Home / KOLOM DIREKTUR / MENGELOLA KEGALAUAN

MENGELOLA KEGALAUAN

Assalamualaikum wrwb.
     Saudaraku, mari kita bersyukur kepada Allah, hanya atas anugrah dan karunia-Nya saat ini kita sehat wal afiat. Semoga kita termasuk golongan sedikit hamba-Nya yang pandai bersyukur, dan Allah akan menambah anugrahnya kepada kita.
     Shalawat dan salam, tidak henti-hentinya kita senandungkan untuk tokoh panutan kita, Rasulullah Muhammad saw. Semoga memberkahi pada para keluarga, sahabat, dan kita yang menjadi pengikutnya. Setiap kesulitan akan diberi kemudahan dan jalan keluarnya.
     Saudaraku yang dirahmati Allah, rasa takut, khawatir, cemas, galau, dan sejenisnya, adalah bagian dari anugrah Allah juga yang menyertai keberadaan kita sebagai manusia biasa. Yang sedang berkuasa takut kursi jabatannya “digoyang”, yang pejabat partai khawatir ada mosi tidak percaya dari pengurus partainya, yang pemimpin pesantren cemas, santrinya tidak berhasil, yang kaya takut hartanya berkurang, yang mahasiswa masih kuliah pun galau tidak mendapatkan prestasi yang baik, yang baru atau akan diwisuda pun, cemas betapa sulitnya lowongan pekerjaan, bahkan yang sudah bekerja, khawatir kinerjanya tidak perfect, dan masih sederet daftar panjang kekhawatiran, kecemasan, kegalauan, dan kegundahan yang menyertai kita.
     Sebagai hamba Allah yang dikaruniai perasaan (الفوءاد) dan hati (قلب) yang sering berubah-ubah, atau psikis (jiwa/ النفس) perasaan galau, khawatir, takut, cemah, gundah, dan semacamnya, tampaknya memang merupakan bagian dari dalam diri kita. Bagaimana kita mengatur, mengelola, memanaj, dan mengendalikannya, agar keberadaan kita sebagai manusia.
     Cogito ergo sum, kata Descartes. Menurut filsuf Perancis ini, “aku berpikir maka aku ada”. Awalnya, Descartes mencari kebenaran dengan meragukan semua hal. Ia meragukan keberadaan benda-benda di sekelilingnya. Ia bahkan meragukan keberadaan dirinya sendiri. Maka dengan berfikir, berarti dirinya ada. Tampaknya berfikir inilah entitas keberadaan manusia. Al-Qur’an pun, menyoal dan sekaligus mengingatkan kepada manusia. Kata يتفكرون digunakan Al-Qur’an tidak kurang dari sepuluh kali. Kata يفقهون yang diartikan memahami digunakan sembilan kali. Kata يعقلون digunakan 22 kali.
     Saudaraku, kekhawatiran, kecemasan, dan kegalauan, dan kegundahan adalah bagian dari proses pendewasaan dan pencerdasan kita. Al-Qur’an membahasakannya dengan cobaan atau ujian, sebagaimana Firman Allah Swt:
وَلَنَبْلُوَنَّكُم بِشَيْءٍ مِّنَ الْخَوْفِ وَالْجُوعِ وَنَقْصٍ مِّنَ الْأَمْوَالِ وَالْأَنفُسِ وَالثَّمَرَاتِ وَبَشِّرِ الصَّابِرِينَ.  الَّذِينَ إِذَا أَصَابَتْهُم مُّصِيبَةٌ قَالُوا إِنَّا لِلَّهِ وَإِنَّا إِلَيْهِ رَاجِعُونَ.
“Dan sungguh akan Kami berikan cobaan kepadamu, dengan sedikit ketakutan, kelaparan, kekurangan harta, jiwa, buah-buahan. Dan berikanlah kabar gembira kepada orang-orang yang sabar. (Yaitu) orang-orang yang apabila ditimpa musibah mereka mengucapkan : “Sesungguhnya kita adalah milik Allah, dan sesungguhnya kita (akan) kembali kepada-Nya” (QS. Al-Baqarah:155-156).
     Kutipan ayat di atas sebenarnya sudah ada kunci jawaban bagaimana mengelola kegalauan agar tidak menghinggapi, mendera, apalagi menguasai diri kita, sehingga menjadi orang yang cemas, galau, resah, khawatir, dan gundah. Yakni bersabar menerima segala macam ujian dan cobaan.
Saudaraku, batas kecemasan dan kebahagiaan sangat tipis. Kesulitan dan kemudahan juga batasnya tipis. Kebencian dan kecintaan juga amat tipis. Al-Qur’an membahasakannya, setiap ada kesulitan disertai dengan kemudahan, dan diulang dua kali:
فَإِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا.   إِنَّ مَعَ الْعُسْرِ يُسْرًا. الانشراح ٥-٦.
“Karena sesungguhnya sesudah kesukitan itu ada kemudahan, sesungguhnya sesudah kesukitan itu ada kemudahan” (QS. Al-Insyirah:5-6).
      Manusia diberi akal dan perasaan sesungguhnya asalah sebagai pengendali diri, agar siap menghadapi segala macam tangangan dan ujian. Karena mati dan hidup ini diciptakan oleh Allah adalah untuk berkompetisi secara positif, siapa di antara kita yang paling baik amal perbuatannya. Karena itu, musti diawali dari posisioning dan kesadaran sebagai manusia untuk senantiasa rendah hati (tawadlu’) dan menjauhi kesombongan, takabbur, merasa hebat, dan jumawa. Karena kesombongan, takabbur, dan merasa hebat adalah pangkal dari kegalauan, kecemasan, dan kekhawatiran itu sendiri. Penghapus sifat-sifat negatif yang oleh Syeikh Ibnu ‘Athaillah al-Sakandary disebut sebagai “benih kesyirikan” itu, adalah dengan sikap sabar, ridla, qana’ah (nerimo), dan pasrah diri (tawakkal) kepada Allah. Tentu saja harus disertai usaha, ikhtiar, dan kerja keras.
 فَإِذَا عَزَمْتَ فَتَوَكَّلْ عَلَى اللهِ إِنَّ اللهَ يُحِبُّ الْمُتَوَكِّلِينَ.  ال عمران ١٥٩
“…kemudian apabila kamu telah membukatkan tekad, maka bertawakkallah kepada Allah. Sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang bertawakkal kepada-Nya” (QS. Ali Imran: 159).
      Selain sabar, Allah memberikan petunjuk agar kita sebagai manusia, rendah hati memohon pertolongan kepada Allah dengan shalat, meskipun terasa berat. Kecuali bagi orang-orang yang khusyu’ (QS. Al-Baqarah:45).
      Usaha yang penting juga untuk mengatasi kegalauan, kekhawatiran, dan kecemasan, adalah dengan menjaga akidah kita, bahwa selagi kita masih diberi kesempatan hidup oleh Allah, Allah akan menjamin rizqi kita. Soal besar dan kecilnya, sedikit atau banyaknya, Allah sudah menentukan kadar atau jatah kita. Seandainya Allah menjatah Anda menjadi orang kaya yang diamanati harta melimpah, kalau kita usaha, akan dibukakan jalan-Nya. Usaha Anda lancar, pelanggannya banyak, dan banyak kemudahan. Tetapi kalau memang jatah Anda sedikit maka usaha apapun yang Anda lakukan, ya pada akhirnya Allah juga yang akan mengaturnya. Kalau rizqi sudah datang, hendak ke mana datang juga. Akan tetapi kalau memang bukan rizqi kita, bahkan sudah di tangan pun akan pergi juga.
     Saudaraku, sikap husnudhan atau baik sangka kepada Allah dan juga kepada manusia, dari tetangga, teman, sahabat, dan saudara kita, adalah bagian penting. Karena itu, Al-Qur’an menyarankan kita agar tidak banyak berburuk sangka (سوء الظن) selain dosa, juga akan dapat berdampak negatif merusak diri kita. Ini bisa menjadi gejala depresi dan beban psikologis yang berkepanjangan, menjadi orang was-was, ragu-ragu, dan ini bisa dengan mudah dimanfaatkan jin memasuki diri kita.
     Setelah itu, adalah sikap ajeg tetapi berkelanjutan (sustainable) yang dalam bahasa Al-Qur’an disebut dengan istiqamah (استقامة). Sikap ini selain sebagai bagian dari upaya untuk tidak galau dan cemas, juga sekaligus sebagai terapi, agar kita terhindar dari rasa takut, khawatir, galau, cemas, dan gundah (QS. Fushshilat: 30). Semua harus kita kembalikan kepada Allah. Tugas kita sebagai manusia, hamba Allah yang banyak kelemahan, adalah mengabdi, beribadah kepada Allah, menyayangi sesama sebagai ciptaan-Nya. Insya Allah kita akan mendapatkan kenyamanan, ketenteraman, kebahagiaan, dan kesejahteraan lahir dan batin.
     Semoga Allah melindungi kita, memudahkan semua urusan kita, menjauhkan dari kita rasa takut, galau, khawatir, resah, gelisah, karena Allah yang menjamin dan mengaransi hidup dan kehidupan kita, selagi kita rendah hati, tawadlu’, bersabar, bertawakkal, dan mendekatkan diri kepada-Nya. Ingatlah dan berdzikirlah, karena dengan berdzikir akan menenangkan hati (QS. Al-Ra’du:28). Semoga kota dapat menjalani hidup ini dengan selalu dekat kepada Allah dan istiqamah, guna meraih ketenteraman hidup di dunia dan akhirat. Amin.
     Allah a’lam bi al-shawab. Hadana Allah ila sabil al-haqq, wa ila Allah turja’u al-umur.
Wassalamualaikum wrwb.
Ngaliyan, Semarang, 31/3/2017.

Check Also

MA’HAD ‘ALY TBS: MENYEMAI AHLI FALAK YANG ASTRONOM

Assalamualaikum wrwb. Al-hamdu liLlah wa sy-syukru liLlah. Segala puji dan syukur hanya milik Allah. Marilah kita syukuri anugrah dan pertolongan Allah, hanya karena dengan kasih sayang dan pertolongan Allah kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktivitas kita hari ini. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan pengikut yang setia dan istiqamah meneadani beliau.  Semoga semua urusan kita diberi kemudahan oleh Allah dan kelak di akhirat kita mendapat syafaat beliau. Saudaraku, kemarin Sabtu, 20 Rajab 1439 H bertepatan dengan 7/4/2018 M saya mendapat kehormatan untuk ikut menyaksikan peyerahan Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Islam, oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, tentang persetujuan Pesantren TBS (Tasywiquth Thullab Salafiyah) sebagai penyelenggara Program Pendidikan Ma’had ‘Aly. Nama TBS – memang unik – karena kepanjangannya “tidak simetris” karena T diambil dari huruf “ta” dari kata “tasywiq” dan B diambil huruf terakhir kata “thullab” bentuk jama’ dari kata “thalib” yang artinya murid, siswa, atau peserta didik dalam bahasa sekarang. Seingat saya, saat saya masih menjadi “santri” huruf S itu singkatan dari kata “school” yang artinya sekolah atau madrasah. Dalam perjalanannya, huruf S ini diambil dari huruf “sin” dari kata salafiyah, yang artinya madrasah. Kata “Tasywiqu th-Thullab Salafiyah” artinya “Bronto – atau intellectual curiousity– nya Santri yang berpendidikan Salafiyah”. Salafiyah juga dalam penggunaan keseharian berbeda dengan “Salafi”.  TBS merancang dan mengelola pendidikan meskipun pada dasarnya adalah madrasah formal atau klasikal, namun desain kurikulum dan tata kelolanya, mengikuti model pondok pesantren. Saya sendiri, belajar di TBS ini selama “tujuh” tahun dengan sistem dan model yang unik juga. Setelah lulus SD dan MI di Kampung, didaftarkan di TBS. Test kemampuan dimulai dengan materi test kelas empat  MI, hari itu juga diumumkan. Besok paginya, test kemampuan untuk kelas lima, siangnya langsung diumumkan. Berarti lolos kelas 5. Besok paginya diikutkan test kemampuan kelas enam, sayang belum beruntung. Akhirnya “harus” mengikuti pelajaran dari kelas lima. Setelah satu semester, dievaluasi, dan ini yang menarik, saya diperintahkan untuk “naik kelas” di pertengahan tahun, ke kelas enam. Pendek cerita, al-hamdu liLlah, saya dinyatakan mampu melewati kelas enam MI TBS dan lulus dengan mendapat peringkat satu. Saya menerima hadiah dan senang sekali, yakni kitab “Riyadlu sh-Shalihin” dan “Sarung” yang hingga kini tidak terlupakan. Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah saya selesaikan secara normal enam tahun. Namanya juga Salafiyah, kurikulumnya, dari MI ilmu nahwunya belajar Ajrumiyah – terkenalnya Jurumiyah  – dan ‘Imrithy. Pada Tsanawiyah imu nahwu sudah harus menghafal nadham “Alfiyah” atau seribu nadham yang ditulis oleh Imam Ibnu Malik. Di Madrasah Aiyah, ilmu nahwu sudah menggunakan Syarah atau Komentar atas Alfiyah Ibn Malik, yaitu Ibnu ‘Aqil. Saya tidak sebutkan semuanya, karena dengan kitab-kitab yang menjadi maraji’ pembelajaran ilmu Nahwu tersebut, sudah terbayang model dan sistem pendidikannya, dan seperti apa lulusannya.  Maaf, ini bukan kalimat “kesombongan” karena insyaa Allah, saya tidak ada potongan “sombong”, apalagi saya sadar ilmu saya sangat tidak seberapa. Saudaraku, Ma’had ‘Aly TBS menurut data Direktorat PD Pontren Kementerian Agama adalah yang ke 27, dan memilih spesialisasi atau takhashshush Ilmu Falak. Maka, selain penyerahan SK, juga digelar Halaqah Falakiyah dengan tagline “Merawat Tradisi Menebar Innovasi”. Selain karena alasan Ilmu Falak selama ini makin “langka” peminatnya. Bahkan Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, sejak ada program Beasiswa 5.000 Doktor di Kementerian Agama, distingsinya adalah menyiapkan Doktor Ilmu Falak. Bahkan di tahun 2017, hanya terisi 7 mahasiswa. Untung saja Pascasarjana UIN Walisongo membuka konsentrasi baru Manajemen Halal dan Hukum Keluarga, jadinya “kuotanya” terpenuhi. Ma’had ‘Aly TBS juga pada saatnya akan menyuplai calon mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo tentu kalau sudah meluluskan. Pada saat saya masih di MTs, TBS sudah mengajarkan ilmu Falak dan di antaranya  mengoperasikan rubu’ mujayyab. Di TBS sangat dikenal KH Turaihan Ajhury asy-Syarafy al-Falaky, ahli falak sangat terkenal di jagad Indonesia, terutama kalender atau almanak Menara Kudus yang khas. Juga ada KH Abdul Jalil, dan masih ada beberapa ahli falak lainnya. Sebagai alumnus TBS, tidak ada kata lain kecuali mengapresiasi dan menyambut positif terselenggaranya Ma’had ‘Aly TBS ini. Kebetulan saya masih diamanati sebagai Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, yang mengelola program doktor ilmu falak, kehadiran Ma’had ‘Aly bisa menjaid mitra. Memang bagi program S1 Ilmu Falak  Fakultas Syariah dan Hukum, bisa saja ditafsiri sebagai “pesaing baru”, apalagi dengan basik yang berbeda. UIN basiknya lebih variatif, sementara di TBS rasanya “wajib” berbasis pesantren. Maka tafsirnya, musti dengan kompromi atau “al-jam’u wa t-taufiq” atau menyatukan dan mengompromikan. Dalam dunia bisnis, suatu “produk” semakin banyak produsen atau yang menjajakan, maka produk tersebut adalah produk yang menjadi kebutuhan penting. Karena itu, tidak perlu ada komentar yang tidak perlu, karena dunia pendidikan apalagi untuk menyiapkan ahli falak di dunia Indonesia ini, masih sangat diperlukan. Kalau ada pertanyaan, apakah setelah ada lulusan Ma’had ‘Aly TBS yang ahli falak rasa astrnom, apakah kemudian tidak ada lagi perbedaan dalam penentuan awal Ramadlan, awal Syawwal, dan awal Dzulhijah? Ini pertanyaan kritis tetapi jawabnya tidak mudah. Karena ini seperti pertanyaan maaf, “apakah tambahnya lulusan akpol, akmil, dan sarjana lainnya, akan berkorelasi menurunkan angka kriminalitas, gerakan separatis, atau problematika sosial lainnya”? Soal penentuan awal bulan Qamariyah, di Indonesia ini, tampak indahnya justru karena ada perbedaan itu. Mengapa, karena “instrumen test” kematangan berdemokrasi dan bertoleransi tampak matang dengan perbedaan itu. Dalam soal ibadah dan internal sesama kaum Muslim saja, bisa berjalan dengan baik, apalagi dengan penganut agama lain. Tentu ini, harus difahami dan dimaknai secara cerdas. Karena meskipun dalilnya sama, Al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan sumber dan rujukan sama, namun metode pemahamannya berbeda, akan menghasilkan rumusan atau formulasi hukum yang berbeda. Apalagi jika sudah ada pertimbangan di luar akademik dan keagamaan, maka tentu akan lebih variatif lagi. MUI sudah mensosialisasikan kaidah yang sangat dikenal, “hukm al-hakim ilzam wa yarfa’u l-khilaf” artinya “putusan hukum pemerintah itu mengikat dan menghilangkan perbedaan pendapat”. Itu teorinya, namun dalam kenyataannya, dengan dalih soal keyakinan karena terkait dengan amaliyah keagamaan, maka pemerintah juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Karena itu, tidak ada pilihan lain, kecuali merawat dan memelihara perbedaan tersebut, agar tetap menjadi rahmat dan kasih sayang. Yang terakhir ini pun, didasari kaidah selain “ikhtilafu ummati rahmah” artinya “perbedaan pedapat ummatku adalah kasih sayang”, juga ada kaidah “man lam yasyumma raihata l-khilaf lam yasyumma raihata l-fiqh” artinya “barang siapa tidak mampu mencium aroma perbedaan pendapat, berarti ia tidak mampu mencium aroma fiqh”. Yang terpenting, bagaimana kita mampu melakukan “literasi” dan mendewasakan umat kita, agar makin terbiasa dan terbudaya dengan perbedaan, sehingga kesimpulannya adalah “sepakat dalam perbedaan” atau “berbeda dengan kesepakatan”. Selamat Ma’had ‘Aly TBS, almamaterku, semoga Allah senantiasa melapangkan jalan “rizqimu” dan menggelar keberkahan padamu, untuk menyiapkan generasi Ahli Falak Rasa Astronom, atau Astronom yang Ahli Agama”. Selamat “merawat tradisi dan menebar innovasi”. Tekadmu dan kerja kerasmu, ditunggu umat. Jadilah yang terbaik dan paling member banyak manfaat. Sudah saatnya dari pondok pesantren, yang akan menjadi leader bangsa ini di masa depan. Allah a’lam bi sh-shawab. Wassalamualaikjm wrwb. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *