Home / KOLOM DIREKTUR / MENYEMAI GENERASI ANTI JUDI

MENYEMAI GENERASI ANTI JUDI

Assalamualaikum wrwb.
       Saudaraku, mari kita syukuri anugrah Allah. Hanya dengan anugrah-Nya, kita sehat afiat tanpa halangan apapun. Semoga Allah menambah taufiq dan inayah-Nya, dan kita bisa menjalani hidup ini sesuai dengan petunjuk-Nya. Shalawat dan salam kita wiridkan untuk Rasulullah saw, keluarga, dan para sahabat. Semoga syafaat beliau kelak akan memayungi kita di saat tidak ada perlindungan lagi.
      Kemarin pagi bersamaan liburan memperingati Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad saw, saya diminta on air via telpon oleh radio Elsinta, untuk menanggapi soal maraknya judi online di beberapa kota besar, termasuk Semarang. Aparat kepolisian tampaknya sudah mengambil langkah. Kalau benar sudah ada yang ditangkap bandarnya, tentu harus diapresiasi. Meskipun kalau pemberantasan judi dengan segala macam bentuknya, ingin efektif, harus diberantas semua pengedar hingga bandarnya.
       Mengapa? Karena judi ini ingkat merusaknya juga, hamlir sama dengan narkoba yang membawa efek adiktif atau kecanduan. Apalagi sudah model digital ini pasti sudah menasional atau bahkan menginternasional, maka portal yang menjual atau melayani judi apapun namanya, harus ditutup oleh kemenkominfo. Ini kalau mau serius dan ingin menghapus perjudian. Ibarat penyakit cancer, kalau hanya membunuh cabangnya, pasti akan menyebar lagi, karena akarnya sudah ke mana-mana.
     Penyakit masyarakat yang namanya judi, tampaknya memang setua umur manusia. Bahkan tidak tanggung-tanggung pada masyarakat Mekah Jahiliyah pun sudah keranjingan judi waktu itu. Al-Qur’an pun menyebut bahwa dalam judi (ميسر) itu ada dosa besar dan manfaatnya bagi manusia (QS. ). Akan tetapi dosanya lebih besar dari pada manfaatnya. Dalam buku al-Rahiq al-Mahtum disebutkan bahwa ayat yang menjelaskan bahwa dalam judi itu ada manfaatnya, karena waktu itu di masa Jahiliyah, apabila orang Arab menang judi, sebagiannya digunakan untuk membeli makanan dan minuman untuk menjamu jamaah haji.
       Tentu, setelah ada larangan tegas bahwa judi itu adalah perbuatan syaithan, maka harus dijauhi atau ditinggalkan. Tetapi mengapa masih saja selalu ada perjudian di muka bumi ini. Bahkan suatu kejadian apa saja bisa dijudikan. Pada masa-masa suburnya judi togel di negeri ini, banyak kejadian-kejadian yang memilukan hati dan menguras keprihatinan yang mendalam terjadi. Dari istri-istri para pekerja kasar yang tidak kebagian nafkah, karena habis untuk pasang judi, ada yang bunuh diri, hingga banyak juga yang gila dan harus memenuhi rumah sakit jiwa. Banyak orang yang tidak lagi berfikir secara rasional. Ada mobil atau motor kecelakaan, tidak ditolong orangnya, tetapi dicatat plat nomor polisinya, untuk diramal. Mimpi apapun dalam tidur, diramal, dan pasang nomor judi. Kerusakan akal dan jiwa sudah demikian parah.
      Untung saja di Jawa Tengah waktu itu ada seorang Kapolda yang memiliki komitmen dan kesungguhan untuk menghapus dan memberantas segala macam bentuk perjudian di Jawa Tengah, Irjenpol (purn) Khoirul Rasyid. Meskipun awalnya sangat berat, akhirnya dampak positifnya cukup besar. Judi togel sempat bersih beberapa tahun, dan masyarakat pun kembali hidup normal tanpa ada gangguan ekonomi akibat togel dan ketenteraman pun dapat dirasakan. Saya berharap Kapolda yang sekarang, Irjenpol Condro Kirono, juga memiliki komitmen yang sama. Karena yang saya gahu, beliau ini Kapolda “santri” yang pasti tidak ingin warga Jateng rusak gara-gara judi online ini.
       Bagaimana upaya mengatasinya? Ada beberapa langkah yang bisa dipertimbangkan: pertama, bangun kembali fondasi agama, meliputi iman, Islam, dan akhlak yang kuat. Kalau dasarnya kuat, tidak akan mudah tergoda atau terjebak oleh iming-iming hidup mewah dan hidup enak. Tidak ada ceritanya, orang akan banyak harta dengan bermain judi. Kalau bandarnya ya, pasti. Tetapi bagi pelanggan atau pasang judi, dapat diprediksi tidak akan pernah kaya raya.
       Kedua, karena itu, tanamkan pada anak-anak kita shalat pada usia tujuh tahun dan “beri pelajaran” mereka jika masih belum mau mengerjakan shalat ketika berusia sepuluh tahun. Karena anak-anak kita akan menjadi pemimpin kelak. Ketiga, bangun komunikasi secara harmonis dan berkualitas, agar ketika anak-anak menghadapi masalah, segera dapat dicarikan solusinya.
       Keempat, perhatikan baik-baik, apabila anak-anak kita sudah menunjukkan tanda-tanda mengisolasi diri, harus ada pendekatan atau treatment khusus. Jangan menggunakan pendekatan kekerasan tetapi perlakukan mereka dengan hati-hati dan baik, agar akar masalahnya bisa diurai dan diberikan solusi yang smart.
       Kelima, waspadai juga, biasanya kalau sudah terindikasi judi, biasanya merembet ke minuman keras, narkoba, dan penyakit sosial lainnya. Indonesia, negara yang seharusnya kaya raya, banyak sumber daya alam, bahkan minyak, tambang, emas, batu bara, dan lain-lain, tetapi tampaknya kita tidak punya nyali dan keberanian untuk mengelola sendiri kekayaan alam kita. Akibatnya banyak saudara kita paksa mengalami kemiskinan di negeri sendiri, ibarat yang tidak enak, “ayam mati “kelaparan” di lumbung padi”.
       Saudaraku, mumpung kita masih dalam spirit memperingati Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad saw, mari kita tingkatkan kualitas shalat kita, agar mampu menjadi barometer ibadah yang lainnya. Yang belum shalat mari kita mukai sekarang. Anak-anak kita, kita biasakan mereka ketika usia tujuh tahun. Bahkan kalau perlu masih usia 3-4 tahun kita ajak mereka ke Masjid atau Mushala, agar mereka terbiasa dengan lingkungan ibadah.
       Menurut pesona.co.id, otak para penjudi itu terendam dopamine. Otak pecandu judi, sama seperti kecanduan zat adiktif, ketika kecanduan judi itu terjadi, otak mengalami perubahan. Di bagian tengah otak yang disebut cranium, terdapat  serangkaian sirkuit otak yang disebut system reward, yang menghubungkan berbagai bagian otak yang tersebar -termasuk memori, gerakan, motivasi dan kenyamanan. Ketika dopamine itu dirangsang dengan amphetamine, kokain atau zat adiktif lainnya, sistem reward itu menebar dopamine sebanyak 10 kali lipat dari jumlah biasanya. Artinya, sel saraf otak penghasil dopamine melakukan kerja paksa.
       Sebuah penelitian di Jerman (2005) masih kata pesona.co.id, sama seperti pecandu zat adiktif, penjudi akan kehilangan kepekaannya terhadap kondisi ‘high’ ( fly pada pengguna zat adiktif). Ketika menang, penjudi mengalami aktivitas kelistrikan yang lebih rendah pada bagian pusat sistem reward di otaknya. Itu sebabnya seorang penjudi akan ketagihan melakukan judi terus menerus untuk memperoleh kondisi high yang diinginkan.
       Lebih buruk lagi, kabarnya 2–7 % penderita penyakit Parkinson adalah penjudi. Meskipun kecil, tapi para penjudi ini bila tidak menghentikan kecanduannya, bisa punya penyakit yang sama dengan pecandu zat adiktif, mereka  akan mengalami kematian pada sel saraf otak penghasil dopamine. Tentu masih banyak dampak negatif lainnya, yang merusak kebahagiaan dan ketenteraman hidup.
       Semoga dengan spirit Isra’ dan Mi’raj Rasulullah saw, kita bisa berhijrah atau move on dari yang tidak baik menjadi baik, dari yang sudah baik menjadi lebih baik, dan yang sudah lebjh baik menjadi lebih baik lagi. Generasi muda ini harus diselamatkan, agar bangsa besar Indonesia ini, tidak kehilangan generasi. Merekalah para pemimpin masa depan.
      Allah a’lam bi al-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.
Shubuh, Bandara Internasional Abu Dhabi, 25/4/2017.

Check Also

MA’HAD ‘ALY TBS: MENYEMAI AHLI FALAK YANG ASTRONOM

Assalamualaikum wrwb. Al-hamdu liLlah wa sy-syukru liLlah. Segala puji dan syukur hanya milik Allah. Marilah kita syukuri anugrah dan pertolongan Allah, hanya karena dengan kasih sayang dan pertolongan Allah kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktivitas kita hari ini. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan pengikut yang setia dan istiqamah meneadani beliau.  Semoga semua urusan kita diberi kemudahan oleh Allah dan kelak di akhirat kita mendapat syafaat beliau. Saudaraku, kemarin Sabtu, 20 Rajab 1439 H bertepatan dengan 7/4/2018 M saya mendapat kehormatan untuk ikut menyaksikan peyerahan Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Islam, oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, tentang persetujuan Pesantren TBS (Tasywiquth Thullab Salafiyah) sebagai penyelenggara Program Pendidikan Ma’had ‘Aly. Nama TBS – memang unik – karena kepanjangannya “tidak simetris” karena T diambil dari huruf “ta” dari kata “tasywiq” dan B diambil huruf terakhir kata “thullab” bentuk jama’ dari kata “thalib” yang artinya murid, siswa, atau peserta didik dalam bahasa sekarang. Seingat saya, saat saya masih menjadi “santri” huruf S itu singkatan dari kata “school” yang artinya sekolah atau madrasah. Dalam perjalanannya, huruf S ini diambil dari huruf “sin” dari kata salafiyah, yang artinya madrasah. Kata “Tasywiqu th-Thullab Salafiyah” artinya “Bronto – atau intellectual curiousity– nya Santri yang berpendidikan Salafiyah”. Salafiyah juga dalam penggunaan keseharian berbeda dengan “Salafi”.  TBS merancang dan mengelola pendidikan meskipun pada dasarnya adalah madrasah formal atau klasikal, namun desain kurikulum dan tata kelolanya, mengikuti model pondok pesantren. Saya sendiri, belajar di TBS ini selama “tujuh” tahun dengan sistem dan model yang unik juga. Setelah lulus SD dan MI di Kampung, didaftarkan di TBS. Test kemampuan dimulai dengan materi test kelas empat  MI, hari itu juga diumumkan. Besok paginya, test kemampuan untuk kelas lima, siangnya langsung diumumkan. Berarti lolos kelas 5. Besok paginya diikutkan test kemampuan kelas enam, sayang belum beruntung. Akhirnya “harus” mengikuti pelajaran dari kelas lima. Setelah satu semester, dievaluasi, dan ini yang menarik, saya diperintahkan untuk “naik kelas” di pertengahan tahun, ke kelas enam. Pendek cerita, al-hamdu liLlah, saya dinyatakan mampu melewati kelas enam MI TBS dan lulus dengan mendapat peringkat satu. Saya menerima hadiah dan senang sekali, yakni kitab “Riyadlu sh-Shalihin” dan “Sarung” yang hingga kini tidak terlupakan. Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah saya selesaikan secara normal enam tahun. Namanya juga Salafiyah, kurikulumnya, dari MI ilmu nahwunya belajar Ajrumiyah – terkenalnya Jurumiyah  – dan ‘Imrithy. Pada Tsanawiyah imu nahwu sudah harus menghafal nadham “Alfiyah” atau seribu nadham yang ditulis oleh Imam Ibnu Malik. Di Madrasah Aiyah, ilmu nahwu sudah menggunakan Syarah atau Komentar atas Alfiyah Ibn Malik, yaitu Ibnu ‘Aqil. Saya tidak sebutkan semuanya, karena dengan kitab-kitab yang menjadi maraji’ pembelajaran ilmu Nahwu tersebut, sudah terbayang model dan sistem pendidikannya, dan seperti apa lulusannya.  Maaf, ini bukan kalimat “kesombongan” karena insyaa Allah, saya tidak ada potongan “sombong”, apalagi saya sadar ilmu saya sangat tidak seberapa. Saudaraku, Ma’had ‘Aly TBS menurut data Direktorat PD Pontren Kementerian Agama adalah yang ke 27, dan memilih spesialisasi atau takhashshush Ilmu Falak. Maka, selain penyerahan SK, juga digelar Halaqah Falakiyah dengan tagline “Merawat Tradisi Menebar Innovasi”. Selain karena alasan Ilmu Falak selama ini makin “langka” peminatnya. Bahkan Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, sejak ada program Beasiswa 5.000 Doktor di Kementerian Agama, distingsinya adalah menyiapkan Doktor Ilmu Falak. Bahkan di tahun 2017, hanya terisi 7 mahasiswa. Untung saja Pascasarjana UIN Walisongo membuka konsentrasi baru Manajemen Halal dan Hukum Keluarga, jadinya “kuotanya” terpenuhi. Ma’had ‘Aly TBS juga pada saatnya akan menyuplai calon mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo tentu kalau sudah meluluskan. Pada saat saya masih di MTs, TBS sudah mengajarkan ilmu Falak dan di antaranya  mengoperasikan rubu’ mujayyab. Di TBS sangat dikenal KH Turaihan Ajhury asy-Syarafy al-Falaky, ahli falak sangat terkenal di jagad Indonesia, terutama kalender atau almanak Menara Kudus yang khas. Juga ada KH Abdul Jalil, dan masih ada beberapa ahli falak lainnya. Sebagai alumnus TBS, tidak ada kata lain kecuali mengapresiasi dan menyambut positif terselenggaranya Ma’had ‘Aly TBS ini. Kebetulan saya masih diamanati sebagai Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, yang mengelola program doktor ilmu falak, kehadiran Ma’had ‘Aly bisa menjaid mitra. Memang bagi program S1 Ilmu Falak  Fakultas Syariah dan Hukum, bisa saja ditafsiri sebagai “pesaing baru”, apalagi dengan basik yang berbeda. UIN basiknya lebih variatif, sementara di TBS rasanya “wajib” berbasis pesantren. Maka tafsirnya, musti dengan kompromi atau “al-jam’u wa t-taufiq” atau menyatukan dan mengompromikan. Dalam dunia bisnis, suatu “produk” semakin banyak produsen atau yang menjajakan, maka produk tersebut adalah produk yang menjadi kebutuhan penting. Karena itu, tidak perlu ada komentar yang tidak perlu, karena dunia pendidikan apalagi untuk menyiapkan ahli falak di dunia Indonesia ini, masih sangat diperlukan. Kalau ada pertanyaan, apakah setelah ada lulusan Ma’had ‘Aly TBS yang ahli falak rasa astrnom, apakah kemudian tidak ada lagi perbedaan dalam penentuan awal Ramadlan, awal Syawwal, dan awal Dzulhijah? Ini pertanyaan kritis tetapi jawabnya tidak mudah. Karena ini seperti pertanyaan maaf, “apakah tambahnya lulusan akpol, akmil, dan sarjana lainnya, akan berkorelasi menurunkan angka kriminalitas, gerakan separatis, atau problematika sosial lainnya”? Soal penentuan awal bulan Qamariyah, di Indonesia ini, tampak indahnya justru karena ada perbedaan itu. Mengapa, karena “instrumen test” kematangan berdemokrasi dan bertoleransi tampak matang dengan perbedaan itu. Dalam soal ibadah dan internal sesama kaum Muslim saja, bisa berjalan dengan baik, apalagi dengan penganut agama lain. Tentu ini, harus difahami dan dimaknai secara cerdas. Karena meskipun dalilnya sama, Al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan sumber dan rujukan sama, namun metode pemahamannya berbeda, akan menghasilkan rumusan atau formulasi hukum yang berbeda. Apalagi jika sudah ada pertimbangan di luar akademik dan keagamaan, maka tentu akan lebih variatif lagi. MUI sudah mensosialisasikan kaidah yang sangat dikenal, “hukm al-hakim ilzam wa yarfa’u l-khilaf” artinya “putusan hukum pemerintah itu mengikat dan menghilangkan perbedaan pendapat”. Itu teorinya, namun dalam kenyataannya, dengan dalih soal keyakinan karena terkait dengan amaliyah keagamaan, maka pemerintah juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Karena itu, tidak ada pilihan lain, kecuali merawat dan memelihara perbedaan tersebut, agar tetap menjadi rahmat dan kasih sayang. Yang terakhir ini pun, didasari kaidah selain “ikhtilafu ummati rahmah” artinya “perbedaan pedapat ummatku adalah kasih sayang”, juga ada kaidah “man lam yasyumma raihata l-khilaf lam yasyumma raihata l-fiqh” artinya “barang siapa tidak mampu mencium aroma perbedaan pendapat, berarti ia tidak mampu mencium aroma fiqh”. Yang terpenting, bagaimana kita mampu melakukan “literasi” dan mendewasakan umat kita, agar makin terbiasa dan terbudaya dengan perbedaan, sehingga kesimpulannya adalah “sepakat dalam perbedaan” atau “berbeda dengan kesepakatan”. Selamat Ma’had ‘Aly TBS, almamaterku, semoga Allah senantiasa melapangkan jalan “rizqimu” dan menggelar keberkahan padamu, untuk menyiapkan generasi Ahli Falak Rasa Astronom, atau Astronom yang Ahli Agama”. Selamat “merawat tradisi dan menebar innovasi”. Tekadmu dan kerja kerasmu, ditunggu umat. Jadilah yang terbaik dan paling member banyak manfaat. Sudah saatnya dari pondok pesantren, yang akan menjadi leader bangsa ini di masa depan. Allah a’lam bi sh-shawab. Wassalamualaikjm wrwb. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *