Home / BERANDA / MEMAKNAI FILOSOFI/HIKMAH PUASA

MEMAKNAI FILOSOFI/HIKMAH PUASA

Assalamualaikum wrwb.
Saudaraku, mari kita ungkapkan syukur kita kepada Allah ‘Azza wa Jalla. Hanya karena anugrah dan pertolongan-Nya semata kita sehat wafiat dan dapat melaksanakan aktifitas kita. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan pengikut yang istiqamah meneladani beliau. Semoga semua urusan kita dimudahkan oleh Allah dan kelak di akhirat kita mendapat syafaat beliau.
Saudaraku, Syeikh Izzuddin bin Abdissalam menjelaskan, mensyukuri kepada Dzat Yang Maha Mengetahui hal-hal yang samar, ketika seseorang berpuasa, maka ia akan mengenali nikmat Allah padanya, dalam keadaan kenyang atau lapar dan haus, maka untuk itu ia mensyukurinya. Karena berbagai kenikmatan itu tidak bisa diketahuinya kecuali dengan sepi (atau tidak adanya) kenikmatan tersebut. Ini sama dengan orang yang sehat sering tidak mengetahui nikmatnya sehat, sebelum sehat itu hilang dari dirinya, berganti dengan sakit. Sebagaimana ungkapan:
الصحة تاج لا يعرفها الا المريض
“Sehat itu adalah mahkota tidak mengetahuinya (nikmat sehat)  kecuali orabg yang sakit”.
Karena itu syukurilah dengan berbuat kebajikan, selagi kita sehat semaksimal mungkin.
Puasa juga bermakna menjauhi dari larangan-larangan maksiyat dan perselisihan (الانزجار عن خواطر المعاصي والمخالفات)  sesunggunya nafsu ketika ia kenyang maka akan cenderung kepada maksiyat, dan bergegas kepada berbagai makanan dan minuman. Dan keinginan jiwa kepada munajat dan kesibukannya lebih baik dari pada kebergegasannya kepada maksiyat dan hal-hal yang menggelincirkannya. Oleh karena itu, sebagian Ulama salaf mendahulukan ibadah puasa atas ibadah yang lainnya. Maka ketika ditanya tentang hal demikian, maka ia berkata : “Agar Allah “muncul” atau hadir dalam diriku, yaitu melarangku makan dan minum, lebih dicintai dari pada Ia muncul pada makanan, yakni menentangku pada maksiyat pada-Nya ketika aku kenyang.
Puasa juga memiliki banyak faedah lainnya, seperti hati yang sehat, badan yang bugar, sebagaimana hadits “berpuasalah, maka kamu akan sehat” (Ibnu s-Siny, Abu Na’im, dari Abu Hurairah ra).
Termasuk kemuliaan puasa, adalah apabila kita menyediakan takjil pada orang yang berpuasa:
من فطر صائما كان له مثل اجره وقال صلى لله عليه وسلم : “من فطر صائما كان له مثل اجره من غير ان ينقص من اجر الصائم شيء (رواه احمد في المسند ٤/١١٤، والترمذي ٨٠٧ في الصوم وابن ماجه ١٧٤٦ في الصيام)
Barang siapa memberi takjil (makanan dan minuman) untuk berbuka pada orang yang berpuasa, maka baginya (pahala) sepadan pahalanya (orang yang berpuasa). Rasulullah saw bersabda: “Barang siapa memberi takjil (makanan dan minuman) untuk berbuka pada orang yang berpuasa, maka baginya (pahala) sepadan pahalanya (orang yang berpuasa), tanpa mengurangi pahala orang yang berpuasa sama sekali” (Riwayat Ahmad dalam al-Musnad, at-Tirmidzi dalam bab Puasa, dan Ibnu Majah dalam bab Puasa). Rasulullah saw juga bersabda :
فمن فطر ستة وثلاثين صائما في كل سنة فكانما صام الدهر ومن كثر بفطر الصائمين على هذه النية كتب الله له صوم عصور ودهور.
“Maka barangsiapa memberi makanan pada 36 orang yang berpuasa setiap tahun, maka seakan-akan ia puasa satu tahun (karena kebaikan dilipatgandakan pahalanya sepuluh kali). Dan barang siapa memperbanyak memberi takjil atau makan dan minum orang-orang yang berpuasa atas dasar niat ini, Allah mencatat baginya puasa berabad-abad dan bertahun-tahun”.
Dan termasuk kemuliaan puasa adalah bahwa orang yang menjalankan (berpuasa) karena iman dan muhasabah, diampuninya dosa yang lalu. Rasulullah saw bersabda:
من قام رمضان ايمانا واحتسابا غفر له ما تقدم من ذنبه اخرجه مسلم  ٧٥٩ في صلاة المسافرين والبخاري ١٩٠١ في الصوم
“Barangsiapa menegakkan puasa aramadha. Karena iman dan introspeksi diri diampuni dosanya yang terdahulu” (Dikeluarkan oleh Muslim dan al-Bukhary).

Pasal 3: Adab atau Tata Krama Puasa.

Masih menurut Syeikh Izzuddin bun Abdisaalam, adab atau tata krama berpuasa ada enam:
1) Memelihara lisan dan anggota badan dari perselisihan. Rasulullah saw bersabda: “Barangsiapa tidak meninggalkan ucapan-ucapan dusta dan melakukannya, maka tidaklah ada bagi Allah kebutuhan untuk meninggalkan makan dan minumnya” (al-Bukhary 1903 bab Puasa). Artinya, puasanya sia-sia belaka. Sebagaimana Rasulullah saw bersabda :
رب قائم حظه من قيامه السهر ورب صائم حظه من صيامه الجوع والعطش رواه احمد والدارمي
“Banyak orang yang menegakkannya (puasa) tapi bagiannya dari menegakkannya adalah bangun malam (begadang), dan banyak orang yang berpuasa, tapi bagian dari puasanya adalah lapar dan haus” (Riwayat Ahmad dalam al-Musnad: 2/373, ad-Darimi 2720).

2) Apabila seseorang diundang pada jamuan makan, dan dia berpuasa, maka katakanlah : “saya puasa”, sabda Rasulullah saw :
اذا دعي احدكم الى طعام وهو صائم فليقل اني صائم رواه مسلم ١١٥٠
“Apabila seseorang dari kalian diundag pada jamuan makan, dan ia berpuasa, maka katakanlah : “Sesungguhnya aku puasa”. (Riwayat Muslim).
Ia menyebutkan demikian sebagai udzur atau alasan pada orang yang mengundang, agar tidak terluka hatinya. Maka apabila khawatir disebut riya’, sebutkankah alasan (udzur) lainnya, agar orang yang mengundang juga memahaminya.
3) Apa yang ia katakan ketika berbuka, yaitu apa yang diriwayatkan dari Nabi saw bahwa beliau bersabda ketika berbuka: “Hilanglah haus dan hilanglah keringat dan tetap dapat pahala, jika Allah menghendakinya” (Riwayat Abu Dawud).
Diriwayatkan juga bahwa beliau bersabda: “Ya Allah pada-Mu aku berpuasa, atas rizqi-Mu saya berbuka” (Dikeluarkan oleh Abdullah ibn al-Mubarak dan Abu Dawud).
Dalam hadits lain beliau bersabda: “Segala puji bagi Allah yang telah menolongku, maka aku berpuasa, dan memberi aku rizqi, maka aku berbuka” (Ibnu s-Siny).
4) Apa yang dikonsumsi saat berbuka, yaitu kurma basah (ruthab), kurma kering, atau air, karena diriwayatkan dari beliau saw berbuka sebelum shalat atas kurma basah. Jika tidak ada maka dengan kurma kering, dan jika tidak ada yang dirasakan, maka dengan meneguk air” (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi).
Beliau bersabda : “Jika salah seorang kalian berpuasa, maka berbukalah dengan kurma, jika tidak menemukannya, maka dengan air, karena sesungguhnya air itu adalah suci” (Abu Dawud, 2355, at-Tirmidzi 695).
5) Menyegerakan berbuka.
Rasulullah saw bersabda, bahwa Allah ‘Azza wa Jalla berfirman : “Hambaku yang paling Aku cintai adalah yang menyegerakan dalam berbuka” (Riwayat Ahmad, at-Tirmidzi).
Rasulullah saw bersabda : “Tidak henti-hentinya agama akan nampak, selagi manusia menyegerakan berbuka, karena orang-orang Yahudi dan Nashrani mengakhirkannya” (Riwayat Ahmad dan Abu Dawud).
‘Amr bjn Maimun mengatakan, “Sahabat Muhammad saw adalah yang paling menyegerakan berbuka dan melambatkan sahur” (Riwayat al-Baihaqi dan ath-Thabrani).
Sesungguhnya, diakhirkannya sahur asalah bertujuan agar lebih kuat dalam berpuasa, agar puasa itu membebaninya, dan melemahkan banyak hal ketaatan kepada-Nya. Sahurnya Rasulullah saw dan shalatnya adalah sekadar membaca 50 ayat (Riwayat al-Bukhari).
Akan halnya menyegerakan berbuka, karena lapar dan haus dapat menimbulkan madlarat. Maka tidak ada jalan untuk memperpanjang nafas untuk itu, juga tidak ada pendekatan itu.
Diriwayatkan sebagian orang penganut salaf  makan di pasar, maka dikatakan kepadanya dalam hal demikian, maka ia mengatakan : “مطل الغني ظلم  “.   Artinya : “Menundanya orang yang kaya (mampu) adalah aniaya” (Riwayat al-Bukhari dan Muslim).
6) Mengakhirkan sahur. Rasulullah saw : “Bersahurlah, karena dalam sahur itu ada keberkahan” (Riwayat al-Bukhari).
Terkadang ada orang yang merasa enggan untuk bangun dan makan sahur karena merasa dirinya kuat. Padahal dalam sahur ada banyak keberkahan. Rasulullah saw bersabda : “Tidak henti-hentinya manusia dalam kebaikan, selama ia menyegerakan berbuka” (Riwayat al-Bukhari).
Saudaraku, selamat menjalankan ibadah puasa. Semoga dengan kita memahami tatacara berpuasa yang benar, seperti yang dicontohkan Rasulullah saw, insyaa Allah kita menjadi lebih yakin, khusyu’, dan ikhlas dengan dasar keimanan dan muhasabah, maka kita akan merasakan kenikmatan di dalam berpuasa, meskipun secara fisik jasmani, kita pasti merasakan lapar dan haus.
Semoga kita juga mampu mempuasakan indra kita, syukur hati dan fikiran kita juga mampu kita puasakan juga. Kita semua berharap mendapatkan kebahagiaan saat berbuka, dan yang sungguh kita harapkan adalah saat kita bisa sowan dan berjumpa langsung dengan Allah.
اللهم انك عفو كريم تحب العفو فاعف عنا يا كريم
Allah a’lam bi sh-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.
Ngaliyan Semarang, 16/5/2018.

Check Also

ZONASI, MENTAL SKTM, DAN GENERASI MILLENIAL

Dua minggu terakhir ini, perhatian kita tersedot pada isu SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) orang tua akibat dari sistem rayonisasi atau zonasi penerimaan siswa baru pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) sekolah secara serentak di seluruh Indonesia. News.detik.com merilis (Sabtu,7/7/2018) bahwa 100 persen pendaftar yang lolos di SMK Negeri 1 Blora bermodal SKTM. Masih dalam versi detik.com (9/7/2018) merilis, bahwa  ada 78 ribu pendaftar sekolah di Jawa Tengah mengguakan SKTM Palsu. Persisnya 78.065 pendaftar menggunakan SKTM padahal mereka tergolong keluarga mampu. Ini kalau meminjam istilah “millenial”-nya, keluarga model mereka itu, “sumaker” alias maaf tidak enak, “sugih macak kere”.  Merespon berita ini, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo langsung melakukan “sidak” atau inspeksi mendadak, dan langsung mencoret mereka. Sementara yang mendaftar di SMA Negeri, yang menggunakan SKTM ada 62.456 orang, yang benar-benar tidak mampu ada 26.025 pendaftar. Di SMK Negeri, ada 86.436 pendaftar, yang menggunakan SKTM dan yang lolos 44.320 pendaftar. Tema yang sangat bagus, indah, dan strategis, di tengah makin “rusaknya” atau “parahnya” mentalitas miskin sebagian bangsa ini. Fakta dalam PPDB di atas yang menggunakan SKTM, mengungkit keprihatinan kita yang mendalam.  Jika data tribunnews.com yang dipakai, di mana 35.949 orang dari 62.456 orang menggunakan SKTM palsu, maka jika diprosentase ada sebanyak 57,55 % orang tua yang mendaftarkan anaknya dalam PPDB SMA di Jawa Tengah “lebih senang” mengaku miskin atau tidak mampu. Isu tersebut tidak bisa dianggap sepele, karena menyangkut mentalitas atau karakter. Di tengah semangat dan maraknya penguatan pendidikan karakter di masing-masing sekolah, Mendikbud dan Para Petinggi Negara ini, perlu mencari cara, metode, dan pendekatan untuk menanamkan kejujuran kepada peserta didik dan juga para orang tua. Memang tidak mudah sekarang ini, menanamkan kejujuran. Apalagi di tahun politik yang negara kita ini memilih demokrasi langsung atau one man one vote tau satu orang satu suara, berimplikasi pada makin “susahnya” menjadikan kejujuran sebagai prinsip yang harus dijunjung tinggi. Tampaknya ada banyak faktor yang menjadi penyebab. Pihak Sekolah dan Pemerintah Provinsi yang menjalankan aturan dari pusat, tidak bisa menolak dan mengelak dari kewajiban melaksanakan Sistem Zonasi yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Sistem Zonasi yang diatur melalui Peraturan Mendikbud No. 17/2017 dan berlaku mulai tahun ajaran 2017-2018. Salah satu pernyataan Mendikbud, dengan sistem zonasi, agar semua sekolah menjadi favorit, seakan memang bagus maksudnya. Akan tetapi kalau ditelusuri sesungguhnya ini menafikan dan malawan sunnatuLlah. Boleh jadi vulgarnya, “melawan taqdir”. Karena dunia kompetisi bagi peserta didik menjadi siswa yang berprestasi di sekolah unggul, belakangan ini akan dengan mudah tergusur dan tergeser oleh peserta yang membawa SKTM karena berada di zona sekolah tersebut. Bukan tidak baik, akan tetapi rasanya perlu dievaluasi lagi dan diperbaiki, agar tidak gaduh. Apakah sistem zonasi ini berlaku secara mutlak. Misalnya, sekolah-sekolah SMA yang selama ini difavoritkan masyarakat, akan tetapi berada di tengah-tengah kota di mana warganya sudah tua-tua sementara anak-anak atau cucu-cucunya sudah pindah ke luar kota atau luar daerah, dimungkinkan sekolah tersebut tidak akan menerima peserta didik sesuai dengan kuota yang ditentukan. Mengapa, pertama, karena dan ini sudah tampak nyata, terang benderang, bahwa sistem zonasi pengalaman pertama ini, melahirkan “hiruk-pikuk” munculnya SKTM Palsu. Bukankah jika RT, RW, dan Kelurahan mengeluarkan SKTM Palsu adalah tindakan pidana? Apakah RT, RW, dan Lurah harus menangung risiko dari mengeluarkan SKTM. SKTM-nya benar, akan tetapi “isinya” palsu. Nyatanya ketika mereka yang “palsu” dicoret, tentu setelah divisitasi dan diverifikasi oleh Tim melalui OTS (On The Spot) mereka tidak bisa atau tidak berani memprotesnya. Kedua, mentalitas “miskin” ini timbul, meskipun sebenarnya mereka yang 57,55%  adalah orang-orang yang tergolong mampu, namun mereka merasa “lebih nyaman” mengaku tidak mampu, adalah persoalan serius. Tentu perlu penelitian yang akurat, apakah mereka menggunakan SKTM yang isinya “palsu” karena memang mentalitasnya memang miskin, atau karena “penghargaan SKTM yang berlebihan, sehingga menggeser dan menggusur mereka yang secara intelektualitas lebih tinggi. Ketiga, para peserta didik yang mendaftar SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah sekarang ini, adalah generasi millenial yang sudah terbiasa transparan, terutama soal informasi jurnal pendaftaran sekolah. Memang ada yang belum terbiasa, apalagi mereka yang “maaf”, memiliki NEM yang tidak begitu bisa dibanggakan. Keempat, bagi kepala sekolah dalam menjalankan PPDB secara online di satu sisi merasa lebih nyaman, karena jurnal pun terbuka, tidak bisa ditutup-tutupi apalagi “dimainkan”. Akan tetapi sebagian masyarakat apakah itu para “tokoh” atau yang lainnya, terkadang masih belum bisa meninggalkan “budaya” titip dan “bilung” alias “bina lingkungan”. Semoga, mereka yang sempat mendapatkan SKTM namun dicoret karena kenyataannya memang mereka tergolong mampu, mereka akan sadar bahwa sesungguhnya mereka mampu atau “kaya”. Rasulullah saw mendidik, bahwa “orang kaya adalah bukan karena tumpukan harta, akan tetapi orang kaya adalah mereka yang mampu merasa cukup dan mensyukuri anugrah dan karunia Allah Tuhan Yang Maha Pemberi”. Sederhananya, kaya adalah “kaya hati”. Kepada para orang tua, yang sempat merasa menjadi “orang yang tidak mampu” melalui SKTM, bersyukurlah kepada Yang Memberi Rizqi, insyaa Allah, rizqi Anda akan ditambah. Anak-anak kita ang hidup di era millenial ini, membutuhkan kejujuran dan keteladanan kita sebagai orang tua. Allah a’lam bi sh-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *