Home / KOLOM DIREKTUR / BELAJAR KEARIFAN DAN MENJADI ARIF

BELAJAR KEARIFAN DAN MENJADI ARIF

Assalamualaikum wrwb.
       Saudaraku, Allah telah banyak melimpahkan anugrah dan nikmat-Nya pada kita. Mari kita syukuri dengan meningkatkan amal dan ibadah kita, seperti Rasulullah saw, yang terus menghabiskan sepertiga malamnya hingga shubuh, dan itu beliau lakukan hingga akhir hayat beliau. Ketika ditanya oleh istri beliau tercinta, Sayyidatina ‘Aisyah ra, mengapa masih menghabiskan waktu malam sampai kaki bengkak, Beliau pun menjawab, “aku ingin menjadi hamba Allah yang pandai bersyukur”.
       Shalawat dan salam mair kita senandungkan pada Rauslullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan para pengikut beliau, semoga kita menjadi umat beliau yang mau terus belajar tentang kearifan dan mampu bersikap, bertutur kata, dan berprilaku arif.
        Kearifan sesungguhnya berasal dari bahasa Arab, عرف – يعرف – عارف  artinya memahami dan mengenali dengan baik.
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia, kearifan disebut kebijaksanaan atau kecendekiaan. Arif adalah orang yang bijaksana, memahami, dan cerdik cendekia. Jika dikaitkan dengan kearifan lokal, menurut UU no 32 Tahun 2009 adalah adalah nilai-nilai luhur yang berlaku di dalam tata kehidupan masyarakat yang bertujuan untuk melindungi sekaligus mengelola lingkungan hidup secara lestari.
       Dalam perspektif tasawuf, al-‘arif bi Allah digambarkan sebagai berikut:
العارف لا يزول إضطراره ولا يكون مع غير الله قراره
“Al ‘arif billah itu tidak akan hilang keadaan dlaruratnya (kesulitan dan selalu butuh kepada Allah), dan akhir dari semua cita-cita atau harapannya selalu bersama Allah tidak yang lain-Nya” (Wafi).
Seorang hamba bisa dikatakan ‘arif billah apabila tauhidnya sudah sampai kepada Allah, kepercayaan, tawakkal dan pasrahnya hanya kepada Allah. ini adalah derajat yang mana kehendak seorang yang ‘arif sudah sirna didalamnya dan hanya memandang pada kehendak Allah, serta dihadapannya semua sebab-sebab menjadi hilang dibawah kekuasaan-Nya dan hilang juga semua makhluk (selain Allah) dikarenakan ia sedang menyaksikan-Nya.
      Seseorang menjadi arif pada tataran yang lebih sederhana, didasari oleh ilmu atau berilmu (عالم), mengamalkan ilmunya (عامل), menghamba secara baik (عابد), belajar dan mengamalkan fiqh (فقيه), dan baru pada tahapan arif (عارف بالله).  Karena itu, dalam ilmu tasawuf, seseorang yang ingin menjadi orang yang ingin belajar kearifan dan menjadi orang yang arif dan bijaksana, maka ia harus melewati proses dan perjalanan panjang (سلوك) dari tahalan tersebut.
       Orang yang arif, dia merasa terus menerus butuh kepada Allah, dan karena itu, ia menjaga dirinya untuk memiliki perasaan mampu, apalagi sampai timbul rasa sombong dan angkuh. Syekh Ibnu ‘Athaillah as-Sakandary menggambarkan sifat sang ‘arif bi Allah sebagai “sesungguhnya termasuk dari sifat-sifat orang yang ‘arif adalah semua sebab, sirna di hadapannya, karena ia selalu memandang kepada Dzat yang membuat sebab dan semua makhluk menjadi hilang darinya karena ia selalu menyaksikan Allah. Di hadapannya tidak ada orang yang membuat tenang dan merasa nikmat dengannya serta bisa diharapkan dan ditakuti kecuali hanya Allah Swt.
     Orang yang arif, akan membuang jauh-jauh perasaan ‘ujub dan sum’ah pada dirinya. Ia hindari sifat mengagumi pada dirinya, apalagi ingin terkenal atau didengar orang lain. Ia akan terus berusaha berbuat yang terbaik dan bermanfaat bagi dirinya, keluarganya, dan masyarakat, dengan senantiasa menyadari bahwa hanya Allah sebagai tempat bergantung dirinya. Dengan penuh kerendah-hatian (tawadlu’) Syeikh Abdul Qadir Al-Jilany pada saat berada di Multazam memohon kepada Allah sebagai berikut :
اللهم ان كان في قضائك ان لا تستر قبائحي عن الناس يوم القيامة فاحشرني اعمى، كي لا افتضح بين الخلائق الذين يحسنون الظن بي اليوم
“Ya Allah, apabila di dalam qadla’-Mu bahwa besok di hari kiamat Engkau akan tidak menutup kejelekan-kejelekanku di hadapan manusia, maka giringlah aku dalam keadaan buta, supaya kejelekanku tidak terlihat di hadapan mereka yang mana hari ini mereka sedang berprasangka baik padaku”.
       Saudaraku, marilah kita belajar dan menjadi pembelajar yang rendah hati (tawadlu’). Ilmu yang kita dapat, meskipun berderet gelar dan jabatan akademik, bahkan yang sepanjang karir pekerjaannya menjadi pejabat secara terus menerus, atau yang oleh masyarakat pengikutnya dianggap sebagai ulama, atau tokoh panutan, apalagi masih sering berurusan dengan materi duaniawi, bahwa ilmu kita tidak ada apa-apanya, diri kita adalah faqir di hadapan Allah. Sungguh sangat tidak pantas dan tidak sepantasnya, kita menunjukkan kehebatan kita, egoisme (ananiyah) kita, apalagi ibadah juga masih tidak seberapa. Menjadi hamba yang mau dan pandai bersyukur saja, masih sering lupa, tetapi kita sering lupa, bahwa kita sedang diuji oleh Allah Swt. Kita juga tidak sadar bahwa seandainya Allah menampakkan aib kita, gambaran sesungguhnya hati dan pikiran kita seperti apa, bagaimana serakahnya kita, bagaimana kita punya niat buruk dan busuk akan mengalahkan semua orang, bagaimana kita akan merasa menjadi manusia paling hebat, bahkan dengan menghalalkan segala macam cara. Bahkan sangat mungkin, kita merasa dan mengaku cinta kepada Allah, tetapi tidak  bisa memuliakan makhluk dan hamba-hamba-Nya.
       Saudaraku, doa Syeikh ‘Abdul Qadir al-Jilany kepada Allah sebagaimana dikutip di atas, kiranya cukup untuk menyadarkan kita untuk mau berusaha dan belajar kearifan dan bersikap secara arif, menjadi hamba Allah yang taat dan tawadlu’. Dalam kearifan leluhur kita, kita bisa belajar dengan ilmu padi, yang kian berisi kian merunduk. Seseorang yang bertambah ilmunya, ia akan bertambah rendah hati. Kerendah hatian tidak akan mengurangi derajat dan martabat seseorang, akan tetapi justru di situlah Allah akan mengangkat derajat dan kemuliaan sebagai hamba-Nya.
       Semoga kita senantiasa dilindungi oleh Allah Swt, dijadikan sebagai hamba yang senantiasa mau dan pandai bersyukur, mau belajar kearifan dan berusaha menjadi hamba yang arif dan bijaksana. Karena kebijaksanaan itulah sesungguhnya di situ tersimpan berbagai kemuliaan Allah yang memancar pada hamba-Nya. Mengakhiri tulisan ini, mati kita simak dan renungkan sabda Rasulullah saw berikut.
عن أبي هريرة رضي الله عنه عن النبي صلى الله عليه وسلم قال من نفس عن مؤمن كربة من كرب الدنيا نفس الله عنه كربة من كرب يوم القيامة ومن يسر على معسر يسر الله عليه في الدنيا والآخرة ومن ستر مسلمًا ستره الله في الدنيا والآخرة والله في عون العبد ما كان العبد في عون أخيه ومن سلك طريقا يلتمس فيه علمًا سهل الله له به طريقا إلى الجنة وما اجتمع قوم في بيت من بيوت الله يتلون كتاب الله ويتدارسونه بينهم إلا نزلت عليهم السكينة وغشيتهم الرحمة وحفتهم الملائكة وذكرهم الله فيمن عنده ومن أبطأ به عمله لم يسرع به نسبهم رواه مسلم
Dari Abu Hurairah ra. Nabi saw bersabda: “Barang siapa membebaskan seorang mukmin dari kesulitan dunia, maka Allah akan membebaskannya dari kesulitan di hari kiamat. Barang siapa memberi kemudahan orang lain dalam kesulitan, maka Allah akan memudahkannya di dunia dan akhirat. Barang siapa menutupi aib seorang Muslim, maka Allah akan menutup aibnya di dunia dan akhirat. Allah akan selalu menikong hamba-Nya selama hamba tersebut menolong saudaranya sesama Muslim. Barangsiapa menempuh jalan untuk mencari ilmu, maka Allah akan memudahkan jalan ke surga baginya. Tidaklah sekelompok orang berkumpul di suatu masjid (rumah Allah) untuk membaca Al-Qur’an melainkan mereka akan diliputi ketenangan, rahmat, dan dikelilingi para malaikat, serta Allah akan menyebut-nyebut mereka pada malaikat-malaikat yang berada di sisi-Nya. Barang siapa ketinggalan amalnya maka nasabnya tidak meninggikannya” (Riwayat Muslim).
       Allah a’lam bi al-Shawab.
Wassalamualaikum wrwb.
Tadarrus Bakda Shubuh, Regency Hotel, Amman Yordania, 27/4/2017.

Check Also

MA’HAD ‘ALY TBS: MENYEMAI AHLI FALAK YANG ASTRONOM

Assalamualaikum wrwb. Al-hamdu liLlah wa sy-syukru liLlah. Segala puji dan syukur hanya milik Allah. Marilah kita syukuri anugrah dan pertolongan Allah, hanya karena dengan kasih sayang dan pertolongan Allah kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktivitas kita hari ini. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan pengikut yang setia dan istiqamah meneadani beliau.  Semoga semua urusan kita diberi kemudahan oleh Allah dan kelak di akhirat kita mendapat syafaat beliau. Saudaraku, kemarin Sabtu, 20 Rajab 1439 H bertepatan dengan 7/4/2018 M saya mendapat kehormatan untuk ikut menyaksikan peyerahan Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Islam, oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, tentang persetujuan Pesantren TBS (Tasywiquth Thullab Salafiyah) sebagai penyelenggara Program Pendidikan Ma’had ‘Aly. Nama TBS – memang unik – karena kepanjangannya “tidak simetris” karena T diambil dari huruf “ta” dari kata “tasywiq” dan B diambil huruf terakhir kata “thullab” bentuk jama’ dari kata “thalib” yang artinya murid, siswa, atau peserta didik dalam bahasa sekarang. Seingat saya, saat saya masih menjadi “santri” huruf S itu singkatan dari kata “school” yang artinya sekolah atau madrasah. Dalam perjalanannya, huruf S ini diambil dari huruf “sin” dari kata salafiyah, yang artinya madrasah. Kata “Tasywiqu th-Thullab Salafiyah” artinya “Bronto – atau intellectual curiousity– nya Santri yang berpendidikan Salafiyah”. Salafiyah juga dalam penggunaan keseharian berbeda dengan “Salafi”.  TBS merancang dan mengelola pendidikan meskipun pada dasarnya adalah madrasah formal atau klasikal, namun desain kurikulum dan tata kelolanya, mengikuti model pondok pesantren. Saya sendiri, belajar di TBS ini selama “tujuh” tahun dengan sistem dan model yang unik juga. Setelah lulus SD dan MI di Kampung, didaftarkan di TBS. Test kemampuan dimulai dengan materi test kelas empat  MI, hari itu juga diumumkan. Besok paginya, test kemampuan untuk kelas lima, siangnya langsung diumumkan. Berarti lolos kelas 5. Besok paginya diikutkan test kemampuan kelas enam, sayang belum beruntung. Akhirnya “harus” mengikuti pelajaran dari kelas lima. Setelah satu semester, dievaluasi, dan ini yang menarik, saya diperintahkan untuk “naik kelas” di pertengahan tahun, ke kelas enam. Pendek cerita, al-hamdu liLlah, saya dinyatakan mampu melewati kelas enam MI TBS dan lulus dengan mendapat peringkat satu. Saya menerima hadiah dan senang sekali, yakni kitab “Riyadlu sh-Shalihin” dan “Sarung” yang hingga kini tidak terlupakan. Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah saya selesaikan secara normal enam tahun. Namanya juga Salafiyah, kurikulumnya, dari MI ilmu nahwunya belajar Ajrumiyah – terkenalnya Jurumiyah  – dan ‘Imrithy. Pada Tsanawiyah imu nahwu sudah harus menghafal nadham “Alfiyah” atau seribu nadham yang ditulis oleh Imam Ibnu Malik. Di Madrasah Aiyah, ilmu nahwu sudah menggunakan Syarah atau Komentar atas Alfiyah Ibn Malik, yaitu Ibnu ‘Aqil. Saya tidak sebutkan semuanya, karena dengan kitab-kitab yang menjadi maraji’ pembelajaran ilmu Nahwu tersebut, sudah terbayang model dan sistem pendidikannya, dan seperti apa lulusannya.  Maaf, ini bukan kalimat “kesombongan” karena insyaa Allah, saya tidak ada potongan “sombong”, apalagi saya sadar ilmu saya sangat tidak seberapa. Saudaraku, Ma’had ‘Aly TBS menurut data Direktorat PD Pontren Kementerian Agama adalah yang ke 27, dan memilih spesialisasi atau takhashshush Ilmu Falak. Maka, selain penyerahan SK, juga digelar Halaqah Falakiyah dengan tagline “Merawat Tradisi Menebar Innovasi”. Selain karena alasan Ilmu Falak selama ini makin “langka” peminatnya. Bahkan Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, sejak ada program Beasiswa 5.000 Doktor di Kementerian Agama, distingsinya adalah menyiapkan Doktor Ilmu Falak. Bahkan di tahun 2017, hanya terisi 7 mahasiswa. Untung saja Pascasarjana UIN Walisongo membuka konsentrasi baru Manajemen Halal dan Hukum Keluarga, jadinya “kuotanya” terpenuhi. Ma’had ‘Aly TBS juga pada saatnya akan menyuplai calon mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo tentu kalau sudah meluluskan. Pada saat saya masih di MTs, TBS sudah mengajarkan ilmu Falak dan di antaranya  mengoperasikan rubu’ mujayyab. Di TBS sangat dikenal KH Turaihan Ajhury asy-Syarafy al-Falaky, ahli falak sangat terkenal di jagad Indonesia, terutama kalender atau almanak Menara Kudus yang khas. Juga ada KH Abdul Jalil, dan masih ada beberapa ahli falak lainnya. Sebagai alumnus TBS, tidak ada kata lain kecuali mengapresiasi dan menyambut positif terselenggaranya Ma’had ‘Aly TBS ini. Kebetulan saya masih diamanati sebagai Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, yang mengelola program doktor ilmu falak, kehadiran Ma’had ‘Aly bisa menjaid mitra. Memang bagi program S1 Ilmu Falak  Fakultas Syariah dan Hukum, bisa saja ditafsiri sebagai “pesaing baru”, apalagi dengan basik yang berbeda. UIN basiknya lebih variatif, sementara di TBS rasanya “wajib” berbasis pesantren. Maka tafsirnya, musti dengan kompromi atau “al-jam’u wa t-taufiq” atau menyatukan dan mengompromikan. Dalam dunia bisnis, suatu “produk” semakin banyak produsen atau yang menjajakan, maka produk tersebut adalah produk yang menjadi kebutuhan penting. Karena itu, tidak perlu ada komentar yang tidak perlu, karena dunia pendidikan apalagi untuk menyiapkan ahli falak di dunia Indonesia ini, masih sangat diperlukan. Kalau ada pertanyaan, apakah setelah ada lulusan Ma’had ‘Aly TBS yang ahli falak rasa astrnom, apakah kemudian tidak ada lagi perbedaan dalam penentuan awal Ramadlan, awal Syawwal, dan awal Dzulhijah? Ini pertanyaan kritis tetapi jawabnya tidak mudah. Karena ini seperti pertanyaan maaf, “apakah tambahnya lulusan akpol, akmil, dan sarjana lainnya, akan berkorelasi menurunkan angka kriminalitas, gerakan separatis, atau problematika sosial lainnya”? Soal penentuan awal bulan Qamariyah, di Indonesia ini, tampak indahnya justru karena ada perbedaan itu. Mengapa, karena “instrumen test” kematangan berdemokrasi dan bertoleransi tampak matang dengan perbedaan itu. Dalam soal ibadah dan internal sesama kaum Muslim saja, bisa berjalan dengan baik, apalagi dengan penganut agama lain. Tentu ini, harus difahami dan dimaknai secara cerdas. Karena meskipun dalilnya sama, Al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan sumber dan rujukan sama, namun metode pemahamannya berbeda, akan menghasilkan rumusan atau formulasi hukum yang berbeda. Apalagi jika sudah ada pertimbangan di luar akademik dan keagamaan, maka tentu akan lebih variatif lagi. MUI sudah mensosialisasikan kaidah yang sangat dikenal, “hukm al-hakim ilzam wa yarfa’u l-khilaf” artinya “putusan hukum pemerintah itu mengikat dan menghilangkan perbedaan pendapat”. Itu teorinya, namun dalam kenyataannya, dengan dalih soal keyakinan karena terkait dengan amaliyah keagamaan, maka pemerintah juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Karena itu, tidak ada pilihan lain, kecuali merawat dan memelihara perbedaan tersebut, agar tetap menjadi rahmat dan kasih sayang. Yang terakhir ini pun, didasari kaidah selain “ikhtilafu ummati rahmah” artinya “perbedaan pedapat ummatku adalah kasih sayang”, juga ada kaidah “man lam yasyumma raihata l-khilaf lam yasyumma raihata l-fiqh” artinya “barang siapa tidak mampu mencium aroma perbedaan pendapat, berarti ia tidak mampu mencium aroma fiqh”. Yang terpenting, bagaimana kita mampu melakukan “literasi” dan mendewasakan umat kita, agar makin terbiasa dan terbudaya dengan perbedaan, sehingga kesimpulannya adalah “sepakat dalam perbedaan” atau “berbeda dengan kesepakatan”. Selamat Ma’had ‘Aly TBS, almamaterku, semoga Allah senantiasa melapangkan jalan “rizqimu” dan menggelar keberkahan padamu, untuk menyiapkan generasi Ahli Falak Rasa Astronom, atau Astronom yang Ahli Agama”. Selamat “merawat tradisi dan menebar innovasi”. Tekadmu dan kerja kerasmu, ditunggu umat. Jadilah yang terbaik dan paling member banyak manfaat. Sudah saatnya dari pondok pesantren, yang akan menjadi leader bangsa ini di masa depan. Allah a’lam bi sh-shawab. Wassalamualaikjm wrwb. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *