Home / KOLOM DIREKTUR / MENGENANG KEMATIAN

MENGENANG KEMATIAN

Assalamualaikum wrwb.
     Saudaraku yang dicintai Allah, mari kita syukuri nikmat dan anugrah Allah yang pasti kita tidak mampu menghitungnya. Semoga Allah akan menambah nikmat-Nya pada kita. Shalawat dan salam mari kita terus lantunkan, mengiringi shalawat Allah dan para malaikat-Nya untuk Kanjeng Nabi Muhammad saw, keluarga, dan para sahabat. Semoga Allah memudahkan semua urusan kita, dan diberi keberuntungan dan keberkahan.
     Kematian adalah bagian dari perjalanan hidup manusia. Karena itu, selagi masih hidup manusia perlu terus mengingat mati, agar hidupnya tidak terjebak pada anarkhisme pikiran dan tindakan, karena pasti akan merusak dirinya sendiri dan membakar orang lain. Allah mengingatkan:
أَيْنَمَا تَكُونُوا يُدْرِككُّمُ الْمَوْتُ وَلَوْ كُنتُمْ فِي بُرُوجٍ مُّشَيَّدَةٍ وَإِن تُصِبْهُمْ حَسَنَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِندِ اللهِ وَإِن تُصِبْهُمْ سَيِّئَةٌ يَقُولُوا هَٰذِهِ مِنْ عِندِكَ قُلْ كُلٌّ مِّنْ عِندِ اللهِ فَمَالِ هَٰؤُلَاءِ الْقَوْمِ لَا يَكَادُونَ يَفْقَهُونَ حَدِيثًا النساء ٧٨
“Di mana saja kamu berada, kematian akan mendapatkan kamu, kendatipun kamu di dalam benteng yang tinggi lagi kokoh, dan jika mereka memperoleh kebaikan, mereka mengatakan: “Ini adalah dari sisi Allah”, dan kalau mereka ditimpa suatu bencana mereka mengatakan: “Ini (datangnya) dari sisi kamu (Muhammad)”. Katakanlah : “Semuanya (datang) dari sisi Allah”. Maka mengapa orang-orang (munafik) itu hampir-hampir tidak memahami pembicaraan sedikit pun?” (QS. Al-Nisa’: 78).
كُلُّ نَفْسٍ ذَائِقَةُ الْمَوْتِ وَنَبْلُوكُم بِالشَّرِّ وَالْخَيْرِ فِتْنَةً وَإِلَيْنَا تُرْجَعُونَ الانبياء ٣٥
“Tiap-tiap yang berjiwa akan merasakan mati. Kami akan menguji kamu dengan keburukan dan kebaikan sebagai cobaan (yang sebenar-benar ya). Dan hanya kepada Kamilah kamu dikembalikan” (QS. Al-Nisa’: 78).
     Agar kita manusia lemah, mudah tergoda, dan mudah putus asa, kalau dapat nikmat sering lupa kepada Allah, tetapi kalau dapat ujian atau cobaan sedikit saja, sudah berkeluh kesah (Qas. Al-Ma’arij:19-21), maka kata kuncinya adalah mengenang atau mengingat kematian. Apabila Allah mengecualikan orang-orang yang shalatnya langgeng (daimun) yang tidak mudah lupa jika dapat nikmat dan keluh kesah jika dapat cobaan, karena dengan shalat khusyu’ dan dipelihara dengan baik, ia akan terus ingat mati.
     Mengenang kematian seseorang, apakah itu suami atau istri, orang tua, atau orang-orang yang dirasakan pernah berjasa, seperti guru, adalah bagian dari perintah agama. Terlebih doa memohonkan ampunan (مغفرة) tidak saja diperintahkan kepada orang-orang terdekat kita, tetapi untuk semua orang yang beriman dan Islam baik yang masih hidup  aupun yang sudah mati.
      Perkara sebagian masyarakat kita ada upacara tahlilan tujuh hari, empat puluh hari, seratus hari, setahun (haul), adalah sebagai momentum saja. Bahwa ada yang menganggap itu sebagai bid’ah, ini soal bagaimana akal dan persepsinya itu dapat memahami pesan agama secara umum. Setiap khathib Jumat, pada khutbah kedua diwajibkan berdoa memohonkan ampunan kepada seluruh orang-orang yang beriman dan muslimin-muslimat, baik yang masih hidup atau yang sudah mati. Setiap habis shalat kita juga dianjurkan memohonkan ampunan (membaca istighfar), adalah instrumen penyadaran kepada kita mengingat mati. Dengan mengingat kematian itu, manusia dan kita ini sadar untuk tidak melakukan hal-hal yang tidak sejalan dengan tuntunan agama kita.
      Jika hari gini masih ada yang mempersoalkan apakah permohonan ampunan yang kita mohonkan kepada Allah untuk orang-orang yang sudah mati itu, sampai atau tidak, ini kembali kepada keimanan dan keyakinan kita. Bagi Allah ‘Azza wa Jalla, tidak ada yang sulit bagi Allah. Allah akan mengampuni dosa orang-orang yang beriman kepada Allah dan Rasul-Nya, berjihad di jalan Allah dengan harta san jiwanya.
يَغْفِرْ لَكُمْ ذُنُوبَكُمْ وَيُدْخِلْكُمْ جَنَّاتٍ تَجْرِي مِن تَحْتِهَا الْأَنْهَارُ وَمَسَاكِنَ طَيِّبَةً فِي جَنَّاتِ عَدْنٍ ذَٰلِكَ الْفَوْزُ الْعَظِيمُ   الصف ١٢
Niscaya Allah akan mengampuni dosa-dosamu dan memasukkanmu ke dalam jannah yang mengalir di bawahnya sungai-sungai; dan (memasukkan kamu) ke tempat tinggal yang baik di dalam jannah ‘Adn. Itulah keberuntungan yang besar”( QS. Al-Shaf: 12).
     Saudaraku, mari kita bersama-sama berusaha menjadi hamba Allah yang rendah hati (tawadlu’). Tidak lagi saatnya untuk menyoal tentang teman, tetangga, atau saudara kita yang mengundang acara tahlil dan yasinan serta doa bersama, peringatan mengenang saudara atau leluhurnya yang mendahului kita, karena sesungguhnya mendoakan kepada sesama muslim muslimat, adalah perintah agama. Resonansi yang kita harapkan, apabila kita rajin berdoa dan memohonkan ampunan Allah dengan memperbanyak istighfar, adalah agar supaya hati dan pikiran kita tidak lagi memiliki egoisme, kesombongan dan keangkuhan yang merupakan penyakit hati, dan sadar akan mati dan kematian yang setiap saat akan datang menjemput kita, tanpa ada pemberitahuan terlebih dahulu.
     Saudaraku yang dirahmati Allah. Hidup kita ini adalah kesenangan yang menipu (QS. Ali ‘Imran:185). Apabila kita tidak waspada, maka pasti kita akan terjebak dengan kesenangan duniawi yang hedonis dan materialis, yang bisa menyesatkan dan membelokkan dari perjalanan yang lurus. Kalaulah kita mendapatkan rizqi yang melimpah, karena Islam juga menganjurkan pemeluknya kaya dengan jalan yang halal, maka zakat, infaq, dan sadaqah, adalah lahan pahala dan keshalihan sosial yang menjadi bagian penting penyempurnaan hidup kita di dunia. Aklah ‘Azza wa Jalla mengingatkan kita:
بِسْمِ اللهِ الرَّحْمَٰنِ الرَّحِيمِ أَلْهَاكُمُ التَّكَاثُرُ. حَتَّىٰ زُرْتُمُ الْمَقَابِرَ.  كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ.  ثُمَّ كَلَّا سَوْفَ تَعْلَمُونَ.  كَلَّا لَوْ تَعْلَمُونَ عِلْمَ الْيَقِينِ.   لَتَرَوُنَّ الْجَحِيمَ.  ثُمَّ لَتَرَوُنَّهَا عَيْنَ الْيَقِينِ.  ثُمَّ لَتُسْأَلُنَّ يَوْمَئِذٍ عَنِ النَّعِيمِ. التكاثر ١-٨.
Bermegah-megahan telah melalaikan kamu, sampai kamu masjk ke dalam kubur. Janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui (akibat perbuatanmu itu). Dan janganlah begitu, kelak kamu akan mengetahui. Janganlah begitu, jika kamu mengetahui dengan pengetahuan yang yakin, niscaya kamu benar-benar akan melihat neraka Jahiim, dan sesungguhnya kamu benar-benar akan melihatnya dengan ‘ainul yaqin kemudian kamu pasti akan ditanyai pada hari itu tentang kenikmatan (yang kamu megah-megahkan di dunia itu). (QS. Al-Takatsur:1-8).
     Semoga Allah senantiasa menyadarkan kita, selalu ingat akan mati, mengenang kematian, meringankan langkah kita, untuk bergegas mempersiapkan bekal yang terbaik guna menempuh perjalanan panjang menuju keabadian, dan Allah mengijinkan kita hidup dalam surga-Nya. Amin. Allah a’lam bi al-shawab,
Wassalamualaikum wrwb.
Ngaliyan Semarang, 2/4/2017.

Check Also

MA’HAD ‘ALY TBS: MENYEMAI AHLI FALAK YANG ASTRONOM

Assalamualaikum wrwb. Al-hamdu liLlah wa sy-syukru liLlah. Segala puji dan syukur hanya milik Allah. Marilah kita syukuri anugrah dan pertolongan Allah, hanya karena dengan kasih sayang dan pertolongan Allah kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktivitas kita hari ini. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan pengikut yang setia dan istiqamah meneadani beliau.  Semoga semua urusan kita diberi kemudahan oleh Allah dan kelak di akhirat kita mendapat syafaat beliau. Saudaraku, kemarin Sabtu, 20 Rajab 1439 H bertepatan dengan 7/4/2018 M saya mendapat kehormatan untuk ikut menyaksikan peyerahan Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Islam, oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, tentang persetujuan Pesantren TBS (Tasywiquth Thullab Salafiyah) sebagai penyelenggara Program Pendidikan Ma’had ‘Aly. Nama TBS – memang unik – karena kepanjangannya “tidak simetris” karena T diambil dari huruf “ta” dari kata “tasywiq” dan B diambil huruf terakhir kata “thullab” bentuk jama’ dari kata “thalib” yang artinya murid, siswa, atau peserta didik dalam bahasa sekarang. Seingat saya, saat saya masih menjadi “santri” huruf S itu singkatan dari kata “school” yang artinya sekolah atau madrasah. Dalam perjalanannya, huruf S ini diambil dari huruf “sin” dari kata salafiyah, yang artinya madrasah. Kata “Tasywiqu th-Thullab Salafiyah” artinya “Bronto – atau intellectual curiousity– nya Santri yang berpendidikan Salafiyah”. Salafiyah juga dalam penggunaan keseharian berbeda dengan “Salafi”.  TBS merancang dan mengelola pendidikan meskipun pada dasarnya adalah madrasah formal atau klasikal, namun desain kurikulum dan tata kelolanya, mengikuti model pondok pesantren. Saya sendiri, belajar di TBS ini selama “tujuh” tahun dengan sistem dan model yang unik juga. Setelah lulus SD dan MI di Kampung, didaftarkan di TBS. Test kemampuan dimulai dengan materi test kelas empat  MI, hari itu juga diumumkan. Besok paginya, test kemampuan untuk kelas lima, siangnya langsung diumumkan. Berarti lolos kelas 5. Besok paginya diikutkan test kemampuan kelas enam, sayang belum beruntung. Akhirnya “harus” mengikuti pelajaran dari kelas lima. Setelah satu semester, dievaluasi, dan ini yang menarik, saya diperintahkan untuk “naik kelas” di pertengahan tahun, ke kelas enam. Pendek cerita, al-hamdu liLlah, saya dinyatakan mampu melewati kelas enam MI TBS dan lulus dengan mendapat peringkat satu. Saya menerima hadiah dan senang sekali, yakni kitab “Riyadlu sh-Shalihin” dan “Sarung” yang hingga kini tidak terlupakan. Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah saya selesaikan secara normal enam tahun. Namanya juga Salafiyah, kurikulumnya, dari MI ilmu nahwunya belajar Ajrumiyah – terkenalnya Jurumiyah  – dan ‘Imrithy. Pada Tsanawiyah imu nahwu sudah harus menghafal nadham “Alfiyah” atau seribu nadham yang ditulis oleh Imam Ibnu Malik. Di Madrasah Aiyah, ilmu nahwu sudah menggunakan Syarah atau Komentar atas Alfiyah Ibn Malik, yaitu Ibnu ‘Aqil. Saya tidak sebutkan semuanya, karena dengan kitab-kitab yang menjadi maraji’ pembelajaran ilmu Nahwu tersebut, sudah terbayang model dan sistem pendidikannya, dan seperti apa lulusannya.  Maaf, ini bukan kalimat “kesombongan” karena insyaa Allah, saya tidak ada potongan “sombong”, apalagi saya sadar ilmu saya sangat tidak seberapa. Saudaraku, Ma’had ‘Aly TBS menurut data Direktorat PD Pontren Kementerian Agama adalah yang ke 27, dan memilih spesialisasi atau takhashshush Ilmu Falak. Maka, selain penyerahan SK, juga digelar Halaqah Falakiyah dengan tagline “Merawat Tradisi Menebar Innovasi”. Selain karena alasan Ilmu Falak selama ini makin “langka” peminatnya. Bahkan Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, sejak ada program Beasiswa 5.000 Doktor di Kementerian Agama, distingsinya adalah menyiapkan Doktor Ilmu Falak. Bahkan di tahun 2017, hanya terisi 7 mahasiswa. Untung saja Pascasarjana UIN Walisongo membuka konsentrasi baru Manajemen Halal dan Hukum Keluarga, jadinya “kuotanya” terpenuhi. Ma’had ‘Aly TBS juga pada saatnya akan menyuplai calon mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo tentu kalau sudah meluluskan. Pada saat saya masih di MTs, TBS sudah mengajarkan ilmu Falak dan di antaranya  mengoperasikan rubu’ mujayyab. Di TBS sangat dikenal KH Turaihan Ajhury asy-Syarafy al-Falaky, ahli falak sangat terkenal di jagad Indonesia, terutama kalender atau almanak Menara Kudus yang khas. Juga ada KH Abdul Jalil, dan masih ada beberapa ahli falak lainnya. Sebagai alumnus TBS, tidak ada kata lain kecuali mengapresiasi dan menyambut positif terselenggaranya Ma’had ‘Aly TBS ini. Kebetulan saya masih diamanati sebagai Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, yang mengelola program doktor ilmu falak, kehadiran Ma’had ‘Aly bisa menjaid mitra. Memang bagi program S1 Ilmu Falak  Fakultas Syariah dan Hukum, bisa saja ditafsiri sebagai “pesaing baru”, apalagi dengan basik yang berbeda. UIN basiknya lebih variatif, sementara di TBS rasanya “wajib” berbasis pesantren. Maka tafsirnya, musti dengan kompromi atau “al-jam’u wa t-taufiq” atau menyatukan dan mengompromikan. Dalam dunia bisnis, suatu “produk” semakin banyak produsen atau yang menjajakan, maka produk tersebut adalah produk yang menjadi kebutuhan penting. Karena itu, tidak perlu ada komentar yang tidak perlu, karena dunia pendidikan apalagi untuk menyiapkan ahli falak di dunia Indonesia ini, masih sangat diperlukan. Kalau ada pertanyaan, apakah setelah ada lulusan Ma’had ‘Aly TBS yang ahli falak rasa astrnom, apakah kemudian tidak ada lagi perbedaan dalam penentuan awal Ramadlan, awal Syawwal, dan awal Dzulhijah? Ini pertanyaan kritis tetapi jawabnya tidak mudah. Karena ini seperti pertanyaan maaf, “apakah tambahnya lulusan akpol, akmil, dan sarjana lainnya, akan berkorelasi menurunkan angka kriminalitas, gerakan separatis, atau problematika sosial lainnya”? Soal penentuan awal bulan Qamariyah, di Indonesia ini, tampak indahnya justru karena ada perbedaan itu. Mengapa, karena “instrumen test” kematangan berdemokrasi dan bertoleransi tampak matang dengan perbedaan itu. Dalam soal ibadah dan internal sesama kaum Muslim saja, bisa berjalan dengan baik, apalagi dengan penganut agama lain. Tentu ini, harus difahami dan dimaknai secara cerdas. Karena meskipun dalilnya sama, Al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan sumber dan rujukan sama, namun metode pemahamannya berbeda, akan menghasilkan rumusan atau formulasi hukum yang berbeda. Apalagi jika sudah ada pertimbangan di luar akademik dan keagamaan, maka tentu akan lebih variatif lagi. MUI sudah mensosialisasikan kaidah yang sangat dikenal, “hukm al-hakim ilzam wa yarfa’u l-khilaf” artinya “putusan hukum pemerintah itu mengikat dan menghilangkan perbedaan pendapat”. Itu teorinya, namun dalam kenyataannya, dengan dalih soal keyakinan karena terkait dengan amaliyah keagamaan, maka pemerintah juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Karena itu, tidak ada pilihan lain, kecuali merawat dan memelihara perbedaan tersebut, agar tetap menjadi rahmat dan kasih sayang. Yang terakhir ini pun, didasari kaidah selain “ikhtilafu ummati rahmah” artinya “perbedaan pedapat ummatku adalah kasih sayang”, juga ada kaidah “man lam yasyumma raihata l-khilaf lam yasyumma raihata l-fiqh” artinya “barang siapa tidak mampu mencium aroma perbedaan pendapat, berarti ia tidak mampu mencium aroma fiqh”. Yang terpenting, bagaimana kita mampu melakukan “literasi” dan mendewasakan umat kita, agar makin terbiasa dan terbudaya dengan perbedaan, sehingga kesimpulannya adalah “sepakat dalam perbedaan” atau “berbeda dengan kesepakatan”. Selamat Ma’had ‘Aly TBS, almamaterku, semoga Allah senantiasa melapangkan jalan “rizqimu” dan menggelar keberkahan padamu, untuk menyiapkan generasi Ahli Falak Rasa Astronom, atau Astronom yang Ahli Agama”. Selamat “merawat tradisi dan menebar innovasi”. Tekadmu dan kerja kerasmu, ditunggu umat. Jadilah yang terbaik dan paling member banyak manfaat. Sudah saatnya dari pondok pesantren, yang akan menjadi leader bangsa ini di masa depan. Allah a’lam bi sh-shawab. Wassalamualaikjm wrwb. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *