Home / BERANDA / HAJI, PETUGAS, NIAT, DAN PENYUCIAN DIRI

HAJI, PETUGAS, NIAT, DAN PENYUCIAN DIRI

Oleh Ahmad Rofiq
Assalamualaikum wrwb.
      Mari kita terus bersyukur atas anugrah dan karunia Allah yang telah dan akan dilimpahkan pada kita. Hanya atas kasih sayang-Nya kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktifitas kita. Mari kita niatkan semua aktifitas kita sebagai ibadah, agar pahala dunia kita dapat dan di akhirat kita juga mendapatkan pahala. Shalawat dan salam mari kita senandungkan pada Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan para pengikut yang berkomitmen meneladani beliau. Semoga semua urusan kita diberi kemudahan oleh Allah, dan kelak di akhirat kita mendapatkan syafaat beliau.
       Saudaraku, insyaa Allah, atas penugasan Kepala Kanwil Kementerian Agama Provinsi Jawa Tengah, dukungan Pemimpin Pesantren As-Shodiqiyah Sawah Besar Semarang, dan tentu atas ijin rektor UIN Walisongo Semarang, saya diberi kesempatan oleh Allah mendampingi tamu-tamu Allah (dluyufu r-Rahman) menjadi salah satu Tim Pembimbing Ibadah Haji Indonesia (TPIHI) tahun 2018. Mulai hari Senin, 30/4/2018 yang malamnya bertepatan dengan malam nishfu Sya’ban, menjalani pelatihan secara terintegrasi bersama dengan seluruh anggota Tim Pemandu Haji Indonesia (TPHI), dan Tim Kesehatan Haji Indonesia (TKHI) sampai dengan 9/5/2018 di Asrama Haji Donohudan Boyolali.
       Saudaraku, mendapatkan kesempatan menjadi anggota Tim yang mendampingi jamaah haji, tentu secara bahasa manusia adalah pilihan atau hasil seleksi. Akan tetapi kiranya perlu ada pemahaman bahwa kesempatan itu dimaknai juga sebagai bagian dari anugrah dan karunia Allah sebagai momentum proses penyadaran diri, kesempatan untuk menyucikan diri dari berbagai “debu, residu, kotoran, dosa vertikal dan dosa horizontal” yang nyaris terus menerus memenuhi ruang fikiran, ruang batin, dan ruang hati kita, wa bil khusus, diri saya sendiri.
       Demikian juga, saudara-saudara saya yang tahun ini akan bertugas dan menjalankan ibadah haji, menjadi tamu-tamu Allah, ibadah haji adalah kesempatan untuk memutihkan hati, fikiran, dan batin kita, dari berbagai noda, dosa, debu, residu, dan bahkan karat yang telah terlalu lama mengendap dan melumuri diri kita semua. Seandainya noda, dosa, debu, dan karat yang melumuri diri kita itu ditampakkan oleh Allah, niscaya diri kita sudah tidak mampak lagi.
       Saudaraku, pada malam nishfu Sya’ban kita diberi kesempatan oleh Allah untuk diputihkan, melalui taubat nashuha, menghentikan segala macam kemaksiyatan, menyesali, dan bertekad untuk tidak mengulanginya lagi, dan memohon ampunan dan maghfirah kepada Allah ‘Azza wa Jalla, sebagaimana dijelaskan oleh Rasulullah saw :
ما من صوت أحب الى الله تعالى  الا من صوت عبد مذنب تاب الى الله تعالى فيـقول : لبيك يا عبدى سل ما تريد
“Tidak ada dari suara yang lebih dicintai oleh Allah Ta’ala kecuali dari suara seorang hamba yang berlumuran dosa, bertaubat (memohon ampunan kepada Allah Ta’ala”, maka Allah berfirman: “Aku penuhi permohonanmu wahai hamba-Ku ajukanlah permohonanmu apa yang kamu kehendaki”.
       Kalau malam ini kita semua bertaubat dan memohon maghfirah dan ampunan Allah, itu semoga kita masih memiliki kesadaran bahwa diri kita ini memang tidak atau belum bersih dan suci. Pada saat kita dan jamaah haji Indonesia diterima menjadi tamu Allah, khususnya kala kita sedang wuquf dan diterima oleh Allah SWT, sesungguhnya adalah prosesi penyucian diri kita di hadapannya.
        Ketika para hamba-Nya sedang berwukuf, Allah SWT membanggakannya di hadapan seluruh malaikat-Nya. Rasulullah saw menjelaskan : “Apabila ada seorang yang sedang wukuf di Arafah, Allah SWT turun ke langit dunia, dan berkata (kepada para malaikat): Lihatlah hamba-hamba-Ku itu, mereka datang kepada-Ku dari berbagai penjuru dengan tubuh penuh debu dan rambut kusam, saksikanlah bahwa Aku telah mengampuni dosa-dosa mereka, meskipun dosa-dosa mereka itu sebanyak bintang-bintang di langit atau sebanyak pasir di pesisir pantai. Jika seseorang dari mereka melempar jumrah, maka Allah akan memberinya pahala hingga Hari Kiamat kelak. Jika ia memotong rambutnya, maka pada setiap helai rambut yang jatuh dari kepalanya akan menjadi cahaya di Hari Kiamat kelak. Dan apabila mereka akhiri hajinya dengan thawaf (ifadhah), maka dia akan kembali suci layaknya seperti baru dilahirkan oleh ibu kandungnya” (HR. Ibnu Hibban).
       Saudaraku, karena itu sebagai petugas yang diberi amanat oleh negara, mari kita jadikan kesempatan ini untuk melayani tamu Allah, melindungi, dan menyenangkan serta memuaskan mereka, agar mereka dapat menjalankan ibadah hajinya dengan mudah, nyaman, dan mendapatkan haji mabrur.
       Di situlah insyaa Allah, pahala kita akan Allah berikan. Karena itu maka kita perlu meniatkan dengan kesungguhan dan komitmen untuk melayani tamu-tamu Allah. Kita akan juga ikut serta secara rendah hati, penuh ketawadluan dan ketadlarruan, menjadikan tugas mendampingi jamaah haji 2018 nanti, sebagai momentum untuk mampu mengenali diri kita sendiri, dari mana kita berasal, untuk tujuan apa diciptakan oleh Allah dan dijadikan khalifah-Nya di mjka bumi ini, dan hendak ke mana hidup di dunia ini akan bermuara.
       Kita sadari atau tidak, perjalanan kita ini akan sampai pada suatu titik, tinggal menunggu waktu dan saat yang tepat. Mengakhiri renungan ini, mari kita bersama mengingat warning dari Allah ‘Azza wa Jalla:
الذي خلق الموت والحيوة ليبلوكم ايكم احسن عملا وهو العزيز الغفور
“Yang menjadikan mati dan hidup, supaya Dia menguji kamu siapa di antara kamu yang lebih baik amalnya. Dan Dia Maha Perkasa lagi Maha Pengampun” (QS. Al-Mulk:2).
       Semoga kita nanti dapat mengemban amanat mulia dan tugas mendampingi ibadah haji tahun 2018 dengan ikhlas, demi melayani para tamu Allah, dan Allah memudahkan dan senantiasa memberkahi kita.
Allah a’lam bi sh-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.
Asrama Haji Donohudan, 1/5/2018.

Check Also

ZONASI, MENTAL SKTM, DAN GENERASI MILLENIAL

Dua minggu terakhir ini, perhatian kita tersedot pada isu SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) orang tua akibat dari sistem rayonisasi atau zonasi penerimaan siswa baru pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) sekolah secara serentak di seluruh Indonesia. News.detik.com merilis (Sabtu,7/7/2018) bahwa 100 persen pendaftar yang lolos di SMK Negeri 1 Blora bermodal SKTM. Masih dalam versi detik.com (9/7/2018) merilis, bahwa  ada 78 ribu pendaftar sekolah di Jawa Tengah mengguakan SKTM Palsu. Persisnya 78.065 pendaftar menggunakan SKTM padahal mereka tergolong keluarga mampu. Ini kalau meminjam istilah “millenial”-nya, keluarga model mereka itu, “sumaker” alias maaf tidak enak, “sugih macak kere”.  Merespon berita ini, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo langsung melakukan “sidak” atau inspeksi mendadak, dan langsung mencoret mereka. Sementara yang mendaftar di SMA Negeri, yang menggunakan SKTM ada 62.456 orang, yang benar-benar tidak mampu ada 26.025 pendaftar. Di SMK Negeri, ada 86.436 pendaftar, yang menggunakan SKTM dan yang lolos 44.320 pendaftar. Tema yang sangat bagus, indah, dan strategis, di tengah makin “rusaknya” atau “parahnya” mentalitas miskin sebagian bangsa ini. Fakta dalam PPDB di atas yang menggunakan SKTM, mengungkit keprihatinan kita yang mendalam.  Jika data tribunnews.com yang dipakai, di mana 35.949 orang dari 62.456 orang menggunakan SKTM palsu, maka jika diprosentase ada sebanyak 57,55 % orang tua yang mendaftarkan anaknya dalam PPDB SMA di Jawa Tengah “lebih senang” mengaku miskin atau tidak mampu. Isu tersebut tidak bisa dianggap sepele, karena menyangkut mentalitas atau karakter. Di tengah semangat dan maraknya penguatan pendidikan karakter di masing-masing sekolah, Mendikbud dan Para Petinggi Negara ini, perlu mencari cara, metode, dan pendekatan untuk menanamkan kejujuran kepada peserta didik dan juga para orang tua. Memang tidak mudah sekarang ini, menanamkan kejujuran. Apalagi di tahun politik yang negara kita ini memilih demokrasi langsung atau one man one vote tau satu orang satu suara, berimplikasi pada makin “susahnya” menjadikan kejujuran sebagai prinsip yang harus dijunjung tinggi. Tampaknya ada banyak faktor yang menjadi penyebab. Pihak Sekolah dan Pemerintah Provinsi yang menjalankan aturan dari pusat, tidak bisa menolak dan mengelak dari kewajiban melaksanakan Sistem Zonasi yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Sistem Zonasi yang diatur melalui Peraturan Mendikbud No. 17/2017 dan berlaku mulai tahun ajaran 2017-2018. Salah satu pernyataan Mendikbud, dengan sistem zonasi, agar semua sekolah menjadi favorit, seakan memang bagus maksudnya. Akan tetapi kalau ditelusuri sesungguhnya ini menafikan dan malawan sunnatuLlah. Boleh jadi vulgarnya, “melawan taqdir”. Karena dunia kompetisi bagi peserta didik menjadi siswa yang berprestasi di sekolah unggul, belakangan ini akan dengan mudah tergusur dan tergeser oleh peserta yang membawa SKTM karena berada di zona sekolah tersebut. Bukan tidak baik, akan tetapi rasanya perlu dievaluasi lagi dan diperbaiki, agar tidak gaduh. Apakah sistem zonasi ini berlaku secara mutlak. Misalnya, sekolah-sekolah SMA yang selama ini difavoritkan masyarakat, akan tetapi berada di tengah-tengah kota di mana warganya sudah tua-tua sementara anak-anak atau cucu-cucunya sudah pindah ke luar kota atau luar daerah, dimungkinkan sekolah tersebut tidak akan menerima peserta didik sesuai dengan kuota yang ditentukan. Mengapa, pertama, karena dan ini sudah tampak nyata, terang benderang, bahwa sistem zonasi pengalaman pertama ini, melahirkan “hiruk-pikuk” munculnya SKTM Palsu. Bukankah jika RT, RW, dan Kelurahan mengeluarkan SKTM Palsu adalah tindakan pidana? Apakah RT, RW, dan Lurah harus menangung risiko dari mengeluarkan SKTM. SKTM-nya benar, akan tetapi “isinya” palsu. Nyatanya ketika mereka yang “palsu” dicoret, tentu setelah divisitasi dan diverifikasi oleh Tim melalui OTS (On The Spot) mereka tidak bisa atau tidak berani memprotesnya. Kedua, mentalitas “miskin” ini timbul, meskipun sebenarnya mereka yang 57,55%  adalah orang-orang yang tergolong mampu, namun mereka merasa “lebih nyaman” mengaku tidak mampu, adalah persoalan serius. Tentu perlu penelitian yang akurat, apakah mereka menggunakan SKTM yang isinya “palsu” karena memang mentalitasnya memang miskin, atau karena “penghargaan SKTM yang berlebihan, sehingga menggeser dan menggusur mereka yang secara intelektualitas lebih tinggi. Ketiga, para peserta didik yang mendaftar SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah sekarang ini, adalah generasi millenial yang sudah terbiasa transparan, terutama soal informasi jurnal pendaftaran sekolah. Memang ada yang belum terbiasa, apalagi mereka yang “maaf”, memiliki NEM yang tidak begitu bisa dibanggakan. Keempat, bagi kepala sekolah dalam menjalankan PPDB secara online di satu sisi merasa lebih nyaman, karena jurnal pun terbuka, tidak bisa ditutup-tutupi apalagi “dimainkan”. Akan tetapi sebagian masyarakat apakah itu para “tokoh” atau yang lainnya, terkadang masih belum bisa meninggalkan “budaya” titip dan “bilung” alias “bina lingkungan”. Semoga, mereka yang sempat mendapatkan SKTM namun dicoret karena kenyataannya memang mereka tergolong mampu, mereka akan sadar bahwa sesungguhnya mereka mampu atau “kaya”. Rasulullah saw mendidik, bahwa “orang kaya adalah bukan karena tumpukan harta, akan tetapi orang kaya adalah mereka yang mampu merasa cukup dan mensyukuri anugrah dan karunia Allah Tuhan Yang Maha Pemberi”. Sederhananya, kaya adalah “kaya hati”. Kepada para orang tua, yang sempat merasa menjadi “orang yang tidak mampu” melalui SKTM, bersyukurlah kepada Yang Memberi Rizqi, insyaa Allah, rizqi Anda akan ditambah. Anak-anak kita ang hidup di era millenial ini, membutuhkan kejujuran dan keteladanan kita sebagai orang tua. Allah a’lam bi sh-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *