Home / KOLOM DIREKTUR / DUTA-DUTA NASIONALISME DARI MTQN XVII

DUTA-DUTA NASIONALISME DARI MTQN XVII

Assalamualaikum wrwb.

Musabaqah Tilawatil Qur’an Nasional (MTQN) ke-XXVII tahun 2018 digelar di Medan Provinsi Sumatera Utara 4-13 Oktober 2018. Al-Qur’an sebagai wahyu yang diturunkan  kepada Nabi Muhammad saw, dimaksudkan sebagai Kitab Suci bagi pemeluk agama Islam. Akan tetapi tujuannya guna menjadi hidayah petunjuk bagi seluruh umat manusia (hudan li n-nas), agar hidupnya dapat sesuai dengan tujuan manusia itu sendiri diciptakan oleh Allah, untuk mengabdi (beribadah) kepada-Nya. Karena itu, manusia didisain oleh Allah, berbasis fithrah (suci) yang menurut Ibnu Sina hanya memiliki angan, kecenderungan, dan keinginan untuk berbuat baik, benar, dan indah.

Dalam bahasa Rasulullah saw, “keadaan fitrah bayi yang lahir, perkembangannya ibarat lembar kertas putih, itu tergantung pada kedua orang tuanya” (HR. Al-Bukhary). Bagaimana kedua orang tuanya menorehkan tulisan atau lukisan, tentu menjadi sangat dipengaruhi oleh kapasitas keilmuan dan bagaimana pendidikan oleh kedua orang tuanya. Karena itu, domain pendidikan selain keluarga menjadi fondasinya, pendidikan di sekolah, madrasah, atau pesantren merupakan domain pendidikan yang sangat penting. Selain itu, juga pendidikan di masyarakat yang tidak kecil pengaruhnya pada anak-anak.

Saudaraku, kebetulan saya mendapat amanat dan kepercayaan dari Menteri Agama RI, menjadi salah satu Ketua Majelis Hakim di cabang Syarhil Qur’an, yang diikuti oleh 64 regu, masing-masing tiga orang. Karena dalam cabang Syarhil Qur’an ini yang dinilai meliputi tiga komponen, yakni 1. Bidang terjemah dan materi; 2. Bidang penghayatan dan retorika; dan 3. Bidang tilawah dan adab.

Di antara tema yang diusung oleh para peserta adalah tentang Keragaman dan Nasionalisme, Pemberdayaan Kaum Mustadl’afin, Keluarga Agamis sebagai Pilar Kekuatan Bangsa, Peran Zakat sebagai Solusi Pengentasan Kemiskinan, dan lain sebagainya. Di tengah menilai jalannya musabaqah saya mendapat kesimpulan bahwa ajang MTQN XVII di Medan Sumatera Utara ini, merupakan even dan momentum sangat positif bagi penanaman dan sosialisasi nilai-nilai keragaman atau kemajemukan bagi penguatan nasionalisme mereka.

Sudah barang tentu diharapkan, melalui even lomba, di mana para peserta selain dinilai kemampuan memilih ayat dan hadits yang menjadi referensi dan dasar pokok isu yang dibahas, menterjemahkan, juga dibutuhkan penghayatan dan retorika yang bisa menarik, serta penguasaan tilawah dan adabnya. Justru yang perlu diektensifikasi atau dideminasi adalah bagaimana materi presentasi atau lebih tepat disebut ceramah dengan kemasan “seni baca” dan memahami Al-Qur’an, bisa diikuti dan dilihat oleh masyarakat. Tentu jika perlu diseleksi, direvisi, atau dikoreksi jika diperlukan. Namun sejauh penilaian saya, mereka sudah tampil cukup bagus, untuk ukuran usia mereka, yang masih remaja.

Duta Nasionalisme

Dalam perbincangan saya dengan beberapa pengawas, di antaranya Dr. Mukhtar Ali, direktur penais Kementerian Agama, Dr. Mukhlish Hanafi, Prof. Dr. Hj. Chuzaimah T. Yanggo, gagasan untuk mengirim para peserta – atau setidaknya mereka yang meraih posisi juara 1, 2, dan 3, serta harapan 1, 2, dan 3 masing-masing dari peserta putra dan putri, bisa diberi “tugas” dan “kepercayaan” menjadi “duta-duta bangsa untuk mengampanyekan kemajemukan dan nasionalisme” dan isu-isu strategis lainnya ke berbagai penjuru tanah air. Atau mudahnya Duta Bhinneka Tunggal Ika atau Duta Nasionalisme. Selain itu, mereka ini juga bisa menularkan ilmu dalam cabang syarhil qur’an yang bisa dimanfaatkan oleh para calon-calon atau peminat musabaqah di bidang syarhil qur’an di berbagai daerah di tanah air.

NKRI bagi mereka memang harga mati. Pancasila adalah final. Akan tetapi di masyarakat, ketika dulu ada ormas yang masih mengusung khilafah atau ideologi lain seperti komunisme, bukan tidak ada. Tampaknya mereka masih menyimpan “mimpi” atau “obsesi” meskipun  mereka sedang taqiyyah atau sedang “tiarap” menunggu momentum atau kesempatan. Karena Indonesia sebagai negara besar yang jumlah penduduknya terbesar keempat dunia, dan pemeluk Islamnya terbesar di dunia, tentu menjadi sasaran negara dan bangsa lain, apakah itu perdagangan, politik, militer, dan lain sebagainya.

Kita tidak boleh bosan untuk terus menerus mengampanyekan faham kemajemukan, keragaman, dan nasonalisme. Karena oleh Allah, kita sebagai manusia diciptakan terdiri dari laki-laki dan perempuan, dan dijadikan hidup berbangsa-bangsa dan bersuku-suku. Maksudnya, agar di antara kita itu  “bermusabaqah” atau “berkontestasi” mana di antara kita yang paling bertaqwa kepada Allah. Karena dengan modal ketaqwaan itulah, kita diposisika oleh Allah sebagai hamba-hamba-Nya yang paling mulia di sisi-Nya” (QS. Al-Mujadalah: 13).

Kemajemukan adalah sunnatuLLah. Indonesia sebagai bangsa besar yang paling majemuk di dunia ini. Dari segi etnis, bahasa, agama, budaya, dan suku. Ada Jawa, Batak, Minang, atau mudahnya dari Aceh sampai Papua. Bangsa Indonesia yang sudah berusia 73 tahun sudah berulang kali mengalami ujian-ujian berat. Konflik di tingkat horizontal maupun  di tingkat parlemen sudah dialami. Dan semua itu diharapkan mampu mendewasakan semua komponen bangsa ini.

Ada prasyarat yang diajukan oleh ara peserta musabaqah Syarhil Qur’an, pemerintah juga harus adil, transparan, dan tegas dalam menegakkan hukum tanpa pandang bulu atau tebang pilih. Memang soal kemiskinan yang relatif masih cukup tinggi di negeri ini, dibanding mereka yang kaya dan cenderung berfoya-foya – meskipun itu uang mereka sendiri – akan tetapi anak-a nak muda generasi penerus bangsa ini, memiliki kesadaran yang tinggi, bahwa itu semua dapat menimbulkan kecemburuan dan sensitifitas mereka yang mustadl’afin. Karena itu, tugas pemerintah atau Umara dapat memanfaatkan kekayaan alam Indonesia yang sangat kaya, laksana “bukan lautan tetapi kolam susu, tongkat dan kayu jadi tanaman” kata Koes Plus.

Di tahun politik, dan sekarang adalah masa-masa kampanye, karena tanggal 17 April 2019 adalah pemilihan umum serentak untuk memilih presiden-wakil presiden, dewan perwakilan rakyat, dewan perwakilan daerah, dewan perwakilan rakyat daerah provinsi dan/atau kabupaten/kota seluruh Indonesia. Komitmen anak-anak muda yang relatif masih polos, jujur, dan belum terkontaminasi apapun, perlu dirawat dan dimanfaatkan, demi kesatuan dan persatuan serta keutuhan NKRI. Allah a’lam bi -sh-shawab.

Wassalamualaikum wrwb.

Santika Remiere Dryandra Medan, 11/10/2018.

Check Also

SANTRI, NASIONALISME, DAN KEMANDIRIAN

Hari ini, 22 Oktober 2018 adalah tahun ketiga ditetapkannya Hari Santri Nasional. Keputusan Presiden No. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *