Home / BERANDA / MENYEMAI GENERASI YANG SANTUN DAN MENYAYANGI SESAMA

MENYEMAI GENERASI YANG SANTUN DAN MENYAYANGI SESAMA

Assalamualaikum wrwb.
Puji dan syukur hanya milik Allah Yang Maha Mencipta dan Menghidupi kita. Mari kita syukuri anugrah dan pertolongan-Nya. Hanya karena pertolongan-Nya kita sehat afiat dan masih menghirup udara dan oksigen dengan tanpa bayar. Sementara banyak saudara kita yang sedang berbaring di rumah sakit. Semoga dengan kita pandai bersyukur menjadikan hati kita terasa lebjh indah dan mampu merasakan kebahagiaan.
Shalawat dan salam mari kita terus lantunkan untuk sosok teladan, pembawa ajaran akhlaqul karimah, budi pekerti yang mulia, yang selalu menyayangi dan menghormati sesama, bahkan orang yang berbuat jahat, menghina, memfitnah dan beragama lain pun, tetap saja Beliau menghormati dan menyayanginya. Semoga kasih sayang Allah itu meluber pada keluarga beliau, sahabat, dan para pengikut yang setia meneladani beliau.
Saudaraku, beberapa hari yang lalu, kita dikejutkan oleh berita seorang siswa kelas XI SMAN 1 Torjun yang memukul kepala gurunya, yang mengakibatkan mati batang otaknya, dan akhirnya menghembuskan nafas yang terakhir. Laman tribunnews.com Jakarta memberitakan, “Seorang pelajar kelas XI di SMA N 1 Torjun, Sampang, berinisial MH diamankan aparat Polda Jawa Timur, pada Kamis (1/2/2018). MH diamankan karena menganiaya guru bernama Ahmad Budi Cahyono, salah satu guru honorer di sekolah tersebut. “Akibat penganiayaan pelaku, korban meninggal setelah sempat dirawat dan koma di rumah sakit,” kata Kabid Humas Polda Jawa Timur Kombes Frans Barung Mangera, Jumat (2/2/2018). Ini tentu sangat menyedihkan dan memprihatinkan.
Beberapa hari sebelumnya, kompas.com menyebutkan, Polrestabes Semarang, Jawa Tengah, meringkus dua pelaku berinisial IB dan TA yang diduga membunuh sopir taksi online bernama Deny Setiawan (25). Deny ditemukan tewas pada Sabtu (20/1/2018) malam di wilayah Sambiroto, Kecamatan Tembalang. Menurut, Kapolrestabes Semarang Komisaris Besar Polisi Abiyoso Seno Aji, kedua pelaku ditangkap di kediamannya masing-masing pada Senin (22/1/2018) malam. Dua pelaku yang ditangkap yaitu IB, warga Lemahgempal, Kecamatan Semarang, dan TA, warga Kembangarum, Kecamatan Semarang Barat. Keduanya masih berusia 15 tahun dan masih duduk di salah satu SMK di Kota Semarang.
Untuk kasus yang menimpa sopir taksi online ini, saya sempat diwawancarai oleh Radio Republik Indonesia (RRI) Semarang, mengapa ada kecenderungan anak-anak muda begitu temperamental dan dengan mudah membunuh orang lain. Apalagi ada siswa yang begitu tega menganiaya gurunya yang berujung hingga tewas.
Saudaraku, banyak faktor yang mempengaruhi mengapa kenakalan anak itu muncul, bahkan hingga kebrutalan dan tega membunuh orang lain. Ada lagi yang juga cukup ironis, pembunuhan yang dilakukan oleh oknum terhadap beberapa tokoh agama di Jawa Barat, dan anehnya, ketika pelaku penganiayaan dan pembununan tertangkap, kok begitu cepat muncul berita di media, bahwa pelakunya terindikasi gila.
Sebagai bangsa besar, Bangsa Indonesia, yang sesungguhnya sangat menghargai nilai-nilai agama dan kemanusiaan, seharusnya kita – dan terutama para pemimpin bangsa ini – sangat malu. Mengapa terjadi dengan begitu mudahnya anak muda membunuh, murid memukul dan menganiaya gurunya, atau murid melaporkan gurunya kepada polisi, dan banyak kekerasan terjadi. Bisa ditambah daftar buruk lainnya, anak-anak muda yang tergabung salam “geng motor” yang dengan terang-terangan beramai-ramai merampas sepeda motor orang lain yang sejak berada di warung makan dan “merampok” toko dan lain sebagainya. Masih segar dalam ingatan kita, kasus pemukulan beramai-ramai anak sekolah yang mengakibatkan temannya meninggal dunia.
Saudaraku, secara pedagogis, kekerasan pada anak biasanya lahir dari akibat pendidikan dalam keluarga, lingkungan, dan budaya yang keras. Mulai dari tutur kata yang keras, orang tua yang selalu marah-marah, dan komunikasi pun berjalan secara tidak harmonis. Meskipun untuk mengetahui secara persis tentang faktor-faktor apa yang mempengaruhi pelaku yang bersangkutan, sampai tega melakukan kekerasan dan pembunuhan, perlu melibatkan ahli yang kompeten, baik dari aspek psikologis maupun aspek lainnya.
Karena itu, kalau belakangan pemerintah menggalakkan penguatan pendidikan karakter, kita semua perlu kembali melakukan pendidikan agama yang kuat. Diawali dari pendidikan keluarga, sekllah, lingkungan masyarakat, dan media baik cetak atau elektronik perlu kompak menayangkan atau memberitakan berita yang mendidik.
Pertama, kepada orang tua mari kita ajarkan akhlaqul karimah atau budi pekerti yang mulia anak-anak kita. Berilah mereka nafkah dari hasil rizqi yang halal, karena dari makanan yang halal akan melahirkan keberkahan. Sebaliknya makanan yang tidak halal, akan diikuti oleh syaitan yang cepat menjalar salam aliran darah, dan akan melahirkan sikap dan sifat syaithaniyah. Na’udzu biLlah.
Kedua, mari kita kenalkan dan ajak anak-anak kita shalat berjamaah di masjid, agar mereka terbiasa. Rasulullah saw memerintahkan :
روى أبو داود عَنْ عَمْرِو بْنِ شُعَيْبٍ عَنْ أَبِيهِ عَنْ جَدِّهِ قَالَ : قَالَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ : ( مُرُوا أَوْلادَكُمْ بِالصَّلاةِ وَهُمْ أَبْنَاءُ سَبْعِ سِنِينَ ، وَاضْرِبُوهُمْ عَلَيْهَا وَهُمْ أَبْنَاءُ عَشْرٍ ، وَفَرِّقُوا بَيْنَهُمْ فِي الْمَضَاجِعِ ) صححه الألباني في صحيح أبي داود .
Abu Dawud meriwayatkan dari ‘Amr bin Syu’aib dari bapaknya dari kakeknya berkata, Rasulullah saw bersabda : “Perintah atau ajarilah anak-anakmu mengerjakan shalat pada usia tujuh tahun, dan “beri pelajaran”-lah mereka jika sampai usia sepuluh tahun (belum mau mengerjakan shalat) dan pisahkanlah di antara mereka dalam tempat tidur”. Al-Albany menshahihkannya dalam Shahih Abu Dawud.
Shalat mengajari diri kita rendah hati, karena sesungguhnya shalat, ibadah, mati, dan hidup kita adalah semata untuk Allah. Seseorang akan melakukan shalat, ia harus mensucikan badan, pancaindra, dan hatinya, dari hadats besar dan kecil, harus berwudlu atau bertayammum, manakala tidak ada air atau karena berhalangan. Ajaran takbiratul ihram, ruku’, sujud, dan takhiyyat adalah persembahan dan dialog manusia dengan Allah dan menutup shalat dengan salam, adalah ikrar untuk menyayangi sesama, menghormati, membahagiakan semua orang yang ada di sebelah kanan dan kiri kita, tanpa melihat apapun profesi dan pangkatnya. Bahkan para leluhur kita yang menganut faham Ahlus Sunnah wal Jamaah, setelah salam, disambung dengan bersalaman atau bermushafahah, ini adalah simbol untuk saling memaafkan dan saling menyayangi. Meskipun ada yang mengatakan ini bid’ah, karena tidak ada tuntunan dari Rasulullah saw. Padahal Rasulullah saw mengajarkan, “jika ada dua orang Islam bertemu kemudian bermushafahah maka dosa keduanya diampuni oleh Allah, sebelum mereka berpisah”. (Riwayat Ahmad, Abu Dawud, dan at-Tirmidzi).
Ketiga, mari kita ajari dan biasakan anak-anak kita dan ajak bicara mereka dengan bahasa yang santun. Hindari sapa mereka dengan nama langsung, dalam bahasa Jawa disebut njangkar, sapaan yang dirasa kurang sopan. Para Kyai kalau menyapa putranya, “wahai anakku, wahai putraku, bahasa Arabnya “ya bunayya”, cung, le, ngger, ndhuk, cah ayu, dik, kak, dan lain sebagainya, adalah sapaan sopan dengan semangat penghormatan. Berbeda dengan “budaya” Barat, yang menyapa teman dengan nama langsung.
Saya pernah menyaksikan secara langsung, dulu waktu mahasiswa, “seorang suami memanggil istrinya dengan nama langsung, dan sebaliknya istri memanggil suaminya juga dengan nama langsung. Akhirnya, anaknya yang masih TK ketika memanggil bapak dan ibunya, juga langsung namanya”. Gunakan suara yang lembut, karena kelembutan itu pertanda kasih sayang.
Keempat, tanamkan kepada anak-anak kita untuk saling menyayangi, tolong menolong, dan saling menghormati. “Sayangi mereka, mereka akan menyayangimu”. “Sayangi orang-orang yang ada di bumi, maka Yang di Langit akan menyayangimu”. Rasulullah saw mengingatkan:
عن أبي هُرَيْرَةَ رَضِيَ اللَّهُ عَنْهُ قَالَ سَمِعْتُ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُولُ : حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ خَمْسٌ : رَدُّ السَّلَامِ وَعِيَادَةُ الْمَرِيضِ وَاتِّبَاعُ الْجَنَائِزِ وَإِجَابَةُ الدَّعْوَةِ وَتَشْمِيتُ الْعَاطِسِ. روى البخاري (1240) ومسلم (2162).
“Kewajiban orang Islam satu atas orang Islam (lainnya) ada lima : “Menjawab salam, menengok orang yang sakit, mengiringkan jenazah, menghadiri undangan, dan mendoakan orang yang bersin” (Riwayat al-Bukhary, hadits 1240, dan Muslim hadits 2162).

عَنْ أَبِي هُرَيْرَةَ أَنَّ رَسُولَ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ قَالَ : ( حَقُّ الْمُسْلِمِ عَلَى الْمُسْلِمِ سِتٌّ ) قِيلَ مَا هُنَّ يَا رَسُولَ اللَّهِ : قَالَ ( إِذَا لَقِيتَهُ فَسَلِّمْ عَلَيْهِ وَإِذَا دَعَاكَ فَأَجِبْهُ وَإِذَا اسْتَنْصَحَكَ فَانْصَحْ لَهُ وَإِذَا عَطَسَ فَحَمِدَ اللَّهَ فَسَمِّتْهُ وَإِذَا مَرِضَ فَعُدْهُ وَإِذَا مَاتَ فَاتَّبِعْهُ ) . ورواه مسلم (2162) أيضا.
Riwayat dari Abu Hurairah, sesungguhnya Rasulullah saw bersabda: “Kewajiban orang Islam atau orang Islam (lainnya) ada enam”. Dikatakan, apa itu wahai Rasulullah? Beliau bersabda : “Jika kamu berjumpa dengannya, maka ucapkanlah salam (doakan keselamatan) padanya, apabila ia mengundangmu, maka hadirilah, apabila ia meminta nasehat kepadamj, maka nasihatilah padanya, apabila ia bersin dan membaca Hamdalah (memuji kepada Allah), maka doakanlah semoga Allah memberi petunjuk padanya(tasmit), jika ia sakit, maka jenguklah, dan jika ia meninggal dunia maka ikutilah atau iringkanlah (ke pemakaman)” (Riwayat Muslim).
Semoga setelah kejadian yang sangat memprihatinkan itu, menjadi pelajaran berharga yang terakhir kali. Cukuplah kekerasan dan hilangnya nyawa secara sia-sia. Kiranya pemerintah bisa lebih meningkatkan ikhtiar untuk menciptakan kenyamanan dan ketenteraman dalam semua lingkungan pendidikan, keluarga, sekolah, dan masyarakat. Kekerasan tidak bisa diselesaikan dengan kekerasan. Karena kekerasan hanya akan melahirkan kekerasan baru.
Allah a’lam bi sh-shawab.
Wassalamu’alaikum wrwb.

Check Also

ZONASI, MENTAL SKTM, DAN GENERASI MILLENIAL

Dua minggu terakhir ini, perhatian kita tersedot pada isu SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) orang tua akibat dari sistem rayonisasi atau zonasi penerimaan siswa baru pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) sekolah secara serentak di seluruh Indonesia. News.detik.com merilis (Sabtu,7/7/2018) bahwa 100 persen pendaftar yang lolos di SMK Negeri 1 Blora bermodal SKTM. Masih dalam versi detik.com (9/7/2018) merilis, bahwa  ada 78 ribu pendaftar sekolah di Jawa Tengah mengguakan SKTM Palsu. Persisnya 78.065 pendaftar menggunakan SKTM padahal mereka tergolong keluarga mampu. Ini kalau meminjam istilah “millenial”-nya, keluarga model mereka itu, “sumaker” alias maaf tidak enak, “sugih macak kere”.  Merespon berita ini, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo langsung melakukan “sidak” atau inspeksi mendadak, dan langsung mencoret mereka. Sementara yang mendaftar di SMA Negeri, yang menggunakan SKTM ada 62.456 orang, yang benar-benar tidak mampu ada 26.025 pendaftar. Di SMK Negeri, ada 86.436 pendaftar, yang menggunakan SKTM dan yang lolos 44.320 pendaftar. Tema yang sangat bagus, indah, dan strategis, di tengah makin “rusaknya” atau “parahnya” mentalitas miskin sebagian bangsa ini. Fakta dalam PPDB di atas yang menggunakan SKTM, mengungkit keprihatinan kita yang mendalam.  Jika data tribunnews.com yang dipakai, di mana 35.949 orang dari 62.456 orang menggunakan SKTM palsu, maka jika diprosentase ada sebanyak 57,55 % orang tua yang mendaftarkan anaknya dalam PPDB SMA di Jawa Tengah “lebih senang” mengaku miskin atau tidak mampu. Isu tersebut tidak bisa dianggap sepele, karena menyangkut mentalitas atau karakter. Di tengah semangat dan maraknya penguatan pendidikan karakter di masing-masing sekolah, Mendikbud dan Para Petinggi Negara ini, perlu mencari cara, metode, dan pendekatan untuk menanamkan kejujuran kepada peserta didik dan juga para orang tua. Memang tidak mudah sekarang ini, menanamkan kejujuran. Apalagi di tahun politik yang negara kita ini memilih demokrasi langsung atau one man one vote tau satu orang satu suara, berimplikasi pada makin “susahnya” menjadikan kejujuran sebagai prinsip yang harus dijunjung tinggi. Tampaknya ada banyak faktor yang menjadi penyebab. Pihak Sekolah dan Pemerintah Provinsi yang menjalankan aturan dari pusat, tidak bisa menolak dan mengelak dari kewajiban melaksanakan Sistem Zonasi yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Sistem Zonasi yang diatur melalui Peraturan Mendikbud No. 17/2017 dan berlaku mulai tahun ajaran 2017-2018. Salah satu pernyataan Mendikbud, dengan sistem zonasi, agar semua sekolah menjadi favorit, seakan memang bagus maksudnya. Akan tetapi kalau ditelusuri sesungguhnya ini menafikan dan malawan sunnatuLlah. Boleh jadi vulgarnya, “melawan taqdir”. Karena dunia kompetisi bagi peserta didik menjadi siswa yang berprestasi di sekolah unggul, belakangan ini akan dengan mudah tergusur dan tergeser oleh peserta yang membawa SKTM karena berada di zona sekolah tersebut. Bukan tidak baik, akan tetapi rasanya perlu dievaluasi lagi dan diperbaiki, agar tidak gaduh. Apakah sistem zonasi ini berlaku secara mutlak. Misalnya, sekolah-sekolah SMA yang selama ini difavoritkan masyarakat, akan tetapi berada di tengah-tengah kota di mana warganya sudah tua-tua sementara anak-anak atau cucu-cucunya sudah pindah ke luar kota atau luar daerah, dimungkinkan sekolah tersebut tidak akan menerima peserta didik sesuai dengan kuota yang ditentukan. Mengapa, pertama, karena dan ini sudah tampak nyata, terang benderang, bahwa sistem zonasi pengalaman pertama ini, melahirkan “hiruk-pikuk” munculnya SKTM Palsu. Bukankah jika RT, RW, dan Kelurahan mengeluarkan SKTM Palsu adalah tindakan pidana? Apakah RT, RW, dan Lurah harus menangung risiko dari mengeluarkan SKTM. SKTM-nya benar, akan tetapi “isinya” palsu. Nyatanya ketika mereka yang “palsu” dicoret, tentu setelah divisitasi dan diverifikasi oleh Tim melalui OTS (On The Spot) mereka tidak bisa atau tidak berani memprotesnya. Kedua, mentalitas “miskin” ini timbul, meskipun sebenarnya mereka yang 57,55%  adalah orang-orang yang tergolong mampu, namun mereka merasa “lebih nyaman” mengaku tidak mampu, adalah persoalan serius. Tentu perlu penelitian yang akurat, apakah mereka menggunakan SKTM yang isinya “palsu” karena memang mentalitasnya memang miskin, atau karena “penghargaan SKTM yang berlebihan, sehingga menggeser dan menggusur mereka yang secara intelektualitas lebih tinggi. Ketiga, para peserta didik yang mendaftar SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah sekarang ini, adalah generasi millenial yang sudah terbiasa transparan, terutama soal informasi jurnal pendaftaran sekolah. Memang ada yang belum terbiasa, apalagi mereka yang “maaf”, memiliki NEM yang tidak begitu bisa dibanggakan. Keempat, bagi kepala sekolah dalam menjalankan PPDB secara online di satu sisi merasa lebih nyaman, karena jurnal pun terbuka, tidak bisa ditutup-tutupi apalagi “dimainkan”. Akan tetapi sebagian masyarakat apakah itu para “tokoh” atau yang lainnya, terkadang masih belum bisa meninggalkan “budaya” titip dan “bilung” alias “bina lingkungan”. Semoga, mereka yang sempat mendapatkan SKTM namun dicoret karena kenyataannya memang mereka tergolong mampu, mereka akan sadar bahwa sesungguhnya mereka mampu atau “kaya”. Rasulullah saw mendidik, bahwa “orang kaya adalah bukan karena tumpukan harta, akan tetapi orang kaya adalah mereka yang mampu merasa cukup dan mensyukuri anugrah dan karunia Allah Tuhan Yang Maha Pemberi”. Sederhananya, kaya adalah “kaya hati”. Kepada para orang tua, yang sempat merasa menjadi “orang yang tidak mampu” melalui SKTM, bersyukurlah kepada Yang Memberi Rizqi, insyaa Allah, rizqi Anda akan ditambah. Anak-anak kita ang hidup di era millenial ini, membutuhkan kejujuran dan keteladanan kita sebagai orang tua. Allah a’lam bi sh-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *