Home / BERANDA / LP

LP

Tanggal 27 April 2018
LP
Oleh: Ahmad Hasan Asy’ari Ulama’i

Tanggal 27 April diperingati sebagai hari Pemasyarakatan Indonesia. Dalam benak kita penyebutan hari pemasyarakatan identik membicarakan Lapas (lembaga pemasyarakatan) sebagai tempat pembinaan para narapidana yang awalnya lebih dikenal dengan penjara.
Lembaga Pemasyarakatan ini merupakan Unit yang ada di bawah Direktorat Jenderal Pemasyarakatan dalam Kementerian Hukum dan Hak Asasi Manusia, di dalamnya menampung narapidana (napi) atau WBP (Warga Binaan Pemasyarakatan) juga yang statusnya masih tahanan.
Dulu ada petugas yang melaksanakan pembinaan ini dengan sebutan sipir penjara, namun seiring perubahan nama dari penjara ke lembaga pemasyarakatan, maka dikenal pula Pembina di dalamnya sebagai Petugas Pemasyarakatan. Perubahan ini diusung Sahardjo sebagai Menteri Kehakiman tahun 1962 dalam rangka merubah lembaga ini bukan semata tempat hukuman melainkan upaya mengembalikan mereka kepada masyarakat. (https://id.wikipedia.org/wiki/Lembaga_Pemasyarakatan)
Istilah pemasyarakatn merupakan istilah yang lebih manusiawi sekalipun terhadap mereka yang telah hilang sisi kemanusiaannya, nilai-nilai ini sudah barang tentu merupakan keluhuran manusia yang membedakannya dengan makhluk lainnya.
Manusia dibekali Allah kemampuan untuk memperbaiki kondisi, ingat bahwa Rasulullah Saw sendiri pernah menyatakan bahwa manusia itu tempatnya salah, namun sebaik baik mereka adalah yang mau bertaubat. Lembaga pemasyarakatan merupakan wahana pertaubatan, dan taubat yang diakui Allah adalah taubatan nashuha, yaitu adanya penyesalan, pengakuan, penghentian dan perbaikan. Artinya inti orang yang bertaubat adalah adanya penyesalan atas dosa yang telah ia lakukan, namun harus diikuti dengan pengakuan kepada Allah atau kepada orang yang didhalimi untuk diberikan maaf (dalam konteks social siap menerima sanksi social sebagaimana ditempatkan dalam LP), juga dengan di tempatkan di LP tersebut ada penghentian baik saat di lembaga maupun seteah dikeluarkan, namun pada kahirnya seorang yang bertaubat bukanlah diam, melainkan mengisi hari-hari berikutnya dengan kebaikan, karena esensi taubat adalah kembali berada di jalan Allah, dan jalan Allah bukan diam tanpa melakukan apa-apa melainkan terus melakukan kebaikan.
Hadis yang dimaksud di atas adalah riwayat al-Hakim dalam al-Mustadrak-nya
عَنْ أَنَسِ بْنِ مَالِكٍ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ‏:‏ قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَآلِهِ وَسَلَّمَ كُلُّ بَنِي آدَمَ خَطَّاءٌ وَخَيْرُ الْخَطَّائِينَ التَّوَّابُونَ
Dari Anas bin Malik ra., ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: setiap keturunan Adam (manusia) pembuat salah, dan sebaik-baik mereka yang melakukan kesalahan adalah mereka yang mau bertaubat.
Selamat hari pemasyarakatan, semoga siapapun yang ada dalam binaan ini dapat kembali ke masyarakat yang sesungguhnya dengan laku yang lebih baik demikian pula warga yang di sekitarnya mampu melanjutkan proses pemasyarakatan yang lebih terbuka dibandingkan sebelumnya ke arah yang lebih manusiawi dan menuju ummat yang baik.

Check Also

MARCHING BAND, KEBHINNEKAAN, DAN NASIONALISME

Assalamualaikum wrwb. Hari Ahad, 21/10/2018 saya sebagai Ketua II membidangi Pendidikan Yayasan Pusat Kajian dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *