Home / KOLOM DIREKTUR / SYA’BAN DAN NYADRAN

SYA’BAN DAN NYADRAN

Assalamualaikum wrwb.
      Saudaraku, alhamdulillah, segala puji bagi Allah, Tuhan segala penghuni alam raya ini. Hanya karena anugrah dan pertolongan-Nya, kita dalam keadaan sehat afiat, memulai aktifitas kita, yang belajar semoga lebih rajin, yang bekerja tambah semangat, mari kita niatkan ibadah dan sekaligus bekal ibadah. Shalawat dan salam mari kita senandungkna pada Rasulullah saw, keluarga, dan para sahabat. Semoga syafaat beliau kelak akan memayungi kita di akhirat.
       Kita sekarang berada di pertengahan bulan Sya’ban 1438 H, bulan yang baru dari namanya, secara harfiyah artinya “cabang-cabang”. Bulan yang kata Rasulullah saw, adalah bulan beliau. Pada awal bulan Sya’ban, Rasulullah saw pernah bersabda: “Ini adalah hari permulaan Sya’ban yang mulia, Tuhan kita menamainya dengan Sya’ban karena terkumpulnya/terhimpunnya kebaikan-kebaikan di dalamnya, sungguh di bulan ini Tuhanmu membuka pintu-pintu surganya, memperlihatkan/membentangkan kepadamu istana-istana dan kebaikan-kebaikannya dengan membeli harga termurah dan urusan-urusan termudah”.
       Sebentar lagi kita akan mengakhiri bulan Sya’ban, yang dalam kebiasaan Jawa disebut dengan bulan ruwah dari bahasa Arab, arwah, dan memasuki bulan suci Ramadhan.
Para leluhur kita membuat tradisi nyadran, sebagai instrumen pendidikan spiritual untuk menyadarkan siapapun yang setahun bekerja dengan berbagai kesibukannya, agar masih mau menyisihkan dan menyisakan waktu untuk mengingat orang tua dan atau leluhurnya yang sudah meninggal dunia, agar membersihkan, menziarahi makamnya, dan yang paling penting adalah mendoakannya.
       Saudaraku, tidak jarang kita menyaksikan anak yang merasa sudah menjadi orang yang sukses hidupnya, jangankan membersihkan dan menziarahi makam kedua orang tuanya, ketika orang tuanya masih hidup saja sudah tidak mau mengakuinya. Bahkan ketika orang tua berusaha menemuinya, dengan membawa oleh-oleh atau buah tangan dari kampung berupa hasil kebun, anak tersebut dengan teganya mengusir orang tuanya.
      Alkisah ada seorang ibu yang matanya buta sebelah, selalu rajin mengantarkan putranya ke sekolah. Ketika teman-teman anaknya melihat bahwa ibunya matanya buta sebelah, pada mengolok-olok. Lama kelamaan anak ini tidak mau lagi diantar ibunya. Bahkan merasa kecewa, hingga dewasanya pun menganggap bahwa ibunya itu tidaklah ibu kandungnya. SubhanaLlah. Bertahun-tahun anak ini secara lahiriah sukses karir, ekonomi, dan kehidupannya. Dan selama itu pula anak ini tidak mau menemui dan menjenguk orang tua tunggalnya, yang dengan penuh keikhlasan merawat anaknya sebagai single parent karena suaminya mengalami kecelakaan dan meninggal dunia.
      Pada suatu saat, ketika si ibu sudah merasa sudah tidak lama lagi menghirup udara dunia ini, dengan sisa-sisa tenaganya ingin melihat anaknya yang katanya sukses itu, meskipun ia sadar bahwa anaknya itu telah menyia-nyiakannya. Akan tetapi kasih ibu, laksana samudra, yang siap menampung segala macam kotoran, sampah, dan apa saja yang masuk, diterimanya dengan penuh kesabaran. Sesampai di rumah anaknya itu, anak ini pun tetap saja merasa bahwa “saya tidak punya ibu yang buta sebelah matanya”. Diusirlah ibunya ini, dibentak-bentak, dan pembantunya disuruh menyeretnya keluar.
       Akhirnya di tengah kesedihan dan sisa usianya, si ibu ini menulis surat dan dikirimkan kepada anaknya, yang isinya menjelaskan mengapa matanya buta sebelah. Dengan berurai air mata, ibu menulis “Nak, aku ibu kandungmu, memang buta sebelah. Ini karena waktu kamu masih kecil, mengalami kecelakaan, yang menyebabkan mata kamu yang sebelah mengalami kebutaan. Ibu tidak ingin hidupmu nanti menderita, dan diolok-olok temanmu, biarlah ibu donorkan mata ibu untuk kamu. Biar ibu buta sebelah mata, yang terpenting kamu bisa hidup bahagia nak”.
       Begitu anaknya menerima dan membaca tersebut, dengan dada semakin sesak, ia baca kata demi kata, alunan suara khas ibu yang merawat dan membesarkannya dari kecil. Ia tidak kuat menahan air mata dan meledaklah teriakan histeris penuh dosa dan penyesalan, karena ternyata ibunya rela menderita demi kebahagiaan anaknya. Namun, penyesalan itu sudah terlambat, karena ibunya sudah tiada dan berbahagia di alam baqa.
       Saudaraku, kasih ibu tidak berbatas. Semua orang tua berjuang untuk kebahagiaan anaknya. Di saat bulan Sya’ban menjelang Ramadhan inilah, kita diingatkan untuk mengunjungi orang tua kita, baik yang masih hidup atau yang sudah meninggal dunia. Di sinilah, nyadran itu, menjadi bermakna dalam prosesi tahunan kehidupan kita, agar kita masih memiliki kesadaran untuk berdoa bagi orang tua kita.
     Dalam wikipedia.org disebutkan, Nyadran adalah serangkaian upacara yang dilakukan oleh masyarakat Jawa, terutama Jawa Tengah. Nyadran berasal dari bahasa Sanskerta, sraddha yang artinya keyakinan. Nyadran adalah tradisi pembersihan makam oleh masyarakat Jawa, umumnya di pedesaan. Dalam bahasa Jawa, Nyadran berasal dari kata sadran yang artiya ruwah syakban. Nyadran adalah suatu rangkaian budaya yang berupa pembersihan makam leluhur, tabur bunga, dan puncaknya berupa kenduri selamatan di makam leluhur.
       Saya sering menyederhanakan nyadran,  berasal dari kata shadran (صدرا) artinya “dada”. Dada adalah tempatnya hati (قلب) yang artinya berubah-ubah.  Akan tetapi jika qalbu ini baik, maka anggota badan hang lain akan baik, dan apabila qalbu itu buruk, maka anggota badan yang lainnya juga akan baik. Mengapa nyadran? Sebagai bagian dari ketaatan dan hormatnya anak kepada orang tua adalah mendatangi, menziarahi, dan membersihkan makam atau kuburan orang tua atau leluhurnya untuk mendoakan mereka.  Karena ketaatan anak kepada orang tua, tidak terbatas ketika orang tua masih hidup saja, akan tetapi ketika mereka sudah meninggal dunia pun masih harus tetap didoakan. Sebagaimana sabda Rasulullah saw:
اذا مات ابن ادم انقطع عمله الا من ثلاث صدقة جارية او علم ينتفع به او ولد صالح  يدعو له  رواه مسلم
 “Ketika manusia (anak Adam as) meninggal dunia, maka semua amalannya terputus, kecuali tiga hal: sadaqah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak shalih yang mendoakan kepada kedua orang tuanya” (Riwayat Muslim).
      Saudaraku, nyadran adalah perwujudan ajaran ziarah kubur yang diperintahkan oleh Rasulullah saw, yang dikemas dengan bahasa budaya. Rasulullah saw bersabda:
كنت نهيتكم عن زيارة القبور الا فزوروها فانها تذكركم الموت وفي رواية اخرى فانها تذكركم الاخرة رواه الترمذي
“Aku pernah melarang kamu sekalian ziarah kubur, ingat maka berziarah (kubur)-lah, karena sesungguhnya ziarah kubur itu akan mengingatkan kamu sekalian akan mati, dan dalam riwayat yang lain, “akan mengingatkan kalian akan kehidupan akhirat” (Riwayat at-Tirmidzi).
      Tujuan ziarah kubur adalah untuk mengingatkan orang yang berziarah akan mati atau kehidupan akhirat. Dengan mengingat mati dan kehidupan akhirat, seseorang akan pertama, siap memasuki bulan Ramadhan untuk memulai puasa dan melakukan amalan yang terbaik di dalamnya, karena pahala dilipatgandakan. Kedua, dengan mengingat mati dan kehidupan akhirat, maka seseorang kan berusaha secara maksimal untuk menghindari perbuatan salah, maksiyat, dan dosa yang menistakannya di akhirat nanti.
      Kehidupan dunia dalam bahasa Al-Qur’an disebut sebagai  tempat kesenangan yang menipu, sering menjebak manusia untuk menuruti keinginan dan dorongan hawa nafsunya untuk berburu materi duniawi yang hedonis, bahkan menumpuk-numpuknya dan melalaikan manusia akan jati dirinya. Sampai Allah pun mengingatkan manusia, jangan sampai perburuan berlomba paling banyak harta dan. bermegah-megahan melalaikan kamu, hingga kamu masuk dalam kubur  (QS. Al-Takatsur: 1-2).
     Bagi saudaraku yang hingga sekarang masih belum mau menerima soal kebiasaan ziarah kubur atau nyadran ini, bisa saja mendoakannya dari rumah. Apakah doa dari anak atau orang lain bisa sampai kepada orang yang meninggal dunia, bagi Allah itu urusan sepele. Jangankan hanya menyampaikan pahala, menciptakan dari yang tidak ada menjadi ada saja, tinggal kun fa yakun. Smartphone kita sekarang saja, maskh bisa menyimpan orang yang siap menyanyi, meskipun secara fisik sudah mati. Apalagi orang yang menjnggal duna itu, sesungguhnya hanya mati fisik saja, tetapi ruhnya tetap hidup. Di sinilah pentingnya anak shalih mendoakan kedua orang tuanya.
      Saudaraku, bagi yang ingin nyadran, niatkan sebagai penghormatan atau ta’dhim kepada orang tua dan para leluhur. Karena menurut sabda Rasulullah saw, mereka menunggu doa kita, sebagai anak-anaknya yang shalih. Apabila kita berbuat baik kepada kedua orang tua kita, yakinlah besok anak-anak kita akan juga berbuat baik kepada kita. Demikianlah ajaran Rasulullah saw kepada kita untuk selalu menghormati kepada kedua orang tua, baik ketika mereka masih hidup atau sudah meninggal dunia.
      Semoga Allah Swt memberkahi kita semua di dalam bulan Sya’ban ini dan Allah memberi umur panjang hingga sampai di bulan suci Ramadhan, dapat menjalankan ibadah puasa dengan khusyu’ untuk menghapus dosa-dosa kita selama setahun yang lewat, demi kebahagiaan hidup kita yang sesungguhnya.
      Allah a’lam bi al-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.
Ngaliyan, Semarang, 13/5/2017.

Check Also

MA’HAD ‘ALY TBS: MENYEMAI AHLI FALAK YANG ASTRONOM

Assalamualaikum wrwb. Al-hamdu liLlah wa sy-syukru liLlah. Segala puji dan syukur hanya milik Allah. Marilah kita syukuri anugrah dan pertolongan Allah, hanya karena dengan kasih sayang dan pertolongan Allah kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktivitas kita hari ini. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan pengikut yang setia dan istiqamah meneadani beliau.  Semoga semua urusan kita diberi kemudahan oleh Allah dan kelak di akhirat kita mendapat syafaat beliau. Saudaraku, kemarin Sabtu, 20 Rajab 1439 H bertepatan dengan 7/4/2018 M saya mendapat kehormatan untuk ikut menyaksikan peyerahan Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Islam, oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, tentang persetujuan Pesantren TBS (Tasywiquth Thullab Salafiyah) sebagai penyelenggara Program Pendidikan Ma’had ‘Aly. Nama TBS – memang unik – karena kepanjangannya “tidak simetris” karena T diambil dari huruf “ta” dari kata “tasywiq” dan B diambil huruf terakhir kata “thullab” bentuk jama’ dari kata “thalib” yang artinya murid, siswa, atau peserta didik dalam bahasa sekarang. Seingat saya, saat saya masih menjadi “santri” huruf S itu singkatan dari kata “school” yang artinya sekolah atau madrasah. Dalam perjalanannya, huruf S ini diambil dari huruf “sin” dari kata salafiyah, yang artinya madrasah. Kata “Tasywiqu th-Thullab Salafiyah” artinya “Bronto – atau intellectual curiousity– nya Santri yang berpendidikan Salafiyah”. Salafiyah juga dalam penggunaan keseharian berbeda dengan “Salafi”.  TBS merancang dan mengelola pendidikan meskipun pada dasarnya adalah madrasah formal atau klasikal, namun desain kurikulum dan tata kelolanya, mengikuti model pondok pesantren. Saya sendiri, belajar di TBS ini selama “tujuh” tahun dengan sistem dan model yang unik juga. Setelah lulus SD dan MI di Kampung, didaftarkan di TBS. Test kemampuan dimulai dengan materi test kelas empat  MI, hari itu juga diumumkan. Besok paginya, test kemampuan untuk kelas lima, siangnya langsung diumumkan. Berarti lolos kelas 5. Besok paginya diikutkan test kemampuan kelas enam, sayang belum beruntung. Akhirnya “harus” mengikuti pelajaran dari kelas lima. Setelah satu semester, dievaluasi, dan ini yang menarik, saya diperintahkan untuk “naik kelas” di pertengahan tahun, ke kelas enam. Pendek cerita, al-hamdu liLlah, saya dinyatakan mampu melewati kelas enam MI TBS dan lulus dengan mendapat peringkat satu. Saya menerima hadiah dan senang sekali, yakni kitab “Riyadlu sh-Shalihin” dan “Sarung” yang hingga kini tidak terlupakan. Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah saya selesaikan secara normal enam tahun. Namanya juga Salafiyah, kurikulumnya, dari MI ilmu nahwunya belajar Ajrumiyah – terkenalnya Jurumiyah  – dan ‘Imrithy. Pada Tsanawiyah imu nahwu sudah harus menghafal nadham “Alfiyah” atau seribu nadham yang ditulis oleh Imam Ibnu Malik. Di Madrasah Aiyah, ilmu nahwu sudah menggunakan Syarah atau Komentar atas Alfiyah Ibn Malik, yaitu Ibnu ‘Aqil. Saya tidak sebutkan semuanya, karena dengan kitab-kitab yang menjadi maraji’ pembelajaran ilmu Nahwu tersebut, sudah terbayang model dan sistem pendidikannya, dan seperti apa lulusannya.  Maaf, ini bukan kalimat “kesombongan” karena insyaa Allah, saya tidak ada potongan “sombong”, apalagi saya sadar ilmu saya sangat tidak seberapa. Saudaraku, Ma’had ‘Aly TBS menurut data Direktorat PD Pontren Kementerian Agama adalah yang ke 27, dan memilih spesialisasi atau takhashshush Ilmu Falak. Maka, selain penyerahan SK, juga digelar Halaqah Falakiyah dengan tagline “Merawat Tradisi Menebar Innovasi”. Selain karena alasan Ilmu Falak selama ini makin “langka” peminatnya. Bahkan Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, sejak ada program Beasiswa 5.000 Doktor di Kementerian Agama, distingsinya adalah menyiapkan Doktor Ilmu Falak. Bahkan di tahun 2017, hanya terisi 7 mahasiswa. Untung saja Pascasarjana UIN Walisongo membuka konsentrasi baru Manajemen Halal dan Hukum Keluarga, jadinya “kuotanya” terpenuhi. Ma’had ‘Aly TBS juga pada saatnya akan menyuplai calon mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo tentu kalau sudah meluluskan. Pada saat saya masih di MTs, TBS sudah mengajarkan ilmu Falak dan di antaranya  mengoperasikan rubu’ mujayyab. Di TBS sangat dikenal KH Turaihan Ajhury asy-Syarafy al-Falaky, ahli falak sangat terkenal di jagad Indonesia, terutama kalender atau almanak Menara Kudus yang khas. Juga ada KH Abdul Jalil, dan masih ada beberapa ahli falak lainnya. Sebagai alumnus TBS, tidak ada kata lain kecuali mengapresiasi dan menyambut positif terselenggaranya Ma’had ‘Aly TBS ini. Kebetulan saya masih diamanati sebagai Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, yang mengelola program doktor ilmu falak, kehadiran Ma’had ‘Aly bisa menjaid mitra. Memang bagi program S1 Ilmu Falak  Fakultas Syariah dan Hukum, bisa saja ditafsiri sebagai “pesaing baru”, apalagi dengan basik yang berbeda. UIN basiknya lebih variatif, sementara di TBS rasanya “wajib” berbasis pesantren. Maka tafsirnya, musti dengan kompromi atau “al-jam’u wa t-taufiq” atau menyatukan dan mengompromikan. Dalam dunia bisnis, suatu “produk” semakin banyak produsen atau yang menjajakan, maka produk tersebut adalah produk yang menjadi kebutuhan penting. Karena itu, tidak perlu ada komentar yang tidak perlu, karena dunia pendidikan apalagi untuk menyiapkan ahli falak di dunia Indonesia ini, masih sangat diperlukan. Kalau ada pertanyaan, apakah setelah ada lulusan Ma’had ‘Aly TBS yang ahli falak rasa astrnom, apakah kemudian tidak ada lagi perbedaan dalam penentuan awal Ramadlan, awal Syawwal, dan awal Dzulhijah? Ini pertanyaan kritis tetapi jawabnya tidak mudah. Karena ini seperti pertanyaan maaf, “apakah tambahnya lulusan akpol, akmil, dan sarjana lainnya, akan berkorelasi menurunkan angka kriminalitas, gerakan separatis, atau problematika sosial lainnya”? Soal penentuan awal bulan Qamariyah, di Indonesia ini, tampak indahnya justru karena ada perbedaan itu. Mengapa, karena “instrumen test” kematangan berdemokrasi dan bertoleransi tampak matang dengan perbedaan itu. Dalam soal ibadah dan internal sesama kaum Muslim saja, bisa berjalan dengan baik, apalagi dengan penganut agama lain. Tentu ini, harus difahami dan dimaknai secara cerdas. Karena meskipun dalilnya sama, Al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan sumber dan rujukan sama, namun metode pemahamannya berbeda, akan menghasilkan rumusan atau formulasi hukum yang berbeda. Apalagi jika sudah ada pertimbangan di luar akademik dan keagamaan, maka tentu akan lebih variatif lagi. MUI sudah mensosialisasikan kaidah yang sangat dikenal, “hukm al-hakim ilzam wa yarfa’u l-khilaf” artinya “putusan hukum pemerintah itu mengikat dan menghilangkan perbedaan pendapat”. Itu teorinya, namun dalam kenyataannya, dengan dalih soal keyakinan karena terkait dengan amaliyah keagamaan, maka pemerintah juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Karena itu, tidak ada pilihan lain, kecuali merawat dan memelihara perbedaan tersebut, agar tetap menjadi rahmat dan kasih sayang. Yang terakhir ini pun, didasari kaidah selain “ikhtilafu ummati rahmah” artinya “perbedaan pedapat ummatku adalah kasih sayang”, juga ada kaidah “man lam yasyumma raihata l-khilaf lam yasyumma raihata l-fiqh” artinya “barang siapa tidak mampu mencium aroma perbedaan pendapat, berarti ia tidak mampu mencium aroma fiqh”. Yang terpenting, bagaimana kita mampu melakukan “literasi” dan mendewasakan umat kita, agar makin terbiasa dan terbudaya dengan perbedaan, sehingga kesimpulannya adalah “sepakat dalam perbedaan” atau “berbeda dengan kesepakatan”. Selamat Ma’had ‘Aly TBS, almamaterku, semoga Allah senantiasa melapangkan jalan “rizqimu” dan menggelar keberkahan padamu, untuk menyiapkan generasi Ahli Falak Rasa Astronom, atau Astronom yang Ahli Agama”. Selamat “merawat tradisi dan menebar innovasi”. Tekadmu dan kerja kerasmu, ditunggu umat. Jadilah yang terbaik dan paling member banyak manfaat. Sudah saatnya dari pondok pesantren, yang akan menjadi leader bangsa ini di masa depan. Allah a’lam bi sh-shawab. Wassalamualaikjm wrwb. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *