Home / BERANDA / HAJI : MADRASAH JIWA DAN AKHLAQ AL-KARIMAH

HAJI : MADRASAH JIWA DAN AKHLAQ AL-KARIMAH

Assalamualaikum wrwb.
Marilah kita ungkapkan puji dan syukur kita kepada Allah ‘Azzawa Jalla. Hanya atas karunia
dan anugrah-Nya kita dalam keadaan sehat afiat. Mari kita niatkan semua aktifitas kita sebagai
perwujudan ibadah kita kepada Allah, sesuai dengan bidang tugas dan tanggung jawab kita
masing-masing. Shalawat dan salam mari kita wiridkan, mengiringi Allah dan para Malaikat yang
senantiasa bershalawat pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan
pengikut yang berjuang meneladani beliau. Semoga semua urusan kita dimudahkan oleh Allah,
dan kelak di akhirat kita mendapat perlindungan syafaat beliau.
Saudaraku, setelah jamaah haji melaksanakan ibadah wuquf di Arafah, dari waktu dhuhur
hingga terbenamnya matahari, dengan rangkaian khutbah, shalat dhuhur-ashar jamak taqdim
qashar, berdzikir, bermunajat, dan berdoa, laksana dalam pencucian. Karena saat wuquf inilah
dengan kasih sayang dan maghfirah (pengampunan)-Nya, Allah membebaskan seluruh hamba-
hamba-Nya, tanpa batas dan tanpa hitungan apapun. Sebagaimana Rasulullah saw sabdakan:
ما من يوم اكثر من ان يعتق الله تعالى فيه عبدا من النار من يوم عرفة
“Tiada satu hari yang paling banyak dari hari Allah membebaskan di hari itu hamba-hamba dari
api neraka kecuali di hari Arafah”.
Setelah seluruh jamaah haji diputihkan dan diampuni seluruh dosa-dosanya, dievakuasi ke
Muzdalifah untuk mabit atau menginap dan mengambil kerikil, yang pada tanggal 10 Dzulhijjah
digunakan untuk melempar jamrah ‘Aqabah, tanggal 11-12 Dzulhijjah untuk melempar jamrah
Ula, Wustha, dan ‘Aqabah bagi yang mengambil nafar awal, dan ditambah mabit dan melempar
jamrah Ula, Wustha, dan ‘Aqabah tanggal 13 Daulhijjah bagi yang menbambil nafar tsani.
Mabit Muzdalifah yang menurut sebagian Ulama termasuk wajib haji yang di situ jamaah
haji mengambil kerikil, secara simbolis menunjukkan bahwa, ketika jamaah haji sudah diampuni
segala dosa-dosanya dan menjadi laksana bayi yang baru dilahirkan dari rahim ibunya, dalam
kemabruran haji, ia masih harus bekerja keras berikhtiar menjaga kemabruran hajinya.
Kemabruran haji yang menurut Rasulullah saw adalah: “menebar ketenteraman, dermawan
seperti memberi makan pada mereka yang membutuhkan, silaturrahim, dan menegakkan
shalat malam di saat kebanyakan orang pada tidur nyenyak” (Riwayat at-Tirmidzi), tidak akan
berjalan baik jika tidak ada upaya menjaganya dengan baik. Karena godaan syaithan akan siap
menghadangnya setiap saat dan dalam keadaan apapun.
Karena itu, jamaah haji atau siapapun yang sudah dalam keadaan putih bersih laksana bayi
pun, ia harus bersiap-siap dengan kerikil dan komitmen iman dan taqwa untuk menghadang
dan melempar syaithan yang datang setiap saat. Secara historis menurut Sayyid Muhammad
bin ‘Alawy (2003:39-40) adalah mengikuti keyakinan dan komitmen ketaqwaan Nabi Ibrahim as
kala mempersembahkan putranya Nabi Ismail as dengan sepenuh iman dan taqwa. Allah ‘Azza
wa Jalla kemudian menebusnya dengan sembelihan seekor domba besar (QS. Ash-Shaffat:107).
Dalam kaitan dengan thawaf ifadlah yang merupakan rukun haji, di Ka’bah Baitullah, ini
menyerupai Malaikat al-Muqarrabin yang juga berthawaf di sekitar ‘Arasy (haula l-‘arsy) — ada
yang menyebut Bait al-Ma’mur — juga untuk memohon ampunan karena “kekeliruan” para
Malaikat yang pernah protes kepada Allah, tentang mengapa Allah mengamanati manusia
sebagai khalifah-Nya di muka bumi. Sementara manusia adalah pembuat kerusakan dan
penumpah darah, para Malaikat mengaku selalu bertasbih dan memahasucikan Allah. Lalu

dijawab oleh Allah, bahwa “Aku lebih mengetahui apa yang kalian tidak mengetahuinya” (QS.
Al- Baqarah:30).
Thawaf adalah pekerjaan hati dengan dukungan fisik yang mengelilingi Ka’bah di sebelah
kiri, yang pada hakikatnya adalah thawafnya hati dengan kehadiran Ketuhanan (hadlrati r-
rububiyah). Allah tegaskan : “Hendaklah mereka menghilangkan kotoran yang ada pada badan
mereka dan hendaklah mereka menyempurnakan nadzar-nadzar mereka dan hendaklah
mereka melakukan thawaf sekeliling rumah yang tua itu (BaituLlah)” (QS. Al-Hajj: 29).
Sa’i yang secara bahasa artinya berusaha keras, secara syar’i adalah perjalanan dari bukit
Shafa ke Marwa tujuh kali. Menurut Sayyid Muhammad (2003:37) sa’i menunjukkan keikhlasan
dalam melayani, karena sebagai ketetapan diri yang sangat membutuhkan pada kelembutan,
kebaikan, perhatian, dan kebaikan Tuan. Dalam konteks sejarah, sa’i adalah gambaran
perjuangan Siti Hajar istri Nabi Ibrahim as dan putranya Nabi Ismail as di antara bukit Shafa dan
Marwa untuk mencarikan air minum, karena ketika mereka berdua ditinggalkan oleh Nabi
Ibrahim as, Nabi Ismail as kehausan. Allah SWT tidak mengabulkan usaha dan doa Siti Hajar
dengan memberikan air di antara dua bukit Shafa dan Marwa, akan tetapi menolongnya
memberikan air zamzam di sebelah Bayi Nabi Ismail as.
Saudaraku, seluruh rangkaian ibadah haji, mulai dari mengenakan kain ihram yang tidak
berjahit dan tidak menutup kepala bagi laki-laki, wuquf di Arafah, mabit dan mengambil kerikil
di Muzdalifah, melempar jamarat, thawaf, sai, dan tahallul dengan memotong rambut, adalah
proses pencucian dan pemutihan dosa manusia. Setelah seluruh jamaah haji dikembalikan pada
titik fitrah laksana bayi yang baru dilahirkan dari rahim ibunya, ia harus memiliki komitmen
untuk menjaga kemabruran hajinya.
Di sinilah prosesi ibadah haji merupakan madrasah jiwa agar terus bisa terbangun akhlaq al-
karimah. Karena tanpa akhlak yang mulia, seseorang tidak mampu menangkap manfaat atau
hikmah dari ibadah hajinya, kecuali seseorang melakukannya mengikuti ajaran manasik yang
diajarkan oleh Rasulullah saw.
Semoga saudara-saudara kita yang menjalankan ibadah haji tahun 2018 ini, diberi
kemudahan oleh Allah dan dapat melaksanakan seluruh rangkaian ibadah haji, syarat, rukun,
wajib, dan sunnahnya secara sempurna, mendapatkan haji yang mabrur. Mereka akan menjadi
manusia-manusia baru yang insyaa Allah siap memberikan kontribusi bagi perbaikan bangsa
Indonesia, menuju terwujudnya baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur.
Allah a’lam bi sh-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.
Tsarawat Zamzam Misfalah, 19/8/2018.

Check Also

SANTRI, NASIONALISME, DAN KEMANDIRIAN

Hari ini, 22 Oktober 2018 adalah tahun ketiga ditetapkannya Hari Santri Nasional. Keputusan Presiden No. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *