Home / KOLOM DIREKTUR / ALUMNI UIN WALISONGO TEGUHKAN KOMITMEN KEBANGSAAN

ALUMNI UIN WALISONGO TEGUHKAN KOMITMEN KEBANGSAAN

Assalamualaikum wrwb.
     Segala puji bagi Allah, mari kita syukuri anugrah dan karunia-Nya yang kita terima dengan ikhlas dan ridha. Hanya karena anugrah-Nya, pagi ini kita sehat afiat dan bisa memulai aktifitas dengan niat ibadah. Shalawat dan salam, kita senandungkan untuk Rasulullah Muhammad saw, keluarga, dan para sahabat. Semoga hati kita makin lembut dan siap menerima siraman kebaikan dan membuang segala macam keburukan.
     Saudaraku, hari ini (12/5) Keluarga Alumni UIN Walisongo menggelar Halaqah Kebangsaan, yang dihadiri Menteri Agama RI, Lukman Hakim Saifuddin dan Masdar Farid Mas’udi. Tema besar yang diusung adalah “Meneguhkan Komitmen Kebangsaan Kaum Santri”. Isu kebangsaan belakangan ini menjadi penting dibahas, di tengah munculnya kegaduhan sosial politik, sebagai implikasi pilkada yang disertai munculnya isu agama dibawa ke ranah politik. Isu yang berbau sara ini memang sensitif. Apalagi ketika yang memicu adalah orqng yang tidak memeluk agama Islam, bahkan seandainya yang melakukan dugaan penistaan itu orang Islam pun, akan melahirkqn kegaDuhan serupa.
       Kebetulan munculnya isu sara ini bersamaan dengan even pilkada gubernur, dan pelakunya itu tidak memenanginya, maka reaksi para pendukung pun, menjadi “bola panas” dan “bola liar” yang menyeret pada isu lainnya. Di media sosial pun muncul nada protes baik dari pejabat di Belanda atu Uni Eropa dan Amerika, yang menginginkan aturan tentang penodaan agama dicabut. Saya jadi susah membayangkan, ada aturan saja sikap dan prilaku yang cenderung sara dilakukan seolah benar, apalagi kemudian diasakan  di”back-up” oleh “oknum” aprat penegak hukum.
     Perkara “penodaan agama” belum selesai, karena vonis hakim oleh terpidana diajukan banding, sudah muncul lagi pernyataan dari seseorang, yang diduga gubernur Kalbar, yang bernuansa sara, dan mengundang reaksi keras dari warga Melayu atau Muslim setempat.
       Saudaraku, tampaknya rasa dan komitmen kebangsaan ini, terutama para elit kekuasaan dan para pemimpin bangsa ini sedang diuji. Sebagai rakyat kecil, saya sangat sedih, prihatin, dan ikut menyesalkan. Lebih ironis lagi, belakangan muncul upaya-upaya sistematis yang akan mengaburkan tentang makna dan komitmen kebangsaan itu. Misalnya, bangsa yang mayoritas Islam ini dianggap tidak Pancasilais sejati kalau tidak dipimpin oleh kelompok dan etnis minoritas, dan yang mayoritas menyampaikan hak sesuai ajaran agamanya dianggap sebagai intoleran dan tidak demokratis?
       Pertanyaannya adalah, apakah sudah ada kamus baru bahwa demokrasi itu adalah tirani minoritas? Apakah ketika warga mayoritas memperjuangkan hak-haknya sesuqi ajaran agamanya yang dijamin oleh undang-undang itu adalah bentuk diskriminatif dan intoleran?
Saudaraku, kita harus cerdas dan waspada terhadap pemberitaan dan opini media massa baik cetak maupun elektronik ini. Mari kita kembali kepada ajaran kitab suci kita.  Bagi yang muslim, kita merujuk Al-Qur’an.
      Manusia diciptakan oleh Allah, dibekali watak bermasyarakat dan berpolitik. Manusia diciptakan oleh Allah terdiri dari laki-laki dan perempuan, dan dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar mereka saling mengenal, untuk berlomba  menjadi hamba-hamba Allah yang paling mulia melalui ketaqwaan dan amal shalih yang didasari keimanan kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa (QS. Al-Hujurat: 13).
      Kata Rasulullah saw,  “Sebaik-baik manusia adalah yang paling memberi manfaat pada manusia yang lain” (Riwayat al-Thabrany).
Rasulullah saw pada saat merumuskan fondaso kehidupan berbangsa dan bernegara dalam Liagam Madinah, tidak pernah mengatur soal.bentuk negara.  Beliau hanya mengatur hal-hal substantif saja, seperti prinsip persamaan (equality before the law/musawah), keadilan (justice, ‘adalah),  moderasi (moderation, tawassuth), keseimbangan (balance, tawazun), dan persaudaraan (brotherhod, ukhuwah). Soal bentuk negara pada diserahkan kepada musyawarah dan kesepakatan warga negara masing-masing.
       Agar anak-anak muda dan generasi muda bangsa Indonesia ini, tidak mudah terhasut dan terprovokasi oleh ajakan untuk merusak NKRI yang dulu didirikan dengan cucuran darah dan korban nyawa, dibangun dengan berbagai ujian dan cobaan, dan dijaga dengan segala pengorbanan. Karena itu, generasi muda yang nantinya akan menjadi pemimpin bangsa ini, harus dibekali dengan ilmu, bekal, dan kesadaran kesejarahan, bahwa NKRI yang didasarkan pada Pancasila dan UUD 1945, adalah final.
      Karena itulah keluarga Alumni UIN Walisongo mengajak semua komponen bangsa yang memang majemuk, beragam, baik etnis, agama, dan budayanya, untuk menyamakan persepsi dan komitmen kebangsaan NKRI ini. Yang berbeda tidak harus dipaksakan untuk sama. Tetapi dalam spirit dan komitmen kebangsaan Indonesia, tidak bisa ditawar’tawar lagi.
     Pendidikan agama perlu dijadikan fondasi kepribadian ke-Indonesiaan, bagi anak-anak dan generasi muda kita. Pemahaman agama yang moderat, tidak ekstrem kanan atau ekstrem kiri menjadi kata kunci yang terus menerus ditanamkan kepada mereka.
       NKRI, meskipun bukan negara agama, bukan juga negara sekuler. Akan tetapi dengan Pancasila dan UUD 1945 serta Bhinneka Tunggal Ika, fasilitasi negara terhadap semua agama di negeri ini masih berjalan dengan baik. Yang terpenting semua pemimpin agama terus menerus menjalin silaturrahim kebangsaan, insyaa Allah ke depan komitmen kebangsaan ini masih bisa dirawat dan dijaga demi keharmonisan dan kemajuan bangsa ini.
      Pada anak-anak kita terus kita tanamkan faham agama secara moderat dan inklusif, kita tanamkan rasa cinta tanah air, agar mereka memiliki nasionalisme yang kuat, bangga akan negerinya. Cinta tanah air adalah sebagian dari iman, hubbul wathan minal iman.
      Saudaraku, Indonesia adalah Rumah Kita. Mari kita jaga dan rawat sebaik-baiknya. Mari kita rawat spirit dan komitmen kebangsaan generasi muda kita. Mereka yang akan menjadi pemimpin bangsa ini ke depan. Insya Allah kita akan sedikit menyimpan ketenteraman hati apabila kita berhasil menanamkan spirit kebangsaan pada anak-anak dan generasi muda kita. Kalau ada siapapun yang mencoba merusak Rumah Kita, dari dalam, dari luar, yang merongrong NKRI Rumah Kita yang kita cintai bersama. Kita masih butuh hidup, menghirup udara segar, meminum air bersih di negeri ini, dan mungkin kita juga akan menghembuskan nafas terakhir kita di NKRI bumi Allah, irisan surga yang dihamparkan di nusantara ini.
     Yang terpenting adalah komitmen petinggi bangsa ini. Jangan salah gunakan amanat jabatan mulia menjadi pemimpin bangsa untuk bisa melaksanakan tugas dan penegakan hukum di negeri ini dengan adil. Jangan biarkan siapapun untuk merusak rumah kita. Jangan pula biarkan siapapun yang mencoba merusak demokrasi yang sudah baik. Toleransi warga mayoritas sudah luar biasa besar, seakqn mereka intoleran. Jangan biarkan tirani minoritas menguasai opini dan budaya politik di negeri ini. Karena prasyarat demokrasi dan toleransi adalah saling berbagi, memberi dan menerima dengan saling menghormati.
     Kita semua merindukan terwujudnya NKRI ini sebagai baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Semoga anak-anak dan generasi muda kita, terutama kaum santri kampus dan kampus kehidupan bangsa ini, siap mengemban tugas mulia mengawalnya, untuk mewujudkan kebahagiaan lahir batin dunia akhirat. Selamat berhalaqah. Semoga menghasilkan rekomendasi yang bermanfaat dan bisa diterima oleh para petinggi bangsa ini. Amin.
     Allah a’lam bi al-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.
Ngaliyan, Semarang, 12/5/2017.

Check Also

MA’HAD ‘ALY TBS: MENYEMAI AHLI FALAK YANG ASTRONOM

Assalamualaikum wrwb. Al-hamdu liLlah wa sy-syukru liLlah. Segala puji dan syukur hanya milik Allah. Marilah kita syukuri anugrah dan pertolongan Allah, hanya karena dengan kasih sayang dan pertolongan Allah kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktivitas kita hari ini. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan pengikut yang setia dan istiqamah meneadani beliau.  Semoga semua urusan kita diberi kemudahan oleh Allah dan kelak di akhirat kita mendapat syafaat beliau. Saudaraku, kemarin Sabtu, 20 Rajab 1439 H bertepatan dengan 7/4/2018 M saya mendapat kehormatan untuk ikut menyaksikan peyerahan Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Islam, oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, tentang persetujuan Pesantren TBS (Tasywiquth Thullab Salafiyah) sebagai penyelenggara Program Pendidikan Ma’had ‘Aly. Nama TBS – memang unik – karena kepanjangannya “tidak simetris” karena T diambil dari huruf “ta” dari kata “tasywiq” dan B diambil huruf terakhir kata “thullab” bentuk jama’ dari kata “thalib” yang artinya murid, siswa, atau peserta didik dalam bahasa sekarang. Seingat saya, saat saya masih menjadi “santri” huruf S itu singkatan dari kata “school” yang artinya sekolah atau madrasah. Dalam perjalanannya, huruf S ini diambil dari huruf “sin” dari kata salafiyah, yang artinya madrasah. Kata “Tasywiqu th-Thullab Salafiyah” artinya “Bronto – atau intellectual curiousity– nya Santri yang berpendidikan Salafiyah”. Salafiyah juga dalam penggunaan keseharian berbeda dengan “Salafi”.  TBS merancang dan mengelola pendidikan meskipun pada dasarnya adalah madrasah formal atau klasikal, namun desain kurikulum dan tata kelolanya, mengikuti model pondok pesantren. Saya sendiri, belajar di TBS ini selama “tujuh” tahun dengan sistem dan model yang unik juga. Setelah lulus SD dan MI di Kampung, didaftarkan di TBS. Test kemampuan dimulai dengan materi test kelas empat  MI, hari itu juga diumumkan. Besok paginya, test kemampuan untuk kelas lima, siangnya langsung diumumkan. Berarti lolos kelas 5. Besok paginya diikutkan test kemampuan kelas enam, sayang belum beruntung. Akhirnya “harus” mengikuti pelajaran dari kelas lima. Setelah satu semester, dievaluasi, dan ini yang menarik, saya diperintahkan untuk “naik kelas” di pertengahan tahun, ke kelas enam. Pendek cerita, al-hamdu liLlah, saya dinyatakan mampu melewati kelas enam MI TBS dan lulus dengan mendapat peringkat satu. Saya menerima hadiah dan senang sekali, yakni kitab “Riyadlu sh-Shalihin” dan “Sarung” yang hingga kini tidak terlupakan. Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah saya selesaikan secara normal enam tahun. Namanya juga Salafiyah, kurikulumnya, dari MI ilmu nahwunya belajar Ajrumiyah – terkenalnya Jurumiyah  – dan ‘Imrithy. Pada Tsanawiyah imu nahwu sudah harus menghafal nadham “Alfiyah” atau seribu nadham yang ditulis oleh Imam Ibnu Malik. Di Madrasah Aiyah, ilmu nahwu sudah menggunakan Syarah atau Komentar atas Alfiyah Ibn Malik, yaitu Ibnu ‘Aqil. Saya tidak sebutkan semuanya, karena dengan kitab-kitab yang menjadi maraji’ pembelajaran ilmu Nahwu tersebut, sudah terbayang model dan sistem pendidikannya, dan seperti apa lulusannya.  Maaf, ini bukan kalimat “kesombongan” karena insyaa Allah, saya tidak ada potongan “sombong”, apalagi saya sadar ilmu saya sangat tidak seberapa. Saudaraku, Ma’had ‘Aly TBS menurut data Direktorat PD Pontren Kementerian Agama adalah yang ke 27, dan memilih spesialisasi atau takhashshush Ilmu Falak. Maka, selain penyerahan SK, juga digelar Halaqah Falakiyah dengan tagline “Merawat Tradisi Menebar Innovasi”. Selain karena alasan Ilmu Falak selama ini makin “langka” peminatnya. Bahkan Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, sejak ada program Beasiswa 5.000 Doktor di Kementerian Agama, distingsinya adalah menyiapkan Doktor Ilmu Falak. Bahkan di tahun 2017, hanya terisi 7 mahasiswa. Untung saja Pascasarjana UIN Walisongo membuka konsentrasi baru Manajemen Halal dan Hukum Keluarga, jadinya “kuotanya” terpenuhi. Ma’had ‘Aly TBS juga pada saatnya akan menyuplai calon mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo tentu kalau sudah meluluskan. Pada saat saya masih di MTs, TBS sudah mengajarkan ilmu Falak dan di antaranya  mengoperasikan rubu’ mujayyab. Di TBS sangat dikenal KH Turaihan Ajhury asy-Syarafy al-Falaky, ahli falak sangat terkenal di jagad Indonesia, terutama kalender atau almanak Menara Kudus yang khas. Juga ada KH Abdul Jalil, dan masih ada beberapa ahli falak lainnya. Sebagai alumnus TBS, tidak ada kata lain kecuali mengapresiasi dan menyambut positif terselenggaranya Ma’had ‘Aly TBS ini. Kebetulan saya masih diamanati sebagai Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, yang mengelola program doktor ilmu falak, kehadiran Ma’had ‘Aly bisa menjaid mitra. Memang bagi program S1 Ilmu Falak  Fakultas Syariah dan Hukum, bisa saja ditafsiri sebagai “pesaing baru”, apalagi dengan basik yang berbeda. UIN basiknya lebih variatif, sementara di TBS rasanya “wajib” berbasis pesantren. Maka tafsirnya, musti dengan kompromi atau “al-jam’u wa t-taufiq” atau menyatukan dan mengompromikan. Dalam dunia bisnis, suatu “produk” semakin banyak produsen atau yang menjajakan, maka produk tersebut adalah produk yang menjadi kebutuhan penting. Karena itu, tidak perlu ada komentar yang tidak perlu, karena dunia pendidikan apalagi untuk menyiapkan ahli falak di dunia Indonesia ini, masih sangat diperlukan. Kalau ada pertanyaan, apakah setelah ada lulusan Ma’had ‘Aly TBS yang ahli falak rasa astrnom, apakah kemudian tidak ada lagi perbedaan dalam penentuan awal Ramadlan, awal Syawwal, dan awal Dzulhijah? Ini pertanyaan kritis tetapi jawabnya tidak mudah. Karena ini seperti pertanyaan maaf, “apakah tambahnya lulusan akpol, akmil, dan sarjana lainnya, akan berkorelasi menurunkan angka kriminalitas, gerakan separatis, atau problematika sosial lainnya”? Soal penentuan awal bulan Qamariyah, di Indonesia ini, tampak indahnya justru karena ada perbedaan itu. Mengapa, karena “instrumen test” kematangan berdemokrasi dan bertoleransi tampak matang dengan perbedaan itu. Dalam soal ibadah dan internal sesama kaum Muslim saja, bisa berjalan dengan baik, apalagi dengan penganut agama lain. Tentu ini, harus difahami dan dimaknai secara cerdas. Karena meskipun dalilnya sama, Al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan sumber dan rujukan sama, namun metode pemahamannya berbeda, akan menghasilkan rumusan atau formulasi hukum yang berbeda. Apalagi jika sudah ada pertimbangan di luar akademik dan keagamaan, maka tentu akan lebih variatif lagi. MUI sudah mensosialisasikan kaidah yang sangat dikenal, “hukm al-hakim ilzam wa yarfa’u l-khilaf” artinya “putusan hukum pemerintah itu mengikat dan menghilangkan perbedaan pendapat”. Itu teorinya, namun dalam kenyataannya, dengan dalih soal keyakinan karena terkait dengan amaliyah keagamaan, maka pemerintah juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Karena itu, tidak ada pilihan lain, kecuali merawat dan memelihara perbedaan tersebut, agar tetap menjadi rahmat dan kasih sayang. Yang terakhir ini pun, didasari kaidah selain “ikhtilafu ummati rahmah” artinya “perbedaan pedapat ummatku adalah kasih sayang”, juga ada kaidah “man lam yasyumma raihata l-khilaf lam yasyumma raihata l-fiqh” artinya “barang siapa tidak mampu mencium aroma perbedaan pendapat, berarti ia tidak mampu mencium aroma fiqh”. Yang terpenting, bagaimana kita mampu melakukan “literasi” dan mendewasakan umat kita, agar makin terbiasa dan terbudaya dengan perbedaan, sehingga kesimpulannya adalah “sepakat dalam perbedaan” atau “berbeda dengan kesepakatan”. Selamat Ma’had ‘Aly TBS, almamaterku, semoga Allah senantiasa melapangkan jalan “rizqimu” dan menggelar keberkahan padamu, untuk menyiapkan generasi Ahli Falak Rasa Astronom, atau Astronom yang Ahli Agama”. Selamat “merawat tradisi dan menebar innovasi”. Tekadmu dan kerja kerasmu, ditunggu umat. Jadilah yang terbaik dan paling member banyak manfaat. Sudah saatnya dari pondok pesantren, yang akan menjadi leader bangsa ini di masa depan. Allah a’lam bi sh-shawab. Wassalamualaikjm wrwb. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *