Home / KOLOM DIREKTUR / BELAJAR PADA SAUDARAKU YANG TUNA NETRA

BELAJAR PADA SAUDARAKU YANG TUNA NETRA

Assalamualaikum wrwb.
       Saudaraku, mari kita syukuri anugrah dan karunia Allah yang sungguh kita tidak mampu menghitungnya. Itu pun kita sering nggrundel, suudhan, dan bahkan tidak mampu memanfaatkan pemberian Allah, khususnya penglihatan atau netra. Sementara banyak saudara kita yang secara fisik lahiriyah, tidak bisa melihat, bisa karena bawaan dari lahir, atau karena sebab tertentu, yang justru “mata hati”-nya lebih tajam dari kita, dan bahkan lebih awas, terutama dalam menjaga diri dari hal-hal yang oleh agama dan kepatutan tidak seharusnya dilakukan.
       Shalawat dan salam, mari terus kita wiridkan untuk Baginda Rasulullah saw, keluarga, dan para sahabat. Semoga kita yang menjadi pengikut atau ummat beliau, senantiasa berhati baik, dan hanya mampu menerima kebaikan semata.
       Alkisah, suatu malam, seorang tuna netra berjalan dengan membawa tongkat di tangan kanan dan lampu di tangan kirinya. Ada seorang laki-laki normal netranya, dengan lugu bertanya: “Mengapa Anda yang tidak melihat, membawa lampu? Bukankah akan lebih nyaman sekiranya, hanya membawa tongkat saja, toh Anda juga tidak melihat? Saudaraku yang tuna netra ini dengan kelembutan menjawab: “Saya memang tidak bisa melihat, tetapi dengan lampu ini, orang lain yang sama-sama dalam gelap, bisa melihat saya. Dengan lampu ini jalan menjadi terang, dan dapat menghindarkan orang lain untuk menabrak saya. Dengan kalimat yang lebih mengharukan lagi, “lampu ini adalah untuk menerangi jalan yang aku lalui”.
       Saudaraku, dialog dua saudara kita tadi, mengandung pelajaran yang sangat berharga. Terkadang karena “kedangkalan” atau “keluguan” kita sering melihat, memahami, menikmati, dan merasakan betapa besar Allah menunjukkan kebesaran-Nya melalui saudara kita yang tuna netra tadi. Akan tetapi ternyata “mata hati dan mata batinnya” lebih cerdas atau lebih tajam penglihatan akalnya dari pada kita yang secara fisik sempurna. SubhanaLlah.
Bayangkan, di tengah tertutupnya penglihatan, ternyata saudaraku itu memikirkan membantu dan menyelematkan orang lain yang semestinya tidak perlu pertolongan. Ia berfikir untuk memberi kepada kita yang melihat, supaya kita yang secara lahir melihat, tidak sampai menabrak dirinya yang tidak melihat dengan wasilah lampu tersebut.
       Saudaraku, apabila kita berbuat baik, meskipun kita sendiri tidak secara langsung membutuhkannya, tetapi itu bermanfaat bagi orang lain, maka sebaiknya kita lakukan. Kalaulah nanti manfaatnya menolong orang lain, maka sesungguhnya di situlah kita menolong diri kita sendiri. Kebaikan yang kita lakukan kepada orang lain, pada hakikatnya adalah kebaikan untuk diri kita sendiri. Karena itu pula, Rasulullah saw mengajarkan kepada kita, kita memulai kebaikan itu dari diri kita sendiri.
عن أبي هريرة : قال رسول الله صلى الله عليه وسلم  أفضل الصدقة ما كان عن ظهر غنى ، واليد العليا خير من اليد السفلى ، وابدأ بمن تعول رواه البخاري ومسلم
Dari Abu Hurairah ra, Rasulullah saw bersabda: “Paling utamanya sadaqah adalah apa yang berasal dari posisi orang kaya, tangan di atas itu lebih utama dari pada tangan di bawah” dan mulailah dengan orang yang lebih tinggi. (Riwayat al-Bukhary dan Muslim).
     Peribahasa leluhur kita, “becik ketitik olo ketoro”. Kebaikan yang kita semai, kita rawat, dan kita jaga, maka pasti hasilnya akan lebih baik. Allah mengingatkan kepada kita:
منْ عَمِلَ سَيِّئَةً فَلَا يُجْزَىٰ إِلَّا مِثْلَهَا وَمَنْ عَمِلَ صَالِحًا مِّن ذَكَرٍ أَوْ أُنثَىٰ وَهُوَ مُؤْمِنٌ فَأُولَٰئِكَ يَدْخُلُونَ الْجَنَّةَ يُرْزَقُونَ فِيهَا بِغَيْرِ حِسَابٍ. غافر ٤٠).
“Barang siapa mengerjakan perbuatan jahat, maka diatidak akan dibalasi melainkan sebanding dengan kejahatan itu. Dan barang siapa mengerjakan amal shaleh baik laki-laki maupun perempuan sedang ia dalam keadaan beriman, maka mereka akan masuk surga. Mereka diberi rezeki di dalamnya tanpa hisab” (QS. Ghafir: 40).
       Karena itu, mari kita terus berusaha menyemai kebaikan, meskipun kita tidak menikmatinya sendiri. Riwayat dari Anas bun Malik: “Tidaklah seorang muslim menanam tanaman, kemudian tanaman itu dimakan burung, manusia, atau binatang ternak, melainkan hal itu sudah termasuk sedekah darinya” (Imam Bukhari). Dalam versi Imam Muslim, Rasulullah saw bersabda : “Tidaklah seorang muslim menanam tanaman kecuali yang dimakan darinya merupakan sedekah, apa yang dicuri darinya adalah sedekah, apa yang dimakan binatang buas adalah sedekah, apa yang dimakan oleh burung adalah sedekah, dan apa diambil oleh orang lain juga adalah sedekah”. Dan ini akan berkelanjutan hingga akhir kiamat”.
       Saudaraku, rasanya kita malu dan harus meningkatkan kualitas bersyukur kita kepada Allah. Kita boleh iri dalam soal bersyukur pada saudara kita yang secara fisik tidak bisa melihat atau tuna netra. Akan tetapi ketulusan hatinya membawa lampu di tangan kirinya, karena tangan kanannya memegang tongkat, ternyata memberikan pelajaran yang sangat berharga dan mahal bagi kita yang semoga masih memiliki sisa ketajaman mata hati. Boleh jadi kita memang memiliki penglihatan yang bagus secara fisik, akan tetapi mata hati dan batin kita, sering tertutup oleh kabut keangkuhan, kesombongan, dan egoisme (ananiyah). Kelebihan sedikit ilmu, sedikit kekayaan, dan sedikit jabatan, sering berakibat membutakan mata hati dan batin kita, dan lupa berbuat kebaikan meskipun itu sangat kecil. Sudah saatnya kita buang jauh-jauh, segala macam sifat dan sikap yang menjadi kabut dan menutupi mata hati dan batin kita itu, dengan memperbanyak istighfar dan mohon ampunan kepada Allah. Kita memulai sekarang juga untuk berbuat kebaikan, Allah, Rasul-Nya, dan orang-orang yang beriman akan melihat dan menyaksikannya.
وَقُلِ اعْمَلُوا فَسَيَرَى اللهُ عَمَلَكُمْ وَرَسُولُهُ وَالْمُؤْمِنُونَ وَسَتُرَدُّونَ إِلَىٰ عَالِمِ الْغَيْبِ وَالشَّهَادَةِ فَيُنَبِّئُكُم بِمَا كُنتُمْ تَعْمَلُونَ. التوبة ١٠٥
Dan katakanlah: “Berbuatlah kamu maka Allah dan Rasul-Nya serta orang-orang mukmin akan melihat perbuatanmu itu, dan kamu akan dikembalikan kepada (Allah) Yang Mengetahui akan yang ghaib dan yang nyata, lalu diberitakan-Nya kepada kamu apa yang telah kamu kerjakan”.
       Saudaraku, tidak seharusnya kita malu untuk belajar kepada siapapun, termasuk saudara kita yang tuna netra, atau tuna lainnya, karena kebajikan atau hikmah bisa datang dan ditemukan di mana saja. Ibarat berlian, didapatkan di mana saja, jatuh di kubangan sekalipunm ia tetap berlian. Jika itu bermanfaat, harus diambil sebelum terlambat. Semoga Allah makin sayang pada kita semua, dan mata hati dan batin kita, makin terbuka, semoga sinar inayah dan hidayah-Nya semoga akan menyejukkan sisa hidup kita. Wa ila Allah turja’u al-umur.
       Allah a’lam bi al-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.
Garuda Lounge Bandara Soekarno Hatta, 21/4/2017.

Check Also

MA’HAD ‘ALY TBS: MENYEMAI AHLI FALAK YANG ASTRONOM

Assalamualaikum wrwb. Al-hamdu liLlah wa sy-syukru liLlah. Segala puji dan syukur hanya milik Allah. Marilah kita syukuri anugrah dan pertolongan Allah, hanya karena dengan kasih sayang dan pertolongan Allah kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktivitas kita hari ini. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan pengikut yang setia dan istiqamah meneadani beliau.  Semoga semua urusan kita diberi kemudahan oleh Allah dan kelak di akhirat kita mendapat syafaat beliau. Saudaraku, kemarin Sabtu, 20 Rajab 1439 H bertepatan dengan 7/4/2018 M saya mendapat kehormatan untuk ikut menyaksikan peyerahan Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Islam, oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, tentang persetujuan Pesantren TBS (Tasywiquth Thullab Salafiyah) sebagai penyelenggara Program Pendidikan Ma’had ‘Aly. Nama TBS – memang unik – karena kepanjangannya “tidak simetris” karena T diambil dari huruf “ta” dari kata “tasywiq” dan B diambil huruf terakhir kata “thullab” bentuk jama’ dari kata “thalib” yang artinya murid, siswa, atau peserta didik dalam bahasa sekarang. Seingat saya, saat saya masih menjadi “santri” huruf S itu singkatan dari kata “school” yang artinya sekolah atau madrasah. Dalam perjalanannya, huruf S ini diambil dari huruf “sin” dari kata salafiyah, yang artinya madrasah. Kata “Tasywiqu th-Thullab Salafiyah” artinya “Bronto – atau intellectual curiousity– nya Santri yang berpendidikan Salafiyah”. Salafiyah juga dalam penggunaan keseharian berbeda dengan “Salafi”.  TBS merancang dan mengelola pendidikan meskipun pada dasarnya adalah madrasah formal atau klasikal, namun desain kurikulum dan tata kelolanya, mengikuti model pondok pesantren. Saya sendiri, belajar di TBS ini selama “tujuh” tahun dengan sistem dan model yang unik juga. Setelah lulus SD dan MI di Kampung, didaftarkan di TBS. Test kemampuan dimulai dengan materi test kelas empat  MI, hari itu juga diumumkan. Besok paginya, test kemampuan untuk kelas lima, siangnya langsung diumumkan. Berarti lolos kelas 5. Besok paginya diikutkan test kemampuan kelas enam, sayang belum beruntung. Akhirnya “harus” mengikuti pelajaran dari kelas lima. Setelah satu semester, dievaluasi, dan ini yang menarik, saya diperintahkan untuk “naik kelas” di pertengahan tahun, ke kelas enam. Pendek cerita, al-hamdu liLlah, saya dinyatakan mampu melewati kelas enam MI TBS dan lulus dengan mendapat peringkat satu. Saya menerima hadiah dan senang sekali, yakni kitab “Riyadlu sh-Shalihin” dan “Sarung” yang hingga kini tidak terlupakan. Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah saya selesaikan secara normal enam tahun. Namanya juga Salafiyah, kurikulumnya, dari MI ilmu nahwunya belajar Ajrumiyah – terkenalnya Jurumiyah  – dan ‘Imrithy. Pada Tsanawiyah imu nahwu sudah harus menghafal nadham “Alfiyah” atau seribu nadham yang ditulis oleh Imam Ibnu Malik. Di Madrasah Aiyah, ilmu nahwu sudah menggunakan Syarah atau Komentar atas Alfiyah Ibn Malik, yaitu Ibnu ‘Aqil. Saya tidak sebutkan semuanya, karena dengan kitab-kitab yang menjadi maraji’ pembelajaran ilmu Nahwu tersebut, sudah terbayang model dan sistem pendidikannya, dan seperti apa lulusannya.  Maaf, ini bukan kalimat “kesombongan” karena insyaa Allah, saya tidak ada potongan “sombong”, apalagi saya sadar ilmu saya sangat tidak seberapa. Saudaraku, Ma’had ‘Aly TBS menurut data Direktorat PD Pontren Kementerian Agama adalah yang ke 27, dan memilih spesialisasi atau takhashshush Ilmu Falak. Maka, selain penyerahan SK, juga digelar Halaqah Falakiyah dengan tagline “Merawat Tradisi Menebar Innovasi”. Selain karena alasan Ilmu Falak selama ini makin “langka” peminatnya. Bahkan Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, sejak ada program Beasiswa 5.000 Doktor di Kementerian Agama, distingsinya adalah menyiapkan Doktor Ilmu Falak. Bahkan di tahun 2017, hanya terisi 7 mahasiswa. Untung saja Pascasarjana UIN Walisongo membuka konsentrasi baru Manajemen Halal dan Hukum Keluarga, jadinya “kuotanya” terpenuhi. Ma’had ‘Aly TBS juga pada saatnya akan menyuplai calon mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo tentu kalau sudah meluluskan. Pada saat saya masih di MTs, TBS sudah mengajarkan ilmu Falak dan di antaranya  mengoperasikan rubu’ mujayyab. Di TBS sangat dikenal KH Turaihan Ajhury asy-Syarafy al-Falaky, ahli falak sangat terkenal di jagad Indonesia, terutama kalender atau almanak Menara Kudus yang khas. Juga ada KH Abdul Jalil, dan masih ada beberapa ahli falak lainnya. Sebagai alumnus TBS, tidak ada kata lain kecuali mengapresiasi dan menyambut positif terselenggaranya Ma’had ‘Aly TBS ini. Kebetulan saya masih diamanati sebagai Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, yang mengelola program doktor ilmu falak, kehadiran Ma’had ‘Aly bisa menjaid mitra. Memang bagi program S1 Ilmu Falak  Fakultas Syariah dan Hukum, bisa saja ditafsiri sebagai “pesaing baru”, apalagi dengan basik yang berbeda. UIN basiknya lebih variatif, sementara di TBS rasanya “wajib” berbasis pesantren. Maka tafsirnya, musti dengan kompromi atau “al-jam’u wa t-taufiq” atau menyatukan dan mengompromikan. Dalam dunia bisnis, suatu “produk” semakin banyak produsen atau yang menjajakan, maka produk tersebut adalah produk yang menjadi kebutuhan penting. Karena itu, tidak perlu ada komentar yang tidak perlu, karena dunia pendidikan apalagi untuk menyiapkan ahli falak di dunia Indonesia ini, masih sangat diperlukan. Kalau ada pertanyaan, apakah setelah ada lulusan Ma’had ‘Aly TBS yang ahli falak rasa astrnom, apakah kemudian tidak ada lagi perbedaan dalam penentuan awal Ramadlan, awal Syawwal, dan awal Dzulhijah? Ini pertanyaan kritis tetapi jawabnya tidak mudah. Karena ini seperti pertanyaan maaf, “apakah tambahnya lulusan akpol, akmil, dan sarjana lainnya, akan berkorelasi menurunkan angka kriminalitas, gerakan separatis, atau problematika sosial lainnya”? Soal penentuan awal bulan Qamariyah, di Indonesia ini, tampak indahnya justru karena ada perbedaan itu. Mengapa, karena “instrumen test” kematangan berdemokrasi dan bertoleransi tampak matang dengan perbedaan itu. Dalam soal ibadah dan internal sesama kaum Muslim saja, bisa berjalan dengan baik, apalagi dengan penganut agama lain. Tentu ini, harus difahami dan dimaknai secara cerdas. Karena meskipun dalilnya sama, Al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan sumber dan rujukan sama, namun metode pemahamannya berbeda, akan menghasilkan rumusan atau formulasi hukum yang berbeda. Apalagi jika sudah ada pertimbangan di luar akademik dan keagamaan, maka tentu akan lebih variatif lagi. MUI sudah mensosialisasikan kaidah yang sangat dikenal, “hukm al-hakim ilzam wa yarfa’u l-khilaf” artinya “putusan hukum pemerintah itu mengikat dan menghilangkan perbedaan pendapat”. Itu teorinya, namun dalam kenyataannya, dengan dalih soal keyakinan karena terkait dengan amaliyah keagamaan, maka pemerintah juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Karena itu, tidak ada pilihan lain, kecuali merawat dan memelihara perbedaan tersebut, agar tetap menjadi rahmat dan kasih sayang. Yang terakhir ini pun, didasari kaidah selain “ikhtilafu ummati rahmah” artinya “perbedaan pedapat ummatku adalah kasih sayang”, juga ada kaidah “man lam yasyumma raihata l-khilaf lam yasyumma raihata l-fiqh” artinya “barang siapa tidak mampu mencium aroma perbedaan pendapat, berarti ia tidak mampu mencium aroma fiqh”. Yang terpenting, bagaimana kita mampu melakukan “literasi” dan mendewasakan umat kita, agar makin terbiasa dan terbudaya dengan perbedaan, sehingga kesimpulannya adalah “sepakat dalam perbedaan” atau “berbeda dengan kesepakatan”. Selamat Ma’had ‘Aly TBS, almamaterku, semoga Allah senantiasa melapangkan jalan “rizqimu” dan menggelar keberkahan padamu, untuk menyiapkan generasi Ahli Falak Rasa Astronom, atau Astronom yang Ahli Agama”. Selamat “merawat tradisi dan menebar innovasi”. Tekadmu dan kerja kerasmu, ditunggu umat. Jadilah yang terbaik dan paling member banyak manfaat. Sudah saatnya dari pondok pesantren, yang akan menjadi leader bangsa ini di masa depan. Allah a’lam bi sh-shawab. Wassalamualaikjm wrwb. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *