Home / BERANDA / BELAJAR DARI PERJALANAN HIJRAH RASULULLAH SAW

BELAJAR DARI PERJALANAN HIJRAH RASULULLAH SAW

Assalamualaikum wrwb.
Marilah kita ungkapkan puji dan syukur kita kepada Allah Yang Maha Pengasih dan
Penyayang. Hanya atas pertolongan dan kasih sayang Allah semata, kita sehat afiat dan dapat
melaksanakan aktifitas ibadah kita, baik ibadah ritual maupun ibadah sosial kita. Shalawat dan
salam mari kita senandungkan untuk Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat,
dan pengikut yang setia meneladani beliau. Semoga semua urusan kita dimudahkan oleh Allah,
dan kelak di akhirat kita mendapatkan syafaat beliau.
Hari ini Jumat, 7/9/2018 adalah bertepatan dengan tanggal 27 Dzulhijjah 1439 H menurut
kalender Arab Saudi. Di Indonesia baru tanggal 26 Dzul Hijjah 1439 H. Bukan soal selisih satu
hari yang akan dibahas di sini, tetapi yang jelas dalam hitungan dua tiga hari ini, kita memasuki
tanggal 1 Muharram 1440 H, tahun baru dalam penanggalan kalender Islam.
Selamat Tahun Baru 1 Muharram 1440 H, semoga Allah SWT senantiasa menolong kita,
untuk mampu menorehkan tinta emas dalam mengisi lembaran hidup kita. Karena itu, kita
dianjurkan untuk berdoa di akhir tahun setelah shalat Ashar dan setelah shalat Maghrib di awal
tahun memohon kepada Allah, agar hidup kita bisa kita isi dengan amalan yang baik dan
bermanfaat, guna mengisi tambahan bekal kita menghadap kepada Allah.
Rasulullah saw telah berjuang selama 12 tahun lebih setelah menerima wahyu pertama QS.
Al-‘Alaq: 1-5 di Gua Hira’ Jabal Nur, menurut beberapa sumber sejarah baru mendapatkan
pengikut sebanyak 200 orang. Itu pun dengan berbagai pelecehan, penghinaan, dikata-katain
sebagai orang gila, dan bahkan ancaman pembunuhan. Apalagi saat-saat Rasulullah saw sudah
memerintahkan para sahabat untuk hijrah ke Madinah terlebih dahulu, sambil beliau
menunggu wahyu atau perintah Allah untuk hijrah ke Madinah.
Saat-saat akhir, tinggal Rasulullah saw, Abu Bakar ash-Shiddiq, dan Ali bin Abi Thalib. Kaum
kafir Quraisy telah menyiapkan rencana jahat untuk membunuh Rasulullah saw. Sebagaimana
dijelaskan dalam QS. Al-Anfal: 30,

وَإِذْ يَمْكُرُ بِكَ الَّذِينَ كَفَرُوا لِيُثْبِتُوكَ أَوْ يَقْتُلُوكَ أَوْ يُخْرِجُوكَ وَيَمْكُرُونَ وَيَمْكُرُ اللَّهُ وَاللَّهُ خَيْرُ الْمَاكِرِينَ
“Dan (ingatlah) ketika orang-orang kafir (Quraisy) memikirkan daya upaya terhadapmu untuk
menangkap dan memenjarakanmu atau membunuhmu, atau mengusirmu. Mereka memikirkan
tipu daya dan Allah menggagalkan tipu daya itu. Dan Allah sebaik-baik Pembalas tipu daya” (QS.
Al-Anfal: 30).
Rencana jahat kaum kafir Quraisy telah diketahui oleh Rasulullah saw. Allah menugasi
malaikat Jibril, agar Muhammad saw segera berhijrah. Jibril berkata : “Muhammad, malam ini
kamu jangan tidur di tempat tidurmu, karena sesungguhnya Allah SWT memerintahkanmu
untuk berhijrah ke Madinah” (Ibn al-Atsir, al-Kamil fi al-Tarikh, h. 72). Setelah itu, Rasulullah
saw menugasi Ali bin Abi Thalib untuk tidur di tempat tidur Rasulullah saw dengan berselimut
dari Hadramaut. Orang kafir Quraisy sudah mengepung di seputar rumah Rasulullah saw.
Setelah melewat dua pertiga malam, Nabi saw berangkat ke rumah Abu Bakar untuk
mengawali perjalanan hijrah pada tanggal 2 Rabiul Awal tahun ke 13 kenabian atau 20 Juli 622
M. Dalam situasi terkepung, Nabi mengambil segenggam pasir dan ditaburkan pada orang-
orang Quraisy yang akan membunuh beliau. Beliau membaca awal QS. Yasin hingga Ayat 9 :

وَجَعَلْنَا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْنَاهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ
“Dan Kami adakan di hadapan mereka dinding dan di belakang mereka dinding (pula), dan
Kami tutup (mata) mereka sehingga mereka tidak dapat melihat” (QS. Yasin: 9).
Mereka yang mengepung pun tidak melihat Rasulullah saw yang berjalan menuju ke rumah
Abu Bakar. Abu Bakar melalui pintu belakang, bertolak menuju arah selatan menuju Gua Tsur,
untuk mengelabui pemuda Quraisy. Beberapa orang yang mengetahui bahwa Nabi saw
bersembunyi di Gua Tsur adalah Abdullah bin Abu Bakar, Aisyah, Asma’, dan pembantunya
Amir bin Fuhairah.
Amir bin Fuhairah ini ditugasi sebagai penggembala. Ia memang sempat ditanya oleh para
pemuda Quraisy, tentang apakah Muhammad dan Abu Bakar masuk ke gua Tsur? Amir
menjawab: “Mungkin saja, tetapi saya tidak melihat ada orang ke sana”. Setelah pemuda
Quraisy sampai di depan gua, ia melihat ada sarang laba-laba. Selain itu, ia juga melihat dua
ekor burung merpati di lubang gua itu, yang seakan menunggui pejangan yang mengerami
telornya. Akhirnya pemuda itu kembali turun, karena yakin bahwa tidak ada manusia di dalam
gua Tsur tersebut.
Setelah berlalu tiga hari tiga malam, dan situasi dirasakan aman, Nabi dan Abu Bakar
meneruskan perjalanan ke Yatsrib, dan membutuhkan waktu delapan hari selapan malam. Jalur
yang ditempuh pun berliku. Beliau melalui jalur Hudaibiyah (yang sekarang menjadi salah satu
tempat miqat Umrah sunnah), kawasan Jumum dekat Usfan. Ke arah barat lagi ke
perkampungan Ummu al-Ma’bad dan berhenti di Juhfah (relublika.co.id). Setelah itu berhenti di
Quba untuk menjalankan shalat Jumat, dan untuk mengabadikannya, dibangun Masjid Quba,
masjid pertama yang dibangun Rasulullah saw, yang disebut Masjid Jumat.
Saudaraku, illustrasi di atas menggambarkan, betapa berat dan berliku perjuangan
Rasulullah saw. Beliau menyiapkan strategi dan taktik, untuk mengelabuhi mereka. Setelah lima
belas hari, Rasulullah saw menuju Madinah, membangun masjid Nabawi dan rumah beliau.
Muhammad Husain Haikal dalam Sirah Muhammad menyebutkan, bahwa hijrah Rasulullah
saw adalah dalam rangka menyelamatkan akidah umat yang mengikuti beliau. Karena itu, hijrah
bisa dimaknai meninggalkan hal-hal yang dilarang dan menjalankan apa yang diperintahkan
oleh Allah. Bahkan realitasnya, beliau memandang perjuangan selama 12 tahun di Mekah,
karena tidak didukung oleh power atau kekuasaan, meskipun fokusnya penanaman akidah
tauhid, menunjukkan hasil yang kurang sesuai harapan.
Hijrah ke Yatsrib, memang baru awal peletakan dan fondasi kekuasaan. Pertama, nama
Yatsrib beliau ganti dengan Madinah, yang berarti peradaban, dimaksudkan agar orang-orang
Madinah bisa tumbuh menjadi warga yang berperadaban. Kedua, membangun soliditas
masyarakat, dengan mempersaudarakan antara warga pendatang (muhajirin), dan warga
Madinah yang terlibat konflik berkepanjangan tama suku Aus dan Khazraj. Ketiga, menyiapkan
fondasi dan tata kelola entitas sebuah negara, melalui konsep umat untuk menyatukan seluruh
suku dan klan yang ada di Madinah. Keempat, menyiapkan dan membangun konstruksi dan
kohesifitas pola hubungan dan kerjasama berbasis nilai persamaan ( equality/musawah),
keadilan (‘adalah/justice), keseimbangan (balance/tawazun), toleransi (tasamuh/tolerant),
persaudaraan (ukhuwwah/brotherhood), dan lain-lain, yang diformulasikan dalam
konstitusi/piagam/mitsaq Madinah.

Melalui piagam Madinah inilah, secara bertahap entitas Madinah sebagai sebuah entitas
“negara” mulai menjnjukkan hasil yang signifikan. Rasulullah saw mulai diakui sebagai
pemimpin agama dan sekaligus sebagai pemimpin negara/pemerintahan. Montgomery Watt
dan Philip K. Hitti misalnya, adalah ilmuwan Barat yang mengakui bahwa Muhammad saw
adalah seorang nabi dan negarawan (Muhammad : the Prophet and Statesmen).
Itupun masih butuh perjuangan berat, bagaimana Rasulullah saw bisa menaklukkan Mekah.
Beberapa referensi menyebutkan, beliau merancang untuk dapat menjalankan ibadah umrah
melalui perjanjian Hudaibiyah yang prosesnya berjalan alot. Pendek cerita, perjanjian
Hudaibiyah ini akhirnya disepakati oleh orang-orang kafir Mekah, meskipun dengan catatan
semua senjata – baca pedang — harus dalam keadaan tersarungkan. Setelah beliau bersama
para sahabat menjalankan ibadah umrah, ternyata berjalan dengan nyaman, memunculkan
kesan yang sangat positif bagi kaum kafir Quraisy. Akhirnya, mereka berbondong-bondong
datang kepada Rasulullah saw untuk menyatakan diri masuk Islam (QS. Al-Fath: 1-3).
Itulah sepenggal narasi peristiwa hijrah, yang membawa perubahan sangat penting dalam
sejarah perjuangan dan dakwah Rasulullah saw di masa-masa yang sangat sulit dan
membutuhkan strategi, metode, dan pendekatan yang merangkul warga Madinah melalui
konsep persaudaraan sejati antara kaum Muhajirin dan Anshor. Karena itu, moment dan
peristiwa hijrah, semestinya menjadi pelajaran yang sangat penting bagi kita sebagai pengikut
beliau yang ingin berkomitmen dan istiqamah meneladani beliau.
Semoga bermanfaat, Allah yahdii ila sabiili l-haqq. Allah a’lam bi sh-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.
Perjalanan Mekah – Madinah, 8/9/2018.

Check Also

MENYEJUKKAN “KEDAMAIAN” NEGERI INI YANG SEDANG TERUSIK?

Assalamualaikum wrwb. AlhamduliLlah wa sy-syukru liLlah. Mari kita persembahkan puji dan syukur kita ke hadirat …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *