Home / BERANDA / WISUDA ADALAH AWAL PENGEMBARAAN ILMU DAN MAKRIFAT (PENCARIAN JATI DIRI)

WISUDA ADALAH AWAL PENGEMBARAAN ILMU DAN MAKRIFAT (PENCARIAN JATI DIRI)

Assalamualaikum wrwb.
AlhamduliLlah wa sy-syukru liLlah. Segala puji dan syukur hanya milik Allah Yang Maha Mengetahui dan Maha Melihat. Mari kita memuji dan mensyukuri anugrah dan pertolongan Allah baik secara lisan, badan, maupun tindakan. Semoga Allah Sang Maha Bijaksana melimpahkan anugrah dan kasih sayang-Nya pada kita semua.
Shalawat dan salam mari kita lantunkan mengiringi Allah dan para Malaikat-Nya yang senantiasa bershalawat untuk junjungan kita Baginda Rasulullah Muhammad saw, keluarga, sahabat, dan pengikut yang setia dan istiqamah meneladani beliau. Semoga semua urusan kita dimudahkan oleh Allah, dan kelak di hari akhirat kita mendapat syafaat dari beliau.
Saudaraku, teristimewa para wisudawan dan wisudawati UIN Walisongo yang hari ini Rabu, 7/3/2018 tentu sangat berbahagia, karena Anda semua mampu menyelesaikan tahapan pengembaraan ilmu di kampus yang mengambil nama besar “Walisongo”. Para pendiri kampus UIN, dulunya IAIN, di tahun 1970, menyadari dan sekaligus bermimpi, bahwa Bangsa Indonesia dengan NKRI-nya, penduduknya bagian terbesar adalah menganut agama Islam. Agama yang diturunkan untuk mewujudkan kasih sayang bagi penghuni alam raya ini, Islam rahmatan lil ‘alamin. Para Wali yang menyebarkan dan mendakwahkan ajaran Islam yang terkenal dengan nama Walisongo atau Wali Sembilan, memilih metode, teknik, strategi, dan pendekatan damai, tidak konfrontatif, tetapi berkolaborasi dengan nilai dan kearifan lokal. Secara perlahan namun pasti, hal-hal atau aspek akidah yang masih dirasakan bernuansa syirik, diluruskan dan diislamkan secara perlahan, bertahap, dan mengutamakan harmoni. Karena itulah rambu, guidance, dan metode yang diajarkan oleh Rasulullah saw senantiasa menjadi referensi atau rujukan. Allah ‘Azza wa Jalla berfirman:

ادْعُ إِلَىٰ سَبِيلِ رَبِّكَ بِالْحِكْمَةِ وَالْمَوْعِظَةِ الْحَسَنَةِ ۖ وَجَادِلْهُم بِالَّتِي هِيَ أَحْسَنُ ۚ إِنَّ رَبَّكَ هُوَ أَعْلَمُ بِمَن ضَلَّ عَن سَبِيلِهِ ۖ وَهُوَ أَعْلَمُ بِالْمُهْتَدِينَ

“Serulah (mereka) ke jalan Tuhanmu dengan bijaksana (hikmah/wisdom) dan nasehat yang baik, dan bantahlah (berdebatlah) dengan cara yang itu lebjh baik. Sesungguhnya Tuhanmu, lebih mengetahui siapa yang sesat dari jalan-Nya, dan Dia lebih mengetahui hamba-hamba yang diberi petunjuk” (QS. An-Nahl:125).
Saudaraku, UIN Walisongo terus berikhtiar untuk mampu menerjemahkan nilai, misi, dan pencerahan yang diwariskan oleh “Walisongo” tersebut, dan mengaktualisasikannya agar serasi, munasabah, dan kompatibel dalam menjawab berbagai perubahan, tuntutan ruang dan waktu. Berdasarkan paradigma pemikiran para Walisongo itulah, UIN Walisongo mengelaborasi dalam visi menjadi “Universitas Islam Riset Terdepan berbasis Kesatuan Ilmu (unity of science) untuk Kemanusiaan dan Peradaban pada tahun 2038”.
Semua insan dan sivitas akademika UIN Walisongo sangat menyadari bahwa ikhtiar untuk “mewarisi” dan “mewariskan” keilmuan dan kearifan yang telah diletakkan oleh para “Walisongo” sungguh sangat berat namun sangat mulia. Banyak tantangan dan hambatan yang harus dihadapi, terlebih di saat-saat makin menguatnya arus pemikiran liberalisme di satu sisi dan juga makin “subur”-nya kecenderungan pemikiran dan gerakan radikalisme fundamentalisme dan radikalisme sekularisme.
Saudaraku yang dimuliakan Allah, utamanya para wisudawan dan wisudawati, Anda hari ini, secara formal telah mengakhiri tahapan studi. Bagi yang lulus D3, bersiaplah memasuki tantangan formasi kerja, yang sudah banyak diserbu pekerja asing, yang Sarjana S1, ada dua pilihan, mencari pekerjaan atau melanjutkan studi S2, bagi yang lulus Magister S2. Bagi Anda baru sampai di terminal dan kompetensi dasar jika ada peluang untuk menjadi dosen, dan bagi Anda sudah menyandang gelar doktor S3, bukan berarti pengembaraan ilmu Anda harus berakhir.
Saudaraku, wisuda hanyalah terminal, atau meminjam term tasawwuf, adalah maqamat atau etape spiritual yang harus dilewati guna mencapai tahapan menaik yang makin tinggi akan makin berat tantangan dan cobaan yang harus dilewati. Karena itu, sesungguhnya pencarian jati diri yang sesungguhnya atau “makrifat” untuk mengenali diri kita sendiri, adalah tahapan yang diharapkan dapat mengenali Allah. Dalam kitab al-Hawy li al-Fatawa dikemukakan:
من عرف نفسه فقد عرف ربه
“Barang siapa mengenali dirinya maka sungguh ia me genali Tuhannya”.
Menurut Imam al-Nawawy hadits tersebut tidak shahih. Ibnu Taimiyah menyebutnya hadits maudlu’. Akan tetapi al-Nawawy menjelaskan,
معناه من عرف نفسه بالضعف والافتقار إلى الله والعبودية له عرف ربه بالقوة والربوبية والكمال المطلق والصفات العلى
Artinya, “barang siapa mengenali dirinya atas kelemahan dan sangat membutuhkannya kepada Allah dan penghambaannya kepada-Nya, akan mengenali Tuhannya dengan kekuatan, ketuhanan, dan kesempurnaan yang mutlak (absolut, tanpa batas) dan sifat-sifat-Nya yang Tinggi”.
Mari kita belajar seperti pengalaman seorang Ulama Sufi ternama Abu Yazid al-Busthamy, seperti dirujuk oleh Syamsul Ma’arif (7/3/2018) – yang boleh jadi sudah makrifat sesuai namanya – yang menceritakan perjalanan dirinya sendiri. Kata al-Busthamy : “Waktu aku masih muda, aku revolusioner, dan berdoa “Ya Allah, beri aku kekuatan untuk mengubah dunia”. Kala aku memasuki separoh baya, aku sadar bahwa separoh perjalanan hidupku berlalu, tanpa mampu mengubah seorang pun. Aku berdoa, “Ya Allah, karniakan aku rahmat untuk mengubah semua orang yang datang kepadaku, keluarga, dan kawanku, agar aku merasa puas”. Saat usiaku memasuki tua, detik-detik kematianku mulai terasa dekat, aku sadar betapa bodohnya aku. Doaku sekarang satu-satunya adalah “Ya Allah, karuniakan rahmat-Mu agar aku mampu mengubah diriku sendiri”. Seandainya sejak dulu doaku kepada Allah demikian, tentu aku tidak begitu banyak menyia-nyiakan hidupku”.
Saudaraku, pelajaran berharga dari Abu Yazid al-Busthamy tersebut, tentu akan mampu merubah diri kita. Allah Tabaaraka wa Ta’aala berfirman:

لَهُ مُعَقِّبَاتٌ مِّن بَيْنِ يَدَيْهِ وَمِنْ خَلْفِهِ يَحْفَظُونَهُ مِنْ أَمْرِ اللَّهِ ۗ إِنَّ اللَّهَ لَا يُغَيِّرُ مَا بِقَوْمٍ حَتَّىٰ يُغَيِّرُوا مَا بِأَنفُسِهِمْ ۗ وَإِذَا أَرَادَ اللَّهُ بِقَوْمٍ سُوءًا فَلَا مَرَدَّ لَهُ ۚ وَمَا لَهُم مِّن دُونِهِ مِن وَالٍ

“Bagi manusia ada malaikat-malaikat yang selalu mengikutinya bergiliran, di muka dan di belakang ya, mereka menjaganya atas perintah Allah. Sungguhnya Allah tidak merubah keadaan sesuatu kaum sehingga mereka merubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri. Dan apabila Allah menghendaki keburukan terhadap sesuatu kaum, maka tak ada yang dapat menolaknya; dan sekali-kali tak ada pelindung bagi mereka selain Dia” (QS. Ar-Ra’d:11).
Karena itu, marilah Saudaraku, terus mencari dan mengembara mencari ilmu. Terlalu sedikit ilmu yang kita dapat dibanding ilmu Allah yang tak berbatas. Insyaa Allah apabila kita berjihad bersungguh-sungguh, Allah akan menunjukkan jalan-Nya (QS. Al-Ankabut:69). Mari kita warisi dan wariskan, ilmu yang kita dapat dari para wali, Walisongo, dan dari UIN Walisongo, semoga perjalanan dan pengembaraan keilmuan kita, meskipun sedikit, atau hanya satu ayat seperti pesan Rasulullah saw “بلغوا عني ولو اية “ akan mampu menambah perbekalan kita untuk mengenali jatidiri kita, demi untuk dapat mengenal atau “makrifat” kepada Allah.
Saudaraku, tentu ‘alim saja tidak cukup, tetapi ilmu yang kita dapat itu, harus diamalkan (‘amil) dan berproses menjadi penghamba (‘abid) kepada Allah, dan sadar akan keterbatasan diri kita sendiri. Semoga Allah senantiasa menolong kita untuk dapat mengenali diri kita sendiri, demi untuk mengenal-Nya. Karena di atas langit ada langit.
ومااوتيتم من العلم الا قليلا حسبنا الله ونعم الوكيل نعم المولى ونعم النصير ان اريد الا الاصلاح ما استطعت وما توفيقي الا بالله
Allah a’lam bi sh-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.

Check Also

ZONASI, MENTAL SKTM, DAN GENERASI MILLENIAL

Dua minggu terakhir ini, perhatian kita tersedot pada isu SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) orang tua akibat dari sistem rayonisasi atau zonasi penerimaan siswa baru pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) sekolah secara serentak di seluruh Indonesia. News.detik.com merilis (Sabtu,7/7/2018) bahwa 100 persen pendaftar yang lolos di SMK Negeri 1 Blora bermodal SKTM. Masih dalam versi detik.com (9/7/2018) merilis, bahwa  ada 78 ribu pendaftar sekolah di Jawa Tengah mengguakan SKTM Palsu. Persisnya 78.065 pendaftar menggunakan SKTM padahal mereka tergolong keluarga mampu. Ini kalau meminjam istilah “millenial”-nya, keluarga model mereka itu, “sumaker” alias maaf tidak enak, “sugih macak kere”.  Merespon berita ini, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo langsung melakukan “sidak” atau inspeksi mendadak, dan langsung mencoret mereka. Sementara yang mendaftar di SMA Negeri, yang menggunakan SKTM ada 62.456 orang, yang benar-benar tidak mampu ada 26.025 pendaftar. Di SMK Negeri, ada 86.436 pendaftar, yang menggunakan SKTM dan yang lolos 44.320 pendaftar. Tema yang sangat bagus, indah, dan strategis, di tengah makin “rusaknya” atau “parahnya” mentalitas miskin sebagian bangsa ini. Fakta dalam PPDB di atas yang menggunakan SKTM, mengungkit keprihatinan kita yang mendalam.  Jika data tribunnews.com yang dipakai, di mana 35.949 orang dari 62.456 orang menggunakan SKTM palsu, maka jika diprosentase ada sebanyak 57,55 % orang tua yang mendaftarkan anaknya dalam PPDB SMA di Jawa Tengah “lebih senang” mengaku miskin atau tidak mampu. Isu tersebut tidak bisa dianggap sepele, karena menyangkut mentalitas atau karakter. Di tengah semangat dan maraknya penguatan pendidikan karakter di masing-masing sekolah, Mendikbud dan Para Petinggi Negara ini, perlu mencari cara, metode, dan pendekatan untuk menanamkan kejujuran kepada peserta didik dan juga para orang tua. Memang tidak mudah sekarang ini, menanamkan kejujuran. Apalagi di tahun politik yang negara kita ini memilih demokrasi langsung atau one man one vote tau satu orang satu suara, berimplikasi pada makin “susahnya” menjadikan kejujuran sebagai prinsip yang harus dijunjung tinggi. Tampaknya ada banyak faktor yang menjadi penyebab. Pihak Sekolah dan Pemerintah Provinsi yang menjalankan aturan dari pusat, tidak bisa menolak dan mengelak dari kewajiban melaksanakan Sistem Zonasi yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Sistem Zonasi yang diatur melalui Peraturan Mendikbud No. 17/2017 dan berlaku mulai tahun ajaran 2017-2018. Salah satu pernyataan Mendikbud, dengan sistem zonasi, agar semua sekolah menjadi favorit, seakan memang bagus maksudnya. Akan tetapi kalau ditelusuri sesungguhnya ini menafikan dan malawan sunnatuLlah. Boleh jadi vulgarnya, “melawan taqdir”. Karena dunia kompetisi bagi peserta didik menjadi siswa yang berprestasi di sekolah unggul, belakangan ini akan dengan mudah tergusur dan tergeser oleh peserta yang membawa SKTM karena berada di zona sekolah tersebut. Bukan tidak baik, akan tetapi rasanya perlu dievaluasi lagi dan diperbaiki, agar tidak gaduh. Apakah sistem zonasi ini berlaku secara mutlak. Misalnya, sekolah-sekolah SMA yang selama ini difavoritkan masyarakat, akan tetapi berada di tengah-tengah kota di mana warganya sudah tua-tua sementara anak-anak atau cucu-cucunya sudah pindah ke luar kota atau luar daerah, dimungkinkan sekolah tersebut tidak akan menerima peserta didik sesuai dengan kuota yang ditentukan. Mengapa, pertama, karena dan ini sudah tampak nyata, terang benderang, bahwa sistem zonasi pengalaman pertama ini, melahirkan “hiruk-pikuk” munculnya SKTM Palsu. Bukankah jika RT, RW, dan Kelurahan mengeluarkan SKTM Palsu adalah tindakan pidana? Apakah RT, RW, dan Lurah harus menangung risiko dari mengeluarkan SKTM. SKTM-nya benar, akan tetapi “isinya” palsu. Nyatanya ketika mereka yang “palsu” dicoret, tentu setelah divisitasi dan diverifikasi oleh Tim melalui OTS (On The Spot) mereka tidak bisa atau tidak berani memprotesnya. Kedua, mentalitas “miskin” ini timbul, meskipun sebenarnya mereka yang 57,55%  adalah orang-orang yang tergolong mampu, namun mereka merasa “lebih nyaman” mengaku tidak mampu, adalah persoalan serius. Tentu perlu penelitian yang akurat, apakah mereka menggunakan SKTM yang isinya “palsu” karena memang mentalitasnya memang miskin, atau karena “penghargaan SKTM yang berlebihan, sehingga menggeser dan menggusur mereka yang secara intelektualitas lebih tinggi. Ketiga, para peserta didik yang mendaftar SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah sekarang ini, adalah generasi millenial yang sudah terbiasa transparan, terutama soal informasi jurnal pendaftaran sekolah. Memang ada yang belum terbiasa, apalagi mereka yang “maaf”, memiliki NEM yang tidak begitu bisa dibanggakan. Keempat, bagi kepala sekolah dalam menjalankan PPDB secara online di satu sisi merasa lebih nyaman, karena jurnal pun terbuka, tidak bisa ditutup-tutupi apalagi “dimainkan”. Akan tetapi sebagian masyarakat apakah itu para “tokoh” atau yang lainnya, terkadang masih belum bisa meninggalkan “budaya” titip dan “bilung” alias “bina lingkungan”. Semoga, mereka yang sempat mendapatkan SKTM namun dicoret karena kenyataannya memang mereka tergolong mampu, mereka akan sadar bahwa sesungguhnya mereka mampu atau “kaya”. Rasulullah saw mendidik, bahwa “orang kaya adalah bukan karena tumpukan harta, akan tetapi orang kaya adalah mereka yang mampu merasa cukup dan mensyukuri anugrah dan karunia Allah Tuhan Yang Maha Pemberi”. Sederhananya, kaya adalah “kaya hati”. Kepada para orang tua, yang sempat merasa menjadi “orang yang tidak mampu” melalui SKTM, bersyukurlah kepada Yang Memberi Rizqi, insyaa Allah, rizqi Anda akan ditambah. Anak-anak kita ang hidup di era millenial ini, membutuhkan kejujuran dan keteladanan kita sebagai orang tua. Allah a’lam bi sh-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *