Home / KOLOM DIREKTUR / BUDAYA ANTRI DAN SIKAP SUFISTIK

BUDAYA ANTRI DAN SIKAP SUFISTIK

Assalamualaikum wrwb.
       Saudaraku yang disayangi Allah, mari kita syukuri anugrah dan pertolongan Allah yang kita tidak mampu menghitungnya. Semoga kota mampu memanfaatkannya untuk meningkatkan kualitas iman dan taqwa kita, guna menambah bekal kita untuk menghadapi kehidupan yang lebih lama lagi. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, dan para
Sahabat. Insya Allah, hati kita akan terus memiliki kepekaan dna sensitifitas untuk meneladani beliau, dan siap melakukan yang terbaik dan bermanfaat bagi saudara kita.
       Judul tulisan ini, tiba-tiba muncul karena “terprovokasi” oleh postingan gambar dari Sahabat Dr. Musahadi yang wakil rektor bidang akademik UIN Walisongo (harus disebut supaya tidak termasuk plagiasi, karena plagiasi adalah “dosa besar akademik”). Apakah gambar itu hasil kreasi sendiri atau postingan juga dari orang lain, Allah a’lam. Yang jelas, gambar itu dibuat oleh laughingcolour.com.
       Gambar tersebut “menohok” saya dan mungkin sebagian besar atau bahkan semua bangsa ini, yang belum atau tidak memiliki budaya antri. Karena inginnya serba cepat, ingin menerabas, tanpa mempedulikan hak-hak orang lain yang mereka sudah baik, antri panjang sesuai dengan urutan masing-masing.
       Judul tulisan oleh pembuanya ditulis dengan huruf kapital, WHOM WILL YOU CALL ADUCATED? Terjemahannya, “SIAPA YANG ANDA SEBUT BERPENDIDIKAN”? Isi gambarnya bagian atas adalah sekumpulan — lebih tepatnya — sederetan sepuluh ekor kerbau yang berjalan berbaris rapi di tepi jalan dengan penggembala di posisi paling akhir. Dan di situ ditulis dengan huruf kapital NON EDUCATED. Sementara gambar bawah, adalah gambaran suasana kemacetan berlalulintas yang lalu lalang tidak karuan, tidak jelas jalurnya, dan sangat sulit diurai, kira-kira seperti kasus brexit, Brebes Exit, lebaran yang lalu, yang menyebabkan beberapa orang meninggal dunia. Tulisan captionnya pun ditulis besar EDUCATED.
       Saudaraku, perancang gambar laughingcolours.com tampaknya ingin menertawain siapa saja, yang tidak memiliki kesadaran untuk antri. Karena budaya antri adalah budaya ornag yang berpendidikan. Karena spirit antri adalah spirit adil dan keadilan. Yang datang lebih awal haknya dia lebih dulu. Dan ternyata dalam gambar tersebut, sederetan kerbau saja memiliki naluri antri dan rapi. Berarti kerbau lebih mudah dilatih — kalau dibilang dididik kok tidak tepat ya — oleh penggembalanya, menjadi terlatih dan terbiasa berjalan antri, urut, dan rapi.
       Hampir setiap hari di mana-mana di berbagai kota, termasuk Semarang, nyaris tidak bisa dihindari adanya kemacetan. Sebutlah sebagai contoh, di sepanjang depan gerbang tol, yang sudah dipasang Gardu Tol Otomatis (GTO) di Krapyak, Banyumanik, Muktiharjo. Fasilitas GTO tidak atau belum berjalan secara optimal, karena pengendara mobil yang seharusnya menggunakan fasilitas GTO ternyata masih lebih banyak yang tidak menggunakan e-money atau e-tol. Akibatnya mereka ikut memadati yang akan memasuki pintu tol manual yang bayar tunai.
       Apabila Anda mendapat undangan acara wedding atau walimah al-‘urs, kalau yang mengundang pejabat biasanya menyiapkan dua jalur, jalur very important person (VIP) bahkan ada yang very very (VVIP), yang meskipun datang belakangan, oleh penerima tamu, dipersilahkan langsung menuju panggung pelaminan untuk menemui shahibul hajat dan kedua mempelai. Padahal tamu yang antri sedemikian panjangnya. Boleh jadi ini sudah dianggap “biasa” dan lumrah oleh masyarakat, akan tetapi sesungguhnya ini model pendidikan secara tidak langsung, ketika ada anak-anak yang diajak oleh orang tuanya ikut menghadiri undangan tersebut.
       Ada lagi Saudaraku, pejabat katanya dalam aturan protokoler pergi ke mana-mana menggunakan mobil pengawal (voreider), sehingga tidak bisa merasakan bagaimana “penderitaan” dan “suka-dukanya” orang-orang yang terjebak atau mengalami kemacetan panjang, apalagi sampai berhari-hari. Lain halnya, mobil ambulance atau movil jenazah, yang memang sudah seharusnya didahulukan.
Cerminan berikutnya, ketika jamaah haji kita “berebut” makanan atau layanan makan di warung makan. Tampaknya budaya antri kita itu sudah tidak ada atau sangat rendah.
       Pertanyaannya adalah, apakah model pendidikan kita yang salah, sehingga tidak mampu menjadikan diri kita memiliki kebiasaan atau budaya antri. Atau adanya hak-hak khusus (preiveleige) tertentu yang berdampak merusak budaya antri yang sesungguhnya menunjukkan integritas pribadi dan akhlak seseorang. Ini layak menjadi renungan bersama, terutama oleh para tokoh dan ahli pendidikan bangsa ini.
       Kalaupun Anda memperhatikan gambar di bawah ini, kemudian tertawa, berarti Anda masih sensitif. Soal Anda tersinggung atau tidak itu soal kepekaan kitaapakah radah kita masih berjalan on the right track, atau sudah saatnya hatus dicharge ulang, atau bahkan diperbaiki? Ini tidak hanya dalam soal yang tampak sepele soal antrian, akan tetapi jika kita rasakan dengan hati, ini akan membangun sikap mengal dan hati kita, mampu menerima (qana’ah) dengan lapang dada, ridla atas karunia Allah, atau bahkan pada tingkatan yang lebih tinggi lagi, zuhud. Kita butuh harta, tetapi hanya semata sebagai instrumen agar hidup ini menjadi lebih bermakna.
       Saudaraku, mari kita renungkan bersama “sindiran” telak gambar di bawah ini, dengan menyimak Firman Allah:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ.   الاعراف ١٧٩
“Dan sesugguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia. Mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai nak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (QS. Al-A’raf:179).
       Banyak orang ingin menjadi sarjana Strata 1, tetapi tidak mau kuliah reguler sesuai aturan, dan ada yang melayani dan memberi ijazah. Ada yang ingin cepat kaya, padahal dia hanya pegawai atau pejabat yang tidak seberapa besar gajinya, tetapi tahu-tahu rekeningnya gendut. Ada yang sudah punya uang banyak, karena masih merasa kurang banyak, minta digandakan, karena sudah diperbudak oleh harta. Ada yang ingin cepat kaya, karena memang hidup serba kekurangan itu sudah, akhirnya dia bersekongkol dengan syaithan dengan cari “pesugihan”. Ada yang ingin cepat terkenal, ia cari cara dengan mengorbankan dirinya yang paling berharga.
      Antri adalah sunnatuLlah. Orang bilang mengikuti ritme alamiah saja. Supaya tidak mudah kaget dan terkaget-kaget. Orang tua kita mengingatkan, dengan bahasa “kere munggah bale” artinya “kaya mendadak”. Pasti akan mengagetkan banyak orang. Orang pandai harus rajin belajar. Orang kaya harus bekerja keras dan hemat. “Berakit-rakit ke hulu berenang ke tepian” artinya “bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”. Itulah pendidikan yang sangat bijaksana, alamiah, sesuai dengan sunnatuLlah, yang penting kiranya kita tanamkan. Kita usahakan membuang jauh-jauh mentalitas nerabas apalagi dengan mengambil atau mengorbankan hak-hak orang lain.
       Semoga keberadaan kita yang diciptakan oleh Allah sebagai manusia, tetap berada di posisi kita sebagai manusia yang mampu memanusiakan saudara kita siapapun mereka. Semoga negeri kita ini, ke depan makin baik, makin berbudaya, dan makin berakhlak mulia, dan para pemimlin dibukakan hatinya mendapat siraman embun amanah dan keadilan untuk memikirkan kemashlahatan rakyatnya.
Allah a’lam bi al-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.
Ngaliyan, Semarang, 14/4/2017.

Check Also

MA’HAD ‘ALY TBS: MENYEMAI AHLI FALAK YANG ASTRONOM

Assalamualaikum wrwb. Al-hamdu liLlah wa sy-syukru liLlah. Segala puji dan syukur hanya milik Allah. Marilah kita syukuri anugrah dan pertolongan Allah, hanya karena dengan kasih sayang dan pertolongan Allah kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktivitas kita hari ini. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan pengikut yang setia dan istiqamah meneadani beliau.  Semoga semua urusan kita diberi kemudahan oleh Allah dan kelak di akhirat kita mendapat syafaat beliau. Saudaraku, kemarin Sabtu, 20 Rajab 1439 H bertepatan dengan 7/4/2018 M saya mendapat kehormatan untuk ikut menyaksikan peyerahan Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Islam, oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, tentang persetujuan Pesantren TBS (Tasywiquth Thullab Salafiyah) sebagai penyelenggara Program Pendidikan Ma’had ‘Aly. Nama TBS – memang unik – karena kepanjangannya “tidak simetris” karena T diambil dari huruf “ta” dari kata “tasywiq” dan B diambil huruf terakhir kata “thullab” bentuk jama’ dari kata “thalib” yang artinya murid, siswa, atau peserta didik dalam bahasa sekarang. Seingat saya, saat saya masih menjadi “santri” huruf S itu singkatan dari kata “school” yang artinya sekolah atau madrasah. Dalam perjalanannya, huruf S ini diambil dari huruf “sin” dari kata salafiyah, yang artinya madrasah. Kata “Tasywiqu th-Thullab Salafiyah” artinya “Bronto – atau intellectual curiousity– nya Santri yang berpendidikan Salafiyah”. Salafiyah juga dalam penggunaan keseharian berbeda dengan “Salafi”.  TBS merancang dan mengelola pendidikan meskipun pada dasarnya adalah madrasah formal atau klasikal, namun desain kurikulum dan tata kelolanya, mengikuti model pondok pesantren. Saya sendiri, belajar di TBS ini selama “tujuh” tahun dengan sistem dan model yang unik juga. Setelah lulus SD dan MI di Kampung, didaftarkan di TBS. Test kemampuan dimulai dengan materi test kelas empat  MI, hari itu juga diumumkan. Besok paginya, test kemampuan untuk kelas lima, siangnya langsung diumumkan. Berarti lolos kelas 5. Besok paginya diikutkan test kemampuan kelas enam, sayang belum beruntung. Akhirnya “harus” mengikuti pelajaran dari kelas lima. Setelah satu semester, dievaluasi, dan ini yang menarik, saya diperintahkan untuk “naik kelas” di pertengahan tahun, ke kelas enam. Pendek cerita, al-hamdu liLlah, saya dinyatakan mampu melewati kelas enam MI TBS dan lulus dengan mendapat peringkat satu. Saya menerima hadiah dan senang sekali, yakni kitab “Riyadlu sh-Shalihin” dan “Sarung” yang hingga kini tidak terlupakan. Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah saya selesaikan secara normal enam tahun. Namanya juga Salafiyah, kurikulumnya, dari MI ilmu nahwunya belajar Ajrumiyah – terkenalnya Jurumiyah  – dan ‘Imrithy. Pada Tsanawiyah imu nahwu sudah harus menghafal nadham “Alfiyah” atau seribu nadham yang ditulis oleh Imam Ibnu Malik. Di Madrasah Aiyah, ilmu nahwu sudah menggunakan Syarah atau Komentar atas Alfiyah Ibn Malik, yaitu Ibnu ‘Aqil. Saya tidak sebutkan semuanya, karena dengan kitab-kitab yang menjadi maraji’ pembelajaran ilmu Nahwu tersebut, sudah terbayang model dan sistem pendidikannya, dan seperti apa lulusannya.  Maaf, ini bukan kalimat “kesombongan” karena insyaa Allah, saya tidak ada potongan “sombong”, apalagi saya sadar ilmu saya sangat tidak seberapa. Saudaraku, Ma’had ‘Aly TBS menurut data Direktorat PD Pontren Kementerian Agama adalah yang ke 27, dan memilih spesialisasi atau takhashshush Ilmu Falak. Maka, selain penyerahan SK, juga digelar Halaqah Falakiyah dengan tagline “Merawat Tradisi Menebar Innovasi”. Selain karena alasan Ilmu Falak selama ini makin “langka” peminatnya. Bahkan Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, sejak ada program Beasiswa 5.000 Doktor di Kementerian Agama, distingsinya adalah menyiapkan Doktor Ilmu Falak. Bahkan di tahun 2017, hanya terisi 7 mahasiswa. Untung saja Pascasarjana UIN Walisongo membuka konsentrasi baru Manajemen Halal dan Hukum Keluarga, jadinya “kuotanya” terpenuhi. Ma’had ‘Aly TBS juga pada saatnya akan menyuplai calon mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo tentu kalau sudah meluluskan. Pada saat saya masih di MTs, TBS sudah mengajarkan ilmu Falak dan di antaranya  mengoperasikan rubu’ mujayyab. Di TBS sangat dikenal KH Turaihan Ajhury asy-Syarafy al-Falaky, ahli falak sangat terkenal di jagad Indonesia, terutama kalender atau almanak Menara Kudus yang khas. Juga ada KH Abdul Jalil, dan masih ada beberapa ahli falak lainnya. Sebagai alumnus TBS, tidak ada kata lain kecuali mengapresiasi dan menyambut positif terselenggaranya Ma’had ‘Aly TBS ini. Kebetulan saya masih diamanati sebagai Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, yang mengelola program doktor ilmu falak, kehadiran Ma’had ‘Aly bisa menjaid mitra. Memang bagi program S1 Ilmu Falak  Fakultas Syariah dan Hukum, bisa saja ditafsiri sebagai “pesaing baru”, apalagi dengan basik yang berbeda. UIN basiknya lebih variatif, sementara di TBS rasanya “wajib” berbasis pesantren. Maka tafsirnya, musti dengan kompromi atau “al-jam’u wa t-taufiq” atau menyatukan dan mengompromikan. Dalam dunia bisnis, suatu “produk” semakin banyak produsen atau yang menjajakan, maka produk tersebut adalah produk yang menjadi kebutuhan penting. Karena itu, tidak perlu ada komentar yang tidak perlu, karena dunia pendidikan apalagi untuk menyiapkan ahli falak di dunia Indonesia ini, masih sangat diperlukan. Kalau ada pertanyaan, apakah setelah ada lulusan Ma’had ‘Aly TBS yang ahli falak rasa astrnom, apakah kemudian tidak ada lagi perbedaan dalam penentuan awal Ramadlan, awal Syawwal, dan awal Dzulhijah? Ini pertanyaan kritis tetapi jawabnya tidak mudah. Karena ini seperti pertanyaan maaf, “apakah tambahnya lulusan akpol, akmil, dan sarjana lainnya, akan berkorelasi menurunkan angka kriminalitas, gerakan separatis, atau problematika sosial lainnya”? Soal penentuan awal bulan Qamariyah, di Indonesia ini, tampak indahnya justru karena ada perbedaan itu. Mengapa, karena “instrumen test” kematangan berdemokrasi dan bertoleransi tampak matang dengan perbedaan itu. Dalam soal ibadah dan internal sesama kaum Muslim saja, bisa berjalan dengan baik, apalagi dengan penganut agama lain. Tentu ini, harus difahami dan dimaknai secara cerdas. Karena meskipun dalilnya sama, Al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan sumber dan rujukan sama, namun metode pemahamannya berbeda, akan menghasilkan rumusan atau formulasi hukum yang berbeda. Apalagi jika sudah ada pertimbangan di luar akademik dan keagamaan, maka tentu akan lebih variatif lagi. MUI sudah mensosialisasikan kaidah yang sangat dikenal, “hukm al-hakim ilzam wa yarfa’u l-khilaf” artinya “putusan hukum pemerintah itu mengikat dan menghilangkan perbedaan pendapat”. Itu teorinya, namun dalam kenyataannya, dengan dalih soal keyakinan karena terkait dengan amaliyah keagamaan, maka pemerintah juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Karena itu, tidak ada pilihan lain, kecuali merawat dan memelihara perbedaan tersebut, agar tetap menjadi rahmat dan kasih sayang. Yang terakhir ini pun, didasari kaidah selain “ikhtilafu ummati rahmah” artinya “perbedaan pedapat ummatku adalah kasih sayang”, juga ada kaidah “man lam yasyumma raihata l-khilaf lam yasyumma raihata l-fiqh” artinya “barang siapa tidak mampu mencium aroma perbedaan pendapat, berarti ia tidak mampu mencium aroma fiqh”. Yang terpenting, bagaimana kita mampu melakukan “literasi” dan mendewasakan umat kita, agar makin terbiasa dan terbudaya dengan perbedaan, sehingga kesimpulannya adalah “sepakat dalam perbedaan” atau “berbeda dengan kesepakatan”. Selamat Ma’had ‘Aly TBS, almamaterku, semoga Allah senantiasa melapangkan jalan “rizqimu” dan menggelar keberkahan padamu, untuk menyiapkan generasi Ahli Falak Rasa Astronom, atau Astronom yang Ahli Agama”. Selamat “merawat tradisi dan menebar innovasi”. Tekadmu dan kerja kerasmu, ditunggu umat. Jadilah yang terbaik dan paling member banyak manfaat. Sudah saatnya dari pondok pesantren, yang akan menjadi leader bangsa ini di masa depan. Allah a’lam bi sh-shawab. Wassalamualaikjm wrwb. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *