Home / KOLOM DIREKTUR / KENDURI BERSAMA CAP GO MEH

KENDURI BERSAMA CAP GO MEH

Asalamualaikum wrwb.
     Marilah kita bersyukur kepada Allah, yang telah menganugerahi kita berbagai kenikmatan, sehat afiat, panjang umur, iman dan Islam, semoga kita bisa menjaganya dengan penuh keikhlasan, sampai ajal kita menjemput, dan husnul khatimah.
     Shalawat dan salam mari kita sanjungkan pada baginda Rasulullah saw, keluarga, sahabat, dan pengikutnya. Semoga hati kita menjadi baik, dan mampu menyejukkan sikap kita sebagai manusia yang bisa menghargai ciptaan-Nya. Termasuk saudara kita yang beretnis China. Banyak saudara kita China yang juga beragama Islam.
     Saudaraku, jangan hanya karena satu dua orang yang berlaku congkak, lalu kita generalisasikan bahwa mereka semua congkak. Karena pasti kita semua faham, bahwa mereka tidak bisa memilih dilahirkan di dunia ini beretnis apapun, karena itu sudah kehendak-Nya. Sama halnya saudara kita yang beretnis Jawa, Arab, atau yang lain, manusia hanya bisa terima dan menjalaninya.
     Rasulullah saw menegaskan :
أطلبوا العلم ولو بالصين فان طلب العلم فريضة على كل مسلم ان الملاءكة تضع أجنحتها لطالب العلم رضا بما يطلب أخرجه ابن عدي والبيهقي
“Carilah ilmu walau di negeri China, maka sesungguhnya mencari ilmu itu wajib (fardlu) bagi setiap orang Islam. Sesungguhnya malaikat mengepakkan sayapnya pada pencari ilmu merelaan atas apa yang mereka cari” (Riwayat Ibnu ‘Adiy dan al-Baihaqy).
      Sejarah mencatat, dakwah Islam di Indonesia juga melibatkan da’i China, yakni Masyarakat Muslim Tionghoa. Sejarawan Slamet Muljana dalam buku “Runtuhnya Kerajaan Hindu-Jawa dan Timbulnya Negara-negara Islam di Nusantara” mengatakan bahwa Walisongo beretnis Tionghoa. Tahun 1407, Laksamana Muslim Dinasti Ming, Cheng Ho (Zheng He), berlabuh di Palembang bersama 27.800 bala tentara.
     Laksamana Cheng Ho menumpas kelomook Chen Tsu Ji, diangkat duta Xuan Qei oleh Kaisar Ming di Palembang, namanya Shi Jinqing. Salah seorang putri Shi Jinqing bernama Nyai Gedhe Linatih (Pi Na Ti), adalah seorang pendakwah Islam di Jawa dan menjasi ibu asuh Radem Paku (Sunan Giri).
    Di Ampel Denta, masih menurut Mulyana, abad ke-15 ada tiga bersaudara Bong (Sam Bong) yaitu Haji Bong Swi Hoo, Haji Bong An Sui, dan Haji Bong Sam Hong. Hajj Bong Swi Hoo, dikenal identik sebagai Raden Ali Rahmatullah (Sunan Ampel). Dalam diagram silsilah keluarga Haji Bong Tak Keng, pada generasi kelima di bawahnya daei perkawinan Raden Rahmatullah (Sunan Ampel) dengan Dewi Condrowati lahir putra, Raden Ibrahim (Sunan Bonang) dan Raden Qasim (Sunan Drajat). Sementara Raden Said (Sunan Kalijaga) adalah putra Adipati Hariyo Wilatika saudara seayah Dewi Condrowati dari perkawinan ayahnya Adipati Hariyo Tejo dengan Putri Adipati Tuban.
     Cap Go Meh dari tiga suku kata cap artinya 10, go artinya 5, meh artinya malam. Artinya malam tahun baru ke lima belas. Perayaan cap go meh ini dilaksanakan di berbagai belahan dunia, yang ada warga Tionghoanya.
Dalam pelaksanaan hari cap go meh 19/2 akhirnya digelar di halaman Balai Kota Semarang. Dihadiri para ulama, pimpinan umat beragama, dan masyarakat. Di dalamnya tidak ada upacara ritual keagamaan. Tetapi lebih bersifat kebudayaan.
     Lalu mengapa saudara-saudaraku dari Forum Umat Islam (FUI) menolak dengan keras ketika akan diselenggarakan di halaman parkir Masjid Agung Jawa Tengah? Tentu mereka punya alasan sendiri, meskipun sebenarnya kurang bijaksana juga. Atau karena memang belum tahu isi acara cap go meh tersebut. Apalagi di dalamnya juga banyak tokoh muslim China yang tergabung dalam PITI (Persatuan Islam Tionghoa Indonesia) dulu Pembina Iman Tauhid Islam. Organisasi ini sudah cukup tua, dibentuk di Jakarta, 14/4/1961.
     Awalnya, atas saran KH Ibrahim kepada Abdul Karim Oei bahwa untuk menyamoaikan agama Islam kepada etnis Tionghoa harus dilakukan oleh etnis Tionghoa yang beragama Islam. PITI sudah banyak membangun masjid berarsitektur Tiongkok, seperti Masjid Cheng Ho di Surabaya, Purbalingga, masjid An-Naba’ di Purwokerto,  Kota Semarang, dan Islamic center di kota Kudus (wikipedia.org).
     Sam Po Kong, nama petilasan sejarah, tempat persinggahan dan pendaratan pertama seorang Laksamana Tiongkok beragama Islam bernama Cheng Ho/Zheng He. Di sana ada tulisan “marilah kita mengheningkan cipta dengan mendengarkan bacaan Al-Qur’an”. Agar warna harmoni seperti cap go meh, tidak ada lagi ada penolakan dari sebagian kecil umat Islam, ada baiknya dipikirkan, ada acara shalawatan dzibaan bersama atau festifal budaya Jawa di petilasan Laksamana Cheng Ho yang muslim tersebut.
     Saudaraku,  jika acara cap go meh, diisi dengan kegiatan semacam “kenduri bersama” boleh jadi akan bernuansa lain. Apalagi sposor utamanya adalah saudaraku dari PITI, apakah saudaraku dari FUI akan menentang juga?  Kalaupun kenduri bersama cap go meh, kemudian dianggap bid’ah, jika niatnya untuk merawat rasa dan komitmen kebangsaan Indonesia, tampaknya baik. Tetapi kalau niatnya untuk tujjan lakn yang bisa mengusik kebersamaan, persaudaraan yang sudah terjalin baik, apalagi ditandai dengan arogansi kekuasaan, maka harus ditentang.
     Sama halnya, kalau ada seorang etnis Jawa, Tionghoa, atau Arab sekalipun, melakukan penistaan, apakah terhadap agama dan atau ulama, maka hukum harus ditegakkan. Perbuatan menista atau intoleran kepada orang lain, maka sesungguhnya adalah menista dan intoleran pada dirinya sendiri. Apalagi jika ada yang berniat merusak NKRI, harus dan wajib hukumnya negara menindak tegas, karena sudah akan menghancurkan negara ini.
     Rasulullah saw pernah mengingatkan akan prinsip kesetaraan dan kesamaan di depan Islam dan hukum. لا فضل لعربي على أعجمي
artinya “tidak lebih utama bagi orang Arab atas orang asing”  atau dalam riwayat yang lain dinyatakan لا فضل لأبيض على أسود artinya “tidak lebih utama etnis yang berkulit putih ataa etnis yang berkulit hitam”. Ini merupakan pesan penting kemanusiaan sejati. Karena tidak ada satu manusiapun yang dilahirkan di muka bumi bisa memilih warna kulit dan etnis.
     Saudaraku yang dicintai Allah, mengakhiri tulisan ini, kita renungkan secara seksama firman-Nya:
أدع الى سبيل ربك بالحكمة والموعظة الحسنة وجادلهم بالتي هي أحسن ان ربك هو أعلم بمن ضل عن سبيله وهو أعلم بالمهتدين (النحل ١٢٥).
“Serulah atau dakwahilah (orang-orang) ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana, nasihat yang baik, dan berdiskusilah dengan mereka dengan (cara atau metode) yang lebih baik, sesungguhnya Tuhanmu itu lebih mengetahui orang-orang yang sesat dari jalan-Nya, dan Ia lebih mengetahui orang-orang diberi petunjuk (hidayah)” (QS. Al-Nahl: 125).
     Semoga kita semua bisa makin lebih dewasa dalam beragama, bermasyarakat, berbangsa, dan bernegara. Karena kualitas keberagamaan kita, menurut Rasulullah saw, adalah manakala orang Islam (dan juga saudara kita yang beragama lain) dapat merasakan kesejukan dan kenyamanan dari lisan (tutur kata) dan tangan (kekuasaan)-nya” (Riwayat al-Bukhary dan Muslim). Mudah-mudahan dengan kesejjkan dan harmoni yang kita wujudkan bersama, cahaya hidayah Allah akan menembus dinding-dindjng hati kita untuk memilih jalan Allah.
اللهم اهد هم فانهم لا يعلمون
    “Ya Allah berilah hidayah mereka, karena sesungguhnya mereka tidak (belum) belum mengetahui (hidayah-Mu)”.
 Allah a’lam bi al-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.
Ngaliyan Semarang, 21/2/2017.

Check Also

MA’HAD ‘ALY TBS: MENYEMAI AHLI FALAK YANG ASTRONOM

Assalamualaikum wrwb. Al-hamdu liLlah wa sy-syukru liLlah. Segala puji dan syukur hanya milik Allah. Marilah kita syukuri anugrah dan pertolongan Allah, hanya karena dengan kasih sayang dan pertolongan Allah kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktivitas kita hari ini. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan pengikut yang setia dan istiqamah meneadani beliau.  Semoga semua urusan kita diberi kemudahan oleh Allah dan kelak di akhirat kita mendapat syafaat beliau. Saudaraku, kemarin Sabtu, 20 Rajab 1439 H bertepatan dengan 7/4/2018 M saya mendapat kehormatan untuk ikut menyaksikan peyerahan Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Islam, oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, tentang persetujuan Pesantren TBS (Tasywiquth Thullab Salafiyah) sebagai penyelenggara Program Pendidikan Ma’had ‘Aly. Nama TBS – memang unik – karena kepanjangannya “tidak simetris” karena T diambil dari huruf “ta” dari kata “tasywiq” dan B diambil huruf terakhir kata “thullab” bentuk jama’ dari kata “thalib” yang artinya murid, siswa, atau peserta didik dalam bahasa sekarang. Seingat saya, saat saya masih menjadi “santri” huruf S itu singkatan dari kata “school” yang artinya sekolah atau madrasah. Dalam perjalanannya, huruf S ini diambil dari huruf “sin” dari kata salafiyah, yang artinya madrasah. Kata “Tasywiqu th-Thullab Salafiyah” artinya “Bronto – atau intellectual curiousity– nya Santri yang berpendidikan Salafiyah”. Salafiyah juga dalam penggunaan keseharian berbeda dengan “Salafi”.  TBS merancang dan mengelola pendidikan meskipun pada dasarnya adalah madrasah formal atau klasikal, namun desain kurikulum dan tata kelolanya, mengikuti model pondok pesantren. Saya sendiri, belajar di TBS ini selama “tujuh” tahun dengan sistem dan model yang unik juga. Setelah lulus SD dan MI di Kampung, didaftarkan di TBS. Test kemampuan dimulai dengan materi test kelas empat  MI, hari itu juga diumumkan. Besok paginya, test kemampuan untuk kelas lima, siangnya langsung diumumkan. Berarti lolos kelas 5. Besok paginya diikutkan test kemampuan kelas enam, sayang belum beruntung. Akhirnya “harus” mengikuti pelajaran dari kelas lima. Setelah satu semester, dievaluasi, dan ini yang menarik, saya diperintahkan untuk “naik kelas” di pertengahan tahun, ke kelas enam. Pendek cerita, al-hamdu liLlah, saya dinyatakan mampu melewati kelas enam MI TBS dan lulus dengan mendapat peringkat satu. Saya menerima hadiah dan senang sekali, yakni kitab “Riyadlu sh-Shalihin” dan “Sarung” yang hingga kini tidak terlupakan. Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah saya selesaikan secara normal enam tahun. Namanya juga Salafiyah, kurikulumnya, dari MI ilmu nahwunya belajar Ajrumiyah – terkenalnya Jurumiyah  – dan ‘Imrithy. Pada Tsanawiyah imu nahwu sudah harus menghafal nadham “Alfiyah” atau seribu nadham yang ditulis oleh Imam Ibnu Malik. Di Madrasah Aiyah, ilmu nahwu sudah menggunakan Syarah atau Komentar atas Alfiyah Ibn Malik, yaitu Ibnu ‘Aqil. Saya tidak sebutkan semuanya, karena dengan kitab-kitab yang menjadi maraji’ pembelajaran ilmu Nahwu tersebut, sudah terbayang model dan sistem pendidikannya, dan seperti apa lulusannya.  Maaf, ini bukan kalimat “kesombongan” karena insyaa Allah, saya tidak ada potongan “sombong”, apalagi saya sadar ilmu saya sangat tidak seberapa. Saudaraku, Ma’had ‘Aly TBS menurut data Direktorat PD Pontren Kementerian Agama adalah yang ke 27, dan memilih spesialisasi atau takhashshush Ilmu Falak. Maka, selain penyerahan SK, juga digelar Halaqah Falakiyah dengan tagline “Merawat Tradisi Menebar Innovasi”. Selain karena alasan Ilmu Falak selama ini makin “langka” peminatnya. Bahkan Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, sejak ada program Beasiswa 5.000 Doktor di Kementerian Agama, distingsinya adalah menyiapkan Doktor Ilmu Falak. Bahkan di tahun 2017, hanya terisi 7 mahasiswa. Untung saja Pascasarjana UIN Walisongo membuka konsentrasi baru Manajemen Halal dan Hukum Keluarga, jadinya “kuotanya” terpenuhi. Ma’had ‘Aly TBS juga pada saatnya akan menyuplai calon mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo tentu kalau sudah meluluskan. Pada saat saya masih di MTs, TBS sudah mengajarkan ilmu Falak dan di antaranya  mengoperasikan rubu’ mujayyab. Di TBS sangat dikenal KH Turaihan Ajhury asy-Syarafy al-Falaky, ahli falak sangat terkenal di jagad Indonesia, terutama kalender atau almanak Menara Kudus yang khas. Juga ada KH Abdul Jalil, dan masih ada beberapa ahli falak lainnya. Sebagai alumnus TBS, tidak ada kata lain kecuali mengapresiasi dan menyambut positif terselenggaranya Ma’had ‘Aly TBS ini. Kebetulan saya masih diamanati sebagai Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, yang mengelola program doktor ilmu falak, kehadiran Ma’had ‘Aly bisa menjaid mitra. Memang bagi program S1 Ilmu Falak  Fakultas Syariah dan Hukum, bisa saja ditafsiri sebagai “pesaing baru”, apalagi dengan basik yang berbeda. UIN basiknya lebih variatif, sementara di TBS rasanya “wajib” berbasis pesantren. Maka tafsirnya, musti dengan kompromi atau “al-jam’u wa t-taufiq” atau menyatukan dan mengompromikan. Dalam dunia bisnis, suatu “produk” semakin banyak produsen atau yang menjajakan, maka produk tersebut adalah produk yang menjadi kebutuhan penting. Karena itu, tidak perlu ada komentar yang tidak perlu, karena dunia pendidikan apalagi untuk menyiapkan ahli falak di dunia Indonesia ini, masih sangat diperlukan. Kalau ada pertanyaan, apakah setelah ada lulusan Ma’had ‘Aly TBS yang ahli falak rasa astrnom, apakah kemudian tidak ada lagi perbedaan dalam penentuan awal Ramadlan, awal Syawwal, dan awal Dzulhijah? Ini pertanyaan kritis tetapi jawabnya tidak mudah. Karena ini seperti pertanyaan maaf, “apakah tambahnya lulusan akpol, akmil, dan sarjana lainnya, akan berkorelasi menurunkan angka kriminalitas, gerakan separatis, atau problematika sosial lainnya”? Soal penentuan awal bulan Qamariyah, di Indonesia ini, tampak indahnya justru karena ada perbedaan itu. Mengapa, karena “instrumen test” kematangan berdemokrasi dan bertoleransi tampak matang dengan perbedaan itu. Dalam soal ibadah dan internal sesama kaum Muslim saja, bisa berjalan dengan baik, apalagi dengan penganut agama lain. Tentu ini, harus difahami dan dimaknai secara cerdas. Karena meskipun dalilnya sama, Al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan sumber dan rujukan sama, namun metode pemahamannya berbeda, akan menghasilkan rumusan atau formulasi hukum yang berbeda. Apalagi jika sudah ada pertimbangan di luar akademik dan keagamaan, maka tentu akan lebih variatif lagi. MUI sudah mensosialisasikan kaidah yang sangat dikenal, “hukm al-hakim ilzam wa yarfa’u l-khilaf” artinya “putusan hukum pemerintah itu mengikat dan menghilangkan perbedaan pendapat”. Itu teorinya, namun dalam kenyataannya, dengan dalih soal keyakinan karena terkait dengan amaliyah keagamaan, maka pemerintah juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Karena itu, tidak ada pilihan lain, kecuali merawat dan memelihara perbedaan tersebut, agar tetap menjadi rahmat dan kasih sayang. Yang terakhir ini pun, didasari kaidah selain “ikhtilafu ummati rahmah” artinya “perbedaan pedapat ummatku adalah kasih sayang”, juga ada kaidah “man lam yasyumma raihata l-khilaf lam yasyumma raihata l-fiqh” artinya “barang siapa tidak mampu mencium aroma perbedaan pendapat, berarti ia tidak mampu mencium aroma fiqh”. Yang terpenting, bagaimana kita mampu melakukan “literasi” dan mendewasakan umat kita, agar makin terbiasa dan terbudaya dengan perbedaan, sehingga kesimpulannya adalah “sepakat dalam perbedaan” atau “berbeda dengan kesepakatan”. Selamat Ma’had ‘Aly TBS, almamaterku, semoga Allah senantiasa melapangkan jalan “rizqimu” dan menggelar keberkahan padamu, untuk menyiapkan generasi Ahli Falak Rasa Astronom, atau Astronom yang Ahli Agama”. Selamat “merawat tradisi dan menebar innovasi”. Tekadmu dan kerja kerasmu, ditunggu umat. Jadilah yang terbaik dan paling member banyak manfaat. Sudah saatnya dari pondok pesantren, yang akan menjadi leader bangsa ini di masa depan. Allah a’lam bi sh-shawab. Wassalamualaikjm wrwb. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *