Home / KOLOM DIREKTUR / PEMIMPIN YANG MEMBAHAGIAKAN RAKYAT

PEMIMPIN YANG MEMBAHAGIAKAN RAKYAT

Assalamualaikum wrwb.
       Saudaraku yang disayangi Allah. Mari kita syukuri karunia dan nikmat-Nya yang tak berbatas, tanpa biaya kita bernafas,  tanpa bayar kita hirup udara segar. Semoga Allah menjaga, meringankan, dan memudahkan segala urusan kita. Tidak rekadaya dan kekuatan kecuali hanya milik Allah.
Shalawat dan salam mari terus kita senandungkan pada Rasulullah saw, keluarga, sahabat,  dan para pengikutnya. Semoga hati kita bertambah bersih, dan cinta kita kepada beliau makin membuncah, insyaa Allah syafaat beliau akan menyapa kita di akhirat nanti.
       Ada teman saya, saudara Nuryadi menulis, “ketika harga beras melambung engkau bilang, beras bukan satu-satunya makanan pokok……Ketika harga daging melambung engkau bilang berlebaran idul fitri tidak harus makan daging….Ketika harga cabai tak terjangkau ibu-ibu engkau bilang cabe bukan makanan pokok….. Kini giliran ketika harga harga bawang melambung engkau bilang bawang bisa diganti penyedap rasa lainnya……. inilah jawabanmu ketika engkau tidak mampu menghadirkan  bahan kebutuhan masyarakat….. dan anak kecilpun bisa menjawab seperti itu tanpa solusi apapun.  Aku ingat betul ketika engkau bertahta kami berharap engkau adalah harapan,  karena janji-janji manismu”.
       Minta ijin Saudaraku Nuryadi, karena sudah di FB, tulisannya itu menginspirasi saya untuk menulis sedikit lebih panjang. Memang tidak lugas menyebut kepada siapa tulisan tersebut disampaikan. Tetapi itulah pendekatan Jawa, “ngluruk tanpo bolo, menang tanpo ngasorake” yang digunakan, meskipun orang yang “cerdas” tentu mengetahui yang dimaksud kepada siapa tulisan tersebut ditujukan.
       Pemimpin secara umum dalam bahasa arab disebut راع  yang lebih tepat artinya “penggembala” atau “pemiara”, yang secara sederhana digambarkan sebagai orang yang menggembala. Seorang penggembala tentu ingin gembalaannya bisa makan kenyang, hidup nyaman, bekerja dengan tenang, penghasilannya lumayan, bisa menabung untuk masa depan, kebutuhannya berkecukupan, hidup damai tanpa ada permusuhan, masing-masing mendapatkan hak-haknya secara berkeadilan. Seorang penggembala, juga tidak bisa menghindar dari tanggung jawab, karena penggembala bukan pecundang. Penggembala adalah yang bertanggung jawab atas hidup dan matinya yang digembalakan. Penggembala yang menjamin keamanan dan kebahagiaan serta kemakmuran gembalaannya.
       Saudaraku, pemimpin agama atau politik disebut imam, amir, atau khalifah pada masa khulafa’ ar-rasyidun. Imam adalah jabatan untuk diikuti dan diteladani. Karena itu, akan menjadi bahan candaan dan ketawaan rakyatnya, apabila sampai terjadi ada pemimpin yang memilih kalimat dalam membuat pernyataan saja, justru menyakitkan rakyatnya. Apabila kata amir yang digunakan, artinya orang yang diserahi tugas untuk menyelesaikan semua urusan rakyat. Bukan orang yang memposisikan dirinya sebagai penguasa. Dalam ungkapan bijak berbahasa Arab disebutkan, امير القوم هو خادمهم واخرهم شربا. Artinya “pemimpin suatu kaum adalah pelayan mereka dan giliran paling akhir minumnya”. Itu nasihat bijak yang sangat dalam maknanya. Sungguh indah dan hebatnya, jika ada pemimpin di negeri ini bisa belajar dan mempraktikkannya dalam melayani dan membahagiakan rakyatnya. Segala kebutuhan sandang, pangan, dan papannya terpenuhi, dan suasananya aman, nyaman, dan menyenangkan. Tentu karena tersedia lapangan pekerjaan, iklim kerja kondusif, dan penghasilannya mencukupi. Kalau perlu melakukan monitoring untuk memantau jangan sampai ada warga dan rakyatnya yang tidak bisa makan dan minum, seperti yang dicontohkan oleh Umar bin al-Khaththab.
       Dalam terminologi khalifah, artinya adalah pengganti. Istilah ini muncul ketika sepeninggal wafat Rasulullah saw. Para sahabat terlibat pembahasan yang cukup alot dan seru untuk memilih pengganti (khalifah) beliau. Ketika Abu Bakar ash-Shiddiq terpilih, maka disebut sebagai khalifatu Rasulillah. Ketika Umar bin al-Khaththab dipilih oleh Abu Bakar menjadi khalifah, disebut dengan khalifatu-khalifati Rasulillah saw.
       Makna dan pesan pentingnya adalah, bahwa khalifah itu sebagai pengganti Rasulullah saw, yang memiliki kewajiban, tugas, dan tanggung jawab menjaga urusan agama dan mengatur urusan dunia, agar warganya mendapatkan kebahagiaan dunia dan akhirat. Meminjam bahasa Abu al-Hasan al-Mawardy dalam al-Ahkam al-Sulthaniyah, “pemimpin itu diletakkan sebagai pengganti tugas kenabian (profetik) dalam menjaga agama (حراسة الدين) dan mengatur urusan dunia (سياسة الدنيا).
       Umar bin Abdul Aziz yang juga cucu Umar bin al-Khaththab ra., dicatat sejarah sebagai khalifah yang bersih, bahkan layak diteladani. Umar bin Abdul-Aziz (bahasa Arab: عمر بن عبد العزيز, diberi gelar Umar II, (682 – 720 M) khalifah Bani Umayyah yang berkuasa dari tahun 717-720 M. selama 2–3 tahun (wikipedia.org).
       Jabatan khalifah, dirasakan oleh Umar bin Abdul Aziz sebagai beban yang luar biasa berat. Suatu saat Umar sedang di rumah dan menangis sehingga ditegur isteri “Wahai Amirul Mukminin, mengapa engkau menangis?” Ia mejawab : “Wahai isteriku, aku diuji oleh Allah dengan jabatan ini dan aku dibayangi orang-orang miskin, ibu-ibu janda yang anaknya banyak, rezekinya sedikit, orang-orang dalam tawanan, dan para fuqara’ kaum muslimin. Aku sadar mereka akan menuntutku di akhirat kelak. Aku bimbang dan tidak dapat menjawab tuntutan mereka. Aku sadar, yang menjadi pembela mereka adalah Rasulullah saw. Isterinya pun akhirnya turut meneteskan air mata (ibid.).
      Saudaraku, suatu saat Umar bin Abdul-Aziz mengumpulkan semua anaknya. Kepada mereka Umar menyampaikan: “Wahai anak-anakku, sesungguhnya ayahmu telah diberi dua pilihan, pertama : menjadikan kamu semua kaya dan ayah masuk ke dalam neraka, kedua: kamu miskin seperti sekarang dan ayah masuk surga (karena tidak menggunakan uang rakyat). Sesungguhnya wahai anak-anakku, aku telah memilih surga”. Satu sumber menyebutkan pada awal menjabat kekayaan Umar bin Abdul Aziz adalah 400.000 dinar, akan tetapi pada saat menjelang wafatnya, hartanya tinggal 40.000 dinar. Jadi berkurang 90% selama menduduki jabatan.
       Saudaraku, tentu kita tidak berharap pemimpin di negeri yang tanahnya adalah irisan surga, kekayaan alamnya banyak, tetapi hanya dikuasai oleh sebagian kecil warganya. Sementara masih banyak yang hidupnya susah, termasuk para petani kecil, benih, pupuk, dan tenaga kerja mahal, ketika saatnya panen, harganya jeblok. Giliran stok panen sudah dijual murah, harga brambang melambung. Demikian juga barang-barang kebutuhan pokok lainnya.
       Kita doakan siapapun yang sudah memberanikan diri menjadi pemimpin dibukakan pintu hati dan pikirannya, untuk lebih berempati pada rakyatnya. Pemimpin hakikatnya adalah pelayan rakyatnya. Tidak semestinya pemimpin berbicara dalam situasi sulit dan resah, mengeluarkan kata-kata yang justru menyakitkan hati rakyatnya. Demikian juga pemimpin dalam bidang apapun, termasuk pemimpin agama dan masyarakat. Kalau pun misalnya apa yang dikatakan teman saya Nuryadi benar adanya, semoga diampuni oleh Allah dan dimaafkan oleh rakyat yang kecewa. Menjadi pemimpin tujuannya adalah membahagiakan rakyatnya. Kalau pun belum bisa dan belum mampu membahagiakan mereka, hendaknya janganlah kecewakan dan sakiti hati dan perasaan mereka dengan ucapan dan perkataan Anda.
Semoga Allah menunjukkan jalan yang benar dan lurus pada kita dan para pemimpin kita.
       Allah a’lam bi al-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.
Regency Hotel, Amman Yordania, 29/4/2017.

Check Also

MA’HAD ‘ALY TBS: MENYEMAI AHLI FALAK YANG ASTRONOM

Assalamualaikum wrwb. Al-hamdu liLlah wa sy-syukru liLlah. Segala puji dan syukur hanya milik Allah. Marilah kita syukuri anugrah dan pertolongan Allah, hanya karena dengan kasih sayang dan pertolongan Allah kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktivitas kita hari ini. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan pengikut yang setia dan istiqamah meneadani beliau.  Semoga semua urusan kita diberi kemudahan oleh Allah dan kelak di akhirat kita mendapat syafaat beliau. Saudaraku, kemarin Sabtu, 20 Rajab 1439 H bertepatan dengan 7/4/2018 M saya mendapat kehormatan untuk ikut menyaksikan peyerahan Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Islam, oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, tentang persetujuan Pesantren TBS (Tasywiquth Thullab Salafiyah) sebagai penyelenggara Program Pendidikan Ma’had ‘Aly. Nama TBS – memang unik – karena kepanjangannya “tidak simetris” karena T diambil dari huruf “ta” dari kata “tasywiq” dan B diambil huruf terakhir kata “thullab” bentuk jama’ dari kata “thalib” yang artinya murid, siswa, atau peserta didik dalam bahasa sekarang. Seingat saya, saat saya masih menjadi “santri” huruf S itu singkatan dari kata “school” yang artinya sekolah atau madrasah. Dalam perjalanannya, huruf S ini diambil dari huruf “sin” dari kata salafiyah, yang artinya madrasah. Kata “Tasywiqu th-Thullab Salafiyah” artinya “Bronto – atau intellectual curiousity– nya Santri yang berpendidikan Salafiyah”. Salafiyah juga dalam penggunaan keseharian berbeda dengan “Salafi”.  TBS merancang dan mengelola pendidikan meskipun pada dasarnya adalah madrasah formal atau klasikal, namun desain kurikulum dan tata kelolanya, mengikuti model pondok pesantren. Saya sendiri, belajar di TBS ini selama “tujuh” tahun dengan sistem dan model yang unik juga. Setelah lulus SD dan MI di Kampung, didaftarkan di TBS. Test kemampuan dimulai dengan materi test kelas empat  MI, hari itu juga diumumkan. Besok paginya, test kemampuan untuk kelas lima, siangnya langsung diumumkan. Berarti lolos kelas 5. Besok paginya diikutkan test kemampuan kelas enam, sayang belum beruntung. Akhirnya “harus” mengikuti pelajaran dari kelas lima. Setelah satu semester, dievaluasi, dan ini yang menarik, saya diperintahkan untuk “naik kelas” di pertengahan tahun, ke kelas enam. Pendek cerita, al-hamdu liLlah, saya dinyatakan mampu melewati kelas enam MI TBS dan lulus dengan mendapat peringkat satu. Saya menerima hadiah dan senang sekali, yakni kitab “Riyadlu sh-Shalihin” dan “Sarung” yang hingga kini tidak terlupakan. Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah saya selesaikan secara normal enam tahun. Namanya juga Salafiyah, kurikulumnya, dari MI ilmu nahwunya belajar Ajrumiyah – terkenalnya Jurumiyah  – dan ‘Imrithy. Pada Tsanawiyah imu nahwu sudah harus menghafal nadham “Alfiyah” atau seribu nadham yang ditulis oleh Imam Ibnu Malik. Di Madrasah Aiyah, ilmu nahwu sudah menggunakan Syarah atau Komentar atas Alfiyah Ibn Malik, yaitu Ibnu ‘Aqil. Saya tidak sebutkan semuanya, karena dengan kitab-kitab yang menjadi maraji’ pembelajaran ilmu Nahwu tersebut, sudah terbayang model dan sistem pendidikannya, dan seperti apa lulusannya.  Maaf, ini bukan kalimat “kesombongan” karena insyaa Allah, saya tidak ada potongan “sombong”, apalagi saya sadar ilmu saya sangat tidak seberapa. Saudaraku, Ma’had ‘Aly TBS menurut data Direktorat PD Pontren Kementerian Agama adalah yang ke 27, dan memilih spesialisasi atau takhashshush Ilmu Falak. Maka, selain penyerahan SK, juga digelar Halaqah Falakiyah dengan tagline “Merawat Tradisi Menebar Innovasi”. Selain karena alasan Ilmu Falak selama ini makin “langka” peminatnya. Bahkan Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, sejak ada program Beasiswa 5.000 Doktor di Kementerian Agama, distingsinya adalah menyiapkan Doktor Ilmu Falak. Bahkan di tahun 2017, hanya terisi 7 mahasiswa. Untung saja Pascasarjana UIN Walisongo membuka konsentrasi baru Manajemen Halal dan Hukum Keluarga, jadinya “kuotanya” terpenuhi. Ma’had ‘Aly TBS juga pada saatnya akan menyuplai calon mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo tentu kalau sudah meluluskan. Pada saat saya masih di MTs, TBS sudah mengajarkan ilmu Falak dan di antaranya  mengoperasikan rubu’ mujayyab. Di TBS sangat dikenal KH Turaihan Ajhury asy-Syarafy al-Falaky, ahli falak sangat terkenal di jagad Indonesia, terutama kalender atau almanak Menara Kudus yang khas. Juga ada KH Abdul Jalil, dan masih ada beberapa ahli falak lainnya. Sebagai alumnus TBS, tidak ada kata lain kecuali mengapresiasi dan menyambut positif terselenggaranya Ma’had ‘Aly TBS ini. Kebetulan saya masih diamanati sebagai Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, yang mengelola program doktor ilmu falak, kehadiran Ma’had ‘Aly bisa menjaid mitra. Memang bagi program S1 Ilmu Falak  Fakultas Syariah dan Hukum, bisa saja ditafsiri sebagai “pesaing baru”, apalagi dengan basik yang berbeda. UIN basiknya lebih variatif, sementara di TBS rasanya “wajib” berbasis pesantren. Maka tafsirnya, musti dengan kompromi atau “al-jam’u wa t-taufiq” atau menyatukan dan mengompromikan. Dalam dunia bisnis, suatu “produk” semakin banyak produsen atau yang menjajakan, maka produk tersebut adalah produk yang menjadi kebutuhan penting. Karena itu, tidak perlu ada komentar yang tidak perlu, karena dunia pendidikan apalagi untuk menyiapkan ahli falak di dunia Indonesia ini, masih sangat diperlukan. Kalau ada pertanyaan, apakah setelah ada lulusan Ma’had ‘Aly TBS yang ahli falak rasa astrnom, apakah kemudian tidak ada lagi perbedaan dalam penentuan awal Ramadlan, awal Syawwal, dan awal Dzulhijah? Ini pertanyaan kritis tetapi jawabnya tidak mudah. Karena ini seperti pertanyaan maaf, “apakah tambahnya lulusan akpol, akmil, dan sarjana lainnya, akan berkorelasi menurunkan angka kriminalitas, gerakan separatis, atau problematika sosial lainnya”? Soal penentuan awal bulan Qamariyah, di Indonesia ini, tampak indahnya justru karena ada perbedaan itu. Mengapa, karena “instrumen test” kematangan berdemokrasi dan bertoleransi tampak matang dengan perbedaan itu. Dalam soal ibadah dan internal sesama kaum Muslim saja, bisa berjalan dengan baik, apalagi dengan penganut agama lain. Tentu ini, harus difahami dan dimaknai secara cerdas. Karena meskipun dalilnya sama, Al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan sumber dan rujukan sama, namun metode pemahamannya berbeda, akan menghasilkan rumusan atau formulasi hukum yang berbeda. Apalagi jika sudah ada pertimbangan di luar akademik dan keagamaan, maka tentu akan lebih variatif lagi. MUI sudah mensosialisasikan kaidah yang sangat dikenal, “hukm al-hakim ilzam wa yarfa’u l-khilaf” artinya “putusan hukum pemerintah itu mengikat dan menghilangkan perbedaan pendapat”. Itu teorinya, namun dalam kenyataannya, dengan dalih soal keyakinan karena terkait dengan amaliyah keagamaan, maka pemerintah juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Karena itu, tidak ada pilihan lain, kecuali merawat dan memelihara perbedaan tersebut, agar tetap menjadi rahmat dan kasih sayang. Yang terakhir ini pun, didasari kaidah selain “ikhtilafu ummati rahmah” artinya “perbedaan pedapat ummatku adalah kasih sayang”, juga ada kaidah “man lam yasyumma raihata l-khilaf lam yasyumma raihata l-fiqh” artinya “barang siapa tidak mampu mencium aroma perbedaan pendapat, berarti ia tidak mampu mencium aroma fiqh”. Yang terpenting, bagaimana kita mampu melakukan “literasi” dan mendewasakan umat kita, agar makin terbiasa dan terbudaya dengan perbedaan, sehingga kesimpulannya adalah “sepakat dalam perbedaan” atau “berbeda dengan kesepakatan”. Selamat Ma’had ‘Aly TBS, almamaterku, semoga Allah senantiasa melapangkan jalan “rizqimu” dan menggelar keberkahan padamu, untuk menyiapkan generasi Ahli Falak Rasa Astronom, atau Astronom yang Ahli Agama”. Selamat “merawat tradisi dan menebar innovasi”. Tekadmu dan kerja kerasmu, ditunggu umat. Jadilah yang terbaik dan paling member banyak manfaat. Sudah saatnya dari pondok pesantren, yang akan menjadi leader bangsa ini di masa depan. Allah a’lam bi sh-shawab. Wassalamualaikjm wrwb. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *