Home / KOLOM DIREKTUR / DEWAN RISET KEAGAMAAN NASIONAL DAN BUDAYA IQRA’ (62)

DEWAN RISET KEAGAMAAN NASIONAL DAN BUDAYA IQRA’ (62)

Oleh Ahmad Rofiq
Assalamualaikum wrwb.
Mari kita lahirkan puji dan syukur kita ke hadirat Allah. Hanya atas anugerah dan karunia-Nya
semata kita sehat afiat dan dapat menjalankan aktivitas kita, guna menambah kenikmatan kita
menjalani ibadah puasa. Shalawat dan salam mari senantiasa kita senandungkan untuk baginda
Rasulullah saw, keluarga, sahabat, dan pengikut beliau. Semoga semua urusan kita dimudahkan oleh
Allah dan kelak kita mendapat syafaat beliau di akhirat.
Saudaraku, 9-10/5/2019 saya mendapat kehormatan diundang sebagai peserta seminar dan
lokakarya atau semiloka tentang Dewan Riset Keagamaan Nasional. Tidak jelas apakah semiloka ini akan
membentuk Dewan Riset Nasional – sebagaimana tertulis dalam surat – atau Dewan Riset Keagamaan
Nasional. Dalam fikiran saya jika Dewan Riset Nasional saja boleh jadi ada pihak yang keberatan karena
coverage-nya berada di wilayah mereka. Bisa juga forum semiloka ini yang menggunakan sebagai pihak
yang pembentukan Dewan Riset Nasional. Kalau Dewan Riset Daerah (DRD) sudah banyak, seperti DRD
Provinsi Jawa Tengah.
Jika teman-teman dosen dan para guru besar yang diundang dari UIN dan IAIN, yang hampir semua
UIN telah berjuang keras untuk selain membumikan ajaran Islam, juga ada misi besar menghilangkan
dikhotomi keilmuan agama dan umum. UIN Walisongo misalnya, dalam visinya, dengan tegas
menyatakan “Menjadi Universitas Islam Riset Terdepan Berbasis Kesatuan Ilmu (Unity of Sciences) untuk
Kemanusiaan dan Peradaban”.
Momentum semiloka ini, tampaknya juga sengaja diinisiasi dan digelar di awal Ramadhan, apakah
Dewan Riset Nasional ini akan dideklarasikan pada saat peringatan Nuzul al-Qur’an, atau deklarasi
dianggap tidak penting, tetapi substansi dan agenda riset ke depan yang lebih penting. Yang jelas, dalam
fikiran saya, semiloka pembentukan Dewan Riset Nasional ini merupakan even penting dan strategis, di
tengah masa menunggu hasil pemilu yang rasanya menimbulkan rasa “waswas” akan endingnya di
tanggal 22/5/2019 dan momentum Ramadhan.
Saudaraku, bulan Ramadhan adalah awal diturunkannya Al-Qur’an. Menjelang penugasan kerasulan
Nabi Muhammad saw, beliau melakukan munajat di Gua Hira’, di atas Jabal Nur Mekah. Setelah
beberapa hari, Malaikat Jibril datang membawa perintah dari Allah SWT, “Iqra’ Ya Muhammad” artinya
“Bacalah Wahai Muhammad”. Nabi Muhammad saw menjawab : “Maa ana bi qariin” artinya “Aku tidak
bisa membaca”. Sejarah mencatat, Malaikat Jibril memerintahkannya hingga tiga kali, dan dijawab
dengan jawaban yang sama.
Pendek cerita, akhirnya Nabi Muhammad saw menerima wahyu QS. Al-‘Alaq 1-5 : (1) “Bacalah
dengan menyebut Asma Tuhanmu yang Menciptakan; (2). Menciptakan manusia dari segumpal darah;
(3). Bacalah, dan Tuhanmu yang Lebih Mulia; (4). Yang mengajarkan manusia dengan qalam (pena); (5).
Yang mengajarkan manusia hal-hal yang tidak diketahuinya”.
Ada yang menarik dicermati dari lima ayat wahyu pertama tersebut, yakni perintah membaca akan
tetapi tidak dijelaskan obyek)-nya. Ini bisa bermakna tidak hanya sekedar membaca seperti kita
membaca tulisan atau ayat-ayat Al-Qur’an saja, tetapi juga membaca dalam arti meneliti,
mengobservasi, atau yang kemudian dikembangkan dalam metodologi riset. Prof Nasaruddin Umar
(2019) menjelaskan, bahwa obyek kata iqra’ yang tidak disebutkan dalam wahyu atau ayat pertama
tersebut, ada yang KitabuLlah dan ada yang KalamuLlah. Jika Kitabullah boleh jadi lebih banyak pada
wilayah teks, sementara KalamuLlah lebih luas cakupannya, selain teks, bisa konteks, dan bahkan
hamparan ayat-ayat kauniyah di. Jika bumi ini adalah bacaan yang memerlukan penelitian, kajian kritis,
dan analisis yang mendalam.
Lalu apa hubungannya dengan Dewan Riset Nasional ini? Sebagai warga Muslim yang diamanati
menjalankan tugas Tri Darma PT, selain tugas pengajaran, dan pengabdian kepada masyarakat, tugas

penelitian justru menjadi lebih penting dan strategis bagi pengembangan ilmu, masyarakat, dan
terutama dalam merespon perkembangan sain dan teknologi. Isu-isu keagamaan sering menjadi
persoalan yang sangat rumit, apalagi ketika sudah bersinggungan atau bahkan dimanfaatkan untuk
kepentingan politik. Agama yang dirancang dan diturunkan untuk memandu manusia melalui hidayah
dan perwujudan kasih sayang atau Islam rahmatan lil ‘alamin, jika tidak benar mengurusnya, bisa
berubah menjadi candu atau berbuah malapetaka, menjadi konflik horizontal atau bahkan saling bunuh
dengan mengatasnamakan agama.
Pemilu 2019 yang memakan korban paling banyak sepanjang pemilu di Indonesia, hingga tulisan ini
dibuat ada 554 orang, sangat terasa isu agama menjadi politik identitas yang berpotensi merusak
kemajemukan dan kebhinnekaan Indonesia, yang sudah dirajut dan dianyam secara kokoh oleh para
pendiri bangsa ini, semakin rapuh.
Teramat banyak tugas dan amanat akademik dari para akademisi UIN dan IAIN seluruh Indonesia,
karena itu semiloka Dewan Riset Nasional ini, diharapkan akan mampu melahirkan keputusan strategis
apakah pembentukan wadah Dewan Riset Nasional, Dewan Riset Keagamaan Nasional, atau Dewan
Riset Nasional Keagamaan, dan yang terpenting tentu inventarisasi isu-isu krusial dan strategis yang
akan sangat dibutuhkan bagi upaya memperkokoh persatuan, kesatuan, dan keharmonisan nasional,
berbasis kemajemukan dan pluralitas yang menjadi khazanah kekayaan Bangsa Indonesia ini.
Selamat bersemiloka, semoga Allah memberkahi. Allah a’lam bi sh-shawab.
Perjalanan Soekarno Hatta-Bogor, 9/5/2019.

Check Also

PUASA, KEJUJURAN, DAN KEDISIPLINAN (61)

Oleh Ahmad Rofiq Assalamualaikum wrwb. AlhamduliLlah wa sy-syukru liLlah. Puji dan syukur hanya milik Allah. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *