Home / KOLOM DIREKTUR / MAHALNYA KETELADANAN DI NEGERI INI

MAHALNYA KETELADANAN DI NEGERI INI

Assalamualaikum wrwb.
     Saudaraku yang dirahmati Allah Swt. Mari kita terus syukuri nikmat dan anugrah-Nya, kita sehat afiat, menghirup udara segar tanpa bantuan alat, darah kita beredar lancar tanpa sumbagan di pembuluh, dan keluarga semua sukses, adalah berbagai macam kenikmatan yang pasti kita tidak mampu menghitungnya.
     Shalawat dan salam mari senantiasa kita wiridkan dalam setiap kesempatan, pada Baginda Rasulullah saw, keluarga, sahabat, dan para pengikut beliau, mengiringi dzikir kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Semoga cinta kita terus membara kepada beliau, sehingga kita konsisten meneladani beliau, di tengah makin susahnya mendapatkan teladan di negeri ini.
     Saudaraku, memasuki bulan Rajab 1438 H, nanti malam, kita yang cinta pada Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan semua pimpinan di negeri ini, kiranya perlu melakukan muhasabah atau introspeksi diri. Tentu tidak ada maksud menggurui siapapun, karena ajakan atau himbauan, adalah bagian dari perintah agama, تواصوا بالحق وتواصوا بالصبر  artinya “saling berwasiat dalam kebenaran dan saling berwasiat dalam kesabaran” (QS. Al-‘Ashr: 3). Ini karena manusia biasa, diingatkan oleh Allah, “sungguh dalam keadaan merugi, kecuali orang-orang yang beriman dan beramal shalih” dan saling mengingatkan agar supaya selalu berusaha berturut kata, berprilaku, dan bertindak yang benar, dan sabar di dalam menghadapi segala macam cobaan dan ujian.
     Saudaraku, tidak mudah melupakan bagi kita mencuatnya kasus e-KTP yang diduga merugikan uang rakyat dan uang negara hingga 2,3 trilyun rupiah. Yang diduga terlibat juga tidak tanggung-tanggung, mereka para pejabat atau petinggi negeri ini. Tentu kita tidak bisa berkesimpulan apakah mereka yang disebut nama-namanya —  baik dari lembaga legislatif, eksekutif, atau pun pihak rekanan —  di media itu benar-benar bersalah, karena proses peradilan sedang berjalan, terutama pemeriksaan para saksi. Sudah ada dua orang yang dinyatakan sebagai terdakwa. Karena NKRI menganut asas presumption of innocence atau praduga tidak bersalah. Biar para aparat penegak hukum, terutama para hakim yang menerima, memeriksa, mengadili siapapun yang terlibat dan memutuskannya dengan seadil-adilnya. Tidak ada tebang pilih, semua mendapat perlakuan hukum yang sama (equality before the law), sehingga kesan bahwa pisau hukum hanya tajam ke bawah dan tumpul ke atas, dapat sirna dari negeri ini, atau setidaknya dapat dikikis atau diminimalisasi.
     Sebagai negara hukum (rechtstaat), NKRI yang kita cintai ini, para pejabat dan petingginya, tidak sepatutnya bermain-main atau tidak serius dalam menegakkan hukum. Karena apabila ini masih terjadi, bahaya yang mengancam adalah lahirnya ketidakpercayaan masyarakat (distrust) kepada hukum dan aparat penegak hukumnya. Implikasi berikutnya, adalah makin menggejalanya  anggota masyarakat “main hakim sendiri”, konflik horizontal makin sering terjadi, dan ketika sudah membesar, aparat tidak cukup powerful untuk mengatasinya dengan cepat.
     Saudaraku, kita ingat nasihat leluhur yakni tokoh pendidikan kita, Ki Hadjar Dewantara, ing ngarso sung tulodho, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani”. Artinya “di depan memberikan teladan, di tengah membangun kreasi, rencana, dan program, dan di belakang mendorong dan mendukung dengan daya dan kekuatan”.
Dalam ungkapan Arab, seseorang dijadikan pemimpin itu karena untuk diikuti. Kita simak hadits berikut:
ففي الصحيحين من حديث أنس رضي الله عنه قال: قال رسول الله صلى الله عليه وسلم: “إنما جعل الإمام ليؤتم به، فإذا كبر فكبروا، وإذا ركع فاركعوا، وإذا رفع فارفعوا وإذا قال: سمع الله لمن حمده، فقولوا: ربنا ولك الحمد، وإذا سجد فاسجدوا” الحديث.
Dalam kita Shahih (al-Bukhary dan Muslim) riwayat dari Anas ra. berkata, Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya seseorang dijadikan imam (pemimpin) adalah untuk diikutinya, maka ketika imam bertakbir, maka bertakbirlah, jika ruku’ maka ruku’lah, jika bangun dari ruku’ maka bangunlah, jika (imam) mengatakan sami’a Allah liman hamidah (Allah mendengar pada orang yang memuji-Nya), maka berkatalah kamu, Rabbana wa lakal hamdu (Ya Tuhan kami, dan bagi-Mu segala puji), dan jika (imam) sujud, maka sujudlah kamu” (al-Hadits).
      Imam dalam kontek politik, negara, pemerintahan, atau lembaga apapun termasuk legislatif, eksekutif, yudikatif, dan organisasi kemasyarakatan pun, adalah pemimpin. Idealnya seorang pemimpin adalah orang-orang yang memiliki integritas moral yang baik dan terpuji, berpengetahuan yang memadai, memiliki sifat sidiq (jujur), amanah (dapat dipercaya), tabligh (komunikatif, terbuka), dan fathanah (cerdas, sensisitif, dan peka dalam berbagai permasalahan untuk segera mencari solusi, bukan menambah masalah).
Karena itu, sifat dan sikap keteladanan atau ing ngarso sung tulodho, qudwah hasanah, dari para pemimpin apapun posisinya, merupakan suatu keniscayaan, conditio sine quanon.
     Pemimpin yang tidak jelas integritas moralnya, mulutnya kasar, tindakannya tidak santun, pasti akan melahirkan prilaku masyarakat yang menirunya. Ini bagian dari sunnatuLlah atau hukum alam. Karena adil tidak cukup dan tidak akan banyak membawa dampak positif, jika pemimpin tidak bisa diteladani ucapannya, sifat, dan prilakunya. Apabila Rasulullah saw mengingatkan, bahwa pemimpin yang tidak adil maka warganya akan saling memangsa (لولا عدل الامراء لاكل الناس بعضهم بعضا ), maka ketiadaan teladan dan keteladanan dari pemimpin, akan melahirkan sifat dan sikap meniru. Eh ternyata menjadi pemimpin itu boleh ngomong kasar, bertindak semaunya, menggusur warga miskin yang tidak mampu membayar pajak, dan lain-lain, maka rakyat akan meniru dan mempraktikkannya.
     Saudaraku, mari kita sama-sama melakukan introspeksi diri atau muhasabah sebagai bangsa besar ini. Bagi Anda yang mempunyai hak pilih, dalam lingkup besar maupun kecil, pilihlah pemimpin yang memang menurut hati nurani Anda, mereka itu memenuhi syarat, berakhlak baik, memikirkan nasib rakyatnya, dan memberi keteladanan dalam hidup yang sederhana. Jangan pertaruhkan masa depan Anda dengan salah memilih pemimpin. Karena dampak yang timbul dari seorang pemimpin, meskipun hanya lima tahun akan membutuhkan waktu yang sangat lama untuk memperbaikinya. Kita semua berharap kasus e-KTP dan kasus-kasus besar lainnya, dapat segera diselesaikan secara cepat, kalau perlu maraton, agar tidak terlalu lama masyarakat kita, terutama yang masih anak-anak dan remaja, tidak terlalu lama melihat dengan mata kepala mereka, adegan-adegan para pemimpinnya, yang dapat mematrikan bekas luka karena hilangnya keteladanan dari pemimpin negeri ini di hati dan perasaan mereka.
     Kita hanya bisa berusaha sesuai dengan aturan, di mana pun kita berada, dan berdoa, semoga Allah Tuhan Yang Maha Kuasa, memberikan kuasa dan kehendak-Nya memberikan NKRI yang kita cintai ini, pemimpin yang memang layak diikuti dan memberi teladan dan keteladanan yang baik. Dengan demikian kita masih punya sisa wujudnya baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur.
     Allah a’lam bi al-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.
Ngaliyan Semarang, 28/3/2017.

Check Also

MA’HAD ‘ALY TBS: MENYEMAI AHLI FALAK YANG ASTRONOM

Assalamualaikum wrwb. Al-hamdu liLlah wa sy-syukru liLlah. Segala puji dan syukur hanya milik Allah. Marilah kita syukuri anugrah dan pertolongan Allah, hanya karena dengan kasih sayang dan pertolongan Allah kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktivitas kita hari ini. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan pengikut yang setia dan istiqamah meneadani beliau.  Semoga semua urusan kita diberi kemudahan oleh Allah dan kelak di akhirat kita mendapat syafaat beliau. Saudaraku, kemarin Sabtu, 20 Rajab 1439 H bertepatan dengan 7/4/2018 M saya mendapat kehormatan untuk ikut menyaksikan peyerahan Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Islam, oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, tentang persetujuan Pesantren TBS (Tasywiquth Thullab Salafiyah) sebagai penyelenggara Program Pendidikan Ma’had ‘Aly. Nama TBS – memang unik – karena kepanjangannya “tidak simetris” karena T diambil dari huruf “ta” dari kata “tasywiq” dan B diambil huruf terakhir kata “thullab” bentuk jama’ dari kata “thalib” yang artinya murid, siswa, atau peserta didik dalam bahasa sekarang. Seingat saya, saat saya masih menjadi “santri” huruf S itu singkatan dari kata “school” yang artinya sekolah atau madrasah. Dalam perjalanannya, huruf S ini diambil dari huruf “sin” dari kata salafiyah, yang artinya madrasah. Kata “Tasywiqu th-Thullab Salafiyah” artinya “Bronto – atau intellectual curiousity– nya Santri yang berpendidikan Salafiyah”. Salafiyah juga dalam penggunaan keseharian berbeda dengan “Salafi”.  TBS merancang dan mengelola pendidikan meskipun pada dasarnya adalah madrasah formal atau klasikal, namun desain kurikulum dan tata kelolanya, mengikuti model pondok pesantren. Saya sendiri, belajar di TBS ini selama “tujuh” tahun dengan sistem dan model yang unik juga. Setelah lulus SD dan MI di Kampung, didaftarkan di TBS. Test kemampuan dimulai dengan materi test kelas empat  MI, hari itu juga diumumkan. Besok paginya, test kemampuan untuk kelas lima, siangnya langsung diumumkan. Berarti lolos kelas 5. Besok paginya diikutkan test kemampuan kelas enam, sayang belum beruntung. Akhirnya “harus” mengikuti pelajaran dari kelas lima. Setelah satu semester, dievaluasi, dan ini yang menarik, saya diperintahkan untuk “naik kelas” di pertengahan tahun, ke kelas enam. Pendek cerita, al-hamdu liLlah, saya dinyatakan mampu melewati kelas enam MI TBS dan lulus dengan mendapat peringkat satu. Saya menerima hadiah dan senang sekali, yakni kitab “Riyadlu sh-Shalihin” dan “Sarung” yang hingga kini tidak terlupakan. Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah saya selesaikan secara normal enam tahun. Namanya juga Salafiyah, kurikulumnya, dari MI ilmu nahwunya belajar Ajrumiyah – terkenalnya Jurumiyah  – dan ‘Imrithy. Pada Tsanawiyah imu nahwu sudah harus menghafal nadham “Alfiyah” atau seribu nadham yang ditulis oleh Imam Ibnu Malik. Di Madrasah Aiyah, ilmu nahwu sudah menggunakan Syarah atau Komentar atas Alfiyah Ibn Malik, yaitu Ibnu ‘Aqil. Saya tidak sebutkan semuanya, karena dengan kitab-kitab yang menjadi maraji’ pembelajaran ilmu Nahwu tersebut, sudah terbayang model dan sistem pendidikannya, dan seperti apa lulusannya.  Maaf, ini bukan kalimat “kesombongan” karena insyaa Allah, saya tidak ada potongan “sombong”, apalagi saya sadar ilmu saya sangat tidak seberapa. Saudaraku, Ma’had ‘Aly TBS menurut data Direktorat PD Pontren Kementerian Agama adalah yang ke 27, dan memilih spesialisasi atau takhashshush Ilmu Falak. Maka, selain penyerahan SK, juga digelar Halaqah Falakiyah dengan tagline “Merawat Tradisi Menebar Innovasi”. Selain karena alasan Ilmu Falak selama ini makin “langka” peminatnya. Bahkan Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, sejak ada program Beasiswa 5.000 Doktor di Kementerian Agama, distingsinya adalah menyiapkan Doktor Ilmu Falak. Bahkan di tahun 2017, hanya terisi 7 mahasiswa. Untung saja Pascasarjana UIN Walisongo membuka konsentrasi baru Manajemen Halal dan Hukum Keluarga, jadinya “kuotanya” terpenuhi. Ma’had ‘Aly TBS juga pada saatnya akan menyuplai calon mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo tentu kalau sudah meluluskan. Pada saat saya masih di MTs, TBS sudah mengajarkan ilmu Falak dan di antaranya  mengoperasikan rubu’ mujayyab. Di TBS sangat dikenal KH Turaihan Ajhury asy-Syarafy al-Falaky, ahli falak sangat terkenal di jagad Indonesia, terutama kalender atau almanak Menara Kudus yang khas. Juga ada KH Abdul Jalil, dan masih ada beberapa ahli falak lainnya. Sebagai alumnus TBS, tidak ada kata lain kecuali mengapresiasi dan menyambut positif terselenggaranya Ma’had ‘Aly TBS ini. Kebetulan saya masih diamanati sebagai Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, yang mengelola program doktor ilmu falak, kehadiran Ma’had ‘Aly bisa menjaid mitra. Memang bagi program S1 Ilmu Falak  Fakultas Syariah dan Hukum, bisa saja ditafsiri sebagai “pesaing baru”, apalagi dengan basik yang berbeda. UIN basiknya lebih variatif, sementara di TBS rasanya “wajib” berbasis pesantren. Maka tafsirnya, musti dengan kompromi atau “al-jam’u wa t-taufiq” atau menyatukan dan mengompromikan. Dalam dunia bisnis, suatu “produk” semakin banyak produsen atau yang menjajakan, maka produk tersebut adalah produk yang menjadi kebutuhan penting. Karena itu, tidak perlu ada komentar yang tidak perlu, karena dunia pendidikan apalagi untuk menyiapkan ahli falak di dunia Indonesia ini, masih sangat diperlukan. Kalau ada pertanyaan, apakah setelah ada lulusan Ma’had ‘Aly TBS yang ahli falak rasa astrnom, apakah kemudian tidak ada lagi perbedaan dalam penentuan awal Ramadlan, awal Syawwal, dan awal Dzulhijah? Ini pertanyaan kritis tetapi jawabnya tidak mudah. Karena ini seperti pertanyaan maaf, “apakah tambahnya lulusan akpol, akmil, dan sarjana lainnya, akan berkorelasi menurunkan angka kriminalitas, gerakan separatis, atau problematika sosial lainnya”? Soal penentuan awal bulan Qamariyah, di Indonesia ini, tampak indahnya justru karena ada perbedaan itu. Mengapa, karena “instrumen test” kematangan berdemokrasi dan bertoleransi tampak matang dengan perbedaan itu. Dalam soal ibadah dan internal sesama kaum Muslim saja, bisa berjalan dengan baik, apalagi dengan penganut agama lain. Tentu ini, harus difahami dan dimaknai secara cerdas. Karena meskipun dalilnya sama, Al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan sumber dan rujukan sama, namun metode pemahamannya berbeda, akan menghasilkan rumusan atau formulasi hukum yang berbeda. Apalagi jika sudah ada pertimbangan di luar akademik dan keagamaan, maka tentu akan lebih variatif lagi. MUI sudah mensosialisasikan kaidah yang sangat dikenal, “hukm al-hakim ilzam wa yarfa’u l-khilaf” artinya “putusan hukum pemerintah itu mengikat dan menghilangkan perbedaan pendapat”. Itu teorinya, namun dalam kenyataannya, dengan dalih soal keyakinan karena terkait dengan amaliyah keagamaan, maka pemerintah juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Karena itu, tidak ada pilihan lain, kecuali merawat dan memelihara perbedaan tersebut, agar tetap menjadi rahmat dan kasih sayang. Yang terakhir ini pun, didasari kaidah selain “ikhtilafu ummati rahmah” artinya “perbedaan pedapat ummatku adalah kasih sayang”, juga ada kaidah “man lam yasyumma raihata l-khilaf lam yasyumma raihata l-fiqh” artinya “barang siapa tidak mampu mencium aroma perbedaan pendapat, berarti ia tidak mampu mencium aroma fiqh”. Yang terpenting, bagaimana kita mampu melakukan “literasi” dan mendewasakan umat kita, agar makin terbiasa dan terbudaya dengan perbedaan, sehingga kesimpulannya adalah “sepakat dalam perbedaan” atau “berbeda dengan kesepakatan”. Selamat Ma’had ‘Aly TBS, almamaterku, semoga Allah senantiasa melapangkan jalan “rizqimu” dan menggelar keberkahan padamu, untuk menyiapkan generasi Ahli Falak Rasa Astronom, atau Astronom yang Ahli Agama”. Selamat “merawat tradisi dan menebar innovasi”. Tekadmu dan kerja kerasmu, ditunggu umat. Jadilah yang terbaik dan paling member banyak manfaat. Sudah saatnya dari pondok pesantren, yang akan menjadi leader bangsa ini di masa depan. Allah a’lam bi sh-shawab. Wassalamualaikjm wrwb. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *