Home / KOLOM DIREKTUR / ISLAM MODERAT INKLUSIF

ISLAM MODERAT INKLUSIF

Oleh Ahmad Rofiq
Assalamu’alaikum wrwb. 
Puji dan syukur hanya milik Allah, bersyukurlah. Allah pasti menambah nikmat-Nya. Shalawat dan salam untuk Nabi Muhammad saw,  sajabat, dan pengikutnya.
Islam sebagai agama, adalah wahyu yang diturunkan melalui Rasulullah saw, untuk mewujudkan kasih sayang pada seluruh alam (QS. Al-Anbiya’: 107). Kepada binatang saja, Islam membuat aturan yang jelas untuk memperlakukan dengan baik. Apalagi pada sesama manusia, harus dan wajib dihormati. Kepada saudara kita yang sudah mati pun,  tetap wajib dihormati dan diperlalukan dengan baik. Rasulullah saw menegaskan: “Hindarilah sikap ekstrem (berlebihan) dalam beragama (melewati batas)”. Allah berfirman: “katakanlah,  Hai Ahli Kitab, janganlah kalian berlebih-lebihan (melampaui batas) dengan cara tidak benar dalam agamamu. Dan janganlah kamu mengikuti hawa nafsu orang-orang yang telah sesat dahulunya (sebelum kedatangan Muhammad) dan mereka telah menyesatkan kebanyakan (manusia) dan mereka tersesat dari kalan yang lurus” (QS. Al-Maidah: 77, baca juga QS. Al-Nisa’: 171).
“katakanlah,  hai Ahli Kitab,  matilah (berpegang)  kepada  suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu,  bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah.. ” (QS. Ali ‘Imran: 64).
Karena Islam jelas dan tegas sebagai kasih sayang bagi seluruh alam raya ini,  maka Islam akan cocok, sesuai, dan mampu betadaptasi dengan nilai-nilai lokal,  dan secara perlahan disesuaikan. Dinyatakan: الاسلام صالح لكل زمان ومكان artinya “agama Islam itu cocok pada setiap waktu dan ruang”.
Dalam hukum Islam ada kaidah: الحكم يدور مع علته وجودا وعدما artinya “hukum itu berjalan bersama illat atau alasan (hukum)nya ada atau tidaknya”. Ibn al-Qayyim al-Jauziyah menyatakan,  لا ينكر تغير الاحكام بتغير الازمنة والامكنة artinya “tidak dipungkiri perubahan hukum karena petubahan waktu dan tempat”.
Dalam bahasa Ulama,  agama Islam itu mengajarkan keadilan (تعادل), keseimbangan (توازن), moderat (توسط), toleran (تسامح), dan kasih sayang (تراحم)  serta persaudaraan (اخوة). Itu semua dalam rangka mewujudkan misi Islam yang mengajak pada kedamaian,  kebahagiaan,  dunia dan akhirat.
Dalam ibadah juga harus berimbang antara yang mahdlah (ritual) dan ghairu mahdlah (sosial). Ibadah vertikal seperti shalat,  tidak akan banyak arti dan manfaatnya,  apabila tidak diimplementasikan dalam kehidupan sosial. Hablun min Allah tidak cukup karena harus dipadukan dengan hablun min al-nas (QS. Ali ‘Imran: 112). Demikian pula amalan sosial,  tidak bernilai kecuali didasari dengan ibadah vertikal.
Tidak bisa dipungkiri, ada model ekstrem kanan yang mengarah ke radikalisme fundamentalisme,  meskipun term ini masih bisa diperdebatkan, di satu sisi.  Dan di sisi laon,  terdapat kelompok dan faham yang ekstrem kiri, yang liberal,  dan cenderung sosialis. Islam memilih yang moderat,  termasuk di dalam mengatur soal kekayaan dan kepemilikan. Meskipun kepemilikan dalam Islam, adalah kepemilikan yang “nisby” atau relatif. Karena jiwa (nyawa) adalah hak manfaat,  dan harta juga meski dapat dimiliki, hanyalah instrumen atau alat agar hidup manusia dapat berjalan dengan baik,  selamat dan bahagia di dunia, guna meraih kesejahteraan akhirat.
Saudaraku,  kita menjadi Muslim atau apapun agama yang kita anut, oleh Allah Tuhan YME ditempatkan di wilayah NKRI,  yang lahir, hidup, dan pada saatnya akan dipanggil Yang Maha Kuasa juga di Indonesia,  karena itu syukuri. Kita wajib bangga menjadi warga bangsa Indonesia. Mari kita jaga dan rawat NKRI yang dibangun dengan sabung nyawa dan cucuran darah para syuhada’ dan pahlawan dengan beragama secara moderat. Kita yakin dan percaya,  bahwa bentuk NKRI yang dipilih oleh founding fathers kita,  adalah kehendak dan rahmat Allah Yang Maha Kuasa. Kita hindari sikap,  pikiran,  dan prilaku ekstrem kanan atau kiri. Agar terhindar konflik horizontal yang akan merusak persaudaraan kita. Kita harus jaga NKRI janhan sampai seperti sebagian besar negara Timur Tengah yang hancur berkeping-keping akibat ekstremisme dan arogansi negara-negara teroris. NKRI adalah final dan harga mati.
Semoga hidup kita lebih bermanfaat, di dunia dan bahagia di akhirat.
Allahu a’lam bi al-shawab.
Wassalamu’alaikum wrwb. 
Ngaliyan, 23/1/2017.

Check Also

ISTAFTI QALBAKA WA LAU AFTAAKA N-NAS (56)

Oleh Ahmad Rofiq Assalamualaikum wrwb.        Segala puji hanya milik Allah.  Mari kita …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *