Home / KOLOM DIREKTUR / KEISLAMAN DAN KEJAWAAN

KEISLAMAN DAN KEJAWAAN

Assalamualaikum wrwb.
       Saudaraku yang disayangi Allah, nikmat dan anugrah Allah sungguh luar biasa. Mari kita syukuri dengan memanfaatkan anugrah-Nya itu untuk meningkatkan pengabdian kita kepada-Nya, meneladani Rasul-Nya. Semoga hidup kita menjadi lebih bermakna dan tidak melenceng dari tujuan kita diciptakan oleh Allah Swt. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah saw, keluarga, dan para sahabat. Semoga syafaat beliau kelak di akhirat akan memayungi kita.
       Tulisan ini tidak bermaksud menjadikan Islam itu kecil dan bersifat kejawaan saja, tetapi justru ingin memposisikan agama Islam yang rahmatan lil ‘alamin ( QS. Al-Anbiya’: 107) itu benar-benar bisa dan mampu diadaptasi dan beradaptasi dengan manusia manapun termasuk Jawa. Sebutan Jawa sesungguhnya meliputi pulau Jawa, dengan enam provinsi, yakni: Daerah Khusus Ibukota (DKI) Jakata, Banten, Jawa Barat, Jawa Tengah, Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY), dan Jawa Timur. Namun dalam keseharian, orang Jawa Barat lebih akrab disebut dengan Sunda. Orang Banten dan DKI, juga tidak disebut Jawa. Jawa tampaknya menjadi Jawa Tengah, DIY, dan Jawa Timur. Tidak diketahui asal muasalnya secara jelas.
       Dalam perspektif agama, Jawa dikenal dengan agama singkretiknya. Kata kejawaan dalam judul tulisan ini, tidak sama persis, meskipun tidak mudah dipisahkan dengan “Kejawen” berasal dari kata “Jawa”, yang artinya dalam bahasa Indonesia adalah “segala sesuatu yang berhubungan dengan adat dan kepercayaan Jawa (Kejawaan)” (wikipedia.org). Karena penamaan “kejawen”, biasanya karena bahasa pengantar ibadahnya menggunakan bahasa Jawa. Dalam konteks umum, Kejawen sebagai filsafat yang memiliki ajaran-ajaran tertentu terutama dalam membangun Tata Krama (aturan berkehidupan yang mulia). Atau dalam kaitannya dengan keyakinan, adalah bagian dari kepercayaan kepada Tuhan Yang Maha Esa.
       Adalah Clifford Geertz yang mentrikhotomikan agama Jawa (The Religion of Java), abangan, santri dan priyayi. Pandangan ini cukup mempengaruhi banyak orang dalam melihat hubungan antara agama dan budaya, ataupun hubungan antara agama dan politik. Sejalan dengan tuntutan ruang waktu, trikhotomi tersebut, secara perlahan namun pasti, mengalami pergeseran atau perubahan.
       Dalam banyak hal, Islamisasi menjadi pilihan yang sejalan dengan agama yang diyakini oleh pemimpin atau sultan. Kita dapat menyebut, Sultan Agung Adi Prabu Hanyakrakusuma, lahir: Kutagede, Kesultanan Mataram, 1593 – wafat: Karta (Plered, Bantul), Kesultanan Mataram, 1645) adalah Sultan ke-tiga yang melakukan Islamisasi dengan menggunakan pendekatan budaya. Ia memerintah tahun 1613-1645. Di bawah kepemimpinannya, Mataram berkembang menjadi kerajaan terbesar di Jawa dan Nusantara. Atas jasa-jasanya sebagai pejuang dan budayawan, Sultan Agung ditetapkan sebagai pahlawan nasional Indonesia berdasarkan S.K. Presiden No. 106/TK/1975 tanggal 3 November 1975 (wikipedia.org).
       Para Ulama merumuskan kaidah, الاسلام صالح لكل زمان ومكان  artinya “Islam itu sejalan dengan semua waktu dan  tempat”. Tentu itu bisa berjalan efektif, manakala ada kerja intelektual yang cerdas untuk mengolaborasikan antara Islam yang bersumber dari wahyu dan kearifan lokal yang merupakan hasil karya, karsa, dan budaya manusia.
       Masih versi wikipedia.org, orang Jawa mengakui keesaan Tuhan sebagai inti ajaran Kejawen, yaitu mengarahkan manusia : Sangkan Paraning Dumadhi (dari mana datang dan kembalinya hamba Tuhan) dan membentuk insan menyatu dengan Tuhannya : Manunggaling Kawula lan Gusti.  Jabaran ajaran tersebut: Mamayu Hayuning Pribadhi (sebagai rahmat bagi diri pribadi); Mamayu Hayuning Kaluwarga (sebagai rahmat bagi keluarga); Mamayu Hayuning Sasama (sebagai rahmat bagi sesama manusia); dan Mamayu Hayuning Bhuwana (sebagai rahmat bagi alam semesta).
     Apabila kita cermati, sesungguhnya ajaran tersebut, adalah inti jati diri manusia yang juga diatur oleh ajaran Islam, pribadi, keluarga, masyarakat, dan lingkungan. Bahwa kemudian hingga sekarang, masih banyak saudara kita tetap saja berkepercayaan Jawa, sebagai manusia biasa yang ditugasi untuk menyampaikan ajakan atau dakwah, kita menggunakan cara seperti yang dilakukan oleh para Walisongo yang lebih dahulu merintis jalan. Soal hasil, kita serahkan (bertawakkal) kepada Allah. Tugas kita sebagai manusia itu mengajak bukan mengejek, merangkul bukan memukul, membina bukan membinasakan, mendekati bukan mendebati, dan husnudhan bukan suudhan.
       Kita dapat meniru Sunan Kalijaga. Sunan Kalijaga lahir kurang lebih tahun 1450 bernama Raden Said, putra adipati Tuban, Tumenggung Wilatikta atau Raden Sahur. Nama lain Sunan Kalijaga antara lain Lokajaya, Syekh Malaya, Pangeran Tuban, dan Raden Abdurrahman. Berdasarkan satu versi masyarakat Cirebon, nama Kalijaga berasal dari Desa Kalijaga di Cirebon. Pada saat Sunan Kalijaga berdiam di sana, dia sering berendam di sungai (kali), atau jaga kali (wikipedia.org). Masa hidup Sunan Kalijaga diperkirakan lebih dari 100 tahun. Ia mengalami masa akhir kekuasaan Majapahit (1478), Kesultanan Demak, Kesultanan Cirebon dan Banten, bahkan juga Kerajaan Pajang yang lahir pada 1546 serta awal kehadiran Kerajaan Mataram di bawah pimpinan Panembahan Senopati. Ia ikut pula merancang pembangunan Masjid Agung Cirebon dan Masjid Agung Demak. Tiang masjid atau soko “tatal” (potongan kayu) yang merupakan salah satu dari tiang utama masjid adalah kreasi Sunan Kalijaga.
      Wejangan Sunan Kalijaga, seperti : 1. Urip iku urup, artinya hidup itu menyinari atau bermanfaat bagi orang lain. 2. Mamayu hayuning Bawana, artinya hidup itu mendatangkan kebahagiaan dan kenyamanan orang lain. 3. Suro diro Joyo Jayadiningrat lebur dening pangastuti, artinya sifat keras hati, picik, murka, dikalahkan dengan bijaksana, lembut hati, dan sabar. 4. Ngluruk tanpo. Olo, menang ganpo ngasorake, sekti tanpo aji-aji, sugih tanpo bondho. 5. Datan Serik Lamun Ketaman, Datan Susah Lamun Kelangan, artinya  “jangan mudah sakit hati ketika menerima cobaan, dan jangan sedih ketika kehilangan sesuatu”. 6. Ojo Gumunan, Ojo Getunan, Ojo Kagetan, Ojo Alemen. Artinya “jangan suka heran, jangan suka menyesal, jangan mudah kaget, dan jangan suka manja”. 7. Ojo ketungkul marang kelungguhan, kadonyan, lan kemareman. Artinya “jangan terbuai pada jabatan, duniawi, dan kepuasan duniawi”. 8. Ojo keminter mundak keblinger, ojo cidro mundak ciloko. Artinya “jangan merasa pintar, agar tidak salah arah, jangan berdusta akan celaka”. 9. Ojo adigang, adigung, adiguno. Artinya jangan sok besar, sok besar, dan sok sakti.
       Saudaraku, apabila kita perhatikan secara seksama, apa yang diajarkan oleh Sunan Kalijaga dan Sultan Agung adalah mengolaborasikan antara Islam dan budaya atau kearifan Jawa. Atau bisa disebut juga dengan Islamisasi kearifan Jawa. Demikian juga yang dikembangkan oleh model dakwah Walisongo dalam rangka membumikan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Ini mengingatkan kita pada pesan Rasulullah saw:
المسلم من سلم المسلمون من لسانه ويده رواه مسلم
“Orang yang beragama Islam (yang berkualitas) adalah apabila orang Islam lain merasa nyaman dari tutur kata lisannya dan tangan kekuasaannya” (Riwayat Muslim).
      Karena itu, kewajiban kita semua adalah bagaimana kita menjaga nilai lama yang baik dan mengambil nilai baru yang lebih baik. Sejalan dengan kaidah para ulama:
المحافظة على القديم الصالح والاخذ بالجديد الاصلح
Semoga kita bisa meneladani apa yang dilakukan oleh para Walisongo, untuk membumikan Islam yang rahmatan lil ‘alamin. Allah a’lam bi al-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.
Otw KL Jakarta, 9/4/2017.

Check Also

MA’HAD ‘ALY TBS: MENYEMAI AHLI FALAK YANG ASTRONOM

Assalamualaikum wrwb. Al-hamdu liLlah wa sy-syukru liLlah. Segala puji dan syukur hanya milik Allah. Marilah kita syukuri anugrah dan pertolongan Allah, hanya karena dengan kasih sayang dan pertolongan Allah kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktivitas kita hari ini. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan pengikut yang setia dan istiqamah meneadani beliau.  Semoga semua urusan kita diberi kemudahan oleh Allah dan kelak di akhirat kita mendapat syafaat beliau. Saudaraku, kemarin Sabtu, 20 Rajab 1439 H bertepatan dengan 7/4/2018 M saya mendapat kehormatan untuk ikut menyaksikan peyerahan Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Islam, oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, tentang persetujuan Pesantren TBS (Tasywiquth Thullab Salafiyah) sebagai penyelenggara Program Pendidikan Ma’had ‘Aly. Nama TBS – memang unik – karena kepanjangannya “tidak simetris” karena T diambil dari huruf “ta” dari kata “tasywiq” dan B diambil huruf terakhir kata “thullab” bentuk jama’ dari kata “thalib” yang artinya murid, siswa, atau peserta didik dalam bahasa sekarang. Seingat saya, saat saya masih menjadi “santri” huruf S itu singkatan dari kata “school” yang artinya sekolah atau madrasah. Dalam perjalanannya, huruf S ini diambil dari huruf “sin” dari kata salafiyah, yang artinya madrasah. Kata “Tasywiqu th-Thullab Salafiyah” artinya “Bronto – atau intellectual curiousity– nya Santri yang berpendidikan Salafiyah”. Salafiyah juga dalam penggunaan keseharian berbeda dengan “Salafi”.  TBS merancang dan mengelola pendidikan meskipun pada dasarnya adalah madrasah formal atau klasikal, namun desain kurikulum dan tata kelolanya, mengikuti model pondok pesantren. Saya sendiri, belajar di TBS ini selama “tujuh” tahun dengan sistem dan model yang unik juga. Setelah lulus SD dan MI di Kampung, didaftarkan di TBS. Test kemampuan dimulai dengan materi test kelas empat  MI, hari itu juga diumumkan. Besok paginya, test kemampuan untuk kelas lima, siangnya langsung diumumkan. Berarti lolos kelas 5. Besok paginya diikutkan test kemampuan kelas enam, sayang belum beruntung. Akhirnya “harus” mengikuti pelajaran dari kelas lima. Setelah satu semester, dievaluasi, dan ini yang menarik, saya diperintahkan untuk “naik kelas” di pertengahan tahun, ke kelas enam. Pendek cerita, al-hamdu liLlah, saya dinyatakan mampu melewati kelas enam MI TBS dan lulus dengan mendapat peringkat satu. Saya menerima hadiah dan senang sekali, yakni kitab “Riyadlu sh-Shalihin” dan “Sarung” yang hingga kini tidak terlupakan. Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah saya selesaikan secara normal enam tahun. Namanya juga Salafiyah, kurikulumnya, dari MI ilmu nahwunya belajar Ajrumiyah – terkenalnya Jurumiyah  – dan ‘Imrithy. Pada Tsanawiyah imu nahwu sudah harus menghafal nadham “Alfiyah” atau seribu nadham yang ditulis oleh Imam Ibnu Malik. Di Madrasah Aiyah, ilmu nahwu sudah menggunakan Syarah atau Komentar atas Alfiyah Ibn Malik, yaitu Ibnu ‘Aqil. Saya tidak sebutkan semuanya, karena dengan kitab-kitab yang menjadi maraji’ pembelajaran ilmu Nahwu tersebut, sudah terbayang model dan sistem pendidikannya, dan seperti apa lulusannya.  Maaf, ini bukan kalimat “kesombongan” karena insyaa Allah, saya tidak ada potongan “sombong”, apalagi saya sadar ilmu saya sangat tidak seberapa. Saudaraku, Ma’had ‘Aly TBS menurut data Direktorat PD Pontren Kementerian Agama adalah yang ke 27, dan memilih spesialisasi atau takhashshush Ilmu Falak. Maka, selain penyerahan SK, juga digelar Halaqah Falakiyah dengan tagline “Merawat Tradisi Menebar Innovasi”. Selain karena alasan Ilmu Falak selama ini makin “langka” peminatnya. Bahkan Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, sejak ada program Beasiswa 5.000 Doktor di Kementerian Agama, distingsinya adalah menyiapkan Doktor Ilmu Falak. Bahkan di tahun 2017, hanya terisi 7 mahasiswa. Untung saja Pascasarjana UIN Walisongo membuka konsentrasi baru Manajemen Halal dan Hukum Keluarga, jadinya “kuotanya” terpenuhi. Ma’had ‘Aly TBS juga pada saatnya akan menyuplai calon mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo tentu kalau sudah meluluskan. Pada saat saya masih di MTs, TBS sudah mengajarkan ilmu Falak dan di antaranya  mengoperasikan rubu’ mujayyab. Di TBS sangat dikenal KH Turaihan Ajhury asy-Syarafy al-Falaky, ahli falak sangat terkenal di jagad Indonesia, terutama kalender atau almanak Menara Kudus yang khas. Juga ada KH Abdul Jalil, dan masih ada beberapa ahli falak lainnya. Sebagai alumnus TBS, tidak ada kata lain kecuali mengapresiasi dan menyambut positif terselenggaranya Ma’had ‘Aly TBS ini. Kebetulan saya masih diamanati sebagai Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, yang mengelola program doktor ilmu falak, kehadiran Ma’had ‘Aly bisa menjaid mitra. Memang bagi program S1 Ilmu Falak  Fakultas Syariah dan Hukum, bisa saja ditafsiri sebagai “pesaing baru”, apalagi dengan basik yang berbeda. UIN basiknya lebih variatif, sementara di TBS rasanya “wajib” berbasis pesantren. Maka tafsirnya, musti dengan kompromi atau “al-jam’u wa t-taufiq” atau menyatukan dan mengompromikan. Dalam dunia bisnis, suatu “produk” semakin banyak produsen atau yang menjajakan, maka produk tersebut adalah produk yang menjadi kebutuhan penting. Karena itu, tidak perlu ada komentar yang tidak perlu, karena dunia pendidikan apalagi untuk menyiapkan ahli falak di dunia Indonesia ini, masih sangat diperlukan. Kalau ada pertanyaan, apakah setelah ada lulusan Ma’had ‘Aly TBS yang ahli falak rasa astrnom, apakah kemudian tidak ada lagi perbedaan dalam penentuan awal Ramadlan, awal Syawwal, dan awal Dzulhijah? Ini pertanyaan kritis tetapi jawabnya tidak mudah. Karena ini seperti pertanyaan maaf, “apakah tambahnya lulusan akpol, akmil, dan sarjana lainnya, akan berkorelasi menurunkan angka kriminalitas, gerakan separatis, atau problematika sosial lainnya”? Soal penentuan awal bulan Qamariyah, di Indonesia ini, tampak indahnya justru karena ada perbedaan itu. Mengapa, karena “instrumen test” kematangan berdemokrasi dan bertoleransi tampak matang dengan perbedaan itu. Dalam soal ibadah dan internal sesama kaum Muslim saja, bisa berjalan dengan baik, apalagi dengan penganut agama lain. Tentu ini, harus difahami dan dimaknai secara cerdas. Karena meskipun dalilnya sama, Al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan sumber dan rujukan sama, namun metode pemahamannya berbeda, akan menghasilkan rumusan atau formulasi hukum yang berbeda. Apalagi jika sudah ada pertimbangan di luar akademik dan keagamaan, maka tentu akan lebih variatif lagi. MUI sudah mensosialisasikan kaidah yang sangat dikenal, “hukm al-hakim ilzam wa yarfa’u l-khilaf” artinya “putusan hukum pemerintah itu mengikat dan menghilangkan perbedaan pendapat”. Itu teorinya, namun dalam kenyataannya, dengan dalih soal keyakinan karena terkait dengan amaliyah keagamaan, maka pemerintah juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Karena itu, tidak ada pilihan lain, kecuali merawat dan memelihara perbedaan tersebut, agar tetap menjadi rahmat dan kasih sayang. Yang terakhir ini pun, didasari kaidah selain “ikhtilafu ummati rahmah” artinya “perbedaan pedapat ummatku adalah kasih sayang”, juga ada kaidah “man lam yasyumma raihata l-khilaf lam yasyumma raihata l-fiqh” artinya “barang siapa tidak mampu mencium aroma perbedaan pendapat, berarti ia tidak mampu mencium aroma fiqh”. Yang terpenting, bagaimana kita mampu melakukan “literasi” dan mendewasakan umat kita, agar makin terbiasa dan terbudaya dengan perbedaan, sehingga kesimpulannya adalah “sepakat dalam perbedaan” atau “berbeda dengan kesepakatan”. Selamat Ma’had ‘Aly TBS, almamaterku, semoga Allah senantiasa melapangkan jalan “rizqimu” dan menggelar keberkahan padamu, untuk menyiapkan generasi Ahli Falak Rasa Astronom, atau Astronom yang Ahli Agama”. Selamat “merawat tradisi dan menebar innovasi”. Tekadmu dan kerja kerasmu, ditunggu umat. Jadilah yang terbaik dan paling member banyak manfaat. Sudah saatnya dari pondok pesantren, yang akan menjadi leader bangsa ini di masa depan. Allah a’lam bi sh-shawab. Wassalamualaikjm wrwb. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *