Home / KOLOM DIREKTUR / PERBAHARUI CINTA SAMBUT RAMADHAN (59)

PERBAHARUI CINTA SAMBUT RAMADHAN (59)

Oleh Ahmad Rofiq
Assalamualaikum wrwb.
AlhamduliLlah wa sy-syukru liLlah, segala puji dan syukur hanya milik Allah. Mari kita lahirkan syukur kita kepada Allah Yang Maha Pengasih dan Penyayang. Meskipun mungkin kita menjadi hamba yang beribadah hanya sedikit waktu, namun Allah mengasihi dan memberi kenikmatan yang sering kita lupa memohon kepada-Nya. Shalawat dan salam mari kita lantunkan untuk mengisi dan merecharge rasa cinta dan mahabbah kita kepada Baginda Rasulullah saw. Agar kita masih terus menyala api cinta dalam hati kita untuk mencintai dan makin membara cinta kita kepada Allah. Dengan demikian, kita akan mampu menangkap kasih sayang dan kebaikan Allah dan Rasul-Nya, melalui hadirnya bulan suci penuh kasih sayang (rahmat), ampunan (maghfirah), dan kebahagiaan (sa’adah) karena dijauhkan dari api neraka.
Saudaraku, beberapa hari sebelum berakhirnya bulan Sya’ban pada tahun ke-2 Rasulullah saw hijrah ke Madinah, turun ayat Alquran yang mewajibkan puasa pada bulan Ramadhan, yakni: “Wahai orang-orang yang beriman diwajibkan atas kamu sekalian berpuasa sebagaimana diwajibkan kepada umat-umat sebelum kamu sekalian, agar kamu sekalian dapat menjadi orang yang bertakwa.” (QS. Al-Baqarah: 183).
Setelah menerima ayat tersebut, setelah shalat ‘Ashar hari itu juga, Rasulullah saw berpidato: Ayyuhannaas ! Wahai manusia! Kini telah dekat kepada kalian satu bulan agung, bulan yang sarat dengan berkah (syahrun ‘adhimun mubarakun). Bulan yang di dalamnya ada satu malam yang lebih baik dari seribu bulan. Inilah bulan yang Allah telah menetapkan puasa pada siang harinya sebagai suatu kewajiban dan shalat pada malam harinya sebagai shalat sunnah. Barang siapa ingin mendekatkan diri kepada Allah pada bulan ini dengan amal sunnah, maka pahalanya sama dengan ia melakukan amal yang wajib pada bulan-bulan lainnya. Dan barang siapa melakukan amal wajib pada bulan ini, maka dia akan dibalas dengan pahala melakukan tujuh puluh amal wajib pada bulan-bulan lainnya. Inilah bulan kesabaran dan imbalan atas kesabaran adalah surga. Inilah bulan peduli dan simpati terhadap sesama. Pada bulan inilah rizki orang-orang yang beriman ditingkatkan. Barang siapa memberi makan ta’jil (untuk berbuka puasa) kepada orang-orang yang berpuasa, maka dia mendapatkan balasan pengampunan atas dosa-dosanya dan pembebasan dari neraka Jahannam. Selain itu, dia juga memperoleh ganjaran yang sama sebagaimana ganjaran yang dikaruniakan atas orang yang berpuasa tersebut, tanpa sedikit pun mengurangi pahala orang yang berpuasa itu.”
Setelah itu, Rasulullah saw berhenti, tiba-tiba, seseorang di antara-mereka mengeluh kepada beliau: “Wahai Rasulullah, tidak semua di antara kami memiliki sesuatu yang bisa kami berikan kepada orang yang berpuasa untuk berbuka”. Rasulullah melanjutkan pidatonya: “Allah akan melimpahkan karunia balasan ini kepada seseorang yang memberikan sesuatu untuk berbuka puasa, meskipun hanya sebiji kurma, seteguk air, atau segelas susu. lnilah bulan yang pada sepuluh hari pertamanya Allah menurunkan rahmat, pada sepuluh hari pertengahannya, Allah memberikan ampunan, dan pada sepuluh hari terakhirnya, Allah membebaskan hamba-hamba-Nya dari api neraka“.
Rasul saw juga bersabda: “Barang siapa yang meringankan beban hamba sahayanya pada bulan ini, Allah swt  akan mengampuni dan membebaskannya dari api neraka. Karena itu, perbanyakanlah empat amalan di bulan ini; dua hal bisa mendatangkan keridhaan Tuhan, dan yang dua lagi kamu sekalian pasti memerlukannya. Dua hal yang mendatangkan keridhaan Allah ialah hendaknya kalian mengucapkan syahadat (persaksian bahwa tiada tuhan kecuali Allah dan Muhammad adalah Utusan Allah) dan istighfar (memohon ampunan kepada-Nya) sebanyak-banyaknya. Sedangkan dua hal yang kamu sekalian pasti memerlukannya ialah hendaknya kalian memohon kepada-Nya, dimasukkan surga dan berlindung kepada-Nya dari neraka Jahanam. Dan, barang siapa yang memberi minum kepada orang yang berpuasa (untuk berbuka), maka Allah akan memberinya minuman dari telagaku yang dengan sekali teguk saja, dia tak akan pernah kehausan lagi hingga dia memasuki surga.”
Saudaraku, pidato Rasulullah saw tersebut merupakan contoh bahwa beliau merasa perlu untuk mengingatkan para sahabat dan umat beliau, agar menyiapkan diri dapat  menyongsong alias menyambut Ramadhan dengan suka cita dan gembira. Sayyidusysyuhur, penghulu semua bulan. Rasa cinta atau mahabbah tidak datang dan tumbuh sendiri tanpa panduan. Para Ulama mengingatkan : “Man ahabba syaian katsura dzikruhu” artinya “barangsiapa mencintai sesuatu maka ia banyak menyebutnya”. Kita akan bisa dan mampu mencintai Allah dan Rasul-Nya, jika kita selalu mengingat-Nya dan Rasul-Nya. Juga kita akan mampu dengan sukacita menyambut Ramadhan jika kita mampu memahami, meresapi, dan menangkap manfaat dan keberkahan di dalamnya.
Ada seorang sahabat yang bertanya: “Apakah itu Lailatur Qadar ya Rasulullah? Beliau menjawab: Bukan. Tetapi itu adalah selayaknya seseorang yang bekerja diberikan upah apabila telah sempurna menyelesaikan pekerjaannya. (HSR. Imam Ahmad, dari Abu Hurairah).

Dalam hadis lain, Rasulullah saw bersabda: Barangsiapa yang dengan sengaja tidak berpuasa Ramadhan satu hari saja tanpa uzur syar’ie seperti sakit dan seterusnya, maka ia tidak akan dapat menggantinya walau ia berpuasa setahun penuh. Dalam riwayat lain, walaupun ia berpuasa seumur hidupya. (HSR. Imam Ahmad, Atturmudzi, Abu Daud dll dari Abu Hurairah).
Saudaraku, hadits-hadits tersebut di atas menjelaskan betapa pentingnya ibadah puasa di bulan Ramadhan. Karena itu, kita perlu mempersiapkan diri, jasmani dan rohani, hati, fikiran, dan perasaan kita untuk ini. Rasulullah saw melakukannya dengan sering melakukan puasa Senin-Kamis, puasa hari-hari putih (13, 14, dan 15) tiap bulan, kecuali Bulan Sya’ban. Sayyidatina Aisyah ra mengatakan : “Rasulullah saw banyak berpuasa (di bulan Sya’ban) bahkan dapat dikatakan, beliau tidak pernah berbuka dan aku tidak pernah melihat Rasulullah berpuasa sebulan penuh kecuali puasa Ramadhan. Dan aku tidak pernah melihat Rasulullah banyak berpuasa (di luar Ramadhan) melebihi Sya’ban.” (HR. Bukhari-Muslim).
Dalam riwayat Usamah bin Zaid, aku bertanya kepada Rasulullah saw: “Wahai Rasulullah, aku tidak melihatmu banyak berpuasa seperti di bulan Sya’ban? Beliau menjawab: “Sya’ban adalah bulan yang suka dilupakan banyak orang, letaknya antara Rajab dan Ramadhan. Di bulan tersebut amal manusia diangkat (ke langit) oleh Allah Swt dan aku menyukai pada saat amal diangkat aku dalam keadaan berpuasa.” (HR. An-Nasa’i).
Oleh karena itu, mari lah kita mempersiapkan diri dengan memperbaharui cinta dan mahabbah kita kepada Allah dan Rasulullah saw. Agar hati dan fikiran kita terbuka, dan mampu mengisinya dengan bergembira atas datangnya bulan Ramadhan. Semoga Allah membukakan tabir dan mengampuni dosa kita, sehingga kita mampu meneladani cara Rasulullah saw menyambut datangnya bulan Ramadhan. Ahlan wa sahlan marhaban ya Ramadhan.
Allahu a’lamu bish-shawaab.
Ngaliyan Semarang, 3/5/2019.

Sent from my iPad

Check Also

DEWAN RISET KEAGAMAAN NASIONAL DAN BUDAYA IQRA’ (62)

Oleh Ahmad Rofiq Assalamualaikum wrwb. Mari kita lahirkan puji dan syukur kita ke hadirat Allah. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *