Home / KOLOM DIREKTUR / BELAJAR RENDAH HATI DARI ABU YAZID AL-BUSTHAMY

BELAJAR RENDAH HATI DARI ABU YAZID AL-BUSTHAMY

Assalamualaikum wrwb.
     Saudaraku yang disayang Allah. Mari kita mensyukuri anugrah dan karunia Allah, dengan cara memanfaatkan pemberian-Nya untuk melakukan hal yang terbaik. Ibadah kepada Allah, yang merupakan tujuan kita diciptakan oleh Allah, bukan hanya bersifat ritual saja, akan tetapi ibadah sosial merupakan bagian penting tak terpisahkan dari nilai ibadah ritual kita. Shalawat dan salam, mari kita lantunkan mengiringi shalawat Allah dan Malaikat-Nya, kepada tokoh teladan kita, Baginda Rasulullah Muhammad saw. Semoga Allah memudahkan segala urusan kita di dunia ini, guna mempersiapkan kehidupan yang bahagia dan sejahtera di akhirat.
     Dalam dunia sufi, imam besar Abu Yazid al-Busthamy sangat terkenal dengan ajaran ittihad atau menyatunya manusia dengan Tuhan, setelah melalui proses fana’ dan baqa’. Ide untuk menulis tentang tokoh sufi ini, terinspirasi oleh cerita dalam taushiyah KH Sirajan Muniran, pada acara Dzikir Bersama Majlis Dzikir Al-Khidmah bekerjasama dengan UIN Walisongo Semarang, dalam rangka dies natalis ke-47, yang upacaranya akan digelar Kamis, 6/4/2017. Akan hadir Menteri Ketenagakerjaan Muhammad Hanif Dakhiri.
     Nama lengkapnya adalah Abu Yazid Thaifur bin ‘Isa bin Surusyan al-Bustami (874-947 M) dari daerah Bustam (Persia). Nama kecilnya adalah Taifur. Kakeknya bernama Surusyan, seorang penganut agama Zoroaster, masuk dan memeluk agama Islam di Bustam. Keluarga Abu Yazid tergolong kaya di daerahnya, tetapi ia lebih memilih hidup sederhana [Al-‘Aththar:1983]  Sejak dalam kandungan ibunya, bayi Abu Yazid telah mempunyai kelainan.Ibunya berkata bahwa ketika dalam perutnya, Abu Yazid akan memberontak hingga ibunya muntah kalau menyantap makanan yang diragukan kehalalannya. [al-‘Aththar:1983].
     Suatu malam, Abu Yazid Al-Busthamy sedang berjalan, tiba-tiba berpapasan dengan seekor anjing. Tampaknya anjing ini tidak biasa. Tetapi seakan “dikirim” oleh Allah untuk menguji integritas kepribadian Abu Yazid. Saat anjing itu hampir dekat pada Abu Yazid, mungkin khawatir akan terkena sentuhan anjing, Abu Yazid menaikkan jubahnya. Melihat Abu Yazid menaikkan jubahnya, anjing tiba-tiba berhenti dan memandangi Abu Yazid. Saat itulah, seakan Abu Yazid mendengar perkataan anjing tersebut: “Kalau aku Tuan anggap najis, dan seandainya jubah Tuan tersentuh olehku, engkau tinggal membasuhnya dengan air tujuh kali, dan satu kali dicampuri tanah, maka najis itu akan hilang. Akan tetapi jika Tuan mengangkat jubah Tuan, karena menganggap diri Tuan lebih mulia, dan diriku yang juga sebagai makhluk Tuhan, Tuan anggap najis dan hina, maka najis yang melekat di hatimu itu, tidak akan bersih meskipun harus dibasuh dengan air tujuh samudra”.
     Abu Yazid hatinya terasa seakan disambar petir, dan terasa pedih karena “tamparan” kata-kata anjing tersebut. Setelah itu Abu Yazid minta maaf, dan sebagai permintaan maafnya kepada si anjing tersebut, Abu Yazid mengajak anjing untuk bersahabat dan berjalan bersama. Akan tetapi anjing itu menolaknya, seraya berkata: “Tuan tidak pantas berteman dan berjalan bersamaku yang najis ini. Murid-murid Tuan akan mencemooh Tuan, dan melempari aku dengan batu. Aku tidak mengetahui, mengapa mereka begitu membenciku dan menganggapku hina. Padahal aku mengabdi dan berserah diri pada Sang Khaliq (Pencipta). Lihatlah aku, kemana-mana tidak membawa apapun. Sementara Tuan masih menyimpan sekarung gandum. Aku lebih bertawakkal kepada Allah dari pada Tuan”. Sontak hati Abu Yazid makin teriris-iris pedih merasa “dipermalukan” oleh seekor anjing.
     Setelah itu, dengan jalan tertatih dan lunglai, Abu Yazid mengadu kepada Allah dengan penuh kegalauan dan kehinadinaan. “Ya Allah, bagaimana aku bisa mendekati-Mu, sementara bersahabat dan berjalan bersama anjing makhluk-Mu saja, ditolak hanya karena di dalam hatiku ada perasaan lebih baik dari anjing. Karena itu Ya Allah, ampunilah dosaku, haluskan dan bersihkanlah kesombonganku ini”.
     Konon, Abu Yazid dalam berusaha membersihkan doa akibat keangkuhan dan kesombongannya itu, ia habiskan semalam suntuk mendekatkan diri kepada Allah dan menyesali dirinya yang telah bertindak gegabah merasa lebih baik dari makhluk lainnya, seekor anjing.
     Saudaraku, bagi ulama sufi, hidup, badan, hati dan fikirannya, hanyalah untuk menghadap kepada Allah untuk mendapatkan ridha-Nya. Ulama sufi berusaha secara sangat serius untuk tawadlu’, andap asor, dan membuang jauh-jauh dari rasa benci, hasud, iri hati, takabbur, sombong, dan merasa dirinya hebat luar biasa. Bahkan kisah di atas, menunjukkan sikap yang sangat cerdas menangkap bahasa anjing, dan memahami serta menafsirkan dengan sangat baik.
     Pelajaran yang sangat berharga yang bisa kita ambil dari cerita di atas adalah: pertama, kita bangun sifat dan sikap rendah hati. Buang jauh-jauh kesombongan, keangkuhan, dan memuji-muji diri sendiri. Karena kesombongan hanya akan membakar diri siapa saja yang masih dihinggapi kesombongan, keangkuhan, dan sifat-sifat negatif lainnya.
     Saudaraku, Rasulullah saw :
  رواه الإمام مسلم في صحيحه من حديث عبد الله بن مسعود رضي الله عنه عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ
( لا يَدْخُلُ الْجَنَّةَ مَنْ كَانَ فِي قَلْبِهِ مِثْقَالُ ذَرَّةٍ مِنْ كِبْرٍ، قَالَ رَجُلٌ: إِنَّ الرَّجُلَ يُحِبُّ أَنْ يَكُونَ ثَوْبُهُ حَسَنًا، وَنَعْلُهُ حَسَنَةً، قَالَ: إِنَّ اللَّهَ جَمِيلٌ يُحِبُّ الْجَمَالَ، الْكِبْرُ بَطَرُ الْحَقِّ، وَغَمْطُ النَّاسِ)
[ مسلم، الترمذي، أبو داود، ابن ماجه، أحمد ]
Imam Muslim dalam kitab Shahihnya, hadits dari Abdullah bin Mas’ud ra. Nabi saw bersabda: “Tidak akan masuk surga, seseorang yang di dalam hatinya masih ada seberat biji dzarrah dari kesombongan (merasa lebih baik)”. Seorang laki-laki bertanya, bahwa seorang laki-laki suka kalau berpakaian yang baik, sandalnya baik? Beliau menjawab: “Sesungguhnya Allah itu indah (bagus), mencintai hal yang baik, kesombongan adalah menolak kebenaran dan meremehkan manusia” (Riwayat Muslim, at-Tirmidzi, Abu Dawud, Ibnu Majah, dan Ahmad).
     Bagi seorang sufi, meremehkan anjing saja, ternyata kemudian merasa mendapat teguran dan tamparan yang akhirnya menyadarkan Abu Yazid al-Busthamy. Karena hati imam Abu Yazid, sudah sangat sensitif untuk menerima sentuhan atau bahkan percikan ilmu dari Allah melalui apa saja, termasuk melalui tatapan mata seekor anjing.
Ini karena perjalanan kesufian Abu Yazid sudah sampai pada tingkatan ittihad atau menyatu dengan Tuhan, sehingga bahasa anjing yang tak berkalimat, bisa seakan dialog dengan dirinya dan bahkan menyergapnya, sekaligus menyadarkan betapa masih ada sisa kesombongan di dalam hati yang harus segera dibuang jauh-jauh. Makanan yang halal menjadi bagian penting proses keberhasilan seorang hamba menuju jalan Allah.
     Saudaraku, kerendahan hati seseorang dapat terbentuk dengan baik, melalui pendidikan dan pembiasaan terutama oleh keluarga, sekolah, dan lingkungan masyarakat. Karena itu, marilah kita berusaha menjadi orang yang beriman secara benar, shalat yang rajin, bekerja keras, membuang jauh benih kesombongan dan keangkuhan, dan menjadi hamba Allah yang penuh ketawadluan dan bertawakkal kepada Allah. Karena kita ini tampaknya, baru bisa pake peci putih, sudah merasa sebagai alim, baru tahu ilmu nahwu sedikit, sudah bilang orang lain yang suka tahlilan, ahli bid’ah san masuk neraka, baru diamanati jabatan, sudah merasa harus dilayani dan dihormati. SubhanaLlah.
     Allah a’lam bi al-shawab. Hadana Allah wa iyyakum ajma’in. In uridu illa al-ishlah ma istatha’tu wa ma taufiqi illa bi Allah.
Wassalamualaikum wrwb.
Ngaliyan, Semarang, 3/4/2017.

Check Also

MA’HAD ‘ALY TBS: MENYEMAI AHLI FALAK YANG ASTRONOM

Assalamualaikum wrwb. Al-hamdu liLlah wa sy-syukru liLlah. Segala puji dan syukur hanya milik Allah. Marilah kita syukuri anugrah dan pertolongan Allah, hanya karena dengan kasih sayang dan pertolongan Allah kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktivitas kita hari ini. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan pengikut yang setia dan istiqamah meneadani beliau.  Semoga semua urusan kita diberi kemudahan oleh Allah dan kelak di akhirat kita mendapat syafaat beliau. Saudaraku, kemarin Sabtu, 20 Rajab 1439 H bertepatan dengan 7/4/2018 M saya mendapat kehormatan untuk ikut menyaksikan peyerahan Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Islam, oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, tentang persetujuan Pesantren TBS (Tasywiquth Thullab Salafiyah) sebagai penyelenggara Program Pendidikan Ma’had ‘Aly. Nama TBS – memang unik – karena kepanjangannya “tidak simetris” karena T diambil dari huruf “ta” dari kata “tasywiq” dan B diambil huruf terakhir kata “thullab” bentuk jama’ dari kata “thalib” yang artinya murid, siswa, atau peserta didik dalam bahasa sekarang. Seingat saya, saat saya masih menjadi “santri” huruf S itu singkatan dari kata “school” yang artinya sekolah atau madrasah. Dalam perjalanannya, huruf S ini diambil dari huruf “sin” dari kata salafiyah, yang artinya madrasah. Kata “Tasywiqu th-Thullab Salafiyah” artinya “Bronto – atau intellectual curiousity– nya Santri yang berpendidikan Salafiyah”. Salafiyah juga dalam penggunaan keseharian berbeda dengan “Salafi”.  TBS merancang dan mengelola pendidikan meskipun pada dasarnya adalah madrasah formal atau klasikal, namun desain kurikulum dan tata kelolanya, mengikuti model pondok pesantren. Saya sendiri, belajar di TBS ini selama “tujuh” tahun dengan sistem dan model yang unik juga. Setelah lulus SD dan MI di Kampung, didaftarkan di TBS. Test kemampuan dimulai dengan materi test kelas empat  MI, hari itu juga diumumkan. Besok paginya, test kemampuan untuk kelas lima, siangnya langsung diumumkan. Berarti lolos kelas 5. Besok paginya diikutkan test kemampuan kelas enam, sayang belum beruntung. Akhirnya “harus” mengikuti pelajaran dari kelas lima. Setelah satu semester, dievaluasi, dan ini yang menarik, saya diperintahkan untuk “naik kelas” di pertengahan tahun, ke kelas enam. Pendek cerita, al-hamdu liLlah, saya dinyatakan mampu melewati kelas enam MI TBS dan lulus dengan mendapat peringkat satu. Saya menerima hadiah dan senang sekali, yakni kitab “Riyadlu sh-Shalihin” dan “Sarung” yang hingga kini tidak terlupakan. Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah saya selesaikan secara normal enam tahun. Namanya juga Salafiyah, kurikulumnya, dari MI ilmu nahwunya belajar Ajrumiyah – terkenalnya Jurumiyah  – dan ‘Imrithy. Pada Tsanawiyah imu nahwu sudah harus menghafal nadham “Alfiyah” atau seribu nadham yang ditulis oleh Imam Ibnu Malik. Di Madrasah Aiyah, ilmu nahwu sudah menggunakan Syarah atau Komentar atas Alfiyah Ibn Malik, yaitu Ibnu ‘Aqil. Saya tidak sebutkan semuanya, karena dengan kitab-kitab yang menjadi maraji’ pembelajaran ilmu Nahwu tersebut, sudah terbayang model dan sistem pendidikannya, dan seperti apa lulusannya.  Maaf, ini bukan kalimat “kesombongan” karena insyaa Allah, saya tidak ada potongan “sombong”, apalagi saya sadar ilmu saya sangat tidak seberapa. Saudaraku, Ma’had ‘Aly TBS menurut data Direktorat PD Pontren Kementerian Agama adalah yang ke 27, dan memilih spesialisasi atau takhashshush Ilmu Falak. Maka, selain penyerahan SK, juga digelar Halaqah Falakiyah dengan tagline “Merawat Tradisi Menebar Innovasi”. Selain karena alasan Ilmu Falak selama ini makin “langka” peminatnya. Bahkan Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, sejak ada program Beasiswa 5.000 Doktor di Kementerian Agama, distingsinya adalah menyiapkan Doktor Ilmu Falak. Bahkan di tahun 2017, hanya terisi 7 mahasiswa. Untung saja Pascasarjana UIN Walisongo membuka konsentrasi baru Manajemen Halal dan Hukum Keluarga, jadinya “kuotanya” terpenuhi. Ma’had ‘Aly TBS juga pada saatnya akan menyuplai calon mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo tentu kalau sudah meluluskan. Pada saat saya masih di MTs, TBS sudah mengajarkan ilmu Falak dan di antaranya  mengoperasikan rubu’ mujayyab. Di TBS sangat dikenal KH Turaihan Ajhury asy-Syarafy al-Falaky, ahli falak sangat terkenal di jagad Indonesia, terutama kalender atau almanak Menara Kudus yang khas. Juga ada KH Abdul Jalil, dan masih ada beberapa ahli falak lainnya. Sebagai alumnus TBS, tidak ada kata lain kecuali mengapresiasi dan menyambut positif terselenggaranya Ma’had ‘Aly TBS ini. Kebetulan saya masih diamanati sebagai Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, yang mengelola program doktor ilmu falak, kehadiran Ma’had ‘Aly bisa menjaid mitra. Memang bagi program S1 Ilmu Falak  Fakultas Syariah dan Hukum, bisa saja ditafsiri sebagai “pesaing baru”, apalagi dengan basik yang berbeda. UIN basiknya lebih variatif, sementara di TBS rasanya “wajib” berbasis pesantren. Maka tafsirnya, musti dengan kompromi atau “al-jam’u wa t-taufiq” atau menyatukan dan mengompromikan. Dalam dunia bisnis, suatu “produk” semakin banyak produsen atau yang menjajakan, maka produk tersebut adalah produk yang menjadi kebutuhan penting. Karena itu, tidak perlu ada komentar yang tidak perlu, karena dunia pendidikan apalagi untuk menyiapkan ahli falak di dunia Indonesia ini, masih sangat diperlukan. Kalau ada pertanyaan, apakah setelah ada lulusan Ma’had ‘Aly TBS yang ahli falak rasa astrnom, apakah kemudian tidak ada lagi perbedaan dalam penentuan awal Ramadlan, awal Syawwal, dan awal Dzulhijah? Ini pertanyaan kritis tetapi jawabnya tidak mudah. Karena ini seperti pertanyaan maaf, “apakah tambahnya lulusan akpol, akmil, dan sarjana lainnya, akan berkorelasi menurunkan angka kriminalitas, gerakan separatis, atau problematika sosial lainnya”? Soal penentuan awal bulan Qamariyah, di Indonesia ini, tampak indahnya justru karena ada perbedaan itu. Mengapa, karena “instrumen test” kematangan berdemokrasi dan bertoleransi tampak matang dengan perbedaan itu. Dalam soal ibadah dan internal sesama kaum Muslim saja, bisa berjalan dengan baik, apalagi dengan penganut agama lain. Tentu ini, harus difahami dan dimaknai secara cerdas. Karena meskipun dalilnya sama, Al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan sumber dan rujukan sama, namun metode pemahamannya berbeda, akan menghasilkan rumusan atau formulasi hukum yang berbeda. Apalagi jika sudah ada pertimbangan di luar akademik dan keagamaan, maka tentu akan lebih variatif lagi. MUI sudah mensosialisasikan kaidah yang sangat dikenal, “hukm al-hakim ilzam wa yarfa’u l-khilaf” artinya “putusan hukum pemerintah itu mengikat dan menghilangkan perbedaan pendapat”. Itu teorinya, namun dalam kenyataannya, dengan dalih soal keyakinan karena terkait dengan amaliyah keagamaan, maka pemerintah juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Karena itu, tidak ada pilihan lain, kecuali merawat dan memelihara perbedaan tersebut, agar tetap menjadi rahmat dan kasih sayang. Yang terakhir ini pun, didasari kaidah selain “ikhtilafu ummati rahmah” artinya “perbedaan pedapat ummatku adalah kasih sayang”, juga ada kaidah “man lam yasyumma raihata l-khilaf lam yasyumma raihata l-fiqh” artinya “barang siapa tidak mampu mencium aroma perbedaan pendapat, berarti ia tidak mampu mencium aroma fiqh”. Yang terpenting, bagaimana kita mampu melakukan “literasi” dan mendewasakan umat kita, agar makin terbiasa dan terbudaya dengan perbedaan, sehingga kesimpulannya adalah “sepakat dalam perbedaan” atau “berbeda dengan kesepakatan”. Selamat Ma’had ‘Aly TBS, almamaterku, semoga Allah senantiasa melapangkan jalan “rizqimu” dan menggelar keberkahan padamu, untuk menyiapkan generasi Ahli Falak Rasa Astronom, atau Astronom yang Ahli Agama”. Selamat “merawat tradisi dan menebar innovasi”. Tekadmu dan kerja kerasmu, ditunggu umat. Jadilah yang terbaik dan paling member banyak manfaat. Sudah saatnya dari pondok pesantren, yang akan menjadi leader bangsa ini di masa depan. Allah a’lam bi sh-shawab. Wassalamualaikjm wrwb. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *