Home / BERANDA / PUASA DAN KEBENINGAN HATI

PUASA DAN KEBENINGAN HATI

Assalamualaikum wrwb.
      AlhamduliLlah wa sy-syukru liLlah. Ibadah puasa kita sudah sampai tanggal 25 Ramadlan. Semoga Allah menerima dan menghapus segala macam debu-debu dosa, dan kesalahan kita selama setahun. Untuk dosa-dosa sosial, semoga kesalahan kita dimaafkan oleh orang-orang yang kita kecewakan atau bahkan kita sering berbuat salah kepada mereka.
      Salawat dan salam mari kita senandungkan untuk baginda Rasulullah saw, keluarga, sahabat, pengikut yang setia mencintai Allah dan meneladani beliau. Yang karena itu kita akan dicintai oleh Allah dan Rasul-Nya. Kita merindukan kelak di akhirat syafaat beliau, dan semoga semua urusan dunia kita mendapatkan kemudahan dar Allah.
       Saudaraku Rasulullah saw berpesan : “Barangsiapa berpuasa di bulan Ramadlan berdasar keimanan dan muhasabah (introspeksi diri) diampuni dosa-dosa terdahulu” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim). Hadits tersebut menegaskan pada kita bahwa puasa merupakan momentum dan prosesi ibadah untuk membersihkan dan mensucikan dosa-dosa kita.
      Rasulullah saw juga mengingatkan bahwa di dalam diri kita, terdapat segumpal darah,  yang apabila baik, maka seluruh fungsi anggota tubuh yang lainnya akan berjalan baik. Dan apabila segumpal darah tersebut tidak baik, maka seluruh fungsi anggota tubuh lainnya juga akan buruk juga. Ingat itu adalah hati (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).
      Saudaraku, setiap kita pada saat dilahirkan kita berada dalam kondisi fitrah (suci, beragama tauhid, Islam). Karena itu, sabda Rasulullah saw yang menegaskan bahwa “kullu mauluudin yuuladu ‘ala l-fitrah fa innamaa abawaahu yuhawwidaanihi au yumajjisaanihi au yunashshiraanihi”.  Artinya: “Setiap (bayi) dilahirkan dalam keadaan fitrah, maka kedua orang tuanya-lah yang meyahudikannya, memajusikannya, atau menashranikannya”. Tidak ada kata “yuslimaanihi” atau “mengislamkannya”. Ini menunjukkan bahwa makna fitrah dalam sabda Rasulullah saw tersebut adalah Islam.
       Menurut filosuf Ibnu Sina, fitrah itu adalah angan, dorongan, keinginan, pemikiran, dan kesengajaan hati untuk melakukan sesuatu yang baik, benar, dan indah. Karena itu, mari kita renungkan dan rasakan, sebenarnya hati kecil kita, hati nurani kita, atau hati “bening” kita, akan selalu “protes” manakala akal, emosi, atau jasmani kita melakukan kesalahan yang berujung tidak baik, tidak benar, dan tidak indah.
Misalnya, ketika kita berbicara yang “menusuk” perasaan atau hati orang lain, maka hati bening kita itu akan merasa tidak nyaman. Bahasa Jawanya, “nyesak” di dada. Atau misalnya ketika “relasi kerja kita” atau katakanlah “anak buah” kita, mendapatkan kesempatan untuk suatu kebaikan, yang itu boleh dikatakan tidak akan datang dua kali, kemudian kita tidak bisa membantu, dengan alasan yang tidak jelas, maka hati kita juga “protes” atau setidaknya merasa tidak nyaman.
       Mengapa, karena naluri, tabiat, dan karakter atau fitrah kita sebagai manusia itu, adalah ingin menolong, membuat orang lain senang dan bahagia. Namun kadang karena pertimbangan emosional, kita kemudian merasa lebih senang, ketika kita bisa mempersulit orang lain. Dari sinilah kemudian muncul ungkapan tidak enak serasa “ledekan” atau “olok-olok”, “kalau bisa dipersulit kenapa mesti dipermudah”. Padahal kata Rasulullah saw, “tolonglah dan mudahkanlah orang lain, maka Allah akan menolong dan memudahkanmu”.
       Saudaraku, laksana kaca cermin, puasa Ramadlan, adalah proses untuk membersihkan kotoran dan debu yang menempel di kaca cermin kita itu. Jika selama setahun kita tidak pernah bersihkan dan sucikan, maka ia tidak lagi mampu mencerminkan diri kita dengan kebeningan, akan tetapi yang tampak adalah wajah buruk cermin itu ke wajah kita. Karena itu, marilah di sisa puasa yang belum selesai, kita sempurnakan agar hati kita masih bisa lebih disucikan lagi. Jika Allah menegaskan dalam QS. Al-Baqarah : 186 “Dan apabila hamba-hamba-Ku bertanya kepadamu tentang Aku, (katakanlah) maka sesungguhnya Aku (sangat) dekat. Aku akan menjawab permohonan (hamba-Ku) yang berdoa, apabila mereka berdoa memohon kepada-Ku”, maka hendaklah mereka itu memenuhi (segala perintah-Ku) agar mereka selalu berada dalam kebenaran”.
       Perintah Allah “apabila mereka berdoa kepada-Ku” adalah perintah kepada kita sebagai hamba-hamba yang rendah hati, tidak sombong, berhati bening, tidak angkuh, dan sifat atau perilaku gede hati lainnya. Karena itu, marilah kita berikhtiar dan berdoa memohon kepada Allah, agar dengan kita berpuasa mampu menjadikan hati kita bening kembali. Hati ini yang menjadi imam dari selurun anggota tubuh kita. Allah ‘Azza wa Jalla mengingatkan kita dalam Al-Qur’an:
وَلَقَدْ ذَرَأْنَا لِجَهَنَّمَ كَثِيرًا مِّنَ الْجِنِّ وَالْإِنسِ ۖ لَهُمْ قُلُوبٌ لَّا يَفْقَهُونَ بِهَا وَلَهُمْ أَعْيُنٌ لَّا يُبْصِرُونَ بِهَا وَلَهُمْ آذَانٌ لَّا يَسْمَعُونَ بِهَا ۚ أُولَٰئِكَ كَالْأَنْعَامِ بَلْ هُمْ أَضَلُّ ۚ أُولَٰئِكَ هُمُ الْغَافِلُونَ
Dan sesungguhnya Kami jadikan untuk (isi neraka Jahannam) kebanyakan dari jin dan manusia, mereka mempunyai hati, tetapi tidak dipergunakannya untuk memahami (ayat-ayat Allah) dan mereka mempunyai mata (tetapi) tidak dipergunakannya untuk melihat (tanda-tanda kekuasaan Allah), dan mereka mempunyai telinga (tetapi) tidak dipergunakannya untuk mendengar (ayat-ayat Allah). Mereka itu sebagai binatang ternak, bahkan mereka lebih sesat lagi. Mereka itulah orang-orang yang lalai” (QS. Al-A’raf: 179).
       Saudaraku, Allah SWT memberi kesempatan kepada kita supaya bisa menjadi hamba-hamba yang baik, yang pandai bersyukur, dan memiliki hati yang bening. Agar kita mampu menjaganya dari berbagai kotoran, debu, dan dosa-dosa baik dosa vertikal antara hamba kepada Sang Khaliq, maupun dosa-dosa sesama hamba, karena kesombongan, irihati, keserakahan, pamer diri, dan menyimpan dendam kepada orang lain.
        Meskipun rata-rata kita sudah hafal syair tombo ati yang dikarang oleh Sunan Kalijaga, tetapi tidak ada salahnya kita renungi dan resapi kembali guna menyempurnakan ibadah puasa kita. Tombo ati iku limo ing wernane, moco Qur’an lan maknane. Kaping pindo sholat wengi lakonono, kaping telu wong kang sholeh kumpulono. Kaping papat kudu weteng ingkang luwe, kaping limo dzikir wengi ingkang suwe.
Obat hati ada lima perkara, pertama, membaca Al-Qur’an dan meresapi maknanya. Kedua, menjalankan shalat malam, tahajjud, dan qiyamullail, ketiga, berteman atau berkumpul dengan orang-orang yang shalih. Keempat, perbanyak berpuasa. Dan kelima, dzikir, mujahadah, dan bermunajat di waktu malam yang lama.
       Allah Rabbu l-Ardli wa s-samawat menjelaskan:
الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ
“Dan sesungguhnya Allah menyesakan siapa yang Dia kehendaki dan menunjuki orang-orang yang bertaubat kepada-Nya” (QS. Ar-Ra’du: 27).
(yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingati Allah-lah hati menjadi tenteram” (QS. Ar-Ra’du: 28).
       Saudaraku, mari kita perbanyak dzikir dan munajat kepada Allah, agar di akhir bukan Ramadlan ini kita diberi kemampuan oleh Allah untuk senantiasa berdzikir ingat Allah,  kebesaran, kemurahan, kasih dan sayang-Nya kepada kita yang tak terbatas, agar hati kita mendapatkan kebeningan hati yang mampu menjadi penyuluh, pelita penerang kita, agar bisa mengikuti rambu dan jalan lurus yang ditunjukkan oleh Allah.
اللهم انا نسئلك رضاك والجنة ونعوذ بك من سخطك والنار اللهم انك عفو كريم تحب العفو فاعف عنا يا كريم تقبل الله منا ومنكم تقبل يا كريم
Allah a’lam bi sh-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.
Ngaliyan Semarang, 10/6/2018.

Check Also

“HALAL IS MY LIFESTYLE” DAN BERKAH RAMADHAN

Assalamualaikum wrwb. Puji dan syukur hanya milik Allah. Mari kita syukuri anugrah dan karunia Allah, yang kita tidak mampu menghitungnya. Hanya karena anugrah-Nya, kita sehat afiat dan dapat menjalankan aktifitas kita, semoga kita tidak lupa meniatkannya sebagai ibadah dan dapat lebih menyempurnakan ibadah puasa kita. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah saw, keluarga, sahabat, dan pengikut yang berkomitmen meneladani beliau. Semoga semua urusan kita mendapat kemudahan dari Allah, dan kelak di akhirat kita mendapat syafaat dari Rasulullah saw. Sebagai Direktur Lembaga Pengkajian Pangan, Obat-obatan, dan Kosmetika (LPPOM) Majelis Ulama Indonesia (MUI) atau LPPOM-MUI Jawa Tengah, saya dengan teman-teman keluarga besar LPPOM dan Pengurus MUI Provinsi Jawa Tengah wajib merasa bersyukur kepada Allah SWT. Atas karunia Allah dalam minggu ini, LPPOM MUI Jawa Tengah mendapatkan momentum dan anugrah yang luar biasa dari Allah yang telah menghamparkan rizqi-Nya di muka bumi ini, dalam melakukan upaya membangun budaya halal di Jawa Tengah. Pasalnya, 3-5 Juni 2018, Muslim Trade Center (MTC) yang dibentuk beberapa waktu lalu atas kerjasama MUI Jawa Tengah, KADIN Jawa Tengah, Walikota Semarang, menggelar Trade Halal Expo 1439 H di Unnes Trade Center Sampangan Semarang. Saya hadir dan memberi sambutan pada acara tersebut yang diikuti oleh 150 UKM dan santunan anak-anak yatim. Tanggal 5-7 Juni 2018, Dinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah bekerjasama dengan LPPOM MUI Provinsi Jawa Tengah menggelar acara yang cukup spektakuler di halaman Gedung Gradhika Bhakti Praja Provinsi Jawa Tengah yang diikuti 250 UKM di Jawa Tengah. Kepala Dinas Koperasi dan UKM Jawa Tengah menjanjikan 150 UKM yang belum mendapatkan sertifikat halal MUI, untuk dibiayai agar segera mengurus sertifikasi halal dan segera diproses pendaftarannya kepada LPPOM MUI Jawa Tengah. Itu merupakan komitmen Kadinas Koperasi dan UKM Provinsi Jawa Tengah untuk membantu dan memberdayakan UKM yang ada di Jawa Tengah. Selama ini sudah ada beberapa Dinas Koperasi dan UKM di Beberapa Kabupaten/Kota di Jawa Tengah yang sudah memfasilitasi sertifikasi halal UKM atau IRT (Industri Rumah Tangga). LPPOM MUI juga bekerjasama dengan Kementerian Koperasi dan UKM,  Dinas Kesehatan, Dinas Perindustrian dan Perdagangan, dan Instansi terkait di Provinsi  Jawa Tengah untuk memfasilitasi sertifikasi halal IRT atau UKM di Jawa Tengah. Hingga tahun 2018 LPPOM MUI Jawa Tengah telah melayani sertifikasi halal tidak kurang dari 1.250 UKM secara cuma-cuma. Tentu bukan berarti dalam sertifikasi halal itu tidak membutuhkan biaya, akan tetapi biaya ditanggung oleh Dinas-dinas yang bekerjasama dengan LPPOM MUI Jawa Tengah.        LPPOM MUI sudah menerapkan ISO 17065 dan sudah beberapa tahun membuka layanan sertifikasi halal secara online. Ini dimaksudkan agar sebagai Lembaga yang melayani masyarakat industri, menggunakan standard operation procedure atau SOP yang baku. Customer juga dapat mengakses secara terbuka, dalam proses sertifikasi halal. Ini perlu dijelaskan, agar tidak ada oknum siapapun yang memanfaatkannya untuk menyalahgunakan kesempatan untuk kepentingan yang tidak semestinya. Halal sebagai Lifestyle Halal sebagai gaya hidup saya atau Halal is My Lifestyle.  Itulah “motto” yang diambil oleh LPPOM MUI Jawa Tengah. “Perjuangan” LPPOM MUI Jawa Tengah menjalankan tugas bahwa sertifikasi halal itu masih bersifat sukarela atau voluntary memerlukan keseriusan, kesabafan, dan ketelatenan ekstra tinggi. Inisiatif untuk bersilaturrahim dan membangun jaringan dan mitrakerja, menjadi bagian yang sangat penting untuk merintis jalan membangun budaya halal di Jawa Tengah. Sebenarnya agak aneh dan naif, Indonesia sebagai negara yang mayoritas penduduknya menganut agama Islam, akan tetapi jaminan produk halal yang beredar di masyarakat, meskipun sudah lahir Undang-undang No. 33/2014 tentang Jaminan Produk Halal, belum semuanya produk yang beredar di pasaran, telah tersertifikasi kehalalannya. Karena amanat sertifikasi halal yang bersifat mandatory atau kewajiban bagi setiap produsen yang menjual produknya, belum bisa diberlakukan secara efektif. Bahkan RUU Jaminan Produk Halal ini konon membutuhkan waktu sampai 9 (sembilan) tahun. Tetapi itulah kenyataan yang harus dijalani dan disyukuri. Saudaraku, dalam perspektif hukum Islam para Ulama merumuskan kaidah “ما لا يدرك كله لا يترك كله” artinya “apa yang tidak didapatkan seluruhnya tidak ditinggal seluruhnya”. Merefer kaidah tersebut, sambil menunggu berlakunya secara efektif UU No. 33/2014 tentang Jaminan Produk Halal, LPPOM MUI masih tetap berkomitmen melayani secara voluntary terhadap sertifikasi halal. LPPOM MUI memegang prinsip bahwa untuk membangun budaya halal, atau halal sebagai gaya hidup, memerlukan kerja keras, kerja cerdas, dan kerja tuntas. Dalam ungkapan berbahasa Arab, dikemukakan قليلا و قليلا فصار جبلا   artinya “sedikit demi sedikit maka jadilah “gunung”. Dalam peribahasa Indonesia, “berakit-rakit ke hulu berenang ke tepian” artinya “bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian”. Saudaraku, bulan Ramadhan adalah bulan berkah. Jika di tahun 1439 H atau 2018 M ini, Pemprov Jawa Tengah bisa menggelar Jambore Halal 2018, maka tahun depan, sebagaimana sambutan pengarahan Plt. Gubernur Jawa Tengah yang diwakili Sekda Dr. Ir. H. Sri Puryono, MM, akan diselenggarakan lebih besar lagi. Selain itu, Ketua Umum HIPMI Jawa Tengah Ferry Firmawan juga semangat. Tampaknya Jambore Halal 2018 yang digelar Pemprov Jawa Tengah dengan leading sector Dinas Koperasi dan UKM,, Trade Halal Expo 1439 H oleh Muslim Trade Center di Unnes Trade Center, dan Rakor Ketahanan Pangan Kota Semarang 2018 yang melibatkan seluruh OPD dan Stake holder untuk mencanangkan Kuliner Halal Center di Kota Semarang, adalah wujud keberkahan dari Allah ‘Azza wa Jalla. …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *