Home / BERANDA / Prasasti Harinjing

Prasasti Harinjing

Tanggal 25 Maret 2018
Prasasti Harinjing
Oleh: Ahmad Hasan Asy’ari Ulama’i

Tanggal 25 Maret 804 diparcaya para arkeolog sebagai tanggal ekuivalen dengan 11 suklapaksa bulan Caitra tahun 726 Saka yang tertulis pada Prasasti Harinjing A dengan isi bahwa para pendeta di daerah Culanggi memperoleh hak sima (tanah yang dilindungi dari pajak) atas daerah mereka karena telah berjasa membuat sebuah saluran sungai bernama Harinjing. Prasasti dengan tulisan aksara Jawa Kuno ini ditemukan di perkebunan Sukabumi, Desa Siman, Kecamatan Kepung, Kediri, Jawa Timur, (di sekitar punggung Gunung Kelud). (https://id.wikipedia.org/wiki/Prasasti_Sukabumi)
Prasasti merupakan sebuah torehan sejarah yang dapat dijadikan alat ukur peradaban manusia pada zamannya. Dalam bahasa Arab bekas atau torehan zaman biasa disebut atsar, yang dengannya pula generasi berikutnya dapat mengenali sejarah kehidupan masa silam. Berangkat dari silaturrahim antar zaman ini pula akan melahirkan rizki baru berupa pengetahuan bagi generasi berikutnya. Bukankah Rasulullah Saw pernah menyampaikan dalam riwayat al-Bukhari dan Muslim
عن أنس رضي الله عنه قال قال رسول الله صلى الله عليه وسلم مَن أحبَّ أن يُبسط له في رزقه، ويُنسأ له في أثره، فليَصل رحِمه
Dari Anas ra., ia berkata: Rasulullah Saw bersabda: siapa yang ingin dilapangkan rizki untuknya dan dikenang selalu peninggalannya (ada yang memaknai diperpanjang umurnya), maka bersilaturrahim-lah
Semangat hadis di atas adalah mendorong umat untuk memperbanyak kawan, tidak hanya bersahabat dengan hal-hal yang ada pada zamannya saja, melainkan dengan membangun persahabatan dengan masa lalu melalui peninggalan (atsar) para pendahulu yang telah mengukir sejarah dan peradabannya.
Dengan mempelajari hal-hal yang telah lalu, manusia zaman now dapat melakukan hal-hal yang lebih baik dari yang telah dilakukan para pendahulu, sekaligus torehan kita inipun akan dapat dikenali generasi mendatang sehingga akan terus berkembang rizki Allah berupa pengetahuan dan peradaban melalui silaturrahim antar zaman ini.
Kunci dari pelajaran prasasti Harinjing ini, ayo torehkan sejarah yang terbaik, suatu saat apa yang kita lakukan menjadi acuan atau sunnah bagi generasi berikutnya, ingat siapa yang menorehkan sunnah yang baik atau mengikuti sunnah yang baik akan diberikan nilai oleh Allah seperti pencetus sunnah tersebut, demikian pula sebaliknya jika kita menorehkan sunnah yang buruk, atau mengikuti sunnah yang buruk, maka kita juga mendapatkan dosa sebagaimana pencetus sunnah yang buruk tersebut., naudzu billah.

25 maret

Check Also

MARCHING BAND, KEBHINNEKAAN, DAN NASIONALISME

Assalamualaikum wrwb. Hari Ahad, 21/10/2018 saya sebagai Ketua II membidangi Pendidikan Yayasan Pusat Kajian dan …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *