Home / KOLOM DIREKTUR / MENGAMANKAN GENERASI SADAR IT

MENGAMANKAN GENERASI SADAR IT

Assalamualaikum wrwb.
     Saudaraku, mari kita mengawali aktifitas hari ini dengan mensyukuri anugrah Allah yang pasti kita tidak mampu menghitungnya. Shalawat dan salam mari terus kita senandungkan pada Baginda Rasululkah saw, keluarga, sahabat dan pengikutnya. Semoga syafaat beliau kelak akan memayungi kita di saat tidak ada perlindungan lagi, kecuali dari Allah.
     IT atau informasion and technology, adalah peralatan yang dihasilkan oleh kreatifitas manusia sejalan dengan kebutuhan manusia yabg semakin canggih. Sekarang ini percepatan berjalan sedemikian cepat. Computer, smartphone, gadget, dan alat komunikasi lainnya, yang sekarang kita gunakan, boleh jadi lima tahun atau sepuluh tahun lagi, sudah ketinggalan. Semua itu akan membantu dan memberi kemudahan. Smartphone tertentu bahkan sudah dilengkapi dengan deteksi locus atau posisi di mana penggunanya berada.
     Anak-anak kita yang berusia dua tahun sudah mulai akrab dengan smartphone. Di usia TK, mereka sudah bisa akses internet, dua puluh empat jam. Mungkin pada awalnya mereka akses dan mengunduh sebatas game untuk seusia mereka. Keleluasaan mereka berakrab-akrab dengan akses internet, bisa bermata dua, bisa positif dan bisa juga negatif. Karena itu, mereka harus dikawal dan diwaspadai, jangan sampai mereka terjebak dan terseret pada situs-situs yang bisa merusak memori mereka yang masih harus menikmati dunia kanak-kanak dan remaja mereka. Apabila mereka sampai terjebak ke situs negatif, baik itu pornografi atau ajaran-ajaran agama yang radikalis atau liberalis, maka akan bisa berubah menjadi adiktif atau kecanduan.
     Saudaraku, anak-anak kita adalah investasi kita di masa depan. Kekayaan dan tumpukan harta kita, akan menjadi berantakan dan tidak mampu menolong kita, manakala kita gagal menyemai, menyiram, dan membesarkan mereka dengan panduan agama dan akhlak yang mulia (akhlaqul karimah). Karena itu, sebagai orang tua kita wajib membangun fondasi hidup dan kehidupan mereka dengan keimanan (akidah) dan agama yang kuat.
اول واجب على الانسان  # معرفة الاله باستقان
Kewajiban pertama yang harus kita tanamkan pada anak-anak kita adalah mengenal (makrifat) Allah dengan keyakinan yang kokoh. Sejalan dengan tabiat dasar manusia, anak-anak kita fitrahnya adalah beragama tauhid atau mengesakan Allah. Ada yang mengatakan fitrah adalah Islam, dan orang tuanya lah yang akan membelokkan fitrah tersebut, sesuai dengan kemauan orang tuanya.
     Bagi Anda yang sedang mempersiapkan diri memasuki jenjang pernikahan, Anda perlu selektif dalam memilih calon suami atau istri, yang prioritas kriterianya ada pada agama dan kualitas keberagamannya, selain kecantikan atau ketampanan, harta, dan nasab atau bobot dan bibitnya. Setelah menikah biasakan di dalam melalukan hubungan suami istri, setelah lebih dahulu berdoa kepada Allah Azza wa Jalla, agar dijauhkan dari syaithan. Ajak mereka suaki atau istri untuk rajin shalat malam dan berdzikir kepada Allah, supaya Allah akan senantiasa menjaga dan melindungi keluarga kita.
     Ketika Allah sudah mulai mengamanati keturunan, kala janin masih di dalam kandungan, kita ajari si janin itu dengan membaca Alqur’an dan shalawat serta kalimat-kalimat thayyibah yang lain. Karena janin sudah mulai dapat menangkap kebiasaan dan diperdengarkan dengan lantunan ayat-ayat suci Alqur’an dan kalimat terpuji lainnya. Jauhkan diri dari mengonsumsi makanan, minuman, dan apapun yang tidak halal dan tidak thayyib. Ketika si jabang bayi lahir, kita kumandangkan adzan di telinga kanan dan iqamah di telinga kiri. Agar suara yang didengar pertama kali saat bayi lahir di dunia, adalah Asma Allah dan Rasul-Nya.
     Apabila akidahnya sudah kuat, kita ajarkan dan tanamkan kepada mereka untuk mengerjakan shalat, sejak mereka berusia tujuh tahun, agar mahir dan rajin mengerjakan shalat lima waktu secara berjamaah. Demikian juga pengetahuan agama yang cukup. Setinggi apapun ilmu yang dipelajari dan diraih, fondasi agama dan akhlak terpuji yang kuat, akan mampu menjadi benteng bagi diri anak-anak kita di masa depan mereka.
     Beberapa hal yang perlu kita waspadai adalah pertama, ajak komunikasi dari hati ke hati agar anak-anak kita terbuka tentang semua hal termasuk apa saja situs yang diakses. Agar supaya mereka mengambil dan memanfaatkan IT hanya untuk kepentingan yang positif dan bermanfaat bagi diri dan masa depannya.
     Kedua, tanamkan kesadaran bahwa dirinya sendiri yang apabila belajar dengan rajin akan menentukan masa depannya sendiri. Karena Allah SWT pasti akan menunjukkan jalan mereka, apabila rajin belajar dan bekerja keras (QS. Al-‘Ankabut: 69). Allah akan merubah keadaan seseorang, yang memang mau berusaha untuk merubah nasib dan keadaannya (QS. Ar-Ra’d: 11).
     Ketiga, ajarkan mereka beragama secara moderat, tidak ekstrem dalam beragama dan juga tidak liberal. Karena manusia hidup di dunia adalah guna menanam benih kebaikan yang akan dipanen di akhirat nanti.
     Keempat, tanamkan akhlak yang mulia dan terpuji. Karena sebaik-baik manusia adalah yang terbaik akhlaknya. Bukan karena harta, jabatan, dan pangkat. Karena harta hanyalah alat dan bekal untuk beribadah kepada Allah.
     Kelima, kemuliaan seseorang di sisi Allah hanyalah ditentukan oleh ketaqwaannya bukan karena gebyar penampilan, tetapi hati dan sikap prilakunya yang akan menjadi penentu masa depan mereka.
     Saudaraku, semoga anak-anak kita menjadi anak-anak shalih dan shalihah. Mereka yang akan menjadi generasi penerus yang akan menjadi pemimpin bangsa ini. Mereka harus memiliki kompetensi dan keunggulan daya saing hidup, karena tantangan masa depan pasti lebih seru dan lebih tajam. Penguasaan IT menjadi suatu keharusan, jadi harus dimanfaatkan sebaik-baiknya agar hidup menjadi lebih mudah dan lebih bermanfaat. Dari sinilah kita akan menjadikan dunia guna meraih kebahagiaan untuk menyemai kehidupan akhirat yang lebih mensejahterakan.
     Allah a’lam bi sh-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.
Ngaliyan, Semarang, 26/3/2017.

Check Also

MA’HAD ‘ALY TBS: MENYEMAI AHLI FALAK YANG ASTRONOM

Assalamualaikum wrwb. Al-hamdu liLlah wa sy-syukru liLlah. Segala puji dan syukur hanya milik Allah. Marilah kita syukuri anugrah dan pertolongan Allah, hanya karena dengan kasih sayang dan pertolongan Allah kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktivitas kita hari ini. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan pengikut yang setia dan istiqamah meneadani beliau.  Semoga semua urusan kita diberi kemudahan oleh Allah dan kelak di akhirat kita mendapat syafaat beliau. Saudaraku, kemarin Sabtu, 20 Rajab 1439 H bertepatan dengan 7/4/2018 M saya mendapat kehormatan untuk ikut menyaksikan peyerahan Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Islam, oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, tentang persetujuan Pesantren TBS (Tasywiquth Thullab Salafiyah) sebagai penyelenggara Program Pendidikan Ma’had ‘Aly. Nama TBS – memang unik – karena kepanjangannya “tidak simetris” karena T diambil dari huruf “ta” dari kata “tasywiq” dan B diambil huruf terakhir kata “thullab” bentuk jama’ dari kata “thalib” yang artinya murid, siswa, atau peserta didik dalam bahasa sekarang. Seingat saya, saat saya masih menjadi “santri” huruf S itu singkatan dari kata “school” yang artinya sekolah atau madrasah. Dalam perjalanannya, huruf S ini diambil dari huruf “sin” dari kata salafiyah, yang artinya madrasah. Kata “Tasywiqu th-Thullab Salafiyah” artinya “Bronto – atau intellectual curiousity– nya Santri yang berpendidikan Salafiyah”. Salafiyah juga dalam penggunaan keseharian berbeda dengan “Salafi”.  TBS merancang dan mengelola pendidikan meskipun pada dasarnya adalah madrasah formal atau klasikal, namun desain kurikulum dan tata kelolanya, mengikuti model pondok pesantren. Saya sendiri, belajar di TBS ini selama “tujuh” tahun dengan sistem dan model yang unik juga. Setelah lulus SD dan MI di Kampung, didaftarkan di TBS. Test kemampuan dimulai dengan materi test kelas empat  MI, hari itu juga diumumkan. Besok paginya, test kemampuan untuk kelas lima, siangnya langsung diumumkan. Berarti lolos kelas 5. Besok paginya diikutkan test kemampuan kelas enam, sayang belum beruntung. Akhirnya “harus” mengikuti pelajaran dari kelas lima. Setelah satu semester, dievaluasi, dan ini yang menarik, saya diperintahkan untuk “naik kelas” di pertengahan tahun, ke kelas enam. Pendek cerita, al-hamdu liLlah, saya dinyatakan mampu melewati kelas enam MI TBS dan lulus dengan mendapat peringkat satu. Saya menerima hadiah dan senang sekali, yakni kitab “Riyadlu sh-Shalihin” dan “Sarung” yang hingga kini tidak terlupakan. Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah saya selesaikan secara normal enam tahun. Namanya juga Salafiyah, kurikulumnya, dari MI ilmu nahwunya belajar Ajrumiyah – terkenalnya Jurumiyah  – dan ‘Imrithy. Pada Tsanawiyah imu nahwu sudah harus menghafal nadham “Alfiyah” atau seribu nadham yang ditulis oleh Imam Ibnu Malik. Di Madrasah Aiyah, ilmu nahwu sudah menggunakan Syarah atau Komentar atas Alfiyah Ibn Malik, yaitu Ibnu ‘Aqil. Saya tidak sebutkan semuanya, karena dengan kitab-kitab yang menjadi maraji’ pembelajaran ilmu Nahwu tersebut, sudah terbayang model dan sistem pendidikannya, dan seperti apa lulusannya.  Maaf, ini bukan kalimat “kesombongan” karena insyaa Allah, saya tidak ada potongan “sombong”, apalagi saya sadar ilmu saya sangat tidak seberapa. Saudaraku, Ma’had ‘Aly TBS menurut data Direktorat PD Pontren Kementerian Agama adalah yang ke 27, dan memilih spesialisasi atau takhashshush Ilmu Falak. Maka, selain penyerahan SK, juga digelar Halaqah Falakiyah dengan tagline “Merawat Tradisi Menebar Innovasi”. Selain karena alasan Ilmu Falak selama ini makin “langka” peminatnya. Bahkan Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, sejak ada program Beasiswa 5.000 Doktor di Kementerian Agama, distingsinya adalah menyiapkan Doktor Ilmu Falak. Bahkan di tahun 2017, hanya terisi 7 mahasiswa. Untung saja Pascasarjana UIN Walisongo membuka konsentrasi baru Manajemen Halal dan Hukum Keluarga, jadinya “kuotanya” terpenuhi. Ma’had ‘Aly TBS juga pada saatnya akan menyuplai calon mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo tentu kalau sudah meluluskan. Pada saat saya masih di MTs, TBS sudah mengajarkan ilmu Falak dan di antaranya  mengoperasikan rubu’ mujayyab. Di TBS sangat dikenal KH Turaihan Ajhury asy-Syarafy al-Falaky, ahli falak sangat terkenal di jagad Indonesia, terutama kalender atau almanak Menara Kudus yang khas. Juga ada KH Abdul Jalil, dan masih ada beberapa ahli falak lainnya. Sebagai alumnus TBS, tidak ada kata lain kecuali mengapresiasi dan menyambut positif terselenggaranya Ma’had ‘Aly TBS ini. Kebetulan saya masih diamanati sebagai Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, yang mengelola program doktor ilmu falak, kehadiran Ma’had ‘Aly bisa menjaid mitra. Memang bagi program S1 Ilmu Falak  Fakultas Syariah dan Hukum, bisa saja ditafsiri sebagai “pesaing baru”, apalagi dengan basik yang berbeda. UIN basiknya lebih variatif, sementara di TBS rasanya “wajib” berbasis pesantren. Maka tafsirnya, musti dengan kompromi atau “al-jam’u wa t-taufiq” atau menyatukan dan mengompromikan. Dalam dunia bisnis, suatu “produk” semakin banyak produsen atau yang menjajakan, maka produk tersebut adalah produk yang menjadi kebutuhan penting. Karena itu, tidak perlu ada komentar yang tidak perlu, karena dunia pendidikan apalagi untuk menyiapkan ahli falak di dunia Indonesia ini, masih sangat diperlukan. Kalau ada pertanyaan, apakah setelah ada lulusan Ma’had ‘Aly TBS yang ahli falak rasa astrnom, apakah kemudian tidak ada lagi perbedaan dalam penentuan awal Ramadlan, awal Syawwal, dan awal Dzulhijah? Ini pertanyaan kritis tetapi jawabnya tidak mudah. Karena ini seperti pertanyaan maaf, “apakah tambahnya lulusan akpol, akmil, dan sarjana lainnya, akan berkorelasi menurunkan angka kriminalitas, gerakan separatis, atau problematika sosial lainnya”? Soal penentuan awal bulan Qamariyah, di Indonesia ini, tampak indahnya justru karena ada perbedaan itu. Mengapa, karena “instrumen test” kematangan berdemokrasi dan bertoleransi tampak matang dengan perbedaan itu. Dalam soal ibadah dan internal sesama kaum Muslim saja, bisa berjalan dengan baik, apalagi dengan penganut agama lain. Tentu ini, harus difahami dan dimaknai secara cerdas. Karena meskipun dalilnya sama, Al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan sumber dan rujukan sama, namun metode pemahamannya berbeda, akan menghasilkan rumusan atau formulasi hukum yang berbeda. Apalagi jika sudah ada pertimbangan di luar akademik dan keagamaan, maka tentu akan lebih variatif lagi. MUI sudah mensosialisasikan kaidah yang sangat dikenal, “hukm al-hakim ilzam wa yarfa’u l-khilaf” artinya “putusan hukum pemerintah itu mengikat dan menghilangkan perbedaan pendapat”. Itu teorinya, namun dalam kenyataannya, dengan dalih soal keyakinan karena terkait dengan amaliyah keagamaan, maka pemerintah juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Karena itu, tidak ada pilihan lain, kecuali merawat dan memelihara perbedaan tersebut, agar tetap menjadi rahmat dan kasih sayang. Yang terakhir ini pun, didasari kaidah selain “ikhtilafu ummati rahmah” artinya “perbedaan pedapat ummatku adalah kasih sayang”, juga ada kaidah “man lam yasyumma raihata l-khilaf lam yasyumma raihata l-fiqh” artinya “barang siapa tidak mampu mencium aroma perbedaan pendapat, berarti ia tidak mampu mencium aroma fiqh”. Yang terpenting, bagaimana kita mampu melakukan “literasi” dan mendewasakan umat kita, agar makin terbiasa dan terbudaya dengan perbedaan, sehingga kesimpulannya adalah “sepakat dalam perbedaan” atau “berbeda dengan kesepakatan”. Selamat Ma’had ‘Aly TBS, almamaterku, semoga Allah senantiasa melapangkan jalan “rizqimu” dan menggelar keberkahan padamu, untuk menyiapkan generasi Ahli Falak Rasa Astronom, atau Astronom yang Ahli Agama”. Selamat “merawat tradisi dan menebar innovasi”. Tekadmu dan kerja kerasmu, ditunggu umat. Jadilah yang terbaik dan paling member banyak manfaat. Sudah saatnya dari pondok pesantren, yang akan menjadi leader bangsa ini di masa depan. Allah a’lam bi sh-shawab. Wassalamualaikjm wrwb. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *