawat dan memelihara perbedaan tersebut, agar tetap menjadi rahmat dan kasih sayang. Yang terakhir ini pun, didasari kaidah selain “ikhtilafu ummati rahmah” artinya “perbedaan pedapat ummatku adalah kasih sayang”, juga ada kaidah “man lam yasyumma raihata l-khilaf lam yasyumma raihata l-fiqh” artinya “barang siapa tidak mampu mencium aroma perbedaan pendapat, berarti ia tidak mampu mencium aroma fiqh”. Yang terpenting, bagaimana kita mampu melakukan “literasi” dan mendewasakan umat kita, agar makin terbiasa dan terbudaya dengan perbedaan, sehingga kesimpulannya adalah “sepakat dalam perbedaan” atau “berbeda dengan kesepakatan”. Selamat Ma’had ‘Aly TBS, almamaterku, semoga Allah senantiasa melapangkan jalan “rizqimu” dan menggelar keberkahan padamu, untuk menyiapkan generasi Ahli Falak Rasa Astronom, atau Astronom yang Ahli Agama”. Selamat “merawat tradisi dan menebar innovasi”. Tekadmu dan kerja kerasmu, ditunggu umat. Jadilah yang terbaik dan paling member banyak manfaat. Sudah saatnya dari pondok pesantren, yang akan menjadi leader bangsa ini di masa depan. Allah a’lam bi sh-shawab. Wassalamualaikjm wrwb. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *