Home / KOLOM DIREKTUR / BELAJARLAH HINGGA AKHIR HAYAT

BELAJARLAH HINGGA AKHIR HAYAT

Assalamualaikum wrwb.
     Mari kita syukuri nikmat Allah. Atas karunia dan inayah-Nya, kita sehat afiat. Apabila kita bersyukur, Allah menjanjikan untuk menambah nikmat-Nya pada kita. Shalawat dan salam, terus kita senandungkan untuk Baginda Rasulullah saw, keluarga, sahabat, dan pengikutnya. Mengiringi shalawat Allah dan Malaikat pada beliau. Semoga syafaat beliau kelak menjemput kita di akhirat.
    Saudaraku yang dirahmati Allah, kita diperintahkan untuk mencari ilmu sejak dari buaian hingga masuk liang lahat (اطلبوا العلم من المهد الى اللحد). Meskipun perintah ini tidak termasuk hadits shahih, akan tetapi pesannya sangat positif. Bahkan mencari ilmu itu, bisa disiapkan sejak bayi masih dalam kandungan sampai nanti kita dimasukkan di liang lahat, dan setelah itu ditalqin. Meskipun yang terakhir ini, sifatnya kontroversial. Karena ada yang berkeyakinan, begitu manusia mati maka selesai sudah, tidak bisa melakukan apa-apa lagi. Akan tetapi ayat Al-Qur’an menginformasikan bahwa manusia ketika secara fisik meninggal dunia gugur di jalan Allah, maka mereka itu sebenarnya masih hidup, tetapi manusia yang masih hidup tidak merasakannya.
وَلَا تَقُولُوا لِمَن يُقْتَلُ فِي سَبِيلِ اللهِ أَمْوَاتٌ بَلْ أَحْيَاءٌ وَلَٰكِن لَّا تَشْعُرُونَ
“Dan janganlah kamu mengatakan terhadap orang-orang yang gugur di jalan Allah, (bahwa mereka itu) mati; bahkan (sebenarnya) mereka itu hidup, tetapi kamu tidak menyadarinya” (QS. Al-Baqarah: 154).
     Saudaraku, ilmu yang kita pelajari dan peroleh itu, dalam bahasa Jawanya, hanya “sekuku ireng” atau ibarat air yang menempel di jari kita ketika kita celupkan di lautan. Sementara ilmu Allah itu tidak terbatas. Allah SWT menegaskan:
قُل لَّوْ كَانَ الْبَحْرُ مِدَادًا لِّكَلِمَاتِ رَبِّي لَنَفِدَ الْبَحْرُ قَبْلَ أَن تَنفَدَ كَلِمَاتُ رَبِّي وَلَوْ جِئْنَا بِمِثْلِهِ مَدَدًا
“Katakanlah, sekiranya lautan menjadi tinta untuk (menulis) kalimat-kalimat Tuhanku, sungguh habislah lautan itu sebelum habis (ditulis) kalimat-kalimat Tuhanku, meskipun Kami datangkan tambahan sebanyak itu (pula)” (QS. Al-Kahfi: 109).
     Bagi Anda yang sudah menjadi ulama besar, ulama sedang, doktor, atau guru besar sekalipun, ilmu yang kita dapat, hanyalah tidak seberapa dibanding ilmu yang belum kita pelajari. Karena itu para Ulama merumuskan kaidah اذا تم الامر بدا نقصه  artinya “ketika sempurna sesuatu, maka tampak jelas kekurangannya”. “Di atas langit ada langit”. Dalam bahasa Al-Qur’an: وفوق كل ذي علم عليم artinya “…dan di atas tiap-tiap orang yang berpengetahuan itu ada lagi Yang Maha Mengetahui” (QS. Yusuf:76).
     Makin tinggi ilmu seseorang, maka pasti makin rendah hati, tawadlu’, dan makin merasa kurang dan kurang ilmu yang akan direguknya. Karena itu ketika Allah hendak mengambil ilmu-Nya, diambillah ruh atau nyawa seorang alim. Ungkapan موت العالم موت العالم atau “maut al-‘alim maut al-‘alam” artinya “matinya orang yang berilmu adalah matinya dunia”.
قَالَ رَسُولَ اللَّهِ ﷺ : إِنَّ اللَّهَ لَا يَقْبِضُ الْعِلْمَ انْتِزَاعًا يَنْتَزِعُهُ مِنْ الْعِبَادِ وَلَكِنْ يَقْبِضُ الْعِلْمَ بِقَبْضِ الْعُلَمَاءِ حَتَّى إِذَا لَمْ يُبْقِ عَالِمًا اتَّخَذَ النَّاسُ رُءُوسًا جُهَّالًا فَسُئِلُوا فَأَفْتَوْا بِغَيْرِ عِلْمٍ فَضَلُّوا وَأَضَلُّوا . رواه البخاري
Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah tidak mencabut ilmu sekaligus mencabut ilmu dengan cara mencabutnya dari hamba, akan tetapi Allah mencabut ilmu dengan cara mewafatkan para ulama hingga bila sudah tidak tersisa ulama maka manusia akan mengangkat pemimpin dari kalangan orang-orang bodoh, ketika mereka ditanya mereka berfatwa tanpa ilmu, mereka sesat dan menyesatkan” (Riwayat Al-Bukhary).
     Makin bertambah ilmu seseorang maka makin rendah hati, makin santun, makin merasa ilmunya tidak banyak, makin baik, dan sikap prilakunya bertambah baik. “Barang siapa bertambah ilmunya tetapi tidak bertambah hidayah, katakanlah tidak bertambah baik, maka dia akan semakin jauh dari Allah” (Riwayat al-Dailamy). Dalam hadits riwayat Ibn Hibban dinyatakan, “Barang siapa bertambah ilmunya karena Allah, kemudian bertambah cintanya kepada harta, maka Allah akan menambah marah kepadanya”.
     Saudaraku, mari kita luruskan dan tata kembali niat kita mencari ilmu. Memang kita harus terus menerus mencari ilmu, lebih-lebih ilmu agama. Supaya hati kita bisa bertambah baik, tidak menjadi sombong dengan sesama yang berilmu, apalagi untuk bertengkar kepada sesama saudara kita.
Semoga ilmu yang kita pelajari hingga akhir hayat kita nanti, makin menjadi pelita yang mampu menerangi hati kita, cinta kita kepada Allah dan Rasulullah saw makin membuncah, menjadikan nurani makin lembut, dan siap menampung hidayah dan inayah-Nya. Kita semua milik Allah, dan pasti kita akan kembali kepada-Nya.
ان اريد الا الاصلاح ما استطعت وما توفيقي الا بالله والله اعلم بالصواب
Wassalamualaikum wrwb.
Ngaliyan, Semarang, 11/3/2017.

Check Also

MENGHAYATI PESAN ‘UMAR BIN AL-KHATHAB

Assalamualaikum wrwb. Adalah — Sayyidina, sebutan penghormatan, seperti Ustadz atau Tuan, yang boleh jadi menurut …