Home / BERANDA / Buku

Buku

Tanggal 17 Mei 2018
Buku
Oleh: Ahmad Hasan Asy’ari Ulama’i

Tanggal 17 Mei diperingati sebagai hari Buku Nasional. Ada ungkapan, buku adalah gerbang ilmu, dengan membaca buku seseorang menjadi tambah pengetahuan dan dengan pengetahuannya, seseorang akan jauh lebih bijaksana dalam menyikapi berbagai hal.
Islam sendiri sejak awal telah mendorong umat melalui nabi Muhammad Saw untuk membaca, sekalipun saat itu belum ada buku, melainkan semua yang Allah telah ciptakan di alam semesta ini dapat dijadikan objek baca dengan alat baca yang cukup komplek dari Allah Swt, baik mata untuk membaca yang tampak, telinga untuk membuca bunyi-bunyian, hidung untuk membaca aroma, lidah untuk membaca rasa, kaki untuk membaca jarak dan seterusnya. Perhatikan surat al-Alaq ayat 1-5
اقْرَأْ بِاسْمِ رَبِّكَ الَّذِي خَلَقَ ﴿١﴾ خَلَقَ الْإِنسَانَ مِنْ عَلَقٍ ﴿٢﴾ اقْرَأْ وَرَبُّكَ الْأَكْرَمُ ﴿٣﴾ الَّذِي عَلَّمَ بِالْقَلَمِ ﴿٤﴾ عَلَّمَ الْإِنسَانَ مَا لَمْ يَعْلَمْ ﴿٥﴾
Bacalah dengan (menyebut) nama Tuhanmu Yang menciptakan, Dia telah menciptakan manusia dari segumpal darah. Bacalah, dan Tuhanmulah Yang Maha Pemurah, Yang mengajar (manusia) dengan perantaraan kalam. Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.
Bahkan Al-Qur’an sebagai kitab pedoman bagi umat manusia khususnya bagi yang mengimaninya berasal dari kata qara’a yaqra’u qur’anan yang berarti bacaan, dan karenanya pula sejak awal al-Qur’an telah dituliskan dan pada akhirnya dibukukan sebagai mushhaf bahkan terstandar pada era Usman bin Affan.
Sekalipun era teknologi informasi ini sedemikian gencarnya, namun buku tetap menjadi idola masyarakat akademik, karena membacanya jauh lebih nyaman dibandingkan dengan melihat ebook. Namun apapun anamanya, tetap saja buku namanya, apakah terbit menggunakan kertas maupun terbit dalam bentuk file maupun format online lainnya.
Yang terpenting setelah seseorang membaca buku, hendaknya mereka berusaha memahami, mengamalkan hingga mau mengajarkannya kepada yang lain, sebab jika tidak akan tergolong manusia yang disindir Allah dalam surat al-Jumu’ah ayat 5
مَثَلُ الَّذِينَ حُمِّلُوا التَّوْرَاةَ ثُمَّ لَمْ يَحْمِلُوهَا كَمَثَلِ الْحِمَارِ يَحْمِلُ أَسْفَاراً بِئْسَ مَثَلُ الْقَوْمِ الَّذِينَ كَذَّبُوا بِآيَاتِ اللَّهِ وَاللَّهُ لَا يَهْدِي الْقَوْمَ الظَّالِمِينَ ﴿٥﴾
Perumpamaan orang-orang yang dipikulkan kepadanya Taurat kemudian mereka tiada mampu menjaganya (membawakannya dalam kehidupan) adalah seperti keledai yang membawa kitab-kitab yang tebal. Amatlah buruknya perumpamaan kaum yang mendustakan ayat-ayat Allah itu. Dan Allah tiada memberi petunjuk kepada kaum yang zalim.
Sebagai mukmin, yang memulai puasa pada hari ini dan semalam hingga malam-malam berikutnya menghidup-hidupkan tradisi membaca al-Qur’an menghantarkan pembacanya kepada pemahaman atas bimbingan Allah tersebut serta sedia mengamalkan berikut mau mengajarkannya kepada yang lain, semoga Allah tambahkan ilmu dengan kita membacanya maupun membaca buku-buku lainnya.

Check Also

DARI MASJID UNTUK KEADILAN DAN KEDAMAIAN

Assalamualaikum wrwb. Alhamdulillah atas ijin Allah, saya dan jamaah di hari ketiga di Madinah, dalam …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *