Home / KOLOM DIREKTUR / SYA’BAN BULAN INTROSPEKSI

SYA’BAN BULAN INTROSPEKSI

Assalamualaikum wrwb.
       Saudaraku, marilah kita senantiasa bersyukur ke hadirat Allah swt. yang telah melimpahkan karunia dan nikmat iman, Islam, dan kesehatan kepada kita. Banyak saudara-saudara kita yang pada saat ini sedang berbaring di rumah sakit, berjuang karena ingin sembuh dan ingin menambah amalan mereka yang baik-baik. Shalawat dan salam kita haturkan kepada Nabi Agung Muhammad saw, nabi akhir zaman dan teladan kita dalam mengisi dan membangun jati diri kita sebagai hamba Allah yang beriman dan beragama.
Marilah kita berikhtiar untuk senantiasa terus menerus meningkatkan keimanan dan ketaqwaan kita kepada Allah SWT sebagai bekal paling berharga pada kehidupan di masa depan. Karena iman menurut Abu al-Hasan al-Asya’ari dapat bertambah dan berkurang seiring dengan amal shalih kita sehari-hari. Karena itu, kita musti berusaha keras untuk beramal shalih.
       Saudaraku, QS. asy-Syura, 42:19-20 dikutip dalam Kitab Durrah al-Nashihin yang membahas tentang Fadlilah Bulan Sya’ban (hal.207-208).
اللهُ لَطِيفٌ بِعِبَادِهِ يَرْزُقُ مَن يَشَاءُ وَهُوَ الْقَوِيُّ الْعَزِيزُ.  مَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الْآخِرَةِ نَزِدْ لَهُ فِي حَرْثِهِ وَمَن كَانَ يُرِيدُ حَرْثَ الدُّنْيَا نُؤْتِهِ مِنْهَا وَمَا لَهُ فِي الْآخِرَةِ مِن نَّصِيبٍ.
Allah Maha Lembut terhadap hamba-hamba-Nya; Dia”
memberi rezki kepada siapa yang dikehendaki-Nya dan Dialah Yang Maha Kuat lagi Maha Perkasa. Barangsiapa menghendaki keuntungan di akhirat akan Kami tambah keuntungan itu baginya dan barang siapa yang menghendaki keuntungan di dunia Kami berikan kepadanya sebagian dari keuntungan dunia dan tidak ada baginya suatu bahagian pun di akhirat”.
       Para Ulama memahami kata “لطيف بعباد”dengan “يرحم التائبين والمستغفرين” artinya “memberi rahmat kepada orang-orang yang bertaubat dan memohon ampunan”. Rasulullah saw bersabda :
ما من صوت أحب الى الله تعالى من صوت عبد مذنب تاب الى الله تعالى فيـقول : لبيك يا عبدى سل ما تري
“Aku penuhi permohonanmu wahai hamba-Ku ajukanlah permohonanmu apa yang kamu kehendaki”.
       Saudaraku, sebagai manusia biasa, dalam perjalanan hidup kita, nyaris tiada hari atau bahkan saat yang kita lalui tanpa melakukan kesalahan, menambah dosa, dosa kecil hingga yang besar, mulai dari dosa hati, dosa sikap, dan dosa ucapan serta perbuatan. Karena salah satu tabiat manusia, adalah selalu berbuat kekeliruan dan kesalahan. Dalam kaitan inilah, Rasulullah saw menyatakan : ”Setiap anak keturunan Adam adalah sering berbuat keliru dan salah, dan sebaik-baik orang yang keliru/salah adalah yang mau memperbaiki diri” (كل بني ادم خطاؤون وخير الخطائين التوابون). Penegasan Rasulullah saw tersebut, tentu tidak dimaksudkan untuk digunakan sebagai legitimasi kita dalam berbuat kekeliruan dan kesalahan.
       Allah SWT memberikan kesitimewaan kepada manusia dengan akal dan hatinya. Dengan akal kita bisa berpikir dan menimbang sesuatu perbuatan itu benar-salah, baik-buruk, bermanfaat ataukah menimbulkan madharat, baik bagi diri sendiri maupun bagi orang lain. Ini karena keimanan dan amal shalih adalah dua hal yang merupakan satu kesatuan dan tidak bisa dipisahkan. Jika Abu al-Hasan al-Asy’ary perintis tradisi pemikiran Sunny menyatakan bahwa ”al-Iman yazidu wa yanqushu” artinya ”iman itu bertambah dan berkurang”, adalah karena iman itu bertambah manakala amal shalih mengalami peningkatan. Sebaliknya, iman akan berkurang dan melemah, manakala amal shalihnya berkurang. Ketika seseorang amal shalihnya bertambah, maka inilah yang dalam bahasa sehari-hari dinamakan dengan prestasi. Seseorang yang ingin berprestasi, tentu dia selalu berusaha mendayagunakan akal dan hatinya, untuk melakukan yang terbaik untuk dirinya dan bagi orang lain. Di sinilah terletak peluang terjadinya kekeliruan dan kesalahan sebagai konsekuensi atau risiko sebuah perbuatan itu dilakukan.
Karena itulah, Allah memberikan ruang dan kesempatan untuk memperbaiki keslalahan. Dalam tataran kekeliruan dan kesalahan yang bersifat horizontal dengan sesama manusia, media untuk memutihkannya adalah dengan permintaan dan pemberian maaf kepada sesama. Dalam konteks inilah, indikator penting ketaqwaan seseorang adalah manakala dia dengan senang hati meminta dan memberi maaf kepada orang lain atas kemungkinan kekeliruan dan kesalahan yang dilakukannya.
       Sementara dalam tataran kekeliruan atau kesalahan yang bersifat vertikal, sebagai hubungan antara hamba dengan Khaliq (Pencipta)-Nya, maka ruang dan waktu untuk memutihkannya, adalah dengan beristighfar memohon ampunan dan bertaubat atas semua dosa dan kesalahan dengan taubatan nashuhah. Rasulullah saw sendiri meskipun boleh dikatakan sebagai manusia suci (ma’shum), beliau selalu memohon ampunan dan bertaubat yang setiap malam menghabiskan sepertiga malam untuk mendekatkan diri kepada Allah SWT.
       Dalam diri manusia, sebenarnya telah dibekali instrumen kontrol yang secara mekanistik dapat bekerja tanpa perintah. Inilah yang oleh Rasulullah saw diingatkan, bahwa dalam diri kita ada segumpal darah, yang apabila ini baik, maka yang lain akan baik, dan apabila segumpal darah ini kerjanya tidak baik, maka yang lain akan tidak baik juga. Inilah yang dinamakan qalbu (hati). Qalbu secara harfiah artinya berubah. Disebut qalbu karena sifatnya yang selalu berubah-ubah. Ketika hati sedang gelap disebut dengan qalbu dhulmani, yang penampilannya akan membawa kegelapan dirinya dan menimpa orang lain, seperti: dengki, hasud, sombong, takabur, pamer atau riya, dan lain-lain. Manakala hati itu terang, disebut dengan qalbu nurani, yang menerangi dirinya sendiri dan menjadi suluh terang bagi orang lain, seperti: sikap ramah, berkata baik dan indah, dan suka menolong orang lain. Dalam kenyataannya, godaan duniawi dan dorongan nafsu, menjadikan hati yang terang itu terkalahkan dengan kegelapan yang menimpanya.
Instrumen penting untuk mengasah hati dan pikiran manusia, adalah oleh-oleh Rasulullah saw dalam peristiwa isra’ dan mi’raj di bulan Rajab yang baru beberapa hari lalu kita lewati, yakni mendirikan shalat lima waktu secara khusyu’ dan istiqamah.
      Allah SWT menyediakan ruang waktu dalam bulan Sya’ban ini sebagai bulan untuk memutihkan yang hitam, menerangkan yang gelap, dan membersihkan yang kotor. Sya’ban artinya bercabang-cabang, dan oleh karena itu, kita dianjurkan untuk membersihkan diri dengan bertaubat kepada-Nya.
Suatu saat Rasulullah saw bertanya kepada para sahabat :
أتدرون لم سمى شعبان ؟ قالوا الله ورسوله أعلم قال لأنه يتشعب فيه خير كثير (روضة العلماء)
“Apakah kalian  tahu mengapa disebut dengan “sya’ban” ? Mereka menjawab : “Allah dan Rasul-Nya lebih mengetahui”. “Karena di dalam bulan tersebut, kebaikan yang banyak itu bercabang-cabang” (Raudhah al-Ulama’).
       Allah Swt Maha Pengasih dan Penyayang kepada hamba-Nya yang mau dengan sadar berusaha memperbaiki dirinya. Dalam satu riwayat Rasulullah saw menyatakan :
يؤتى بعبد يوم القيامة وتعرض سيئاته فيقول الله تعالى أما استحييت منى اذ عصيتني ؟ فيرفع العبد صوته ببكاء شديد فيقول الله : احفظ صوتك حتى لا يسمع محمد صلى الله عليه وسلم ولا يعرف أنى سترتها فى الدنيا وأنا أغفرها اليوم فيبكى أشد منه من فرحه فيسمع محمد صلى اله عليه وسلم فيقول الله تعالى : وهبته لك ولا تحزن يا حبيبي (زهرة الرياض)
Artinya : “Pada hari kiamat seorang hamba dihadapkan dan ditunjukkan kejelekan-kejelekannya, maka Allah berfirman : “Apakah kamu malu kepadaku karena kamu maksiyat kepadaku ?” Maka hamba itu meninggikan suaranya karena menangis yang sungguh-sungguh. Maka Allah berfirman : “Jagalah suaramu sehingga Muhammad saw tidak mendengar dan tidak mengetahui bahwa aku telah menutupi kejelekan kamu di dunia dan Aku akan mengampuninya pada hari ini”, maka si hamba tersebut menangis sekuat-kuatnya karena saking bahagianya, diampuni oleh Allah.
Maka setelah Nabi Muhammad saw. mendengar, beliau berkata : “Wahai Tuhanku, Engkaulah Dzat yang paling Penyayang dari yang penyayang, limpahkanlah ampunan itu kepadaku, maka Allah berfirman : “Aku akan limpahkan itu kepadamu dan jangan bersedih wahai kekasih-Ku” (Zuhrah al-Riyadh).
       Saudaraku, dalam bulan Sya’ban, banyak kemurahan dan kemudahan diberikan Allah kepada kita. Karena itu marilah kesempatan ini kita gunakan untuk mempersiapkan diri sebagai bagian usaha dalam memasuki bulan Ramadhan dengan penuh kekhusyu’an dan kepasrahan diri kepada Allah swt. Rasulullah saw sendiri senantiasa puasa satu bulan penuh, dan bersabda : “Allah meningkatkan amalan hamba-hamba-Nya dalam bulan ini”. Karena itu, para Ulama dan masyarakat menyambut dan mengisi bulan Sya’ban ini dengan serangkaian ibadah. Sebagaimana riwayat Imam Muslim, “Rasulullah saw bersabda : “Datang kepadaku malaikat Jibril pada malam nishfu Sya’ban, dan berkata : “Wahai Muhammad, malam ini dibuka pintu-pintu langit dan pintu-pintu rahmat maka berdirilah dan shalatlah kamu, angkat kepalamu dan tengadahkan kedua tanganmu ke langit ! Aku berkata : “Wahai Jibril, apa artinya malam ini ? Jibril berkata : “Pada malam ini dibuka tiga ratus pintu rahmat, Allah mengampuni semua orang yang tidak menyekutukan Allah dengan sesuatu pun kecuali orang yang menyihir, dukun, pecandu, peminum khamar, atau mengulangi zina, memakan riba, menyakiti kedua orang tua, menghasut orang lain, dan memutus tali silaturrahim. Mereka itu tidak diampuni oleh Allah sehingga mereka bertaubat dan meninggalkannya”. Maka Nabi saw keluar, shalat dan menangis dalam sujud beliau, seraya berdo’a : “Ya Allah sesungguhnya kami memohon perlindungan kepada-Mu dari siksa dan kemarahan-Mu, kami tidak mampu menghitung keni’matan-Mu sebagaimana kami memuji kepada-Mu, maka hanya bagi-Mu lah segala puji sehingga Engkau meridhainya” (Zubdah al-Wa’idhin).
       Mengakhiri renungan ini, marilah kita cermati Firman Allah SWT :
من كان يريد حرث الأخرة نزد له فى حرثه ومن كان يريد حرث الدنيا نؤته منها وما له فى الأخرة من نصيب   الشورى (42) 19-20
Artinya : “Barangsiapa menghendaki keberhasilan kehidupan akhirat, maka Kami (Allah) akan menambah keberhasilannya, dan barangsiapa menghendaki keberhasilan kehidupan dunia, Kami akan memberinya, dan dia tidak mendapatkan bagian pada kehidupan akhirat” (QS. Al-Syura: 19-20).
       Semoga dalam bulan Sya’ban ini, kita semua dikarunia kekuatan dan kesabaran untuk dapat meningkatkan keimanan, mengamalkan perbuatan yang baik dan meninggalkan segala bentuk kemaksiyatan kepada-Nya. Amin. Allah a’lam bi al-shawab.
Ngaliyan, Semarang, 11/5/2017.

Check Also

MA’HAD ‘ALY TBS: MENYEMAI AHLI FALAK YANG ASTRONOM

Assalamualaikum wrwb. Al-hamdu liLlah wa sy-syukru liLlah. Segala puji dan syukur hanya milik Allah. Marilah kita syukuri anugrah dan pertolongan Allah, hanya karena dengan kasih sayang dan pertolongan Allah kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktivitas kita hari ini. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan pengikut yang setia dan istiqamah meneadani beliau.  Semoga semua urusan kita diberi kemudahan oleh Allah dan kelak di akhirat kita mendapat syafaat beliau. Saudaraku, kemarin Sabtu, 20 Rajab 1439 H bertepatan dengan 7/4/2018 M saya mendapat kehormatan untuk ikut menyaksikan peyerahan Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Islam, oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, tentang persetujuan Pesantren TBS (Tasywiquth Thullab Salafiyah) sebagai penyelenggara Program Pendidikan Ma’had ‘Aly. Nama TBS – memang unik – karena kepanjangannya “tidak simetris” karena T diambil dari huruf “ta” dari kata “tasywiq” dan B diambil huruf terakhir kata “thullab” bentuk jama’ dari kata “thalib” yang artinya murid, siswa, atau peserta didik dalam bahasa sekarang. Seingat saya, saat saya masih menjadi “santri” huruf S itu singkatan dari kata “school” yang artinya sekolah atau madrasah. Dalam perjalanannya, huruf S ini diambil dari huruf “sin” dari kata salafiyah, yang artinya madrasah. Kata “Tasywiqu th-Thullab Salafiyah” artinya “Bronto – atau intellectual curiousity– nya Santri yang berpendidikan Salafiyah”. Salafiyah juga dalam penggunaan keseharian berbeda dengan “Salafi”.  TBS merancang dan mengelola pendidikan meskipun pada dasarnya adalah madrasah formal atau klasikal, namun desain kurikulum dan tata kelolanya, mengikuti model pondok pesantren. Saya sendiri, belajar di TBS ini selama “tujuh” tahun dengan sistem dan model yang unik juga. Setelah lulus SD dan MI di Kampung, didaftarkan di TBS. Test kemampuan dimulai dengan materi test kelas empat  MI, hari itu juga diumumkan. Besok paginya, test kemampuan untuk kelas lima, siangnya langsung diumumkan. Berarti lolos kelas 5. Besok paginya diikutkan test kemampuan kelas enam, sayang belum beruntung. Akhirnya “harus” mengikuti pelajaran dari kelas lima. Setelah satu semester, dievaluasi, dan ini yang menarik, saya diperintahkan untuk “naik kelas” di pertengahan tahun, ke kelas enam. Pendek cerita, al-hamdu liLlah, saya dinyatakan mampu melewati kelas enam MI TBS dan lulus dengan mendapat peringkat satu. Saya menerima hadiah dan senang sekali, yakni kitab “Riyadlu sh-Shalihin” dan “Sarung” yang hingga kini tidak terlupakan. Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah saya selesaikan secara normal enam tahun. Namanya juga Salafiyah, kurikulumnya, dari MI ilmu nahwunya belajar Ajrumiyah – terkenalnya Jurumiyah  – dan ‘Imrithy. Pada Tsanawiyah imu nahwu sudah harus menghafal nadham “Alfiyah” atau seribu nadham yang ditulis oleh Imam Ibnu Malik. Di Madrasah Aiyah, ilmu nahwu sudah menggunakan Syarah atau Komentar atas Alfiyah Ibn Malik, yaitu Ibnu ‘Aqil. Saya tidak sebutkan semuanya, karena dengan kitab-kitab yang menjadi maraji’ pembelajaran ilmu Nahwu tersebut, sudah terbayang model dan sistem pendidikannya, dan seperti apa lulusannya.  Maaf, ini bukan kalimat “kesombongan” karena insyaa Allah, saya tidak ada potongan “sombong”, apalagi saya sadar ilmu saya sangat tidak seberapa. Saudaraku, Ma’had ‘Aly TBS menurut data Direktorat PD Pontren Kementerian Agama adalah yang ke 27, dan memilih spesialisasi atau takhashshush Ilmu Falak. Maka, selain penyerahan SK, juga digelar Halaqah Falakiyah dengan tagline “Merawat Tradisi Menebar Innovasi”. Selain karena alasan Ilmu Falak selama ini makin “langka” peminatnya. Bahkan Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, sejak ada program Beasiswa 5.000 Doktor di Kementerian Agama, distingsinya adalah menyiapkan Doktor Ilmu Falak. Bahkan di tahun 2017, hanya terisi 7 mahasiswa. Untung saja Pascasarjana UIN Walisongo membuka konsentrasi baru Manajemen Halal dan Hukum Keluarga, jadinya “kuotanya” terpenuhi. Ma’had ‘Aly TBS juga pada saatnya akan menyuplai calon mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo tentu kalau sudah meluluskan. Pada saat saya masih di MTs, TBS sudah mengajarkan ilmu Falak dan di antaranya  mengoperasikan rubu’ mujayyab. Di TBS sangat dikenal KH Turaihan Ajhury asy-Syarafy al-Falaky, ahli falak sangat terkenal di jagad Indonesia, terutama kalender atau almanak Menara Kudus yang khas. Juga ada KH Abdul Jalil, dan masih ada beberapa ahli falak lainnya. Sebagai alumnus TBS, tidak ada kata lain kecuali mengapresiasi dan menyambut positif terselenggaranya Ma’had ‘Aly TBS ini. Kebetulan saya masih diamanati sebagai Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, yang mengelola program doktor ilmu falak, kehadiran Ma’had ‘Aly bisa menjaid mitra. Memang bagi program S1 Ilmu Falak  Fakultas Syariah dan Hukum, bisa saja ditafsiri sebagai “pesaing baru”, apalagi dengan basik yang berbeda. UIN basiknya lebih variatif, sementara di TBS rasanya “wajib” berbasis pesantren. Maka tafsirnya, musti dengan kompromi atau “al-jam’u wa t-taufiq” atau menyatukan dan mengompromikan. Dalam dunia bisnis, suatu “produk” semakin banyak produsen atau yang menjajakan, maka produk tersebut adalah produk yang menjadi kebutuhan penting. Karena itu, tidak perlu ada komentar yang tidak perlu, karena dunia pendidikan apalagi untuk menyiapkan ahli falak di dunia Indonesia ini, masih sangat diperlukan. Kalau ada pertanyaan, apakah setelah ada lulusan Ma’had ‘Aly TBS yang ahli falak rasa astrnom, apakah kemudian tidak ada lagi perbedaan dalam penentuan awal Ramadlan, awal Syawwal, dan awal Dzulhijah? Ini pertanyaan kritis tetapi jawabnya tidak mudah. Karena ini seperti pertanyaan maaf, “apakah tambahnya lulusan akpol, akmil, dan sarjana lainnya, akan berkorelasi menurunkan angka kriminalitas, gerakan separatis, atau problematika sosial lainnya”? Soal penentuan awal bulan Qamariyah, di Indonesia ini, tampak indahnya justru karena ada perbedaan itu. Mengapa, karena “instrumen test” kematangan berdemokrasi dan bertoleransi tampak matang dengan perbedaan itu. Dalam soal ibadah dan internal sesama kaum Muslim saja, bisa berjalan dengan baik, apalagi dengan penganut agama lain. Tentu ini, harus difahami dan dimaknai secara cerdas. Karena meskipun dalilnya sama, Al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan sumber dan rujukan sama, namun metode pemahamannya berbeda, akan menghasilkan rumusan atau formulasi hukum yang berbeda. Apalagi jika sudah ada pertimbangan di luar akademik dan keagamaan, maka tentu akan lebih variatif lagi. MUI sudah mensosialisasikan kaidah yang sangat dikenal, “hukm al-hakim ilzam wa yarfa’u l-khilaf” artinya “putusan hukum pemerintah itu mengikat dan menghilangkan perbedaan pendapat”. Itu teorinya, namun dalam kenyataannya, dengan dalih soal keyakinan karena terkait dengan amaliyah keagamaan, maka pemerintah juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Karena itu, tidak ada pilihan lain, kecuali merawat dan memelihara perbedaan tersebut, agar tetap menjadi rahmat dan kasih sayang. Yang terakhir ini pun, didasari kaidah selain “ikhtilafu ummati rahmah” artinya “perbedaan pedapat ummatku adalah kasih sayang”, juga ada kaidah “man lam yasyumma raihata l-khilaf lam yasyumma raihata l-fiqh” artinya “barang siapa tidak mampu mencium aroma perbedaan pendapat, berarti ia tidak mampu mencium aroma fiqh”. Yang terpenting, bagaimana kita mampu melakukan “literasi” dan mendewasakan umat kita, agar makin terbiasa dan terbudaya dengan perbedaan, sehingga kesimpulannya adalah “sepakat dalam perbedaan” atau “berbeda dengan kesepakatan”. Selamat Ma’had ‘Aly TBS, almamaterku, semoga Allah senantiasa melapangkan jalan “rizqimu” dan menggelar keberkahan padamu, untuk menyiapkan generasi Ahli Falak Rasa Astronom, atau Astronom yang Ahli Agama”. Selamat “merawat tradisi dan menebar innovasi”. Tekadmu dan kerja kerasmu, ditunggu umat. Jadilah yang terbaik dan paling member banyak manfaat. Sudah saatnya dari pondok pesantren, yang akan menjadi leader bangsa ini di masa depan. Allah a’lam bi sh-shawab. Wassalamualaikjm wrwb. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *