Home / KOLOM DIREKTUR / MEMAKNAI ETIKA PERJANJIAN

MEMAKNAI ETIKA PERJANJIAN

Assalamualaikum wrwb.
     Saudaraku, mari kita syukuri anugrah Allah ‘Azza wa Jalla, dengan melakukan muhasabah atau introspeksi diri, dan mengkalkulasi ulang, apakah catatan amal baik kita, terlebih kota sebagai manusia, nyaris tidak bisa menghindari dari adanya perjanjian atau akad dengan pihak lain. Apakah kita termasuk hamba yang beruntung karena hari ini lebih baik dari yang kemarin, ataukah yang merugi karena hari ini sama dengan yang kemarin, atau bahkan yang celaka karena hari ini lebih buruk dari hari kemarin. Semoga muhasabah kita, menjadi bagian dari syukur kita, dan Allah akan memberi kesempatan kita untuk melakukan perbaikan dan menghasilkan sesuatu yang bermanfaat bagi masyarakat.
     Shalawat dan salam mari kita terus senandungkan kepada Baginda Rasulullah saw, keluarga, sahabat, dan pengikutnya. Kita semua mengharapkan syafaat dari beliau nanti di akhirat. Allah dan malaikat-Nya saja senantiasa bershalawat pada beliau, karena itu kita tentu harus lebih rajin bershalawat untuk beliau.
     Saudaraku, kata bijak leluhur kita menegaskan bahwa “janji adalah utang” atau الوعد دين . Karena itu, ketika Anda sudah memberi janji kepada orang lain, maka wajib dipenuhi. Apabila tidak dipenuhi atau mengingkari, maka itu termasuk indikasi orang yang munafiq. Begitulah kata Rasulullah saw dalam memberikan pelajaran kepada umat beliau.
عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ عَنْ النَّبِيِّ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( آيَةُ الْمُنَافِقِ ثَلَاثٌ : إِذَا حَدَّثَ كَذَبَ ، وَإِذَا وَعَدَ أَخْلَفَ ، وَإِذَا اؤْتُمِنَ خَانَ )  رواه البخاري (33) ومسلم (59)
Riwayat dari Abu Hurairah, Nabi saw bersabda: “Tanda-tanda orang munafiq ada tiga, apabila ia berbicara bohong, apabila ia berjanji ia mengingkari (menyelisihi), dan apabila diamanti ia mengkhianati” (Riwayat al-Bukhary dan Muslim).
 وقال النبي – صلى الله عليه وسلم – : المسلمون عند شروطهم  إلا شرطا حرم حلالا أو أحل حراما ” رواه البخاري والترمذي
Rasulullah saw bersabda: “Orang Islam itu (wajib memenuhi) syarat yang ditetapkan, kecuali syarat yang mengharamkan yang halal atau menghalalkan yang haram”. (Riwayat al-Bukhary dan at-Tirmidzi).
     Saudaraku, kiranya cukup jelas dari kutipan dua hadits dari Rasulullah saw. tersebut, karena itu agar keberagamaan kita tidak terganggu, mari kita berusaha secara maksimal, agar di dalam kehidupan kita sehari-hari lebih berhati-hati. Apalagi jika pernjanjian itu terkait dengan jabatan Anda yang berkaitan dengan perjanjian kerjasama antar lembaga. Karena seseorang baik dalam posisinya sebagai pribadi atau personal atau terlebih lagi sebagai pejabat, maka apabila janji atau perjanjian tersebut dilanggar secara sepihak, maka implikasinya akan dapat merusak kredibilitas dan marwah serta nama baik Anda ataupun lembaga di mana Anda diamanati mengemban jabatan sebagai pimpinan. Apalagi jkka sampai terjadi misalnya, Anda membatalkan perjanjian secara sepihak, maka di situlah Anda menyemai bibit kemunafikan dan dapat merusak citra Anda dan lembaga yang Anda kelola.
     Branding sebuah institusi membutuhkan waktu yang sangat lama untuk bisa dipercaya masyarakat luas. Namun begitu branding image institusi atau lembaga yang Anda kelola sudah mendapatkan kepercayaan masyarakat, maka customer akan sulit untuk mengalihkan pilihannya, meskipun harus rela antri agak panjang.
      Karena itu, mari kita renungkan bersama, jangan hanya karena misalnya ada kompensasi personal dari lembaga mitra yang akan menggantikan mitrakerja yang sudah lama terbangun dengan baik, kemudian Anda membatalkan secara sepihak, maka ini akan menjadi preseden yang Anda telah bangun bertahun-tahun akan menjadi fosil yang akan secara perlahan namun pasti, akan ditungguh kematiannya oleh masyarakat.  Kalau pun misalnya, dari sisi manfaat dan keuntungan yang didapat sudah tidak proporsional lagi, ada media atau peluang untuk bisa dibahas dan dikaji kembali, secara bersama-sama. Diundanglah mitrakerja yang sudah terbangun dengan baik.
     Dalam hal muamalah, dikenal adanya hak syuf’ah, atau hak menawarkan barang atau hak yang Anda jual kepada tetangga yang paling dekat. Agar apabila barang telah terjual, setidaknya tetangga terdekat itu sudah mengetahui. Dan tidak ada penyesalan di kemudian hari. Lain halnya, ketika Anda tiba-tiba menjual barang kepada orang lain, sementara sebenarnya tetangga Anda membutuhkannya dan siap membelinya, maka di situ pasti ada penyesalan yang dapat mengganggu keindahan silaturrahim.
     Saudaraku, Islam begitu menjunjung tinggi etika. Ketika Anda sedang menawar barang saja, belum terjadi transaksi, itu saja orang lain dilarang menawar barang tersebut selama belum dilepas atau dinyatakan tidak jadi dibeli. Kata Rasulullah saw, “لا يبع احدكم على بيع بعض ولا يخطب بعضكم على خطبة بعض رواه البخاري و مسلم
“Janganlah salah seorang dari kamu membeli atas yang dibeli seseorang, dan janganlah kamu meminang (mengkhitbah) seseorang yang sedang dalam pinangan orang lain”. (Riwayat al-Bukhary dan Muslim).
     Saudaraku, begitu besar makna dan nilai yang dinyatakan dalam larangan membeli barang yang sedang dalam tawaran orang lain, demikian juga jangan meminang perempuan yang sedang dalam pinangan orang lain. Pasti ini akan menimbulkan sakit hati, kemarahan, dan ketidaknyamanan bagi mitrakerja kita. Apabila Islam memposisikan pada orang yang secara sepihak melanggar akad atau transaksi sebagai orang yang munafiq, karena perbuatan tersebut sangat menyakitkan mitra kerja sama Anda.
     Semoga Anda dan kita semua termasuk orang yang menghargai kerjasama, karena ini diperintahkan oleh ajaran agama kita. Kompensasi atau apapun kalau sekiranya itu benar ada, maka tidak akan ada manfaat dan artinya, ketika silaturrahim itu rusak dan kredibilitas lembaga yang Anda kelola juga akan ikut rusak. Ini bagian dari amanah yang harus dijaga dan dipertahankan. Kredibilitas dan integritas pribadi Anda, sebagiannya ditentukan dari seberapa Anda sapat menghargai akad dan kerjasama yang Anda sudah bangun sejak lama. Namun begitu Anda yang merusaknya, maka untuk bisa membangun kembali, maka sudah pasti harus dimulai dari awal lagi.
     Allah a’lam bi al-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.
Pascasarjana UIN Walisongo, 27/3/2017.

Check Also

MA’HAD ‘ALY TBS: MENYEMAI AHLI FALAK YANG ASTRONOM

Assalamualaikum wrwb. Al-hamdu liLlah wa sy-syukru liLlah. Segala puji dan syukur hanya milik Allah. Marilah kita syukuri anugrah dan pertolongan Allah, hanya karena dengan kasih sayang dan pertolongan Allah kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktivitas kita hari ini. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan pengikut yang setia dan istiqamah meneadani beliau.  Semoga semua urusan kita diberi kemudahan oleh Allah dan kelak di akhirat kita mendapat syafaat beliau. Saudaraku, kemarin Sabtu, 20 Rajab 1439 H bertepatan dengan 7/4/2018 M saya mendapat kehormatan untuk ikut menyaksikan peyerahan Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Islam, oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, tentang persetujuan Pesantren TBS (Tasywiquth Thullab Salafiyah) sebagai penyelenggara Program Pendidikan Ma’had ‘Aly. Nama TBS – memang unik – karena kepanjangannya “tidak simetris” karena T diambil dari huruf “ta” dari kata “tasywiq” dan B diambil huruf terakhir kata “thullab” bentuk jama’ dari kata “thalib” yang artinya murid, siswa, atau peserta didik dalam bahasa sekarang. Seingat saya, saat saya masih menjadi “santri” huruf S itu singkatan dari kata “school” yang artinya sekolah atau madrasah. Dalam perjalanannya, huruf S ini diambil dari huruf “sin” dari kata salafiyah, yang artinya madrasah. Kata “Tasywiqu th-Thullab Salafiyah” artinya “Bronto – atau intellectual curiousity– nya Santri yang berpendidikan Salafiyah”. Salafiyah juga dalam penggunaan keseharian berbeda dengan “Salafi”.  TBS merancang dan mengelola pendidikan meskipun pada dasarnya adalah madrasah formal atau klasikal, namun desain kurikulum dan tata kelolanya, mengikuti model pondok pesantren. Saya sendiri, belajar di TBS ini selama “tujuh” tahun dengan sistem dan model yang unik juga. Setelah lulus SD dan MI di Kampung, didaftarkan di TBS. Test kemampuan dimulai dengan materi test kelas empat  MI, hari itu juga diumumkan. Besok paginya, test kemampuan untuk kelas lima, siangnya langsung diumumkan. Berarti lolos kelas 5. Besok paginya diikutkan test kemampuan kelas enam, sayang belum beruntung. Akhirnya “harus” mengikuti pelajaran dari kelas lima. Setelah satu semester, dievaluasi, dan ini yang menarik, saya diperintahkan untuk “naik kelas” di pertengahan tahun, ke kelas enam. Pendek cerita, al-hamdu liLlah, saya dinyatakan mampu melewati kelas enam MI TBS dan lulus dengan mendapat peringkat satu. Saya menerima hadiah dan senang sekali, yakni kitab “Riyadlu sh-Shalihin” dan “Sarung” yang hingga kini tidak terlupakan. Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah saya selesaikan secara normal enam tahun. Namanya juga Salafiyah, kurikulumnya, dari MI ilmu nahwunya belajar Ajrumiyah – terkenalnya Jurumiyah  – dan ‘Imrithy. Pada Tsanawiyah imu nahwu sudah harus menghafal nadham “Alfiyah” atau seribu nadham yang ditulis oleh Imam Ibnu Malik. Di Madrasah Aiyah, ilmu nahwu sudah menggunakan Syarah atau Komentar atas Alfiyah Ibn Malik, yaitu Ibnu ‘Aqil. Saya tidak sebutkan semuanya, karena dengan kitab-kitab yang menjadi maraji’ pembelajaran ilmu Nahwu tersebut, sudah terbayang model dan sistem pendidikannya, dan seperti apa lulusannya.  Maaf, ini bukan kalimat “kesombongan” karena insyaa Allah, saya tidak ada potongan “sombong”, apalagi saya sadar ilmu saya sangat tidak seberapa. Saudaraku, Ma’had ‘Aly TBS menurut data Direktorat PD Pontren Kementerian Agama adalah yang ke 27, dan memilih spesialisasi atau takhashshush Ilmu Falak. Maka, selain penyerahan SK, juga digelar Halaqah Falakiyah dengan tagline “Merawat Tradisi Menebar Innovasi”. Selain karena alasan Ilmu Falak selama ini makin “langka” peminatnya. Bahkan Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, sejak ada program Beasiswa 5.000 Doktor di Kementerian Agama, distingsinya adalah menyiapkan Doktor Ilmu Falak. Bahkan di tahun 2017, hanya terisi 7 mahasiswa. Untung saja Pascasarjana UIN Walisongo membuka konsentrasi baru Manajemen Halal dan Hukum Keluarga, jadinya “kuotanya” terpenuhi. Ma’had ‘Aly TBS juga pada saatnya akan menyuplai calon mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo tentu kalau sudah meluluskan. Pada saat saya masih di MTs, TBS sudah mengajarkan ilmu Falak dan di antaranya  mengoperasikan rubu’ mujayyab. Di TBS sangat dikenal KH Turaihan Ajhury asy-Syarafy al-Falaky, ahli falak sangat terkenal di jagad Indonesia, terutama kalender atau almanak Menara Kudus yang khas. Juga ada KH Abdul Jalil, dan masih ada beberapa ahli falak lainnya. Sebagai alumnus TBS, tidak ada kata lain kecuali mengapresiasi dan menyambut positif terselenggaranya Ma’had ‘Aly TBS ini. Kebetulan saya masih diamanati sebagai Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, yang mengelola program doktor ilmu falak, kehadiran Ma’had ‘Aly bisa menjaid mitra. Memang bagi program S1 Ilmu Falak  Fakultas Syariah dan Hukum, bisa saja ditafsiri sebagai “pesaing baru”, apalagi dengan basik yang berbeda. UIN basiknya lebih variatif, sementara di TBS rasanya “wajib” berbasis pesantren. Maka tafsirnya, musti dengan kompromi atau “al-jam’u wa t-taufiq” atau menyatukan dan mengompromikan. Dalam dunia bisnis, suatu “produk” semakin banyak produsen atau yang menjajakan, maka produk tersebut adalah produk yang menjadi kebutuhan penting. Karena itu, tidak perlu ada komentar yang tidak perlu, karena dunia pendidikan apalagi untuk menyiapkan ahli falak di dunia Indonesia ini, masih sangat diperlukan. Kalau ada pertanyaan, apakah setelah ada lulusan Ma’had ‘Aly TBS yang ahli falak rasa astrnom, apakah kemudian tidak ada lagi perbedaan dalam penentuan awal Ramadlan, awal Syawwal, dan awal Dzulhijah? Ini pertanyaan kritis tetapi jawabnya tidak mudah. Karena ini seperti pertanyaan maaf, “apakah tambahnya lulusan akpol, akmil, dan sarjana lainnya, akan berkorelasi menurunkan angka kriminalitas, gerakan separatis, atau problematika sosial lainnya”? Soal penentuan awal bulan Qamariyah, di Indonesia ini, tampak indahnya justru karena ada perbedaan itu. Mengapa, karena “instrumen test” kematangan berdemokrasi dan bertoleransi tampak matang dengan perbedaan itu. Dalam soal ibadah dan internal sesama kaum Muslim saja, bisa berjalan dengan baik, apalagi dengan penganut agama lain. Tentu ini, harus difahami dan dimaknai secara cerdas. Karena meskipun dalilnya sama, Al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan sumber dan rujukan sama, namun metode pemahamannya berbeda, akan menghasilkan rumusan atau formulasi hukum yang berbeda. Apalagi jika sudah ada pertimbangan di luar akademik dan keagamaan, maka tentu akan lebih variatif lagi. MUI sudah mensosialisasikan kaidah yang sangat dikenal, “hukm al-hakim ilzam wa yarfa’u l-khilaf” artinya “putusan hukum pemerintah itu mengikat dan menghilangkan perbedaan pendapat”. Itu teorinya, namun dalam kenyataannya, dengan dalih soal keyakinan karena terkait dengan amaliyah keagamaan, maka pemerintah juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Karena itu, tidak ada pilihan lain, kecuali merawat dan memelihara perbedaan tersebut, agar tetap menjadi rahmat dan kasih sayang. Yang terakhir ini pun, didasari kaidah selain “ikhtilafu ummati rahmah” artinya “perbedaan pedapat ummatku adalah kasih sayang”, juga ada kaidah “man lam yasyumma raihata l-khilaf lam yasyumma raihata l-fiqh” artinya “barang siapa tidak mampu mencium aroma perbedaan pendapat, berarti ia tidak mampu mencium aroma fiqh”. Yang terpenting, bagaimana kita mampu melakukan “literasi” dan mendewasakan umat kita, agar makin terbiasa dan terbudaya dengan perbedaan, sehingga kesimpulannya adalah “sepakat dalam perbedaan” atau “berbeda dengan kesepakatan”. Selamat Ma’had ‘Aly TBS, almamaterku, semoga Allah senantiasa melapangkan jalan “rizqimu” dan menggelar keberkahan padamu, untuk menyiapkan generasi Ahli Falak Rasa Astronom, atau Astronom yang Ahli Agama”. Selamat “merawat tradisi dan menebar innovasi”. Tekadmu dan kerja kerasmu, ditunggu umat. Jadilah yang terbaik dan paling member banyak manfaat. Sudah saatnya dari pondok pesantren, yang akan menjadi leader bangsa ini di masa depan. Allah a’lam bi sh-shawab. Wassalamualaikjm wrwb. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *