Home / KOLOM DIREKTUR / MENYEMAI GENERASI RELIGIUS-MODERAT-NASIONALIS

MENYEMAI GENERASI RELIGIUS-MODERAT-NASIONALIS

Assalamualaikum wrwb.
     Mari kita mensyukuri nikmat dan karunia yang kita terima dari Allah. Hanya karena anugrah-Nya, pagi ini kita sehat afiat dan bisa memulai aktifitas dengan senang hati. Banyak saudara kita yang dirawat di rumah sakit, bahkan ada yang dijemput malaikat Izrail, semoga mereka husnul khatimah. Mari kita tingkatkan ibadah kita, semoga Allah menambah nikmat-Nya pada kita dan keluarga.
       Shalawat dan salam, kita senandungkan untuk Baginda Rasulullah saw, keluarga, dan para sahabat. Semoga hati kita makin bersih dan siap menampung hal-hal yang baik dan membuang yang tidak baik.
     Saudaraku, manusia dilahirkan di muka bumi, oleh Allah Sang Pencipta, dibekali karakter untuk berpolitik. Aristoteles menyebut manusia sebagai zoon politicon,  hewan politik atau حيوان سياسي. Dalam ilmu logika atau manthiq, manusia adalah hewan yang berfikir atau الانسان حيوان ناطق. Dalam bahasa Descartes, cogito ergo sum atau saya berfikir maka saya ada.
       Ada yang memahami bahwa zoon politicon artinya manusia adalah makhluk sosial. Karena manusia tidak mampu hidup sendiri, tetapi harus bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Al-Quran dengan tegas menyatakan, manusia diciptakan oleh Allah terdiri dari laki-laki dan perempuan, dan dijadikan berbangsa-bangsa dan bersuku-suku agar mereka saling mengenal. Setelah itu, saling berkompetisi menjadi hamba-hamba Allah yang paling mulia melalui taqwa atau amal shalihnya yang didasari keimanan kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa (QS. Al-Hujurat: 13). Karena kesempurnaan jatidiri manusia adalah manakala bersosialisasi, dan bisa memberi manfaat pada orang lain. Kata Rasulullah saw,  “Sebaik-baik manusia adalah yang paling memberi manfaat pada manusia yang lain” (Riwayat al-Thabrany).
     Rasulullah saw sebagai pembawa risalah Islam, pemimpin agama, juga sebagai pemimpin negara dan pemerintahan. Melalui Piagam Madinah (Madinah Charter, Mitsaq Madinah, atau Dustur Madinah) Rasulullah saw meletakkan fondasi penting sebagai dasar hidup bersuku-suku, bermasyarakat, bernegara, dan beebangsa. Inilah gambaran awal hiudp berbangsa dan bernegara.
       Rasulullah saw memberi contoh dengan prilaku yang lemah lembut terhadap orang lain. Seadainya beliau bersikap keras lagi berhati kasar, mereka akan menjauhkan diri. Beliau juga mengedepankan pemaafan kepada mereka, bahkan memohonkan ampunan bagi mereka, dan bermusyawarah dengan mereka dalam berbagai macam urusan. Setelah itu, beliau membulatkan tekad dan bertawakkal kepada Allah” (QS. Ali ‘Imran: 159).
     Pendidikan agama menjadi fondasi yang sangat penting bagi anak-anak kita dan generasi muda Indonesia. Tentu pembelajaran agama sebagaimana yang diajarkan oleh Rasulullah saw. Yakni ajaran agama yang moderat, tidak ekstrem kanan atau ekstrem kiri. Tidak fanatik (تطرف) secara membabi buta. Bahwa ia harus yakin dan percaya diri atas pilihan faham keagamaan Islam yang moderat, adalah suatu keniscayaan sekaligus kebanggaan.
       Apabila anak-anak dan generasi muda kita tidak memiliki fondasi pemahaman dan pengamalan agama Islam yang cukup, serta berakhlaq al-karimah, maka akan mudah terombang-ambing oleh berbagai godaan dan rayuan, termasuk di dalamnya ajakan berfaham agama yang radikalis, ekstremis, dan bahkan ajakan untuk menolak NKRI dan mendirikan negara Islam.
       NKRI, oleh para pendiri bangsa ini, sudah ditetapkan sebagai negara yang berideologi Pancasila. Sudah 71 tahun NKRI teruji oleh berbagai cobaan, ujian, terpaan badai, dan mampu terlewati dengan baik. Namun belakangan ini, terasa agak “menegangkan” ketika kepentingan partisan, kelompok,  dan golongan lebih menonjol, dari pada kepentingan bangsa yang lebih besar.
     Meskipun bukan negara agama, bangsa Indonesia adalah bangsa besar. Dalam soal mengelola pluralisme atau kemajemukan, Indonesia adalah negara yang dapat menjadi rujukan negara lain. Indonesia adalah negara yang sangat toleran. Negara yang mayoritas warganya memeluk agama Islam, begitu toleran pada saudaranya yang berbeda agama.    Bangsa Indonesia yang dikenal religius, agama menjadi isu sensitif jika masing-masing pemeluknya tidak bijaksana di dalam bertutur kata. Apalagi menyinggung agama orang lain.
      Untuk menyemai generasi yang religius, berfaham agama secara moderat, dan nasionalis, perlu didisain melalui kurikulum di sekolah dan perguruan tinggi. Demikian juga di pesantren-pesantren, yang pada umumnya di pesantren salafiyah yang mengaji kitab kuning, soal moderasi beragama dan nasionalisme, justru lebih kokoh. Karena para Kyai dan Ulamanya yang dengan penuh kebanggaan mendeklarasikan NKRI Harga Mati.
     Saudaraku, antara ajaran faham agama secara moderat dan nasionalisme serta sikap keberagamaan yang bercorak inklusif, tidak mudah mengafirkan orang lain yang bukan kelompoknya, juda tidak mudah terjebak ke dalam radikalisme sekuler, adalah hubungan interdependensi yang harus dirancang dengan terstruktur, sistemik, dan dibangun budaya  berprilaku dalam kehidupan keseharian secara terencana dan terukur.
     Pascasarjana UIN Walisongo hari ini menggelar seminar nasional, mengusung tema Kebijakan Penjaminan Mutu Pendidikan Tinggi dalam Membangun Islam Moderat di Indonesia. Ini dimaksudkan sebagai penjabaran dari visi UIN Walisongo, sebagai Universitas Islam Riset Terdepan berbasis Kesatuan Ilmu dan Agama untuk Kemanusiaan dan Peradaban yang ditarget bisa terwujud pada tahun 2038.
Statuta telah meletakkan fondasi bangunan Islam moderat yang (وسطيا لا راديكاليا ولا ليبراليا ) tidak radikal dan tidak liberal, dan penjabarannya sedang diupdate oleh Senat Akademik.
       Beberapa tahapan langkah sudah ditetapkan, karena itu yang perlu menjadi komitmen bersama adalah langkah kontkrit : pertama, seluruh sivitas akademika, mempunyai komitmen yang sama, baik dosen, pejabat, dan mahasiswa. Demikan juga tenaga kependidikannya beragama secara moderat, inklusif, dan toleran saling asah, asih, dan asuh, dengan spirit persaudaraan atau ukhuwah. Kedua, rekruitmen mahasiswa dan dosen didasari instrumen yang berbasis Islam moderat, dan nasionalisme. Kalau misalnya ada dosen atau mahasiswa dan juga pegawai yang menunjukkan indikasi radikalis dan liberalis, perlu medaparkan treatmen atau terapi khusus, agar kembali kepada khiththah wasathiyah, sebagaimana diajarkan Walisongo, yang mengajarkan kolaborasi antara ke-Islaman dan ke-Indonesiaan.
       Ketiga, struktur kurikulum dan penjabarannya dalam rencana pembelajaran semester (RPS) maupun keseluruhan mata kuliah yang harus ditempuh oleh mahasiswa, didisain dengan paradigma unity of science dan spirit moderasi, demi cita membangun kemanusiaan dan peradaban.
       Keempat, perlu tindakan tegas, kongkrit, terukur, setiap kali ada pihak-pihak yang mencoba melakukan upaya-upaya memasukkan benih-benih ekstremisme dan radikalisme di kampus UIN Walisongo. Dengan demikian, dapat diantisipasi dan dimitigasi risiko yang mungkin timbul dari infiltrasi faham, nilai, dan gerakan yang bisa memporak-porandakan cita-cita UIN Walisongo, demi kokohnya bangsa Indonesia.
       Kelima, perlu secara terus menerus digaungkan melalui berbagai kegiatan dan even akademik baik kurikuler maupun ko-kurikuler, agar rencana besar UIN Walisongo sebagai Rumah dan Rahim Kebangsaan Indonesia, yang sadar sepenuhnya akan ke-Bhinnekaan dan kemajemukan, beragam atau berbeda tetapi satu saudra, menjadi sentral dari nilai-nilai kemanusiaan dan peradaban Indonesia.
       Mengakhiri tulisan ini, mari kita renungkan bersama, Firman Allah:
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِّن دُونِ اللهِ فَإِن تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuayupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jkka mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)” (QS. Ali ‘Imran:64).
     Saudaraku yang dirahmati Allah, kita doakan semoga kampus UIN Walisongo yang berjuang meneruskan dakwah model Walisongo, dapat diterima dan didukung oleh seluruh masyarakat Indonesia, dalam membangun generasi muda  yang religius, moderat, dan memiliki nasionalisme yang tinggi. Semoga para pemimpin negeri ini dibukakan pintu hati dan pikirannya untuk melaksanakan tugasnya dengan amanah dan adil, istiqamah, dan makin bijak, dan mampu mewujudkan keadilan berkemakmuran dan makmur berkeadilan. Kita semua merindukan terwujudnya NKRI ini sebagai baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur.
     Allah a’lam bi al-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.
Ngaliyan, Semarang, 4/42017.

Check Also

MA’HAD ‘ALY TBS: MENYEMAI AHLI FALAK YANG ASTRONOM

Assalamualaikum wrwb. Al-hamdu liLlah wa sy-syukru liLlah. Segala puji dan syukur hanya milik Allah. Marilah kita syukuri anugrah dan pertolongan Allah, hanya karena dengan kasih sayang dan pertolongan Allah kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktivitas kita hari ini. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan pengikut yang setia dan istiqamah meneadani beliau.  Semoga semua urusan kita diberi kemudahan oleh Allah dan kelak di akhirat kita mendapat syafaat beliau. Saudaraku, kemarin Sabtu, 20 Rajab 1439 H bertepatan dengan 7/4/2018 M saya mendapat kehormatan untuk ikut menyaksikan peyerahan Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Islam, oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, tentang persetujuan Pesantren TBS (Tasywiquth Thullab Salafiyah) sebagai penyelenggara Program Pendidikan Ma’had ‘Aly. Nama TBS – memang unik – karena kepanjangannya “tidak simetris” karena T diambil dari huruf “ta” dari kata “tasywiq” dan B diambil huruf terakhir kata “thullab” bentuk jama’ dari kata “thalib” yang artinya murid, siswa, atau peserta didik dalam bahasa sekarang. Seingat saya, saat saya masih menjadi “santri” huruf S itu singkatan dari kata “school” yang artinya sekolah atau madrasah. Dalam perjalanannya, huruf S ini diambil dari huruf “sin” dari kata salafiyah, yang artinya madrasah. Kata “Tasywiqu th-Thullab Salafiyah” artinya “Bronto – atau intellectual curiousity– nya Santri yang berpendidikan Salafiyah”. Salafiyah juga dalam penggunaan keseharian berbeda dengan “Salafi”.  TBS merancang dan mengelola pendidikan meskipun pada dasarnya adalah madrasah formal atau klasikal, namun desain kurikulum dan tata kelolanya, mengikuti model pondok pesantren. Saya sendiri, belajar di TBS ini selama “tujuh” tahun dengan sistem dan model yang unik juga. Setelah lulus SD dan MI di Kampung, didaftarkan di TBS. Test kemampuan dimulai dengan materi test kelas empat  MI, hari itu juga diumumkan. Besok paginya, test kemampuan untuk kelas lima, siangnya langsung diumumkan. Berarti lolos kelas 5. Besok paginya diikutkan test kemampuan kelas enam, sayang belum beruntung. Akhirnya “harus” mengikuti pelajaran dari kelas lima. Setelah satu semester, dievaluasi, dan ini yang menarik, saya diperintahkan untuk “naik kelas” di pertengahan tahun, ke kelas enam. Pendek cerita, al-hamdu liLlah, saya dinyatakan mampu melewati kelas enam MI TBS dan lulus dengan mendapat peringkat satu. Saya menerima hadiah dan senang sekali, yakni kitab “Riyadlu sh-Shalihin” dan “Sarung” yang hingga kini tidak terlupakan. Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah saya selesaikan secara normal enam tahun. Namanya juga Salafiyah, kurikulumnya, dari MI ilmu nahwunya belajar Ajrumiyah – terkenalnya Jurumiyah  – dan ‘Imrithy. Pada Tsanawiyah imu nahwu sudah harus menghafal nadham “Alfiyah” atau seribu nadham yang ditulis oleh Imam Ibnu Malik. Di Madrasah Aiyah, ilmu nahwu sudah menggunakan Syarah atau Komentar atas Alfiyah Ibn Malik, yaitu Ibnu ‘Aqil. Saya tidak sebutkan semuanya, karena dengan kitab-kitab yang menjadi maraji’ pembelajaran ilmu Nahwu tersebut, sudah terbayang model dan sistem pendidikannya, dan seperti apa lulusannya.  Maaf, ini bukan kalimat “kesombongan” karena insyaa Allah, saya tidak ada potongan “sombong”, apalagi saya sadar ilmu saya sangat tidak seberapa. Saudaraku, Ma’had ‘Aly TBS menurut data Direktorat PD Pontren Kementerian Agama adalah yang ke 27, dan memilih spesialisasi atau takhashshush Ilmu Falak. Maka, selain penyerahan SK, juga digelar Halaqah Falakiyah dengan tagline “Merawat Tradisi Menebar Innovasi”. Selain karena alasan Ilmu Falak selama ini makin “langka” peminatnya. Bahkan Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, sejak ada program Beasiswa 5.000 Doktor di Kementerian Agama, distingsinya adalah menyiapkan Doktor Ilmu Falak. Bahkan di tahun 2017, hanya terisi 7 mahasiswa. Untung saja Pascasarjana UIN Walisongo membuka konsentrasi baru Manajemen Halal dan Hukum Keluarga, jadinya “kuotanya” terpenuhi. Ma’had ‘Aly TBS juga pada saatnya akan menyuplai calon mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo tentu kalau sudah meluluskan. Pada saat saya masih di MTs, TBS sudah mengajarkan ilmu Falak dan di antaranya  mengoperasikan rubu’ mujayyab. Di TBS sangat dikenal KH Turaihan Ajhury asy-Syarafy al-Falaky, ahli falak sangat terkenal di jagad Indonesia, terutama kalender atau almanak Menara Kudus yang khas. Juga ada KH Abdul Jalil, dan masih ada beberapa ahli falak lainnya. Sebagai alumnus TBS, tidak ada kata lain kecuali mengapresiasi dan menyambut positif terselenggaranya Ma’had ‘Aly TBS ini. Kebetulan saya masih diamanati sebagai Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, yang mengelola program doktor ilmu falak, kehadiran Ma’had ‘Aly bisa menjaid mitra. Memang bagi program S1 Ilmu Falak  Fakultas Syariah dan Hukum, bisa saja ditafsiri sebagai “pesaing baru”, apalagi dengan basik yang berbeda. UIN basiknya lebih variatif, sementara di TBS rasanya “wajib” berbasis pesantren. Maka tafsirnya, musti dengan kompromi atau “al-jam’u wa t-taufiq” atau menyatukan dan mengompromikan. Dalam dunia bisnis, suatu “produk” semakin banyak produsen atau yang menjajakan, maka produk tersebut adalah produk yang menjadi kebutuhan penting. Karena itu, tidak perlu ada komentar yang tidak perlu, karena dunia pendidikan apalagi untuk menyiapkan ahli falak di dunia Indonesia ini, masih sangat diperlukan. Kalau ada pertanyaan, apakah setelah ada lulusan Ma’had ‘Aly TBS yang ahli falak rasa astrnom, apakah kemudian tidak ada lagi perbedaan dalam penentuan awal Ramadlan, awal Syawwal, dan awal Dzulhijah? Ini pertanyaan kritis tetapi jawabnya tidak mudah. Karena ini seperti pertanyaan maaf, “apakah tambahnya lulusan akpol, akmil, dan sarjana lainnya, akan berkorelasi menurunkan angka kriminalitas, gerakan separatis, atau problematika sosial lainnya”? Soal penentuan awal bulan Qamariyah, di Indonesia ini, tampak indahnya justru karena ada perbedaan itu. Mengapa, karena “instrumen test” kematangan berdemokrasi dan bertoleransi tampak matang dengan perbedaan itu. Dalam soal ibadah dan internal sesama kaum Muslim saja, bisa berjalan dengan baik, apalagi dengan penganut agama lain. Tentu ini, harus difahami dan dimaknai secara cerdas. Karena meskipun dalilnya sama, Al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan sumber dan rujukan sama, namun metode pemahamannya berbeda, akan menghasilkan rumusan atau formulasi hukum yang berbeda. Apalagi jika sudah ada pertimbangan di luar akademik dan keagamaan, maka tentu akan lebih variatif lagi. MUI sudah mensosialisasikan kaidah yang sangat dikenal, “hukm al-hakim ilzam wa yarfa’u l-khilaf” artinya “putusan hukum pemerintah itu mengikat dan menghilangkan perbedaan pendapat”. Itu teorinya, namun dalam kenyataannya, dengan dalih soal keyakinan karena terkait dengan amaliyah keagamaan, maka pemerintah juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Karena itu, tidak ada pilihan lain, kecuali merawat dan memelihara perbedaan tersebut, agar tetap menjadi rahmat dan kasih sayang. Yang terakhir ini pun, didasari kaidah selain “ikhtilafu ummati rahmah” artinya “perbedaan pedapat ummatku adalah kasih sayang”, juga ada kaidah “man lam yasyumma raihata l-khilaf lam yasyumma raihata l-fiqh” artinya “barang siapa tidak mampu mencium aroma perbedaan pendapat, berarti ia tidak mampu mencium aroma fiqh”. Yang terpenting, bagaimana kita mampu melakukan “literasi” dan mendewasakan umat kita, agar makin terbiasa dan terbudaya dengan perbedaan, sehingga kesimpulannya adalah “sepakat dalam perbedaan” atau “berbeda dengan kesepakatan”. Selamat Ma’had ‘Aly TBS, almamaterku, semoga Allah senantiasa melapangkan jalan “rizqimu” dan menggelar keberkahan padamu, untuk menyiapkan generasi Ahli Falak Rasa Astronom, atau Astronom yang Ahli Agama”. Selamat “merawat tradisi dan menebar innovasi”. Tekadmu dan kerja kerasmu, ditunggu umat. Jadilah yang terbaik dan paling member banyak manfaat. Sudah saatnya dari pondok pesantren, yang akan menjadi leader bangsa ini di masa depan. Allah a’lam bi sh-shawab. Wassalamualaikjm wrwb. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *