Home / BERANDA / MILAD UIN WALISONGO KE-48 : PEMUDA, DAN PENGUATAN KEBANGSAAN

MILAD UIN WALISONGO KE-48 : PEMUDA, DAN PENGUATAN KEBANGSAAN

Assalamualaikum wrwb.
Segala puji dan syukur hanya milik Allah. Mari kita ungkapkan syukur kita dengan melakukan muhasabah atau instrospeksi diri. Terlebih sebagai sivitas akademika UIN Walisongo yang Allah kehendaki kampusnya berada Semarang Jawa Tengah. Nama besar “Walisongo” perlu terus dijadikan sebagai inspirasi untuk mengungkit dan mengangkat intellectual curiousity untuk terus berkarya dan berkontribusi besar bagi negara dan bangsa Indonesia.
Di usianya yang ke-48, UIN yang semula IAIN Walisongo, masih tergolong usia yang belum cukup matang. Transformasi IAIN ke UIN baru berjalan tiga tahun, dengan struktur organisasi dan tata kelola yang baru, selain harus disyukuri juga menghadirkan tantangan besar, namun mulia. Kerja intelektual besar itu adalah sebagaimana ditetapkan menjadi nilai dasar atau value basic dalam visi UIN Walisongo menjadi Universitas Islam Riset Terdepan berbasis Kesatuan Ilmu untuk Kemanusiaan dan Peradaban.
Karena itu, seluruh sivitas akademika UIN Walisongo, tentu harus tetap terus bekerja keras meningkatkan kualitas kinerjanya secara lebih profesional, terukur secara akademik, berkesinambungan, dan tetap pada shirath al-mustaqim atau on the right track mengikuti rambu-rambu ajaran Islam yang rahmatan lkl ‘alamin. Yakni ajaran Islam yang moderat (wasathiyah), inklusif, toleran (tasamuh) secara terukur, adil, equal, dan persaudaraan yang tulus, demi masa depan Indonesia dan dunia yang lebih manusiawi, beradab, dan bermartabat.
Di tengah situasi politik yang cenderung sedikit memanas, karena bersamaan dengan tahun politik, akan digelarnya pemilu kepala daerah secara serentak di 177 daerah, termasuk 17 gubernur di seluruh Indonesia. UIN Walisongo dituntut mampu memberikan panduan, kajian ilmiah, dan solusi dalam menghadapi berbagai problema yang akan terus menerus muncul seiring dengan perkembangan sains dan teknologi.
Era digital yang cenderung menyisakan persoalan disrupsi budaya dalam masyarakat, membutuhkan panduan dan solusi cerdas agar masyarakat tidak kehilangan arah dan tujuan hidupnya, yang terus tetap berpijak pada posisi sebagai hamba Allah, khalifah-Nya, yang berkewajiban untuk mewujudkan ajaran Islam yang rahmatan lil alamin. Di sinilah, diversifikasi dan makin bertambahnya program studi dan konsentrasi kajian keilmuan di UIN Walisongo, diharapkan akan mampu memenuhi kebutuhan masyarakat.
Saudaraku, dalam acara Dies Natalis UIN Walisongo yang ke-48 ini, dihadiri Mengeri Pemuda dan Olah Raga, Imam Nahrawi yang memberikan “wejangan” kepada para mahasiswa khususnya, dan keluarga besar UIN Walisongo pada umumnya, untuk mempersiapkan diri dalam penguatan nilai-nilai kebangsaan atau nasionalisme ke-Indonesiaan. Kalimat yang populer dan dijadikan penyemangat adalah “hubbu l-wathan mina l-iman” atau “cinta tanah air adalah bagian dari iman”. Orang Saudi Arabia belakangan juga mengusung prinsip yang serupa “hubbu l-wathan fi qulubina” artinya “cinta tanah air di hati kita”. Karena itu lagu “Ya lal Wathan” menjadi “ikon” lagu penyemangat, untuk membangun sifat, karakter, dan sikap nasionalisme yang sangat kuat, demi membangun kemajuan masa depan bangsa dan Negara Indonesia.
Menpora  menyarankan agar ke depan UIN Walisongo siap menjadi “tuan rumah” festival paduan suara “Ya lal Wathan” tingkat nasional. Tantangan dan peluang untuk menjawab generasi muda masa depan yang siap menjadi pemimlin negeri ini. Termasuk siap menjadi menteri. Karena ternyata Sarjana Agama alumnus UIN Walisongo pun ternyata mampu, kompeten, dan sukses menjadi Menteri Pemuda dan Olah Raga.
Saudaraku, di tengah tantangan “memudarnya rasa nasionalisme” ke-Indonesiaan sebagian warga negara Indonesia ini, karena terobsesi dengan ideologi trans-nasionalisme, dan makin mengemukanya fundamentalisme sekuler, maka penyiapan dan penyemaian generasi muda yang kompeten, terampil, berdaya saing tinggi, dan berakhlaqul karimah, adalah suatu keniscayaan yang tidak bisa ditawar-tawar lagi.
“Syababuna l-yaum rijaluna l-ghad” artinya “generasi muda kita sekarang adalah generasi masa depan kita”. Generasi muda yang bisa atau “mampu” melanjutkan ke bangku kuliah di perguruan tinggi, menurut angka statistik, hanyalah kelompok 30-35 persen dari generasi muda lainnya. Merekalah yang akan menjadi agen perubahan di tengah berbagai tantangan kontemporer, dengan berbagai godaan dan ujian super berat, seperti narkoba berton-ton yang menggelontor negeri ini, yang sudah darurat narkoba, dan juga arus pemikiran liberal sekuler, bahkan prilaku yang liberal juga, yang makin hari makin merangsek negeri ini.
Karena itu, UIN Walisongo wajib dan harus tampil di garda depan, untuk terus menerus memberikan panduan dan inspirator bagi kemajuan generasi muda masa depan Indonesia. Bonus demografi sudah di depan mata, maka mahasiswa dan alumni UIN Walisongo harus siap setiap saat menjadi “imam” bagi perjalanan jamaah dan keluarga besar Indonesia ini. Semoga kita masih layak memperjuangkan asa terwujudnya baldatun thayyibatun wa Rabbun ghafur.
Selamat ulang tahun UIN Walisongo yang ke-48, semoga Allah memberkahi, dan mampu menghadirkan manfaat bagi bangsa dan negara Indonesia ini.
Allah a’lam bi sh-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.
Semarang Auditorium UIN Walisongo, 6/4/2018.

Check Also

Kartini

Tanggal 21 April 2018 Kartini Oleh: Ahmad Hasan Asy’ari Ulama’i Tanggal 21 April diperingati sebagai …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *