Home / KOLOM DIREKTUR / PEMIMPIN ATAU PENGUASA

PEMIMPIN ATAU PENGUASA

Assalamualaikum wrwb.
    Saudaraku yang dirahmati Allah. Sebelum kita mengawali aktifitas di pagi hari ini, mari kita bersyukur. Nikmat Allah sungguh luar biasa yang diberikan kepada kita dan keluarga. Semoga Allah senantiasa memberi kita sehat afiat, iman dan taqwa yang makin berkualitas.
    Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada tokoh idola kita, Rasulullah saw, keluarga,  dan sahabat. Semoga di hari akhir nanti, syafaat beliau meringankan kita. Dan setiap kesulitan yang kita hadapi segera diberi jalan keluar dan kemudahan oleh Allah.
     Besok pagi (15/2/2017) Anda yang berada di daerah pemilukada serentak, akan memberikan suara melalui mencoblos gambar atau nomor pasangan calon gubernur-wakil gubernur,  bupati-wakil bupati, atau walikota-wakil walikota. Sebagai warga negara yang cerdas, saya yakin Anda akan menentukan pilihan pasangan calon yang apabila terpilih mau dan bisa memposisikan diri mereka sebagai pemimpin, bukan penguasa. Meskipun dalam praktiknya, membedakan pemimpin dan penguasa tidak mudah juga.
     Apabila kita cermati di dunia ini, ada raja yang memang sistem pemerintahannya menganut monarkhi absolut tetapi rajanya baik, rakyatnya makmur, dan rajanya mau juga menerima saran atau masukan rakyatnya. Ada yang memang pemimpinnya raja dan absolut. Bahkan parahnya lagi membawa nama Tuhan untuk legitimasi tindakan sewenang-wenang, represif, dan bahkan barbar termasuk kepada rakyatnya sendiri. Kalau ia diktator untuk melindungi rakyatnya, misalnya semua yang terlibat dengan narkoba, bandar, pemasok, pengedar, pemakainya, dihabisi semua tanpa proses pengadilan, demi menjaga masa depan generasi mudanya,  masih lumayan. Karena pemimpin demikian tidak bisa berharap lagi dengan penegakan hukum manual yang boleh jadi sudah “dikuasai” oleh mafioso. Ini mirip presiden Philipina sekarang.
     Ada juga negara yang sistem pemerintahannya, menyebut pemimpinnya presiden, dipilih secara demokratis, dengan cara satu orang satu suara (one man one vote) model barat, akan tetapi presiden itu prilaku dan tindakannya, melebihi raja. Ia tampil dengan gaya diktator, semaunya sendiri, represif, tidak menerima masukan orang lain, dan bahkan mengajak dan “mendidik” rakyatnya untuk melanggar konstitusi. Lucunya lagi, tampak sekali bahwa itu dilakukan, hanya karena mengusung kepentingan kelompok yang sudah bisa diprediksi akan menghancurkan masa depan bangsa dan negaranya sendiri. Mudah-mudahan yang model ini tidak terjadi di negeri yang kaya raya akan sumber daya alamnya ini.  Terminologi keilmuan politik pun, “mengikuti”-nya dengan memberi label “diktator konstitusional” yang sesungguhnya,  ini sudah menyimpan salah makna atau “missmeaning”.
    Di tengah kegalauan dan kegaduhan politik negeri ini, maka Anda yang akan menentukan pilihan, karena akan berkonsekuensi untuk masa lima tahun ke depan, maka mohonlah petunjuk kepada Allah. Karena suara Anda akan sangat menentukan. Ingat, lima tahun adalah waktu yang sangat panjang. Setara 1.825 hari atau 60 bulan. Jika dalam satu hari seorang pemimpin/penguasa dia mencabut atau membatalkan satu undang-undang, maka semua undang-undang akan bisa dihabisi.
     Mengapa bangsa besar ini,  dipilihkan pemimpin atau penguasa yang membuat rakyatnya resah, galau, tidak menentu, dan dapat memicu konflik  horizontal? Firman Allah kiranya perlu kita simak seksama. Katakanlah:  “Wahai Tuhan Yang mempunyai kerajaan (kekuasaan). Engkau berikan kerajaan kepada yang Engkau kehendaki, dan Engkau cabut kerajaan dari yang Engkau kehendaki. Engkau muliakan orang yang Engkau kehendaki dan Engkau hinakan orang yang Engkau kehendaki. Di gangan Engkaulah segala kebajikan. Sesungguhnya Engkau Maha Kuasa atas segala sesuatu” (QS. Ali ‘Imran: 26).
     Saudaraku, Anda yang sependapat dengan saya boleh jadi merasa prihatin dan gelisah akan nasib dan keadaan bangsanya yang besar ke depan seperti apa? Bagi Anda yang memiliki pandangan yang berbeda, tentu hak Anda. Kita semua tidak tahu, hanya Allah yang tahu dan tentu pemimpin yang tahu, sesungguhnya negaranya mau dibawa ke mana? Akankah hancur berantakan karena “digadaikan” kepada “pendatang” yang sudah menguasai sebagian besar kekayaan alamnya, ataukah akan dibuat seperti apa, yang akan menghinakan diri kita semua? Allah a’lam.
     Seorang pemimpin, meminjam Ki Hadjar Dewantara, mestinya ing ngarso sung tulodo, ing madyo mangun karso, tut wuri handayani. Artinya di depan menjadi teladan, di tengah krearif,  dan di belakang memberi dorongan dan dukungan.
     Pemimpin dalam bahasa Arab disebut imam, artinya orang yang di depan. Mengapa di depan, karena untuk diikuti. Orang yang mengikuti disebut makmum. Imam, idealnya memang yang konsep, pemikiran, tutur kata dan tindakannya, pantas untuk diikuti atau dianut. Karena pemimpin yang benar adalah seorang panutan. Rasulullah saw:
عن أنس رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم انما جعل الامام ليؤتم به…… رواه البخارى ومسلم
Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya (seseorang) dijadikan imam atau pemimpin, adalah untuk diikutinya… ” (Riwayat al-Bukhary dan Muslim).
     Mengutip dari Rasulullah saw, mestinya seorang pemimpin memilikin sifat dan prilaku : 1). Shidiq,  apa yang diucapkan dan dilakukan adalah yang benar. Tentu ukurannya aturan dan keyakinan publik warganya. 2). Amanah,  dapat dipercaya. Seorang pemimpin jika sudah tidak percaya lagi, tidak pantas lagi menjadi pemimpin. Kewajiban makmum mengingatkan pemimpin yang lupa atau salah. 3). Tabligh, komunikatif, terbuka, tidak menyembunyikan niat dan maksud yang tidak baik. 4). Fathanah, artinya cerdas. Cerdas itu dalam kosakata Arab,  ketika apa yang difikirkan, direncanakan, dan diprogramkan, adalah hal-hal yang baik, sejalan dengan rambu-rambu agama dan negaranya. Kata kunci seorang pemimpin atau penguasa yang ingin ditaati waraganya adalah apabila mereka itu amanah dalam menjalankan tugasnya dan adil dalam melaksanakan aturan. Tidak sewenang-wenang apalagi dhalim.  Maka apabila seorang pemimpin atau penguasa sudah mengajak melanggar aturan, konstitusi, apalagi menabrak ajaran agamanya, maka tidak wajib didengar dan ditaati. Karena seseorang tidak dibenarkan taat kepada makhluk dalam hal yang melanggar aturan dan melakukan maksiyat kepada Sang Pencipta (Riwayat al-Bukhary dan Muslim).
     Seorang pemimpin wajib melindungi, mengayomi, membahagiakan dan menyejahterakan rakyatnya (تصرف الامام على الرعية منوط بالمصلحة). Karena itu wahai Saudara-saudaraku yang dirahmati Allah, Tuhan Yang Maha Kuasa, gunakan suara hati Anda dalam menentukan pilihan, dan berikan suara Anda untuk memilih yang Anda yakini akan mampu dan bertanggung jawab membawa kemashlahatan dan kebaikan negeri Anda yang Anda cintai, sehingga ke depan layak dibanggakan di hadapan Allah dan bangsa-bangsa lain di dunia ini. Dengan demikian kita masih menyimpan harapan mendapat pemimpin yang berniat mengusung asa bagi terwujudnya baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur.
     Semoga Allah memberikan hidayah dan inayah kepada kita mendapatkan pemimpin yang amanah dan adil. Allah yahdi ila sabil al-haqq wa al-shirath al-mustaqim.
    Allah a’lam bi al-shawab.
Wassalamu’alaikum wrwb.
Ngaliyan Semarang, 14/2/2017.

Check Also

MA’HAD ‘ALY TBS: MENYEMAI AHLI FALAK YANG ASTRONOM

Assalamualaikum wrwb. Al-hamdu liLlah wa sy-syukru liLlah. Segala puji dan syukur hanya milik Allah. Marilah kita syukuri anugrah dan pertolongan Allah, hanya karena dengan kasih sayang dan pertolongan Allah kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktivitas kita hari ini. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan pengikut yang setia dan istiqamah meneadani beliau.  Semoga semua urusan kita diberi kemudahan oleh Allah dan kelak di akhirat kita mendapat syafaat beliau. Saudaraku, kemarin Sabtu, 20 Rajab 1439 H bertepatan dengan 7/4/2018 M saya mendapat kehormatan untuk ikut menyaksikan peyerahan Surat Keputusan Dirjen Pendidikan Islam, oleh Direktur Pendidikan Diniyah dan Pondok Pesantren, tentang persetujuan Pesantren TBS (Tasywiquth Thullab Salafiyah) sebagai penyelenggara Program Pendidikan Ma’had ‘Aly. Nama TBS – memang unik – karena kepanjangannya “tidak simetris” karena T diambil dari huruf “ta” dari kata “tasywiq” dan B diambil huruf terakhir kata “thullab” bentuk jama’ dari kata “thalib” yang artinya murid, siswa, atau peserta didik dalam bahasa sekarang. Seingat saya, saat saya masih menjadi “santri” huruf S itu singkatan dari kata “school” yang artinya sekolah atau madrasah. Dalam perjalanannya, huruf S ini diambil dari huruf “sin” dari kata salafiyah, yang artinya madrasah. Kata “Tasywiqu th-Thullab Salafiyah” artinya “Bronto – atau intellectual curiousity– nya Santri yang berpendidikan Salafiyah”. Salafiyah juga dalam penggunaan keseharian berbeda dengan “Salafi”.  TBS merancang dan mengelola pendidikan meskipun pada dasarnya adalah madrasah formal atau klasikal, namun desain kurikulum dan tata kelolanya, mengikuti model pondok pesantren. Saya sendiri, belajar di TBS ini selama “tujuh” tahun dengan sistem dan model yang unik juga. Setelah lulus SD dan MI di Kampung, didaftarkan di TBS. Test kemampuan dimulai dengan materi test kelas empat  MI, hari itu juga diumumkan. Besok paginya, test kemampuan untuk kelas lima, siangnya langsung diumumkan. Berarti lolos kelas 5. Besok paginya diikutkan test kemampuan kelas enam, sayang belum beruntung. Akhirnya “harus” mengikuti pelajaran dari kelas lima. Setelah satu semester, dievaluasi, dan ini yang menarik, saya diperintahkan untuk “naik kelas” di pertengahan tahun, ke kelas enam. Pendek cerita, al-hamdu liLlah, saya dinyatakan mampu melewati kelas enam MI TBS dan lulus dengan mendapat peringkat satu. Saya menerima hadiah dan senang sekali, yakni kitab “Riyadlu sh-Shalihin” dan “Sarung” yang hingga kini tidak terlupakan. Madrasah Tsanawiyah dan Aliyah saya selesaikan secara normal enam tahun. Namanya juga Salafiyah, kurikulumnya, dari MI ilmu nahwunya belajar Ajrumiyah – terkenalnya Jurumiyah  – dan ‘Imrithy. Pada Tsanawiyah imu nahwu sudah harus menghafal nadham “Alfiyah” atau seribu nadham yang ditulis oleh Imam Ibnu Malik. Di Madrasah Aiyah, ilmu nahwu sudah menggunakan Syarah atau Komentar atas Alfiyah Ibn Malik, yaitu Ibnu ‘Aqil. Saya tidak sebutkan semuanya, karena dengan kitab-kitab yang menjadi maraji’ pembelajaran ilmu Nahwu tersebut, sudah terbayang model dan sistem pendidikannya, dan seperti apa lulusannya.  Maaf, ini bukan kalimat “kesombongan” karena insyaa Allah, saya tidak ada potongan “sombong”, apalagi saya sadar ilmu saya sangat tidak seberapa. Saudaraku, Ma’had ‘Aly TBS menurut data Direktorat PD Pontren Kementerian Agama adalah yang ke 27, dan memilih spesialisasi atau takhashshush Ilmu Falak. Maka, selain penyerahan SK, juga digelar Halaqah Falakiyah dengan tagline “Merawat Tradisi Menebar Innovasi”. Selain karena alasan Ilmu Falak selama ini makin “langka” peminatnya. Bahkan Pascasarjana UIN Walisongo Semarang, sejak ada program Beasiswa 5.000 Doktor di Kementerian Agama, distingsinya adalah menyiapkan Doktor Ilmu Falak. Bahkan di tahun 2017, hanya terisi 7 mahasiswa. Untung saja Pascasarjana UIN Walisongo membuka konsentrasi baru Manajemen Halal dan Hukum Keluarga, jadinya “kuotanya” terpenuhi. Ma’had ‘Aly TBS juga pada saatnya akan menyuplai calon mahasiswa Pascasarjana UIN Walisongo tentu kalau sudah meluluskan. Pada saat saya masih di MTs, TBS sudah mengajarkan ilmu Falak dan di antaranya  mengoperasikan rubu’ mujayyab. Di TBS sangat dikenal KH Turaihan Ajhury asy-Syarafy al-Falaky, ahli falak sangat terkenal di jagad Indonesia, terutama kalender atau almanak Menara Kudus yang khas. Juga ada KH Abdul Jalil, dan masih ada beberapa ahli falak lainnya. Sebagai alumnus TBS, tidak ada kata lain kecuali mengapresiasi dan menyambut positif terselenggaranya Ma’had ‘Aly TBS ini. Kebetulan saya masih diamanati sebagai Direktur Pascasarjana UIN Walisongo, yang mengelola program doktor ilmu falak, kehadiran Ma’had ‘Aly bisa menjaid mitra. Memang bagi program S1 Ilmu Falak  Fakultas Syariah dan Hukum, bisa saja ditafsiri sebagai “pesaing baru”, apalagi dengan basik yang berbeda. UIN basiknya lebih variatif, sementara di TBS rasanya “wajib” berbasis pesantren. Maka tafsirnya, musti dengan kompromi atau “al-jam’u wa t-taufiq” atau menyatukan dan mengompromikan. Dalam dunia bisnis, suatu “produk” semakin banyak produsen atau yang menjajakan, maka produk tersebut adalah produk yang menjadi kebutuhan penting. Karena itu, tidak perlu ada komentar yang tidak perlu, karena dunia pendidikan apalagi untuk menyiapkan ahli falak di dunia Indonesia ini, masih sangat diperlukan. Kalau ada pertanyaan, apakah setelah ada lulusan Ma’had ‘Aly TBS yang ahli falak rasa astrnom, apakah kemudian tidak ada lagi perbedaan dalam penentuan awal Ramadlan, awal Syawwal, dan awal Dzulhijah? Ini pertanyaan kritis tetapi jawabnya tidak mudah. Karena ini seperti pertanyaan maaf, “apakah tambahnya lulusan akpol, akmil, dan sarjana lainnya, akan berkorelasi menurunkan angka kriminalitas, gerakan separatis, atau problematika sosial lainnya”? Soal penentuan awal bulan Qamariyah, di Indonesia ini, tampak indahnya justru karena ada perbedaan itu. Mengapa, karena “instrumen test” kematangan berdemokrasi dan bertoleransi tampak matang dengan perbedaan itu. Dalam soal ibadah dan internal sesama kaum Muslim saja, bisa berjalan dengan baik, apalagi dengan penganut agama lain. Tentu ini, harus difahami dan dimaknai secara cerdas. Karena meskipun dalilnya sama, Al-Qur’an dan Sunnah yang dijadikan sumber dan rujukan sama, namun metode pemahamannya berbeda, akan menghasilkan rumusan atau formulasi hukum yang berbeda. Apalagi jika sudah ada pertimbangan di luar akademik dan keagamaan, maka tentu akan lebih variatif lagi. MUI sudah mensosialisasikan kaidah yang sangat dikenal, “hukm al-hakim ilzam wa yarfa’u l-khilaf” artinya “putusan hukum pemerintah itu mengikat dan menghilangkan perbedaan pendapat”. Itu teorinya, namun dalam kenyataannya, dengan dalih soal keyakinan karena terkait dengan amaliyah keagamaan, maka pemerintah juga tidak bisa memaksakan kehendaknya. Karena itu, tidak ada pilihan lain, kecuali merawat dan memelihara perbedaan tersebut, agar tetap menjadi rahmat dan kasih sayang. Yang terakhir ini pun, didasari kaidah selain “ikhtilafu ummati rahmah” artinya “perbedaan pedapat ummatku adalah kasih sayang”, juga ada kaidah “man lam yasyumma raihata l-khilaf lam yasyumma raihata l-fiqh” artinya “barang siapa tidak mampu mencium aroma perbedaan pendapat, berarti ia tidak mampu mencium aroma fiqh”. Yang terpenting, bagaimana kita mampu melakukan “literasi” dan mendewasakan umat kita, agar makin terbiasa dan terbudaya dengan perbedaan, sehingga kesimpulannya adalah “sepakat dalam perbedaan” atau “berbeda dengan kesepakatan”. Selamat Ma’had ‘Aly TBS, almamaterku, semoga Allah senantiasa melapangkan jalan “rizqimu” dan menggelar keberkahan padamu, untuk menyiapkan generasi Ahli Falak Rasa Astronom, atau Astronom yang Ahli Agama”. Selamat “merawat tradisi dan menebar innovasi”. Tekadmu dan kerja kerasmu, ditunggu umat. Jadilah yang terbaik dan paling member banyak manfaat. Sudah saatnya dari pondok pesantren, yang akan menjadi leader bangsa ini di masa depan. Allah a’lam bi sh-shawab. Wassalamualaikjm wrwb. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *