Home / KOLOM DIREKTUR / MENGAPA SULIT UNTUK IKHLAS

MENGAPA SULIT UNTUK IKHLAS

Assalamualaikum wrwb.
     Alhamdulillah wa sy-syukru liLlah, puji dan syukur kita ungkapkan ke hadirat Allah Swt. Anugrah dan inayah-Nya begitu besar. Meskipun anugrah juga bisa berarti ujian. Ujian-Nya pada kita semua bisa berarti Allah menyayangi kita, tetapi jika kita gagal dan tidak lulus. Artinya kita hatus terus belajar dan belajar, karena hidup dan mati adalah ujian kita sebagai manusia, agar kita menjadi hamba-Nya yang terbaik amal ibadah kita.
     Shalawat dan salam, mari terus wirid dan senandungkan pada tokoh teladan kita, Rasulullah saw. Juga untuk keluarga, sahabat, dan pengikutnya, mengiringi Allah dan para malaikat yang senantiasa bershalawat untuk beliau (QS. Al-Ahzab:56).
Semoga syafaat beliau kelak di hari akhir, akan memayungi kita. Amin.
     Saudaraku yang dirahmati Allah, dalam ungkapan bijak dikatakan العمل جسم وروحه الاخلاص  artinya “amal perbuatan kita itu  adalah (laksana) jasmani, dan ruh (jiwa)-nya adalah ikhlas”. Amal perbuatan yang kita laksanakan, baik itu ibadah mahdlah yang tata cara (kaifiyat)-nya sudah diatur dan ditentukan secara rinci, maupun ibadah sosial, baik kebendaan atau perbuatan, hanya akan menjadi onggokan fisik jasmani, tanpa ruh atau nyawa. Anda bisa bayangkan, berarti amal kita tidak ada nilai dan maknanya.
     Ditegaskan dalam Al-Qur’an:
وَمَا أُمِرُوا إِلَّا لِيَعْبُدُوا اللهَ مُخْلِصِينَ لَهُ الدِّينَ حُنَفَاءَ وَيُقِيمُوا الصَّلَاةَ وَيُؤْتُوا الزَّكَاةَ وَذَٰلِكَ دِينُ الْقَيِّمَةِ البينة ٥
“Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian itulah agama yang lurus” (QS. Al-Bayyinah:5).
Imam Al-Ghazali mengatakan:
هَلَكَ النَّاسُ كُلُّهُمْ إِلاَّ الْعُلَمَاءْ , وَهَلَكَ الْعُلَمَاء كُلُّهُمْ إِلاَّ الْعَامِلِيْنَ ,
وَهَلَكَ الْعَامِلُوْنَ كُلُّهُمْ إِلاَّ الْمُخْلِصِيْنَ , وَالْمُخْلِصُوْنَ عَلىَ خَطْرٍ عَظِيْمٍ
”Setiap manusia akan binasa kecuali orang yang berilmu, dan orang yang berilmu akan binasa kecuali yang beramal (dengan ilmunya), dan orang yang beramal juga binasa kecuali yang ikhlas (dalam amalnya). Dan orang yang ikhlas tetap harus waspada dan berhati-hati dalam beramal”.
     Saudaraku, ikhlas artinya mengamalkan sesuatu hanya semata-mata diniatkan untuk Allah, guna mendapatkan ridla-Nya. Memang mudah diucapkan, akan tetapi rasanya sulit dilaksanakan. Misalnya, kita menjalankan tugas dan kegiatan yang sama, tetapi imbalan atau kompensasinya berbeda. Agaknya, secara diam-diam hati kecil kita protes, wah ini tidak adil. Sementara ketika kita beribadah kepada Allah juga hanya di sisa-sisa waktu di tengah kesibukan rutin kita, tetapi kita merasa sudah berhak menuntut kepada Allah.
Terlebih lagi, dalam urusan jatah rizqi, kita tidak jarang mengeluh kepada Allah, merasa sudah rajin shalat tahajud, shalat dluha yang tidak pernah kelewatan, tetapi rizqi tetap tidak lancar.
     Saudaraku, kelasnya sahabat yang merupakan pintu ilmu, Ali ibn Abi Thalib saja, suatu saat ditest oleh Rasulullah saw. Apabila bisa shalat khusyu’ akan diberi hadiah. Baru dua rakaat ternyata tidak mampu khusyu’. Bermula dari Ali bin Abi Thalib ra melihat seseorang yang shalat tetapi kelihatan tidak khusyu’. Lalu ia tanya kepada Rasulullah saw, “wahai Rasulullah saw, shalat apakah itu, kok tidak menunjukkan kekhusyuan sama sekali”? Rasulullah saw kemudian bersabda: “Wahai Ali, bisakah engkau shalat 2 rakaat dengan khusyu'”? Setelah itu, Ali mengambil wudlu. Setelah itu Rasulullah saw menyerahkan dua surban kepada Ali, dan bersabda: “Wahai Ali, ini ada dua surban, satu dari Irak dan satu dari Yaman. Aku kasih engkau surban dari Irak jika engkau berhasil shalat dua rakaat dengan khusyu'”. Ternyata, Ali baru masuk rakaat kedua, sudah ruku’ pada rakaat kedua lebih lama dari rakaat yang pertama.
     Setelah selesai, Rasulullah saw bertanya, “mengapa ruku’mu pada rakaat kedua lebih lama daripada rakaat yang pertama?” Ali bin Abi Thalib menjawab: “Betul wahai Rasulullah, saya teringat surban. Andai saja engkau memberikan surban yang dari Yaman, tentu lebih bagus dan indah. Inilah yang saya ingat waktu ruku’ pada rakaat kedua wahai Rasulullah saw”.
     Saudaraku, antara khusyu’ dan ikhlas memang dua hal yang berbeda. Akan tetapi keikhlasan dalam beribadah setidaknya akan melahirkan kekhusyu’an. Namun pengalaman Ali bin Abi Thalib ra sebagaimana diuraikan di atas, dapat memberikan pelajaran berharga pada kita semua, betapa ikhlas itu mudah diucapkan akan tetapi sulit sekali dipraktikkan. Tidak ada pilihan lain bagi kita, kecuali kita harus berusaha semaksimal mungkin, untuk bisa ikhlas. Saya sering menyederhanakan, ikhlas itu bisa diwujudkan apabila kita sudah lupa.
     Karena itu Rasulullah saw mengingatkan, apabila kita ingin mendapatkan kebahagiaan, kita harus melupakan perbuatan baik yang pernah kita lakukan kepada orang lain. Selain itu, kita dianjurkan mengingat-ingat perbuatan salah yang pernah kita lakukan kepada orang lain. Beberapa hal berikut, diharapkan dapat meraih keikhlasan: pertama, membersihkan hati dan berniat ibadah dan melakukan apapun yang baik, hanya semata mengharap ridha Allah.
     Kedua, menanamkan sikap qanaah dan ridha atas apa yang kita terima dari Allah Swt. Apalagi dalam soal rizqi dan materi duniawi. Masing-masing kita sudah mendapatkan jatah rizqi sesuai dengan usaha dan daya tampung kita. Alkisah, Ibnu Ishaq yang dikutip Ibnu Katsir menceritakan, bahwa Tsa’labah bin Hathib al-Anshary, karena merasa hidup serba kekurangan, ia mohon Rasulullah saw untuk mendoakannya, agar Allah memberikan rizqi  berupa harta yang banyak. Rasulullah saw pun sudah mengingatkan, “sedikit harta yang engkau syukuri lebih baik daripada banyak tetapi engkau tidak sanggup mensyukurinya” (almanhaj.or.id, diakses 30/03/2017).
Pendek cerita, akhirnya Tsa’labah menjadi orang kaya, tetapi tidak mampu mensyukurinya, bahkan konon kemudian “diperbudak” oleh hartanya.
     Ada beberapa komentar, bahwa riwayat di atas lemah. Karena tidak sejalan dengan prinsip الصحابة كلهم عدول  artinya “para sahabat seluruhnya adalah adil”. Bahkan konon Tsa’labah adalah salah satu pasukan Badar. Apalagi ungkapan Rasulullah saw “اصحابي كالنجوم بايهم اقتديتم اهتديتم  artinya “sahabatku laksana bintang gemintang, kepada kalian mengikuti, maka kalian akan mendapat hidayah”. (Riwayat Abd al-Rahim dari Ayahnya dari Sa’id bin al-Musayyab).
     Ketiga, berusaha terus menerus menghadirkan Allah dalam setiap denyut nadi, aliran darah, dan hirupan serta hembusan nafas kita. Setidaknya kita berusaha mampu melihat Allah dalam setiap laku kita, atau kita yakini Allah senantiasa melihat tingkah laku atau bahkan getar hati dan fikiran kita.
Saudaraku
     Semoga Allah memudahkan niat kita untuk bisa ikhlas dalam beribadah dan apapun tingkah laku kita. Sesulit apapun ikhlas itu dapat kita tanamkan dalam jiwa kita, itulah ruh atau nyawa amalan kita. Amin.
ان اريد الا الاصلاح ما استطعت وما توفيقي ال بالله حسبنا الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير  الله اعلم بالصواب
Wassalamualaikum wrwb.
Rapat Senat Auditorium II Kampus III UIN Walisongo, 30/3/2017.

Check Also

MA’HAD ‘ALY TBS: MENYEMAI AHLI FALAK YANG ASTRONOM

Assalamualaikum wrwb. Al-hamdu liLlah wa sy-syukru liLlah. Segala puji dan syukur hanya milik Allah. Marilah kita syukuri anugrah dan pertolongan Allah, hanya karena dengan kasih sayang dan pertolongan Allah kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktivitas kita hari ini. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan pengikut yang setia dan istiqamah meneadani beliau.  Semoga semua urusan kita diberi kemudahan oleh Allah dan kelak di akhirat kita mendapat syafaat beliau. Saudaraku, kemarin Sabtu, 20 Rajab 1439 H bertepatan dengan 7/4/2018 M saya mendapat kehormatan untuk ikut menyaksikan peyerahan Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Islam, oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, tentang persetujuan Pesantren TBS (Tasywiquth Thullab Salafiyah) sebagai penyelenggara Program Pendidikan Ma’had ‘Aly. Nama TBS – memang unik – karena kepanjangannya “tidak simetris” karena T diambil dari huruf “ta” dari kata “tasywiq” dan B diambil huruf terakhir kata “thullab” bentuk jama’ dari kata “thalib” yang artinya murid, siswa, atau peserta didik dalam bahasa sekarang. Seingat saya, saat saya masih menjadi “santri” huruf S itu singkatan dari kata “school” yang artinya sekolah atau madrasah. Dalam perjalanannya, huruf S ini diambil dari huruf “sin” dari kata salafiyah, yang artinya madrasah. Kata “Tasywiqu th-Thullab Salafiyah” artinya “Bronto – atau intellectual curiousity– nya Santri yang berpendidikan Salafiyah”. Salafiyah juga dalam penggunaan keseharian berbeda dengan “Salafi”.  TBS merancang dan mengelola pendidikan meskipun pada dasarnya adalah madrasah formal atau klasikal, namun desain kurikulum dan tata kelolanya, mengikuti model pondok pesantren. Saya sendiri, belajar di TBS ini selama “tujuh” tahun dengan sistem dan model yang unik juga. Setelah lulus SD dan MI di Kampung, didaftarkan di TBS. Test kemampuan dimulai dengan materi test kelas empat  MI, hari itu juga diumumkan. Besok paginya, test kemampuan untuk kelas lima, siangnya langsung diumumkan. Berarti lolos kelas 5. Besok paginya diikutkan test kemampuan kelas enam, sayang belum beruntung. Akhirnya “harus” mengikuti pelajaran dari kelas lima. Setelah satu semester, dievaluasi, dan ini yang menarik, saya diperintahkan untuk “naik kelas” di pertengahan tahun, ke kelas enam. Pendek cerita, al-hamdu liLlah, saya dinyatakan mampu melewati kelas enam MI TBS dan lulus dengan mendapat peringkat satu. Saya menerima hadiah dan senang sekali, yakni kitab “Riyadlu sh-Shalihin” dan “Sarung” yang hingga kini tidak terlupakan. Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah saya selesaikan secara normal enam tahun. Namanya juga Salafiyah, kurikulumnya, dari MI ilmu nahwunya belajar Ajrumiyah – terkenalnya Jurumiyah  – dan ‘Imrithy. Pada Tsanawiyah imu nahwu sudah harus menghafal nadham “Alfiyah” atau seribu nadham yang ditulis oleh Imam Ibnu Malik. Di Madrasah Aiyah, ilmu nahwu sudah menggunakan Syarah atau Komentar atas Alfiyah Ibn Malik, yaitu Ibnu ‘Aqil. Saya tidak sebutkan semuanya, karena dengan kitab-kitab yang menjadi maraji’ pembelajaran ilmu Nahwu tersebut, sudah terbayang model dan sistem pendidikannya, dan seperti apa lulusannya.  Maaf, ini bukan kalimat “kesombongan” karena insyaa Allah, saya tidak ada potongan “sombong”, apalagi saya sadar ilmu saya sangat tidak seberapa. Saudaraku, Ma’had ‘Aly TBS menurut data Direktorat PD Pontren Kementerian Agama adalah yang ke 27, dan memilih spesialisasi atau takhashshush Ilmu Falak. Maka, selain penyerahan SK, juga digelar Halaqah Falakiyah dengan tagline “Merawat Tradisi Menebar Innovasi”. Selain karena alasan Ilmu Falak selama ini makin “langka” peminatnya. Bahkan Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, sejak ada program Beasiswa 5.000 Doktor di Kementerian Agama, distingsinya adalah menyiapkan Doktor Ilmu Falak. Bahkan di tahun 2017, hanya terisi 7 mahasiswa. Untung saja Pascasarjana UIN Walisongo membuka konsentrasi baru Manajemen Halal dan Hukum Keluarga, jadinya “kuotanya” terpenuhi. Ma’had ‘Aly TBS juga pada saatnya akan menyuplai calon mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo tentu kalau sudah meluluskan. Pada saat saya masih di MTs, TBS sudah mengajarkan ilmu Falak dan di antaranya  mengoperasikan rubu’ mujayyab. Di TBS sangat dikenal KH Turaihan Ajhury asy-Syarafy al-Falaky, ahli falak sangat terkenal di jagad Indonesia, terutama kalender atau almanak Menara Kudus yang khas. Juga ada KH Abdul Jalil, dan masih ada beberapa ahli falak lainnya. Sebagai alumnus TBS, tidak ada kata lain kecuali mengapresiasi dan menyambut positif terselenggaranya Ma’had ‘Aly TBS ini. Kebetulan saya masih diamanati sebagai Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, yang mengelola program doktor ilmu falak, kehadiran Ma’had ‘Aly bisa menjaid mitra. Memang bagi program S1 Ilmu Falak  Fakultas Syariah dan Hukum, bisa saja ditafsiri sebagai “pesaing baru”, apalagi dengan basik yang berbeda. UIN basiknya lebih variatif, sementara di TBS rasanya “wajib” berbasis pesantren. Maka tafsirnya, musti dengan kompromi atau “al-jam’u wa t-taufiq” atau menyatukan dan mengompromikan. Dalam dunia bisnis, suatu “produk” semakin banyak produsen atau yang menjajakan, maka produk tersebut adalah produk yang menjadi kebutuhan penting. Karena itu, tidak perlu ada komentar yang tidak perlu, karena dunia pendidikan apalagi untuk menyiapkan ahli falak di dunia Indonesia ini, masih sangat diperlukan. Kalau ada pertanyaan, apakah setelah ada lulusan Ma’had ‘Aly TBS yang ahli falak rasa astrnom, apakah kemudian tidak ada lagi perbedaan dalam penentuan awal Ramadlan, awal Syawwal, dan awal Dzulhijah? Ini pertanyaan kritis tetapi jawabnya tidak mudah. Karena ini seperti pertanyaan maaf, “apakah tambahnya lulusan akpol, akmil, dan sarjana lainnya, akan berkorelasi menurunkan angka kriminalitas, gerakan separatis, atau problematika sosial lainnya”? Soal penentuan awal bulan Qamariyah, di Indonesia ini, tampak indahnya justru karena ada perbedaan itu. Mengapa, karena “instrumen test” kematangan berdemokrasi dan bertoleransi tampak matang dengan perbedaan itu. Dalam soal ibadah dan internal sesama kaum Muslim saja, bisa berjalan dengan baik, apalagi dengan penganut agama lain. Tentu ini, harus difahami dan dimaknai secara cerdas. Karena meskipun dalilnya sama, Al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan sumber dan rujukan sama, namun metode pemahamannya berbeda, akan menghasilkan rumusan atau formulasi hukum yang berbeda. Apalagi jika sudah ada pertimbangan di luar akademik dan keagamaan, maka tentu akan lebih variatif lagi. MUI sudah mensosialisasikan kaidah yang sangat dikenal, “hukm al-hakim ilzam wa yarfa’u l-khilaf” artinya “putusan hukum pemerintah itu mengikat dan menghilangkan perbedaan pendapat”. Itu teorinya, namun dalam kenyataannya, dengan dalih soal keyakinan karena terkait dengan amaliyah keagamaan, maka pemerintah juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Karena itu, tidak ada pilihan lain, kecuali merawat dan memelihara perbedaan tersebut, agar tetap menjadi rahmat dan kasih sayang. Yang terakhir ini pun, didasari kaidah selain “ikhtilafu ummati rahmah” artinya “perbedaan pedapat ummatku adalah kasih sayang”, juga ada kaidah “man lam yasyumma raihata l-khilaf lam yasyumma raihata l-fiqh” artinya “barang siapa tidak mampu mencium aroma perbedaan pendapat, berarti ia tidak mampu mencium aroma fiqh”. Yang terpenting, bagaimana kita mampu melakukan “literasi” dan mendewasakan umat kita, agar makin terbiasa dan terbudaya dengan perbedaan, sehingga kesimpulannya adalah “sepakat dalam perbedaan” atau “berbeda dengan kesepakatan”. Selamat Ma’had ‘Aly TBS, almamaterku, semoga Allah senantiasa melapangkan jalan “rizqimu” dan menggelar keberkahan padamu, untuk menyiapkan generasi Ahli Falak Rasa Astronom, atau Astronom yang Ahli Agama”. Selamat “merawat tradisi dan menebar innovasi”. Tekadmu dan kerja kerasmu, ditunggu umat. Jadilah yang terbaik dan paling member banyak manfaat. Sudah saatnya dari pondok pesantren, yang akan menjadi leader bangsa ini di masa depan. Allah a’lam bi sh-shawab. Wassalamualaikjm wrwb. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *