Home / GAGASAN / Cak Nur

Cak Nur

Tanggal 17 Maret 2018
Nurcholish Madjid
Oleh: Ahmad Hasan Asy’ari Ulama’i
Tanggal 17 Maret 1939 merupakan hari lahirnya seorang cendekiawan muslim Indonesia Nurcholish Madjid di Jombang, Cendekia yang akrab dipanggil Cak Nur ini dikenal sejak mahasiswa, terutama saat aktif sebagai kader Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) dan menjadi Ketua Umum 2 periode, bahkan pikiran dasar HMI dalam mewujudkan cita-cita HMI tidak dapat dilepaskan dari Nilai Dasar Perjuangan (NDP) yang digagasnya.
Cak Nur pulalah yang memunculkan gagasan sekularisasi dan pluralism yang melahirkan kontroversial di masyarakat. Ia pernah menjabat Wakil Ketua Dewan Penasihat Ikatan Cendekiawan Muslim Indonesia (ICMI), juga Rektor Universitas Paramadina, sampai wafatnya yaitu tanggal 29 Agustus 2005,
Santri Daraul Ulum Rejoso Jombang juga Gontor Ponorogo ini melanjutkan studi S1di IAIN Jakarta, kemudian ia melanjutkan studinya di Amerika Serikat hingga meraih Doktor di Universitas Chicago. Terkait gagasan sekularisme dan pluralism-nya didasari konsep kebebasan menjalankan agama dengan tanggungjawab penuh atas pilihannya (https://id.wikipedia.org/wiki/Nurcholish_Madjid)
Cendekiawan selevel Cak Nur, saat ini belum muncul kembali, lebih-lebih dengan karya-karya monumental dalam bidang pengembangan pemikirann Islam. Pikiran Cak Nur digandrungi kalangan pemikir Islam di Indonesia dan mendorong lahirnya cendekia-cendekia baru, sekalipun belum selevel dirinya. Gagasan-gagasan beliau tidak dapat dilepaskan dari upaya membumikan nilai-nilai Islam dalam konteks keIndonesiaan yang berbhinneka tunggal ika ini.
Salah satu pikiran yang dominan adalah seruan kepada anak bangsa ini khususnya masyarakat muslim untuk bangkitkan pintu ijtihad dan menolak kejumudan dengan memahami keragaman yang ada di negeri ini serta mengajak kepada kalimah sawa, sebagaimana tertuang dalam Qs Ali Imran ayat 64
قُلْ يَا أَهْلَ الْكِتَابِ تَعَالَوْا إِلَىٰ كَلِمَةٍ سَوَاءٍ بَيْنَنَا وَبَيْنَكُمْ أَلَّا نَعْبُدَ إِلَّا اللَّهَ وَلَا نُشْرِكَ بِهِ شَيْئًا وَلَا يَتَّخِذَ بَعْضُنَا بَعْضًا أَرْبَابًا مِنْ دُونِ اللَّهِ ۚ فَإِنْ تَوَلَّوْا فَقُولُوا اشْهَدُوا بِأَنَّا مُسْلِمُونَ
Katakanlah: “Hai Ahli Kitab, marilah (berpegang) kepada suatu kalimat (ketetapan) yang tidak ada perselisihan antara kami dan kamu, bahwa tidak kita sembah kecuali Allah dan tidak kita persekutukan Dia dengan sesuatupun dan tidak (pula) sebagian kita menjadikan sebagian yang lain sebagai tuhan selain Allah”. Jika mereka berpaling maka katakanlah kepada mereka: “Saksikanlah, bahwa kami adalah orang-orang yang berserah diri (kepada Allah)
Apapun kontroversi yang timbul dari ide atau gagasannya, setidaknya ia telah berkontribusi bagi negeri Indonesia ini sejak era mempertahankan kemerdekaan hingga mengisinya dengan sesuatu yang mencerdaskan bagi masyarakat, khususnya kaum muslim yang khas Indonesia bukan ke arab-araban maupun ke barat-baratan, sekalipun semangat pembaruannya tidak dapat dielakkan dari pengalaman di Barat, tapi alam pikirnya alam salaf sesuai dengan disertasi yang digelutinya yaitu pemikiran Ibn Taimiyah. Semoga Allah mencata gagasannya sebagai jariyah ilmu dan menjadikannya sebagai ahli surga, amin.
17 maret

Check Also

Memberi

Tanggal 30 Mei 2018 Memberi Oleh: Ahmad Hasan Asy’ari Ulama’i Tanggal 30 Mei diperingati sebagai …

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *