Home / KOLOM DIREKTUR / KARTINI DAN ISLAM JAWA PEGON

KARTINI DAN ISLAM JAWA PEGON

Assalamualaikum wrwb.
       Sadaraku, mari kita syukuri anugrah Allah yang tak mampu kita menghitungnya. Hanya dengan anugrah-Nya, kita sehat afiat, dapat melakukan aktifitas hari ini, mengisi kegiatan ibadah kita melalui berbagai kegiatan. Semoga aktifitas kita bermakna dan kita niatkan sebagai pengabdian kita kepada Allah, dan bermanfaat bagi kepentingan masyarakat. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulillah saw, keluarga, dan para sahabat. Semoga syafaat beliau, akan memayungi kita di saat kita membutuhkannya.
       Saudaraku, khususnya para kaum Perempuan, selamat memperingati hati Kartini. “Habis gelap terbitlah terang”. Muncul di pikiran saya, ini pemahaman atau “tafsir” model Kartini, dari ayat : فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا  dan إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا yaitu surat al-Insyirah ayat 5-6. Semoga negeri ini mampu melahirkan “Kartini” baru, yang dengan segala keberaniannya, ketika berguru kepada KH Sholeh Darat, mengusulkan agar supaya Al-Qur’an ditafsirkan dengan menggunakan bahasa Jawa. Dari sinilah, KH Sholeh Darat menulis tafsir bahasa Jawa dengan menggunakan huruf Arab. Inilah yang disebut huruf Arab Pegon.
        Raden Ajeng (RA) Kartini lahir di Jepara, 21/4/1879 M bertepatan dengan 28 Rabi’ul Akhir 1297 H, dan meninggal 17 September 1904 dalam usia 25 tahun. Satu tahun setelah menikah pada usia 24 tahun. Anda bisa membayangkan, umurnya hanya sampai 25 tahun, akan tetapi sejarah mencatat dengan tinta mas dan harum namanya. Hingga sekarang, pemerintah Indonesia menempatkan tanggal 21/4 sebagai tanggal penting, memperingati hari Kartini. Bahkan ada lagu khusus Ibu Kita Kartini, ciptaan WR. Supratman, yang ditetapkan sebagai lagu wajib nasional.
       Banyak tulisan mengungkap tentang pertemuan “santriwati” Kartini dengan KH Muhammad Sholeh Darat. Tampaknya atas permohonan Kartini, KH Sholeh Darat menyiapkan tafsir Al-Qur’an dengan menggunakan huruf Arab pegon. RA Kartini galau dan gelisah secara intelektual, sebagai seorang Muslimah disuruh mempelajari Al-Qur’an akan tetapi tidak tahu maksudnya.
       Penelusuran Amirul Ulum yang diikuti Rikza, menjelaskan bahwa Kartini menulis surat kepada Abendanon tanggal 15/8/1902 yang menyebut gurunya adalah seorang tua. Kartini menyebut bahwa orang Jawa menulis naskah dengan menggunakan huruf Arab pegon atau huruf Jawi. Dalam surat tertanggal 17/8/1902 juga kepada Abendanon, Kartini menulis: “Kami merasa senang, KH Muhammad Sholeh Darat telah menyerahkan kepada kami naskah-naskah lama Jawa yang kebanyakan mentgunakan huruf Arab. Karena itu kini kami ingin belajar lagi membaca dan menulis huruf Arab”.
       Saudaraku, mengapa Kartini, yang maish sangat muda tetapi pemberani, dan yang terpenting adalah intellectual curiosity-nya atau semangat pembelajarnya itu yang perlu sihidupkan lagi oleh para “Kartini” modern sekarang ini. Simbol busana Kartini dengan kebaya dan jarit, tentu memiliki makna identitas nasional ke-Indonesiaan — atau lebih tepatnya Kejawaan — yang hingga kini masih menjadi busana resmi nasional. Yang lebih penting adalah keberaniannya untuk “meminta” kepada Kyai Sholeh Darat untuk menyiapkan tafsir Arab pegon itu.
       Melihat sosok Kartini dalam perspektif emansipasi wanita di NKRI yang kita cintai tampaknya sudah selesai. Karena kultur dan regulasi sudah sangat afirmatif dalam memposisikan kaum perempuan dalam berbagai posisi dan jabagan publik. Presiden sudah pernah. Gubernur, Walikota, Bupati perempuan juga sudah. Hakim perempuan juga sudah. Rektor perempuan sudah banyak. Apalagi melihat kuantitas, banyak mahasiswa perguruan tinggi yang mahasiswanya didominasi perempuan.
       Saudaraku, banyak hal yang justru perlu perenungan kembali, ketika banyak lapangan pekerjaan yang notabene lebih mengandalkan kekuatan fisik, di situ para pekerja perempuan juga banyak. Atau kalau pun masih ada pekerjaan yang kemudian di situ terjadi eksploitasi terhadap “penampilan fisik” kaum perempuan, yang tentu berdampak kurang pas. Meskipun pas dan tidaknya bisa kontroversial, tergantung perspektif apa yang digunakan.
       Pelajaran yang sangat berharga adalah pesan Kartini dan direspon KH Sholeh Darat, bagaimana Al-Qur’an difahami, ditafsirkan, dan diedukasikan kepada masyarakat dengan menggunakan kearifan lokal Ke-Jawaan melalui tulisan peton, atau huruf Jawi. Di sisi lain juga, menunjukkan adanya kolaborasi antara huruf Arab dan Jawa. Dan ini tentu sangat genuine dan original. Sekarang ini pun, tadisi dan budaya menulis Arab pegon, masih digunakan oleh santri-santri pondok pesantren khususnya yang mengkaji kitab-kitab kuning yang pada umumnya bermadzhab Syafi’i(yah). Bahkan hingga pulpen dan tintanya disiapkan secara khusus, agar hasil “sah-sahan” atau “ngesahi” atau mengartikan kitab gundul (tanpa syakal/harakat) ketika santri menimba ilmu langsung kepada para Kyai atau pengajar di pesantren, ditulis dengan rapi dan tahan lama.
       Irmawati menyebutkan, “penamaan huruf Pegon sangat banyak. Di Malaysia disebut huruf Jawi. Di pesantren dinamai huruf Arab Pegon. Huruf Arab Pegon dikenal dengan istilah huruf Arab Melayu karena ternyata huruf Arab berbahasa Indonesia ini telah digunakan secara luas di kawasan Melayu mulai dari Terengganu (Malaysia), Aceh, Riau, Sumatera, Jawa (Indonesia), Brunei, hingga Thailand bagian Selatan. Maka tidak mengherankan, jika kita membeli produk-produk makanan di kawasan dunia Melayu (Malaysia, Thailand Selatan, Brunei, dan beberapa wilayah di Indonesia) dapat dipastikan terdapat tulisan Arab Pegon dalam kemasannya walaupun dengan bahasa yang berbeda. Bahasa tersebut disesuaikan dengan tempat atau Negara yang mengeluarkan produk-produk tersebut.
      Mengenai siapa yang menemukan huruf Arab Pegon ada beberapa pendapat. Menurut suatu catatan, huruf Arab Pegon muncul sekitar tahun 1400 M yang digagas oleh RM. Rahmat atau yang lebih dikenal dengan sebutan Sunan Ampel di Pesantren Ampel Dentha Surabaya. Sedangkan menurut pendapat lain, penggagas huruf Arab Pegon adalah Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati Cirebon. Ada juga yang mengatakan bahwa huruf Arab Pegon ini ditemukan oleh Imam Nawawi Al-Bantani (Irawati).
       Saudaraku, illustrasi di atas menunjukkan bahwa Islam menunjukkan fleksibilitasnya untuk berkolaborasi dengan nilai kearifan lokal. Karena Islam yang rahmatan lil alamin, akan senantiasa mampu beradaptasi dengan budaya pemeluknya, agar Islam bisa difahami dengan baik. Semoga kita yang hidup di masa, tinggal merawat, menikmati, jerih payah para Ulama terdahulu untuk bisa menjadi lebih kreatif, semangat belajar, dan mampu mewarisi spirit dan keseriusan untuk belajar agama seperti Kartini. Meskipun hanya singkat usia Kartini, tetapi perjuangan, keberanian, kesungguhan untuk meningkatkan dan mengembangkan ilmu umum dan agama demi memperjuangkan hak-hak kaum perempuan di bumi nusantara ini, akan terus dikenang dan diperingati.
       Semoga bermanfaat. In uridu illa al-ishlah ma istatha’tu wa ma taufiqi illa bi Allah. Allah a’lam bi al-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.
Ngaliyan, Semarang, 22/4/2017.

Check Also

MA’HAD ‘ALY TBS: MENYEMAI AHLI FALAK YANG ASTRONOM

Assalamualaikum wrwb. Al-hamdu liLlah wa sy-syukru liLlah. Segala puji dan syukur hanya milik Allah. Marilah kita syukuri anugrah dan pertolongan Allah, hanya karena dengan kasih sayang dan pertolongan Allah kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktivitas kita hari ini. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan pengikut yang setia dan istiqamah meneadani beliau.  Semoga semua urusan kita diberi kemudahan oleh Allah dan kelak di akhirat kita mendapat syafaat beliau. Saudaraku, kemarin Sabtu, 20 Rajab 1439 H bertepatan dengan 7/4/2018 M saya mendapat kehormatan untuk ikut menyaksikan peyerahan Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Islam, oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, tentang persetujuan Pesantren TBS (Tasywiquth Thullab Salafiyah) sebagai penyelenggara Program Pendidikan Ma’had ‘Aly. Nama TBS – memang unik – karena kepanjangannya “tidak simetris” karena T diambil dari huruf “ta” dari kata “tasywiq” dan B diambil huruf terakhir kata “thullab” bentuk jama’ dari kata “thalib” yang artinya murid, siswa, atau peserta didik dalam bahasa sekarang. Seingat saya, saat saya masih menjadi “santri” huruf S itu singkatan dari kata “school” yang artinya sekolah atau madrasah. Dalam perjalanannya, huruf S ini diambil dari huruf “sin” dari kata salafiyah, yang artinya madrasah. Kata “Tasywiqu th-Thullab Salafiyah” artinya “Bronto – atau intellectual curiousity– nya Santri yang berpendidikan Salafiyah”. Salafiyah juga dalam penggunaan keseharian berbeda dengan “Salafi”.  TBS merancang dan mengelola pendidikan meskipun pada dasarnya adalah madrasah formal atau klasikal, namun desain kurikulum dan tata kelolanya, mengikuti model pondok pesantren. Saya sendiri, belajar di TBS ini selama “tujuh” tahun dengan sistem dan model yang unik juga. Setelah lulus SD dan MI di Kampung, didaftarkan di TBS. Test kemampuan dimulai dengan materi test kelas empat  MI, hari itu juga diumumkan. Besok paginya, test kemampuan untuk kelas lima, siangnya langsung diumumkan. Berarti lolos kelas 5. Besok paginya diikutkan test kemampuan kelas enam, sayang belum beruntung. Akhirnya “harus” mengikuti pelajaran dari kelas lima. Setelah satu semester, dievaluasi, dan ini yang menarik, saya diperintahkan untuk “naik kelas” di pertengahan tahun, ke kelas enam. Pendek cerita, al-hamdu liLlah, saya dinyatakan mampu melewati kelas enam MI TBS dan lulus dengan mendapat peringkat satu. Saya menerima hadiah dan senang sekali, yakni kitab “Riyadlu sh-Shalihin” dan “Sarung” yang hingga kini tidak terlupakan. Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah saya selesaikan secara normal enam tahun. Namanya juga Salafiyah, kurikulumnya, dari MI ilmu nahwunya belajar Ajrumiyah – terkenalnya Jurumiyah  – dan ‘Imrithy. Pada Tsanawiyah imu nahwu sudah harus menghafal nadham “Alfiyah” atau seribu nadham yang ditulis oleh Imam Ibnu Malik. Di Madrasah Aiyah, ilmu nahwu sudah menggunakan Syarah atau Komentar atas Alfiyah Ibn Malik, yaitu Ibnu ‘Aqil. Saya tidak sebutkan semuanya, karena dengan kitab-kitab yang menjadi maraji’ pembelajaran ilmu Nahwu tersebut, sudah terbayang model dan sistem pendidikannya, dan seperti apa lulusannya.  Maaf, ini bukan kalimat “kesombongan” karena insyaa Allah, saya tidak ada potongan “sombong”, apalagi saya sadar ilmu saya sangat tidak seberapa. Saudaraku, Ma’had ‘Aly TBS menurut data Direktorat PD Pontren Kementerian Agama adalah yang ke 27, dan memilih spesialisasi atau takhashshush Ilmu Falak. Maka, selain penyerahan SK, juga digelar Halaqah Falakiyah dengan tagline “Merawat Tradisi Menebar Innovasi”. Selain karena alasan Ilmu Falak selama ini makin “langka” peminatnya. Bahkan Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, sejak ada program Beasiswa 5.000 Doktor di Kementerian Agama, distingsinya adalah menyiapkan Doktor Ilmu Falak. Bahkan di tahun 2017, hanya terisi 7 mahasiswa. Untung saja Pascasarjana UIN Walisongo membuka konsentrasi baru Manajemen Halal dan Hukum Keluarga, jadinya “kuotanya” terpenuhi. Ma’had ‘Aly TBS juga pada saatnya akan menyuplai calon mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo tentu kalau sudah meluluskan. Pada saat saya masih di MTs, TBS sudah mengajarkan ilmu Falak dan di antaranya  mengoperasikan rubu’ mujayyab. Di TBS sangat dikenal KH Turaihan Ajhury asy-Syarafy al-Falaky, ahli falak sangat terkenal di jagad Indonesia, terutama kalender atau almanak Menara Kudus yang khas. Juga ada KH Abdul Jalil, dan masih ada beberapa ahli falak lainnya. Sebagai alumnus TBS, tidak ada kata lain kecuali mengapresiasi dan menyambut positif terselenggaranya Ma’had ‘Aly TBS ini. Kebetulan saya masih diamanati sebagai Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, yang mengelola program doktor ilmu falak, kehadiran Ma’had ‘Aly bisa menjaid mitra. Memang bagi program S1 Ilmu Falak  Fakultas Syariah dan Hukum, bisa saja ditafsiri sebagai “pesaing baru”, apalagi dengan basik yang berbeda. UIN basiknya lebih variatif, sementara di TBS rasanya “wajib” berbasis pesantren. Maka tafsirnya, musti dengan kompromi atau “al-jam’u wa t-taufiq” atau menyatukan dan mengompromikan. Dalam dunia bisnis, suatu “produk” semakin banyak produsen atau yang menjajakan, maka produk tersebut adalah produk yang menjadi kebutuhan penting. Karena itu, tidak perlu ada komentar yang tidak perlu, karena dunia pendidikan apalagi untuk menyiapkan ahli falak di dunia Indonesia ini, masih sangat diperlukan. Kalau ada pertanyaan, apakah setelah ada lulusan Ma’had ‘Aly TBS yang ahli falak rasa astrnom, apakah kemudian tidak ada lagi perbedaan dalam penentuan awal Ramadlan, awal Syawwal, dan awal Dzulhijah? Ini pertanyaan kritis tetapi jawabnya tidak mudah. Karena ini seperti pertanyaan maaf, “apakah tambahnya lulusan akpol, akmil, dan sarjana lainnya, akan berkorelasi menurunkan angka kriminalitas, gerakan separatis, atau problematika sosial lainnya”? Soal penentuan awal bulan Qamariyah, di Indonesia ini, tampak indahnya justru karena ada perbedaan itu. Mengapa, karena “instrumen test” kematangan berdemokrasi dan bertoleransi tampak matang dengan perbedaan itu. Dalam soal ibadah dan internal sesama kaum Muslim saja, bisa berjalan dengan baik, apalagi dengan penganut agama lain. Tentu ini, harus difahami dan dimaknai secara cerdas. Karena meskipun dalilnya sama, Al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan sumber dan rujukan sama, namun metode pemahamannya berbeda, akan menghasilkan rumusan atau formulasi hukum yang berbeda. Apalagi jika sudah ada pertimbangan di luar akademik dan keagamaan, maka tentu akan lebih variatif lagi. MUI sudah mensosialisasikan kaidah yang sangat dikenal, “hukm al-hakim ilzam wa yarfa’u l-khilaf” artinya “putusan hukum pemerintah itu mengikat dan menghilangkan perbedaan pendapat”. Itu teorinya, namun dalam kenyataannya, dengan dalih soal keyakinan karena terkait dengan amaliyah keagamaan, maka pemerintah juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Karena itu, tidak ada pilihan lain, kecuali merawat dan memelihara perbedaan tersebut, agar tetap menjadi rahmat dan kasih sayang. Yang terakhir ini pun, didasari kaidah selain “ikhtilafu ummati rahmah” artinya “perbedaan pedapat ummatku adalah kasih sayang”, juga ada kaidah “man lam yasyumma raihata l-khilaf lam yasyumma raihata l-fiqh” artinya “barang siapa tidak mampu mencium aroma perbedaan pendapat, berarti ia tidak mampu mencium aroma fiqh”. Yang terpenting, bagaimana kita mampu melakukan “literasi” dan mendewasakan umat kita, agar makin terbiasa dan terbudaya dengan perbedaan, sehingga kesimpulannya adalah “sepakat dalam perbedaan” atau “berbeda dengan kesepakatan”. Selamat Ma’had ‘Aly TBS, almamaterku, semoga Allah senantiasa melapangkan jalan “rizqimu” dan menggelar keberkahan padamu, untuk menyiapkan generasi Ahli Falak Rasa Astronom, atau Astronom yang Ahli Agama”. Selamat “merawat tradisi dan menebar innovasi”. Tekadmu dan kerja kerasmu, ditunggu umat. Jadilah yang terbaik dan paling member banyak manfaat. Sudah saatnya dari pondok pesantren, yang akan menjadi leader bangsa ini di masa depan. Allah a’lam bi sh-shawab. Wassalamualaikjm wrwb. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *