Home / KOLOM DIREKTUR / MEMFORMULASI TOLERANSI YANG BENAR ?

MEMFORMULASI TOLERANSI YANG BENAR ?

Assalamualaikum wrwb.
       Saudaraku, mari kita tingkatkan syukur kita kepada Allah. Anugrah dan karunia-Nya tak terhingga yang kita terima. Semoga kesyukuran kita, Allah makin menambah kenikmatan-Nya pada kita, dan kita makin dekat kepada-Nya, lebih dekat dari urat nadi leher kita. Shalawat dan salam mari kita senandungkan untuk Baginda Rasulullah saw, tokoh teladan yang baik (uswatun hasanah) bagi kita. Semoga syafaat beliau kelak di akhirat akan melindungi kita.
       Ada yang mengatakan, sekarang ini toleransi (تسامح) menjadi “barang mahal”, karena sebagai anak bangsa kita ini sering emosi-nan, marah-marah, mengumpat, mencaci, memaki, dan sering tanpa melakukan tabayun (konfirmasi) terlebih dahulu. Laksana pengadilan, vonis sudah dijatuhkan sebelum memeriksa, mencari bukti, dan mengkonfrontasi saksi-saksi dan bukti-bukti yang mendukung vonis tersebut.
       Hari Ahad, 16/4/2017 jam 00.00 terjadi ledakan mobil — yang tampaknya untuk “meneror” umat Islam yang sedang memperingati peristiwa Isra’ dan Mi’raj Nabi Muhammad saw di daerah Cawang Kompor Jakarta Timur. Hasil investigasi, ditemukan 4 drigen besar berisi bensin dalam mobil kijang kapsul berplat B 7208 EQ dan 4 drigen besar berisi bensin dalam mobil kijang grand berplat B 1552 AH yang parkir di area majlis yang ditinggal oleh pemiliknya.
       Banyak keganjilan dan keanehan dalam peristiwa tersebut. Karena tidak ada petugas dari kepolisian atau pun tim gegana yang biasanya mengerahkan banyak mobil untuk berjaga-jaga. Berbeda misalnya, ketika ada kejadian yang menimpa jamaah non-muslim. Pasti akan ramai diberitakan oleh media dan cenderung diblow up, karena diduga pelakunya orang Islam, dan mereka itu “teroriris”.
       Kata “toleran” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia diartikan bersifat atau bersikap menenggang (menghargai, membiarkan, membolehkan) pendirian (pendapat, pandangan, kepercayaan, kebiasaan, kelakuan, dan sebagainya) yang berbeda atau bertentangan dengan pendirian sendiri. Dalam bahasa Arab, sering digunakan kata tasamuh (toleran) artinya bermurah hati. Ada yang mengartikan “tasahul” artinya menganggap mudah atau bersikap mudah (easygoing). Dari kutipan di atas, dapat ditegaskan bahwa toleransi adalah mengandung sifat-sifat seperti lapang dada, tenggang rasa, menahan diri, dan tidak memaksakan kehendak pada orang lain.
       Saudaraku, sebagai Muslim, kita merindukan adanya kebersamaan, kekompakan, dan kebersamaan sesama muslim. Akan tetapi yang terjadi justru sebaliknya, di antara kita lebih sering berantem dan bermusuhan sesama muslim, sementara dengan yang beragama lain sering lebih mesra dan cenderung berlebihan. Hemat saya, sebagai muslim kita sudah diberi panduan oleh Rasulullah saw. Pertama, tentang persaudaraan seagama (ukhuwah Islamiyah) yang seharusnya saling mengasihi, saling menyayangi, dan saling menolong, laksana satu tubuh apabila ada anggota tubuh yang sakit, maka anggota tubuh lainnya merasakannya.
عن النبي صلى الله عليه وسلم أنه قال: مَثَلُ المؤمنين في تَوَادِّهم وتراحُمهم وتعاطُفهم: مثلُ الجسد، إِذا اشتكى منه عضو: تَدَاعَى له سائرُ الجسد بالسَّهَرِ والحُمِّى [أخرجه البخاري ومسلم عن النعمان بن بشير]
Dari Nabi saw, beliau bersabda: “Perumpamaan orang-orang yang beriman dalam saling mencintai, saling menyayangi, dan saling mengasihi di antara mereka, adalah seumpama satu jasad, apabila satu anggota tubuh mengeluh sakit, maka anggota yang lainnya ikut merasakan terjaga dan pilek” (dikeluarkan oleh al-Bukhary dan Muslim dari al-Nu’man bin Basyir).
       Apakah praktik toleransi kita selama ini sudah benar? Ketika sesama Muslim kita bahkan mengafir-ngafirkan tanpa dasar dan argumentasi hukum yang jelas? Sementara dengan orang non-muslim bermesra-mesraan secara berlebihan? Soal hubungan antar pemeluk agama, Allah telah banyak menunjukkan kepada kita, bahwa kita harus menghormati pilihan orang yang tidak seagama dengan kita. Karena urusan hidayah, manusia tidak mempunyai kewenangan? Bahwa kalau kita behubungan dengan semua manusia berjalan dengan baik, mesra, dan saling menyayangi, apakah dengan sesama muslim maupun dengan non-muslim, tentu baik-baik saja. Karena soal pilihan agama, ini adalah berada di antara pilihan kreatif dan benar manusia atau wilayah prerogatif Allah Tuhan Yang Maha Kuasa.
Dalam QS. Al-Qashash: 56 Allah menegur Rasulullah saw:
إِنَّكَ لَا تَهْدِي مَنْ أَحْبَبْتَ وَلَٰكِنَّ اللهَ يَهْدِي مَن يَشَاءُ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ
“Sesungguhnya kamu tidak akan dapat memberi petunjuk kepada orang yang kamu kasihi, tetapi Allah memberi petunjuk kepada orang yang dikehendaki-Nya, dan Allah lebih mengetahui orang-orang yang mau menerima petunjuk” (QS. Al-Qashash:56).
       Ayat tersebut diturunkan, sehubungan dengan wafatnya paman Rasulullah saw yang sangat ducintainya, Abu Thalib. Sepeninggal istri beliau tercinta Khadijah al-Kubra, paman Abu Thalib adalah paman yang melindungi dan mendukung tugas dakwah beliau. Sayang, menjelang wafatnya, Abu Thalib sempat menyarankan kepada para pembesar Quraisy yang bezuk waktu itu, untuk menyatakan iman kepada Rasulullah saw, akan tetapi Allah berkehendak lain. Belum sempat bersyahadat, Abu Thalib dijemput oleh malaikat Izrail.
Dalam persaudaraan dengan pemeluk agama lain, dengan snagat gamblang dijelaskan:
 قُلْ يَا أَيُّهَا الْكَافِرُونَ (١). لَا أَعْبُدُ مَا تَعْبُدُونَ. (٢). وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (٣). وَلَا أَنَا عَابِدٌ مَّا عَبَدتُّمْ. (٤). وَلَا أَنتُمْ عَابِدُونَ مَا أَعْبُدُ (٥). لَكُمْ دِينُكُمْ وَلِيَ دِينِ. (٦).
Katakanlah : “Hai orang-orang kafir, aku tidak akan menyembah apa yang kamu sembah, dan kamu bukan penyembah Tuhan yang aku sembah, dan aku tisak pernah menjadi penyembah apa yang kamu sembah, dan kamu tidak pernah (pula) menjadi penyembah Tuhan yang aku sembah, untukmu agamamu dan untukkulah agamaku” (QS. AL-Kafirun:1-6).
       Saudaraku, persaudaraan, toleransi, saling menyayangi, saling tolong menolong, saling menghormati, ini sifatnya egaliter, equality before the law, dan musti dilakukan secara adil dan proporsional. Tentu tidak fair kalau kita diminta adil, sementara saudara kita berlaku sewenang-wenang kepada kita. Di sini tidak ada dominasi mayoritas, tetapi juga tidak ada tirani minoritas. Demikian juga tidak ada dominasi minoritas, dan tirani mayoritas. Kadang-kadang sebagian dari kita tidak faham dan salah kaprah, apalagi maaf, kalau sudah ada kepentingan tertentu di balik praktik sikap toleransi.
Dalam keseharian sering terjadi praktik yang kebalik-balik. Kalau warga muslim memilih calon muslim dikatakan rasis, dan ketika ada WNI keturunan menghina, menista warga pribumi, apalagi ia seorang Gubernur, hanya karena salah paham, dianggap biasa saja. Kalau ada teroris menyerang dengan bom mobil di acara pengajian warga muslim, dianggap insiden kecil dan biasa. Demikian juga ketika ada warga muslim menjalankan shalat Idul Fitri dan masjidnya dibakar, dianggap biasa saja, tidak sara, dan bahkan tidak jelas penyelesaiannya. Sementara itu, ketika ada kasus ledakan bom kecil, di area yang patut diduga area non-muslim, maka media pun memblow up sedemikian rupa.
       Saudaraku, sebagai warga NKRI kita sangat lelah dan capek, dalam membangun toleransi. Kita semua rindu toleransi yang adil, terbuka, dan berimbang. Warga muslim yang mayoritas sudah sangat toleran. Karena kita menyadari ada saudara-saudara muslim yang dalam posisi minoritas. Karena itu, perlu ketulusan, kejujuran, dan keadilan dari saudara kita yang minoritas. Kalau ada saudara kita yang mungkin secara ekonomi berlebih, kita berharap silahkan menikmatinya, tetapi hendaknya jangan mengumbar keangkuhan dan kesombongan. Mari kita rawat dan jaga ke-Bhinekaan kita, karena hakikatnya kita Tungga Ika”. Mari kita buang jauh-jauh sifat-sifat dan sikap-sikap tiran, kita bersihkan sikap sombong, angkuh, dan takabur, kita kembalikan pemahaman dan pengamalan toleransi secara benar sesuai tuntunan Rasulullah saw. Karena kita akan dimintai pertanggungjawaban dari sikap dan praktik toleransi kita di akhirat nanti oleh pengasilan Allah Swt.
       Semoga makin hari kita makin wise, makin bijak, dan mampu menghormati diri kita sendiri. Kita fahami ukhuwah Islamiyah, ukhuwah wathaniyah, dan ukhuwah insaniyah kita secara benar. Kita buang jauh-jauh ananiyah atau egoisme karena toleransi yang salah kaprah, dan merasa lebih bergengsi di mata Allah, jika kita “memusuhi” saudara kita yang seiman. Dari sinilah kita wujudkan Islam yang rahmatan lil ‘alamin.
        Allah a’lam bi al-shawab. In uridu illa al-ishlah ma istatha’tu, wa ma taufiqi illa bi Allah. Allah waliy al-taufiq.
Wassalamualaikum wrwb.
Ngaliyan, Semarang, 17/4/2017.

Check Also

MA’HAD ‘ALY TBS: MENYEMAI AHLI FALAK YANG ASTRONOM

Assalamualaikum wrwb. Al-hamdu liLlah wa sy-syukru liLlah. Segala puji dan syukur hanya milik Allah. Marilah kita syukuri anugrah dan pertolongan Allah, hanya karena dengan kasih sayang dan pertolongan Allah kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktivitas kita hari ini. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan pengikut yang setia dan istiqamah meneadani beliau.  Semoga semua urusan kita diberi kemudahan oleh Allah dan kelak di akhirat kita mendapat syafaat beliau. Saudaraku, kemarin Sabtu, 20 Rajab 1439 H bertepatan dengan 7/4/2018 M saya mendapat kehormatan untuk ikut menyaksikan peyerahan Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Islam, oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, tentang persetujuan Pesantren TBS (Tasywiquth Thullab Salafiyah) sebagai penyelenggara Program Pendidikan Ma’had ‘Aly. Nama TBS – memang unik – karena kepanjangannya “tidak simetris” karena T diambil dari huruf “ta” dari kata “tasywiq” dan B diambil huruf terakhir kata “thullab” bentuk jama’ dari kata “thalib” yang artinya murid, siswa, atau peserta didik dalam bahasa sekarang. Seingat saya, saat saya masih menjadi “santri” huruf S itu singkatan dari kata “school” yang artinya sekolah atau madrasah. Dalam perjalanannya, huruf S ini diambil dari huruf “sin” dari kata salafiyah, yang artinya madrasah. Kata “Tasywiqu th-Thullab Salafiyah” artinya “Bronto – atau intellectual curiousity– nya Santri yang berpendidikan Salafiyah”. Salafiyah juga dalam penggunaan keseharian berbeda dengan “Salafi”.  TBS merancang dan mengelola pendidikan meskipun pada dasarnya adalah madrasah formal atau klasikal, namun desain kurikulum dan tata kelolanya, mengikuti model pondok pesantren. Saya sendiri, belajar di TBS ini selama “tujuh” tahun dengan sistem dan model yang unik juga. Setelah lulus SD dan MI di Kampung, didaftarkan di TBS. Test kemampuan dimulai dengan materi test kelas empat  MI, hari itu juga diumumkan. Besok paginya, test kemampuan untuk kelas lima, siangnya langsung diumumkan. Berarti lolos kelas 5. Besok paginya diikutkan test kemampuan kelas enam, sayang belum beruntung. Akhirnya “harus” mengikuti pelajaran dari kelas lima. Setelah satu semester, dievaluasi, dan ini yang menarik, saya diperintahkan untuk “naik kelas” di pertengahan tahun, ke kelas enam. Pendek cerita, al-hamdu liLlah, saya dinyatakan mampu melewati kelas enam MI TBS dan lulus dengan mendapat peringkat satu. Saya menerima hadiah dan senang sekali, yakni kitab “Riyadlu sh-Shalihin” dan “Sarung” yang hingga kini tidak terlupakan. Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah saya selesaikan secara normal enam tahun. Namanya juga Salafiyah, kurikulumnya, dari MI ilmu nahwunya belajar Ajrumiyah – terkenalnya Jurumiyah  – dan ‘Imrithy. Pada Tsanawiyah imu nahwu sudah harus menghafal nadham “Alfiyah” atau seribu nadham yang ditulis oleh Imam Ibnu Malik. Di Madrasah Aiyah, ilmu nahwu sudah menggunakan Syarah atau Komentar atas Alfiyah Ibn Malik, yaitu Ibnu ‘Aqil. Saya tidak sebutkan semuanya, karena dengan kitab-kitab yang menjadi maraji’ pembelajaran ilmu Nahwu tersebut, sudah terbayang model dan sistem pendidikannya, dan seperti apa lulusannya.  Maaf, ini bukan kalimat “kesombongan” karena insyaa Allah, saya tidak ada potongan “sombong”, apalagi saya sadar ilmu saya sangat tidak seberapa. Saudaraku, Ma’had ‘Aly TBS menurut data Direktorat PD Pontren Kementerian Agama adalah yang ke 27, dan memilih spesialisasi atau takhashshush Ilmu Falak. Maka, selain penyerahan SK, juga digelar Halaqah Falakiyah dengan tagline “Merawat Tradisi Menebar Innovasi”. Selain karena alasan Ilmu Falak selama ini makin “langka” peminatnya. Bahkan Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, sejak ada program Beasiswa 5.000 Doktor di Kementerian Agama, distingsinya adalah menyiapkan Doktor Ilmu Falak. Bahkan di tahun 2017, hanya terisi 7 mahasiswa. Untung saja Pascasarjana UIN Walisongo membuka konsentrasi baru Manajemen Halal dan Hukum Keluarga, jadinya “kuotanya” terpenuhi. Ma’had ‘Aly TBS juga pada saatnya akan menyuplai calon mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo tentu kalau sudah meluluskan. Pada saat saya masih di MTs, TBS sudah mengajarkan ilmu Falak dan di antaranya  mengoperasikan rubu’ mujayyab. Di TBS sangat dikenal KH Turaihan Ajhury asy-Syarafy al-Falaky, ahli falak sangat terkenal di jagad Indonesia, terutama kalender atau almanak Menara Kudus yang khas. Juga ada KH Abdul Jalil, dan masih ada beberapa ahli falak lainnya. Sebagai alumnus TBS, tidak ada kata lain kecuali mengapresiasi dan menyambut positif terselenggaranya Ma’had ‘Aly TBS ini. Kebetulan saya masih diamanati sebagai Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, yang mengelola program doktor ilmu falak, kehadiran Ma’had ‘Aly bisa menjaid mitra. Memang bagi program S1 Ilmu Falak  Fakultas Syariah dan Hukum, bisa saja ditafsiri sebagai “pesaing baru”, apalagi dengan basik yang berbeda. UIN basiknya lebih variatif, sementara di TBS rasanya “wajib” berbasis pesantren. Maka tafsirnya, musti dengan kompromi atau “al-jam’u wa t-taufiq” atau menyatukan dan mengompromikan. Dalam dunia bisnis, suatu “produk” semakin banyak produsen atau yang menjajakan, maka produk tersebut adalah produk yang menjadi kebutuhan penting. Karena itu, tidak perlu ada komentar yang tidak perlu, karena dunia pendidikan apalagi untuk menyiapkan ahli falak di dunia Indonesia ini, masih sangat diperlukan. Kalau ada pertanyaan, apakah setelah ada lulusan Ma’had ‘Aly TBS yang ahli falak rasa astrnom, apakah kemudian tidak ada lagi perbedaan dalam penentuan awal Ramadlan, awal Syawwal, dan awal Dzulhijah? Ini pertanyaan kritis tetapi jawabnya tidak mudah. Karena ini seperti pertanyaan maaf, “apakah tambahnya lulusan akpol, akmil, dan sarjana lainnya, akan berkorelasi menurunkan angka kriminalitas, gerakan separatis, atau problematika sosial lainnya”? Soal penentuan awal bulan Qamariyah, di Indonesia ini, tampak indahnya justru karena ada perbedaan itu. Mengapa, karena “instrumen test” kematangan berdemokrasi dan bertoleransi tampak matang dengan perbedaan itu. Dalam soal ibadah dan internal sesama kaum Muslim saja, bisa berjalan dengan baik, apalagi dengan penganut agama lain. Tentu ini, harus difahami dan dimaknai secara cerdas. Karena meskipun dalilnya sama, Al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan sumber dan rujukan sama, namun metode pemahamannya berbeda, akan menghasilkan rumusan atau formulasi hukum yang berbeda. Apalagi jika sudah ada pertimbangan di luar akademik dan keagamaan, maka tentu akan lebih variatif lagi. MUI sudah mensosialisasikan kaidah yang sangat dikenal, “hukm al-hakim ilzam wa yarfa’u l-khilaf” artinya “putusan hukum pemerintah itu mengikat dan menghilangkan perbedaan pendapat”. Itu teorinya, namun dalam kenyataannya, dengan dalih soal keyakinan karena terkait dengan amaliyah keagamaan, maka pemerintah juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Karena itu, tidak ada pilihan lain, kecuali merawat dan memelihara perbedaan tersebut, agar tetap menjadi rahmat dan kasih sayang. Yang terakhir ini pun, didasari kaidah selain “ikhtilafu ummati rahmah” artinya “perbedaan pedapat ummatku adalah kasih sayang”, juga ada kaidah “man lam yasyumma raihata l-khilaf lam yasyumma raihata l-fiqh” artinya “barang siapa tidak mampu mencium aroma perbedaan pendapat, berarti ia tidak mampu mencium aroma fiqh”. Yang terpenting, bagaimana kita mampu melakukan “literasi” dan mendewasakan umat kita, agar makin terbiasa dan terbudaya dengan perbedaan, sehingga kesimpulannya adalah “sepakat dalam perbedaan” atau “berbeda dengan kesepakatan”. Selamat Ma’had ‘Aly TBS, almamaterku, semoga Allah senantiasa melapangkan jalan “rizqimu” dan menggelar keberkahan padamu, untuk menyiapkan generasi Ahli Falak Rasa Astronom, atau Astronom yang Ahli Agama”. Selamat “merawat tradisi dan menebar innovasi”. Tekadmu dan kerja kerasmu, ditunggu umat. Jadilah yang terbaik dan paling member banyak manfaat. Sudah saatnya dari pondok pesantren, yang akan menjadi leader bangsa ini di masa depan. Allah a’lam bi sh-shawab. Wassalamualaikjm wrwb. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *