Home / BERANDA / MENYIAPKAN GENERASI BERKARAKTER DAN BERTAQWA DARI KELUARGA

MENYIAPKAN GENERASI BERKARAKTER DAN BERTAQWA DARI KELUARGA

Assalamualaikum wrwb.

AlhamduliLlah wa syukru liLlah, segala puji dan syukur hanya milik Allah. Marilah kita terus ungkapkan puji dan syukur kita kepada Allah. Hanya karena anugrah dan kasih sayang Allah semata, kita dalam keadaan sehat afiat dan dapat melaksanakan aktifitas dengan lancar, tanpa halangan apapun. Semoga bermakna ibadah karena kita menjalankannya sebagai pengabdian kita kepada-Nya. Shalawat dan salam mari kita senandungkan untuk Rasulullah saw, mengiringi Allah dan para malaikat yang senantiasa bershalawat untuk beliau. Semoga terlimpah pada keluarga beliau, sahabat, dan pengikut yang istiqamah mencintai dan meneladani beliau, dan semua urusan kita dimudahkan oleh Allah.

Saudaraku, alhamdulillah atas kehendak Allah, sebagai ketua Forum Antar Umat Beragama Peduli Keluarga Sejahtera dan Kependudukan, saya mendapat kehormatan untuk menghadiri peringatan Harganas ke-XXV di Manado Provinsi Sulawesi Utara. Sulawesi Utara yang per-2016 berpenduduk 2.771.159 jiwa ini, kepadatan penduduknya mencapai 200.05 jiwa/km2. Terdiri dari 11 kabupaten, 4 kota, 168 kecamatan, dan 1.832 kelurahan. Meskipun menurut data statistik yang dikutip id.m.wikipedia.org penganut Kristen Protestan 60,12%, Islam 22,44%, Katolik 15,97%, Nudha 0,88%, Hindu 0,56 %, dan Konghucu 0,03%, namun kehidupan dan kerukunan beragama di Manado terhitung cukup baik. Wapres RI JK, pun mengaresiasi kerukunan yang ada di Manado. Bagi pemeluk Islam, merasa nyaman dengan busana muslimah keseharian mereka. Tidak kurang dari Rais Am PBNU Prof. Dr KH. Ma’ruf Amin pun menilainya sangat baik (18/8/2017).

Selain karena keberhasilan Kepala Daerah dalam menjaga kedamaian, kerukunan, dan keharmonisan warganya, juga tidak terlepas dari peran Pancasila sebagai falsafah, pilar, dan landasan ideal Negara Kesatuan Republik Indonesia, dalam menjaga kerukunan dan kemajemukan bangsa. KH Ma’ruf menyarankan, agar tidak diberi ruang bagi kelompok radikal apapun kelompok dan ideologi mereka, supaya tidak menjadi ancaman.

Boleh jadi atas pertimbangan kesiapan Provinsi Sulawesi Utara untuk menjadi tuan rumah, Manado menjadi tempat digelarnya acara Hari Keuarga Nasional ke-XXV yang mengusung tema “Harganas Hari Kita Semua”.

Saudaraku, keluarga adalah basik dan unit terkecil keberhasilan untuk menyiapkan generasi berkarakter dan bertqwa kepada Tuhan Yang Maha Esa. Karena itu keluarga lah yang menjadi pusat pendidikan karakter dan keberagamaan yang pertama dan utama. Setelah itu pendidikan di sekolah atau madrasah dan pesantren menjadi pendidikan kedua, guna mematangkan pembentukan karakter dan ketaqwaan anak untuk menjadi generasi masa depan bangsa ini.

Pendidikan di lingkungan masyarakat ini yang sekarang ini menjadi tantangan terbesar bagi generasi muda kita. Anak sudah dididik dalam lingkungan keluarga dan madrasah, sekolah, atau pesantren, sudah demikian baik. Akan tetapi generasi muda akan mudah terjebak dalam godaan narkoba, information technology (IT) di era gadget atau smartphone dengan media sosial yang kadang tidak jelas antara berita hoax dan berita resmi, karena perbedaan pilihan pengguna media sosial, dapat menimbulkan “kegaduhan” dan saling “hasut” atau saling bully antara seseorang atau kelompok tertentu pada yang lainnya.

Di siniah dibutuhkan adanya sinergi dan dimbiosis mutualistik antara berbagai lingkungan pendidikan dan dunia politik, budaya, ekonomi, yang sering tidak sebanding. Apakah itu dalam soal bagaimana cara berbusana yang cenderung mengimpor dari luar yang dari sisi nilai belum tentu cocok, dengan komitmen dan karakteristik budaya Indonesia, yang sesungguhnya dikenal sangat baik, agamis, dan toleran.

Bayangkan saja, negara kita Indonesia tercinta ini, sudah dinyatakan sebagai negara darurat narkoba. Di sisi lain, banyak juga akibat anak-anak yang tidak mampu mengontrol diri, banyak dari mereka yang masih sangat muda, tidak mampu membentengi diri mereka dari godaan situs-situs dan media yang kurang mendidik, menyebabkan mereka terjerumus dalam free-sex, akibatnya mereka hamil sebelum menikah. Di sinilah pernikahan usia dini, masih banyak terjadi di beberapa daerah di Indonesia ini.

Implikasi ikutannya dari mereka yang terjebak pada godaan free-sex, yang berakibat kehamilan di usia sangat muda, mereka harus “dinikahkan”. Berikutnya, mereka tidak lagi bisa sekolah, dan harus berumah tangga sebelum matang usia dan kemandiriannya. Ini berpotensi mereka akan menjadi “keluarga miskin baru”. Karena itu, lagi-lagi pendidikan agama dan ketaqwaan kepada Allah, Tuhan Yang Maha Esa dalam keluarga menjadi sangat-sangat penting , mendasar, dan akan menjadi fondasi guna menopang bangunan karakter yang akan dibutuhkan pada masa-masa dewasa mereka.

Memang mendidik dan menanamkan karakter, keimanan, dan ketaqwaan kepada Allah, sungguh tidak mudah. Ini mengingatkan sebuah nadham ‘Aqidatu l-‘Awam, bahwa “pertama kali kewajiban yang harus ditanamkan kepada anak manusia adalah mengetahui Tuhan (Allah) dengan keyakinan” atau “awwalu waajibin ‘ala l-insaani ma’rifatu l-ilaahi bi istiqaani”. Keimanan dapat ditanamkan dengan baik, harus didukung dengan amaliah keagamaan melalui pendidikan shalat pada anak usia tujuh tahun, dan diberi “pelajaran” dengan “pukulan” yang tidak menyakiti, jika sampai usia sepuluh tahun masih belum mau mengerjakannya dengan baik. Selain itu, pembiasaan bertutur kata yang baik, berlatih menjadi dermawan melalui santunan kepada orang yang membutuhkan, mengisi kotak infaq di masjid, dan kebiasaan bersedekah, akan membiasakan mereka.

Saudaraku, yang jelas melalui pendidikan keluarga bangsa ini berharap akan mampu mewujudkan generasi millenial yang tangguh, memiliki karakter dan ketaqwaan yang kokoh, dan mereka akan tumbuh menjadi calon-calon pemimpin bangsa di masa depan yang tahan dari berbagai godaan dan jebakan nafsu agkara murka.

Selamat Hari Keuarga Nasional ke-XXV, Hari Kita Semua, semoga Allah Tuhan Yang Maha Esa, menganugrahkan kebaikan dan generasi muda yang tangguh di masa depan. Allah a’lam bi sh-shawab.

Wassalamualaikum wrwb.

Swissbell Hotel, Manado, 7/7/2018.

Check Also

ZONASI, MENTAL SKTM, DAN GENERASI MILLENIAL

Dua minggu terakhir ini, perhatian kita tersedot pada isu SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) orang tua akibat dari sistem rayonisasi atau zonasi penerimaan siswa baru pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) sekolah secara serentak di seluruh Indonesia. News.detik.com merilis (Sabtu,7/7/2018) bahwa 100 persen pendaftar yang lolos di SMK Negeri 1 Blora bermodal SKTM. Masih dalam versi detik.com (9/7/2018) merilis, bahwa  ada 78 ribu pendaftar sekolah di Jawa Tengah mengguakan SKTM Palsu. Persisnya 78.065 pendaftar menggunakan SKTM padahal mereka tergolong keluarga mampu. Ini kalau meminjam istilah “millenial”-nya, keluarga model mereka itu, “sumaker” alias maaf tidak enak, “sugih macak kere”.  Merespon berita ini, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo langsung melakukan “sidak” atau inspeksi mendadak, dan langsung mencoret mereka. Sementara yang mendaftar di SMA Negeri, yang menggunakan SKTM ada 62.456 orang, yang benar-benar tidak mampu ada 26.025 pendaftar. Di SMK Negeri, ada 86.436 pendaftar, yang menggunakan SKTM dan yang lolos 44.320 pendaftar. Tema yang sangat bagus, indah, dan strategis, di tengah makin “rusaknya” atau “parahnya” mentalitas miskin sebagian bangsa ini. Fakta dalam PPDB di atas yang menggunakan SKTM, mengungkit keprihatinan kita yang mendalam.  Jika data tribunnews.com yang dipakai, di mana 35.949 orang dari 62.456 orang menggunakan SKTM palsu, maka jika diprosentase ada sebanyak 57,55 % orang tua yang mendaftarkan anaknya dalam PPDB SMA di Jawa Tengah “lebih senang” mengaku miskin atau tidak mampu. Isu tersebut tidak bisa dianggap sepele, karena menyangkut mentalitas atau karakter. Di tengah semangat dan maraknya penguatan pendidikan karakter di masing-masing sekolah, Mendikbud dan Para Petinggi Negara ini, perlu mencari cara, metode, dan pendekatan untuk menanamkan kejujuran kepada peserta didik dan juga para orang tua. Memang tidak mudah sekarang ini, menanamkan kejujuran. Apalagi di tahun politik yang negara kita ini memilih demokrasi langsung atau one man one vote tau satu orang satu suara, berimplikasi pada makin “susahnya” menjadikan kejujuran sebagai prinsip yang harus dijunjung tinggi. Tampaknya ada banyak faktor yang menjadi penyebab. Pihak Sekolah dan Pemerintah Provinsi yang menjalankan aturan dari pusat, tidak bisa menolak dan mengelak dari kewajiban melaksanakan Sistem Zonasi yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Sistem Zonasi yang diatur melalui Peraturan Mendikbud No. 17/2017 dan berlaku mulai tahun ajaran 2017-2018. Salah satu pernyataan Mendikbud, dengan sistem zonasi, agar semua sekolah menjadi favorit, seakan memang bagus maksudnya. Akan tetapi kalau ditelusuri sesungguhnya ini menafikan dan malawan sunnatuLlah. Boleh jadi vulgarnya, “melawan taqdir”. Karena dunia kompetisi bagi peserta didik menjadi siswa yang berprestasi di sekolah unggul, belakangan ini akan dengan mudah tergusur dan tergeser oleh peserta yang membawa SKTM karena berada di zona sekolah tersebut. Bukan tidak baik, akan tetapi rasanya perlu dievaluasi lagi dan diperbaiki, agar tidak gaduh. Apakah sistem zonasi ini berlaku secara mutlak. Misalnya, sekolah-sekolah SMA yang selama ini difavoritkan masyarakat, akan tetapi berada di tengah-tengah kota di mana warganya sudah tua-tua sementara anak-anak atau cucu-cucunya sudah pindah ke luar kota atau luar daerah, dimungkinkan sekolah tersebut tidak akan menerima peserta didik sesuai dengan kuota yang ditentukan. Mengapa, pertama, karena dan ini sudah tampak nyata, terang benderang, bahwa sistem zonasi pengalaman pertama ini, melahirkan “hiruk-pikuk” munculnya SKTM Palsu. Bukankah jika RT, RW, dan Kelurahan mengeluarkan SKTM Palsu adalah tindakan pidana? Apakah RT, RW, dan Lurah harus menangung risiko dari mengeluarkan SKTM. SKTM-nya benar, akan tetapi “isinya” palsu. Nyatanya ketika mereka yang “palsu” dicoret, tentu setelah divisitasi dan diverifikasi oleh Tim melalui OTS (On The Spot) mereka tidak bisa atau tidak berani memprotesnya. Kedua, mentalitas “miskin” ini timbul, meskipun sebenarnya mereka yang 57,55%  adalah orang-orang yang tergolong mampu, namun mereka merasa “lebih nyaman” mengaku tidak mampu, adalah persoalan serius. Tentu perlu penelitian yang akurat, apakah mereka menggunakan SKTM yang isinya “palsu” karena memang mentalitasnya memang miskin, atau karena “penghargaan SKTM yang berlebihan, sehingga menggeser dan menggusur mereka yang secara intelektualitas lebih tinggi. Ketiga, para peserta didik yang mendaftar SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah sekarang ini, adalah generasi millenial yang sudah terbiasa transparan, terutama soal informasi jurnal pendaftaran sekolah. Memang ada yang belum terbiasa, apalagi mereka yang “maaf”, memiliki NEM yang tidak begitu bisa dibanggakan. Keempat, bagi kepala sekolah dalam menjalankan PPDB secara online di satu sisi merasa lebih nyaman, karena jurnal pun terbuka, tidak bisa ditutup-tutupi apalagi “dimainkan”. Akan tetapi sebagian masyarakat apakah itu para “tokoh” atau yang lainnya, terkadang masih belum bisa meninggalkan “budaya” titip dan “bilung” alias “bina lingkungan”. Semoga, mereka yang sempat mendapatkan SKTM namun dicoret karena kenyataannya memang mereka tergolong mampu, mereka akan sadar bahwa sesungguhnya mereka mampu atau “kaya”. Rasulullah saw mendidik, bahwa “orang kaya adalah bukan karena tumpukan harta, akan tetapi orang kaya adalah mereka yang mampu merasa cukup dan mensyukuri anugrah dan karunia Allah Tuhan Yang Maha Pemberi”. Sederhananya, kaya adalah “kaya hati”. Kepada para orang tua, yang sempat merasa menjadi “orang yang tidak mampu” melalui SKTM, bersyukurlah kepada Yang Memberi Rizqi, insyaa Allah, rizqi Anda akan ditambah. Anak-anak kita ang hidup di era millenial ini, membutuhkan kejujuran dan keteladanan kita sebagai orang tua. Allah a’lam bi sh-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *