Home / KOLOM DIREKTUR / AMMAN MESSAGE DAN ISLAMOPHOBIA

AMMAN MESSAGE DAN ISLAMOPHOBIA

Assalamualaikum wrwb.
       Saudaraku, mari kita syukuri anugrah dan nikmat Allah yang kita terima. Sesuai dengan usaha keras kita, seberapapun rizqi dan kenikmatan yang kita bisa rasakan, hanya akan mendatangkan kebahagiaan, jika kota pandai bersyukur. Shalawat dan salam kita selalu senandungkan untuk Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan para pengikutnya, semoga hati kita makin lembut, ceria, dan selalu berhusnudhan tanpa mengurangi kewaspadaan kita. Insyaa Allah syafaat beliau akan memayungi kita di akhirat kelak.
       Saudaraku yang disayangi Allah. Kehendak Allah dan tugas dari Rektor UIN Walisongo, saya berkesempatan diamanati menjadi salah satu pembicara dan peserta pada acara Muktamar Internasional tentang Islam dan Tantangan Kontemporer 27-29/4/2017 di kota Amman, ibukota Yordania. Negara kerajaan Hasyimiyah yang dipimpin oleh Raja Abdullah II. Muktamar ini diikuti 400 peserta dari 15 Negara, Timur Tengah, Afrika, dan Asia yang diwakili oleh 12 Pimpinan dan utusan Perguruan Tinggi Keagamaan Islam Negeri (PTKIN). Dari Indonesia hadir juga oleh Dubes RI untuk Yordania dan Palestina Andy Rachmianto. Muktamar dibuka oleh Menteri Wakaf Yordania dan Dirjen Pendidikan Islam Prof. Dr. Phil. Kamaruddin Amin, MA. mewakili Menteri Agama.
       Muktamar internasional ini sebagai tindak lanjut Amman Message yang dirumuskan pada tanggal 26 Ramadhan 1425 H/09 November 2004 M di Amman, merupakan yang kedua, setelah Konferensi Internasional yang pertama digelar di Jakarta 23-24/4/2013 tentang Islam, Peradaban, dan Perdamaian yang melahirkan 9 poin Jakarta Message atau Risalah Jakarta.
      Isu sentral Muktamar ini adalah untuk memformulasikan solusi dan tindakan masing-masing negara adalah mempromosikan pesan suci Islam yang rahmatan lil ‘alamin (QS. Al-Anbiya’:107) yang meniscayakan keberagamaan secara moderat, toleran, perdamaian, dalam membangun peradaban dan kemanusiaan. Islam yang ramah, tidak mengedepankan kekerasan, ekstremisme, radikalisme, dan terorisme. Munculnya Islamic State for Irak and Syria (ISIS) yang menggunakan idiom Islam – yang menurut beberapa informasi adalah buatan Amerika dan Israel – adalah fakta politik untuk merusak citra Islam dari dalam, yang ini sangat-sangat mengerikan dan memprihatinkan. Karena dari citra dan tampilan ISIS yang sempat diikuti juga oleh beberapa gelintir orang dari Indonesia ini, tampaknya berhasil membangun ketakutan sebagian orang terhadap Islam (Islamophobia). Kita yang mengaku Muslim dan pasti siapapun melihat cara-cara ISIS melakukan perjuangan yang katanya untuk mendirikan negara Islam (daulah Islamiyah) dengan kekerasan, pembunuhan, dan peperangan, sesungguhnya sangat jauh dari nilai, spirit, dan tatanan Islam yang damai, toleran, penuh persaudaraan, dan prikemanusiaan.
      Seluruh negara aislam atau muslim sepakat merefer pada QS. Al-Hujurat 13, bahwa Allah menciptakan manusia terdiri dari laki-laki dan perempuan, dijadikan-Nya hidup berbangsa-bangsa dan bersuku-suku, adalah untuk saling mengenal (تعارف), saling menghormati (تراحم), dan saling tolong menolong (تعاون). Hidup bersama berdampingan dan bersaing secara terbuka dan jujur, menjadi hamba-hamba Allah yang bertaqwa, menyayangi sesama, membangun keshalihan pribadi dan keshalihan sosial bersama. Meskipun harus diakui bersama, bahwa “perumpamaan orang-orang yang beriman dalam kasih sayang dan saling menghirmati, laksana jasad yang satu, jika anggota tubuh yang satu sakit, maka anggota tubuh yang lainnya juga ikut merasakannya” ternyata tidak mudah dilakukan.
       Islam sebagai  jalan hidup lurus, moderat, tidak ekstrem kanan atau kiri, penuh kedamaian, persaudaraan, tolong menolong, dan saling menghormati, ternyata tidak mudah direalisaikan. Tentu tidak hanya dimaksudkan untuk mengatur dan memandu urusan personal saja, akan tetapi ketika Islam ditampilkan dalam kontek  kehidupan berbangsa, bernegara, dan bermasyarakat, juga musti bisa menjadi teladan bagi siapa saja. Hanya karena perbedaan madzhab, atau kepentingan politik tertentu, bisa terjadi saling memusuhi dan saling merusak, demi egoisme atau ananiyah yang mendominasi diri mereka. Bahkan yang lebih mengerikan lagi adalah, jika kemudian negara Islam tertentu bersekutu atau berkoalisi dengan negara yang sesungguhnya mengidap penyakit Islamophobia akut, kemudian menghancurkan sesama negara Islam/Muslim lainnya.
       Karena itu, melalui utusan masing-masing negara yang rata-rata pasa level menteri atau pejabat setingkat dengan itu, bisa mengampanyekan hasil muktamar internasional ini secara jujur dan bertanggung jawab dalam membangun kemanusiaan, peradaban, dan perdamaian di dunia ini. Masih banyak saudara-saudara Muslim kita seperti di Palestina, terus menerus dijajah oleh Israel, bahkan Masjidil Aqsha di Palestina yang menjadi kiblat pertama umat Islam, dan menjadi transit perjalanan Isra’ dan Mi’raj Rasulullah saw, berusaha dikuasai, karena diklaim menjadi kota suci mereka. Saudara kita Muslim di Rohingnya Miyanmar yang menjadi korban genocida oleh para tokoh agama Budha, juga tidak atau belum mendapatkan solusi yang baik.
      Saudaraku, kata kuncinya adalah pertama, Islam moderat, sebagaimana digariskan dan dituntun melalui teladan Rasulullah saw. Beliau menganjurkan umat beliau beragamalah secara moderat, jangan terjebak pada ekstremisme, baik kanan atau kiri, karena itu bertentangan dengan semangat dan nilai substansi ajaran Islam itu sendiri. Islam yang ditampilkan dengan kasar dan kekerasan, akan menjauhkan orang lain pada agama Islam itu sendiri. Boleh jadi, nilai dan substansi ini yang kemudianjustru dimanfaatkan oleh pihak lain, merusak dari dalam, dengan menciptakan kelompok-kelompok Islam yang radikal, ekstrem, dan intoleran untuk memusuhi dan memerangi saudaranya sendiri, seperti prilaku ISIS yang sama-sama kita saksikan. Bagi orang awam, yang tidak memahami bahwa ISIS atau aliran radikal lainnya, itu adalah misi intelegen untuk menghancurkan Islam, akan melahirkan sindrom akut Islamophobia itu makin menjadi-jadi.
       Karena itu, mari kita terus perjuangkan dan kampanyekan  Islam yang moderat, Islam sebagaimana yang dicontohkan oleh Rasulullah saw melalui Piagam atau Mitsaq Madinah, yang lebih mengedepankan nilai, prinsip, dan tatanan universal, seperti persamaan di depan hukum, persaudaraan dalam keragaman, toleran, memiliki rasa kebangsaan atau nasionalisme yang inklusif, saling menghormati dan tolong menolong. Inilah pesan penting Firman Allah :
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللهِ فَإِن تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ.  ال عمران ٦٤.
“Katakanlah : “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatu pun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” (QS. Ali ‘Imran:64).
       Saudaraku, mengakhiri tulisan ini, semua kaum Muslim di dunia ini, dan kita yang di Indonesia, berkewajiban untuk menjalankan keberagamaan kita secara moderat, memiliki komitmen kebangsaan atau nasionalisme yang inklusif, hidup bertetangga dengan penuh persaudaraan, menjadi pemaaf dan bahkan memohonkan ampunan kepada saudara kita, agar secara perlahan namun pasti Islam yang rahmatan lil alamin dan Islam yang mampu berdialog dengan tuntutan ruang dan waktu, akan mampu mengikis dan menghapus Islamophobia yang boleh jadi sengaja dipelihara oleh negara atau siapapun yang tidak suka jika Islam akan menjadi agama yang mengedepankan nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban dan mampu menjadi agama terdepan di dunia ini.
Firman Allah berikut penting untuk kita renungkan dan hayati bersama:
فَبِمَا رَحْمَةٍ مِّنَ اللهِ لِنتَ لَهُمْ وَلَوْ كُنتَ فَظًّا غَلِيظَ الْقَلْبِ لَانفَضُّوا مِنْ حَوْلِكَ فَاعْفُ عَنْهُمْ وَاسْتَغْفِرْ لَهُمْ وَشَاوِرْهُمْ فِي الْأَمْرِ فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ
“Maka disebabkan rahmat dari Allah lah kamu bersikap lemah lembut terhadap mereka. Sekiranya kamu bersikap keras lagi kasar, tentulah mereka menjauhkan diri dari sekelilingmu. Karena itu, maafkanlah mereka, mohonkanlah ampun bagi mereka, dan bermusyawarhlah dengan mereka dalam urusan itu. Kemudian alabila kamu telah membulatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” (QS. Ali Imran:159).
       Semoga kita dan kaum Muslimin di dunia ini, khususnya kita di Indonesia, mampu dan memiliki kesadaran untuk menjalankan Islam dan keberagamaan kita secara moderat, memiliki rasa kebangsaan yang inklusif, mengedepankan toleransi dan persaudaraan sejati, karena kita sadar, bahwa bentuk negara dan negara itu sendiri hanyalah instrumen untuk hidup bersama dengan damai, dapat menjalankan syariat agama kota dengan tenteram dan nyaman. Memang ini membutuhkan pemimpin yang adil dan keteladanan nyata, agar kita tidak berlebihan berharap terujudnya baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur. Waffaqana Allah wa iyyakum ila sabil al-haqq wa shirat al-mustaqim.
      Wa Allah a’lam bi al-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.
Regency Hotel, Amman Yordania, 30/4/2017.

Check Also

MA’HAD ‘ALY TBS: MENYEMAI AHLI FALAK YANG ASTRONOM

Assalamualaikum wrwb. Al-hamdu liLlah wa sy-syukru liLlah. Segala puji dan syukur hanya milik Allah. Marilah kita syukuri anugrah dan pertolongan Allah, hanya karena dengan kasih sayang dan pertolongan Allah kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktivitas kita hari ini. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan pengikut yang setia dan istiqamah meneadani beliau.  Semoga semua urusan kita diberi kemudahan oleh Allah dan kelak di akhirat kita mendapat syafaat beliau. Saudaraku, kemarin Sabtu, 20 Rajab 1439 H bertepatan dengan 7/4/2018 M saya mendapat kehormatan untuk ikut menyaksikan peyerahan Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Islam, oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, tentang persetujuan Pesantren TBS (Tasywiquth Thullab Salafiyah) sebagai penyelenggara Program Pendidikan Ma’had ‘Aly. Nama TBS – memang unik – karena kepanjangannya “tidak simetris” karena T diambil dari huruf “ta” dari kata “tasywiq” dan B diambil huruf terakhir kata “thullab” bentuk jama’ dari kata “thalib” yang artinya murid, siswa, atau peserta didik dalam bahasa sekarang. Seingat saya, saat saya masih menjadi “santri” huruf S itu singkatan dari kata “school” yang artinya sekolah atau madrasah. Dalam perjalanannya, huruf S ini diambil dari huruf “sin” dari kata salafiyah, yang artinya madrasah. Kata “Tasywiqu th-Thullab Salafiyah” artinya “Bronto – atau intellectual curiousity– nya Santri yang berpendidikan Salafiyah”. Salafiyah juga dalam penggunaan keseharian berbeda dengan “Salafi”.  TBS merancang dan mengelola pendidikan meskipun pada dasarnya adalah madrasah formal atau klasikal, namun desain kurikulum dan tata kelolanya, mengikuti model pondok pesantren. Saya sendiri, belajar di TBS ini selama “tujuh” tahun dengan sistem dan model yang unik juga. Setelah lulus SD dan MI di Kampung, didaftarkan di TBS. Test kemampuan dimulai dengan materi test kelas empat  MI, hari itu juga diumumkan. Besok paginya, test kemampuan untuk kelas lima, siangnya langsung diumumkan. Berarti lolos kelas 5. Besok paginya diikutkan test kemampuan kelas enam, sayang belum beruntung. Akhirnya “harus” mengikuti pelajaran dari kelas lima. Setelah satu semester, dievaluasi, dan ini yang menarik, saya diperintahkan untuk “naik kelas” di pertengahan tahun, ke kelas enam. Pendek cerita, al-hamdu liLlah, saya dinyatakan mampu melewati kelas enam MI TBS dan lulus dengan mendapat peringkat satu. Saya menerima hadiah dan senang sekali, yakni kitab “Riyadlu sh-Shalihin” dan “Sarung” yang hingga kini tidak terlupakan. Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah saya selesaikan secara normal enam tahun. Namanya juga Salafiyah, kurikulumnya, dari MI ilmu nahwunya belajar Ajrumiyah – terkenalnya Jurumiyah  – dan ‘Imrithy. Pada Tsanawiyah imu nahwu sudah harus menghafal nadham “Alfiyah” atau seribu nadham yang ditulis oleh Imam Ibnu Malik. Di Madrasah Aiyah, ilmu nahwu sudah menggunakan Syarah atau Komentar atas Alfiyah Ibn Malik, yaitu Ibnu ‘Aqil. Saya tidak sebutkan semuanya, karena dengan kitab-kitab yang menjadi maraji’ pembelajaran ilmu Nahwu tersebut, sudah terbayang model dan sistem pendidikannya, dan seperti apa lulusannya.  Maaf, ini bukan kalimat “kesombongan” karena insyaa Allah, saya tidak ada potongan “sombong”, apalagi saya sadar ilmu saya sangat tidak seberapa. Saudaraku, Ma’had ‘Aly TBS menurut data Direktorat PD Pontren Kementerian Agama adalah yang ke 27, dan memilih spesialisasi atau takhashshush Ilmu Falak. Maka, selain penyerahan SK, juga digelar Halaqah Falakiyah dengan tagline “Merawat Tradisi Menebar Innovasi”. Selain karena alasan Ilmu Falak selama ini makin “langka” peminatnya. Bahkan Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, sejak ada program Beasiswa 5.000 Doktor di Kementerian Agama, distingsinya adalah menyiapkan Doktor Ilmu Falak. Bahkan di tahun 2017, hanya terisi 7 mahasiswa. Untung saja Pascasarjana UIN Walisongo membuka konsentrasi baru Manajemen Halal dan Hukum Keluarga, jadinya “kuotanya” terpenuhi. Ma’had ‘Aly TBS juga pada saatnya akan menyuplai calon mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo tentu kalau sudah meluluskan. Pada saat saya masih di MTs, TBS sudah mengajarkan ilmu Falak dan di antaranya  mengoperasikan rubu’ mujayyab. Di TBS sangat dikenal KH Turaihan Ajhury asy-Syarafy al-Falaky, ahli falak sangat terkenal di jagad Indonesia, terutama kalender atau almanak Menara Kudus yang khas. Juga ada KH Abdul Jalil, dan masih ada beberapa ahli falak lainnya. Sebagai alumnus TBS, tidak ada kata lain kecuali mengapresiasi dan menyambut positif terselenggaranya Ma’had ‘Aly TBS ini. Kebetulan saya masih diamanati sebagai Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, yang mengelola program doktor ilmu falak, kehadiran Ma’had ‘Aly bisa menjaid mitra. Memang bagi program S1 Ilmu Falak  Fakultas Syariah dan Hukum, bisa saja ditafsiri sebagai “pesaing baru”, apalagi dengan basik yang berbeda. UIN basiknya lebih variatif, sementara di TBS rasanya “wajib” berbasis pesantren. Maka tafsirnya, musti dengan kompromi atau “al-jam’u wa t-taufiq” atau menyatukan dan mengompromikan. Dalam dunia bisnis, suatu “produk” semakin banyak produsen atau yang menjajakan, maka produk tersebut adalah produk yang menjadi kebutuhan penting. Karena itu, tidak perlu ada komentar yang tidak perlu, karena dunia pendidikan apalagi untuk menyiapkan ahli falak di dunia Indonesia ini, masih sangat diperlukan. Kalau ada pertanyaan, apakah setelah ada lulusan Ma’had ‘Aly TBS yang ahli falak rasa astrnom, apakah kemudian tidak ada lagi perbedaan dalam penentuan awal Ramadlan, awal Syawwal, dan awal Dzulhijah? Ini pertanyaan kritis tetapi jawabnya tidak mudah. Karena ini seperti pertanyaan maaf, “apakah tambahnya lulusan akpol, akmil, dan sarjana lainnya, akan berkorelasi menurunkan angka kriminalitas, gerakan separatis, atau problematika sosial lainnya”? Soal penentuan awal bulan Qamariyah, di Indonesia ini, tampak indahnya justru karena ada perbedaan itu. Mengapa, karena “instrumen test” kematangan berdemokrasi dan bertoleransi tampak matang dengan perbedaan itu. Dalam soal ibadah dan internal sesama kaum Muslim saja, bisa berjalan dengan baik, apalagi dengan penganut agama lain. Tentu ini, harus difahami dan dimaknai secara cerdas. Karena meskipun dalilnya sama, Al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan sumber dan rujukan sama, namun metode pemahamannya berbeda, akan menghasilkan rumusan atau formulasi hukum yang berbeda. Apalagi jika sudah ada pertimbangan di luar akademik dan keagamaan, maka tentu akan lebih variatif lagi. MUI sudah mensosialisasikan kaidah yang sangat dikenal, “hukm al-hakim ilzam wa yarfa’u l-khilaf” artinya “putusan hukum pemerintah itu mengikat dan menghilangkan perbedaan pendapat”. Itu teorinya, namun dalam kenyataannya, dengan dalih soal keyakinan karena terkait dengan amaliyah keagamaan, maka pemerintah juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Karena itu, tidak ada pilihan lain, kecuali merawat dan memelihara perbedaan tersebut, agar tetap menjadi rahmat dan kasih sayang. Yang terakhir ini pun, didasari kaidah selain “ikhtilafu ummati rahmah” artinya “perbedaan pedapat ummatku adalah kasih sayang”, juga ada kaidah “man lam yasyumma raihata l-khilaf lam yasyumma raihata l-fiqh” artinya “barang siapa tidak mampu mencium aroma perbedaan pendapat, berarti ia tidak mampu mencium aroma fiqh”. Yang terpenting, bagaimana kita mampu melakukan “literasi” dan mendewasakan umat kita, agar makin terbiasa dan terbudaya dengan perbedaan, sehingga kesimpulannya adalah “sepakat dalam perbedaan” atau “berbeda dengan kesepakatan”. Selamat Ma’had ‘Aly TBS, almamaterku, semoga Allah senantiasa melapangkan jalan “rizqimu” dan menggelar keberkahan padamu, untuk menyiapkan generasi Ahli Falak Rasa Astronom, atau Astronom yang Ahli Agama”. Selamat “merawat tradisi dan menebar innovasi”. Tekadmu dan kerja kerasmu, ditunggu umat. Jadilah yang terbaik dan paling member banyak manfaat. Sudah saatnya dari pondok pesantren, yang akan menjadi leader bangsa ini di masa depan. Allah a’lam bi sh-shawab. Wassalamualaikjm wrwb. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *