Home / BERANDA / “TAJAMNYA” LISAN “LUKANYA” TAK TEROBATI

“TAJAMNYA” LISAN “LUKANYA” TAK TEROBATI

Assalamualaikum wrwb.
Puji dan syukur hanya milik Allah. Mari kita syukuri anugrah dan karunia Allah yang tak terhingga. Hanya karena anugrah dan pertolongan-Nya, kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktifitas kita. Jangan lupa niatkan ibadah, karena kita ada di dunia ini, hanyalah untuk beribadah dan mengabdi kepada-Nya. Shalawat dan salam mari kita wiridkan mengiringi shalawat Allah dan para Malaikat-Nya pada Baginda Rasulullah Muhammad saw. Semoga kasih sayang Allah meluber kepada keluarga beliau, sahabat, dan para pengikut yang istiqamah meneladani beliau. Insyaa Allah semua urusan kita dimudahkan oleh Allah, dan di akhirat nanti kita mendapat syafaat dan perlindungan beliau.
Saudaraku, beberapa hari belakangan ini, viral di media sosial, “kemarahan” beberapa pimpinan ormas Islam di luar Nahdlatul Ulama (NU) dan Muhammadiyah, akibat terpicu oleh ceramah seorang pejabat lembaga yang mestinya mengayomi, melindungi, dan melayani masyarakat dan warga negara. Pasalnya, pejabat tersebut, begitu semangat ingin bekerjasama dari tingkat pusat, provinsi, kabupaten/kota, hingga kecamatan dengan kedua ormas Islam tersebut. Sampai di sini sebenarnya, masih bisa difahami. Akan tetapi ketika kemudian ada kalimat, “kita tidak perlu bekerjasama dengan ormas Islam lainnya, karena mereka mau merontokkan NKRI”.
Saudaraku, sebagai manusia biasa siapapun bisa keliru atau salah. Karena itu sekiranya itu bisa dimaafkan tentu akan lebih baik. Sabqu l-lisan atau “terpelesetnya lisan” dalam fatwa.islamweb.net disebut sebagai kesalahan atau kekeliruan yang termaafkan. Sesungguhnya terpelesetnya lisan sendiri adalah termasuk kekeliruan yang bisa dimaafkan, karena itu tidaklah dianggap, apa yang terjadi pada lisanmu dengan tanpa sengaja, walaupun secara lahiriyah memang dilarang karena tidak adanya kesengajaan. Rasulullah saw mengingatkan:
قال صلى الله عليه وسلم:إِنَّ اللَّهَ قَدْ تَجَاوَزَ عَنْ أُمَّتِي الْخَطَأَ، وَالنِّسْيَانَ، وَمَا اسْتُكْرِهُوا عَلَيْهِ. رواه ابن ماجه وغيره وصححه الألباني.
“Sungguh Rasulullah saw bersabda: “Sesungguhnya Allah melewatkan dari umatku : keliru (khatha’), lupa (nis-yan), dan apa yang seseorang karena dipaksa” (Riwayat Ibnu Majah dan lainnya, dan dishahihkan oleh Al-Albany).
Meskipun demikian dalam kenyataannya, memaafkan – yang menjadi indikator ketaqwaan seseorang – tidak mudah. Apalagi jika terpelesetnya lisan itu dilakukan oleh seorang pejabat besar dan bicara dalam kepentingan makro mengelola sebuah negara bangsa, sudah barang tentu berisiko sangat tinggi. Dalam bahasa anak muda sekarang “mulutmu harimaumu”. Bahasa santunnya, “lisan adalah jendela kepribadian dan hati seseorang”. Seseorang yang tutur katanya baik, maka sesungguhnya ia menggambarkan keadaan bahwa hatinya adalah baik.
Sebaliknya, lisan juga membawa manfaat yang sangat besar jika digunakannya secara benar. Lisan juga bisa menjadi indikator kualitas keberagamaan seseorang. Imam al-Bukhary dan Muslim meriwayatkan::
عَنْ أَبِي مُوسَى قَالَ سُئِلَ رَسُولُ اللَّهِ صَلَّى اللَّهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ أَيُّ الْمُسْلِمِينَ أَفْضَلُ قَالَ: مَنْ سَلِمَ الْمُسْلِمُونَ مِنْ لِسَانِهِ وَيَدِهِ [ متفق عليه ] Riwayat dari Abu Musa berkata, Rasulullah saw ditanya seseorang: “(Wahai Rasulullah) mana orang-orang Islam yang lebih utama?” Beliau bersabda: “Orang yang orang Islam (lainnya) merasa selamat (nyaman, tenteram) dari (tutur kata) lisannya dan (kekuasaan) tangannya” (Muttafaq ‘alaih).
Kisah berikut, kiranya perlu disimak secara saksama sebagai pelajaran yang sangat berharga. Suatu saat, Khalifah Harun Al-Rasyid sedang melaksanakan haji. Oleh pasukannya, – seperti para pejabat sekarang – semua tempat yang akan dilaluinya ditutup untuk jamaah lainnya. Pada saat Khalifah sedang melakukan sa’i (lari kecil) antara Shafa dan Marwah seorang diri, dan disaksikan ribuan jamaah, salah seorang dari mereka kepada ulama (Abdullah bin Abdul Aziz al-Amri):, “Wahai tuan guru, apakah benar seorang khalifah yang sedang ibadah, mencegah rakyatnya beribadah kepada Allah?”
Syeikh al-Amri menjawab: “Apakah kamu ingin aku mencegah kedzaliman ini, sementara kamu tidak berani melakukannya? Orang yang tidak mampu membela dan menegakkan kebenaran adalah syetan bisu”. Setelah itu, Abdullah Al-Amri berjalan ke tempat sa’i, tibalah di dekat bukit Shafa, saat itu khalifah baru saja tiba di situ. Berkatalah al-Amri dengan nada agak tinggi :, “Haruuun ….!” (tanpa menyebut jabatan khalifah). Mendengar suara keras itu, jamaah haji –termasuk khalifah– menengok ke arah sumber suara. Setelah khalifah Harun mengetahui siapa yang memanggilnya, segera beliau menjawab, “Labbaika ya amin.”
Syeikh al-Amri melanjutkan: “Naiklah ke bukit Shafa! Lihatlah ke Ka’bah, berapakah jumlah manusia di sana?” Khalifah menjawab: “Tidak ada yang bisa menghitungnya kecuali Allah”. Masih dengan nada tinggi Al-Amri melanjutkan: “Ketahuilah, setiap orang dari mereka akan diminta pertanggungjawaban oleh Allah atas dirimu dan seluruh rakyatmu. Lihatlah pada dirimu! Apakah pantas engkau perlakukan umat seperti ini? Kamu melaksanakan sa’i sendirian, sementara umatmu harus berhenti menahan diri”? Mendengar ucapan ulama tersebut, menangislah khalifah seraya mengakui kesalahannya yang dilakukan itu.
Saudaraku, kita dapat mengambil pelajaran bahwa lidah itu mempunyai peran yang sangat penting dalam menegakkan kebenaran. Dan benarlah pepatah “Lidah lebih tajam dari pedang”. Allah SWT memuji orang-orang yang mengaktifkan lidahnya untuk berda’wah.

وَمَنْ أَحْسَنُ قَوْلًا مِّمَّن دَعَا إِلَى اللَّهِ وَعَمِلَ صَالِحًا وَقَالَ إِنَّنِي مِنَ الْمُسْلِمِينَ

“Siapakah yang lebih baik perkataannya dari pada orang-orang yang menyeru kepada Allah, mengerjakan amal saleh dan berkata “Sesungguhnya aku termasuk orang-orang yang menyerah diri”. (QS. Fushshilat: 33).
Suatu saat Imam Abu Hamid al-Ghazali (1058-1111 M) bertanya kepada muridnya : “Apa ynag paling tajam di dunia ini?” Murid-murid beliau menjawab: “Pedang”. Al-Ghazali mengagakan dengan tutur bahasa yang halus dan tidak mau mengecewakan santri-santri beliau: “Jawaban kalian benar, tetapi ada yang lebih benar, bahwa yang paling tajam di dunia ini adalah lidah (lisan)”. Karena melalui lidah, manusia dengan mudahnya menyakiti hati dan melukai perasaan orang lain. Lidah dapat menyeret manusia ke dalam neraka.
Riwayat dari Abu Hurairah ra., Rasulullah saw. bersabda: “Barangsiapa beriman kepada Allah dan hari akhir, maka hendaklah ia berkata yang baik atau – kalau tidak dapat berkata yang baik -hendaklah ia berdiam diri” (Muttafaq ‘alaih). Dalam bahasa sehari-hari, “diam adalah emas”. Rasulullah saw dalam riwayat dari Sahl bin Sa’ad ra. juga menegaskan : “Barangsiapa yang dapat memberikan jaminan kepadaku tentang kebaikan apa yang ada di antara kedua tulang rahangnya – yakni mulut atau lidah – serta antara kedua kakinya – yakni kemaluannya – maka saya memberikan jaminan syurga padanya” (Muttafaq ‘alaih).
Saudaraku, lisan adalah bagian dari kehormatan kita. Marilah kita jaga baik-baik, karena dengan lisan kita, menjadi indikator apakah kita beriman kepada Allah dan hari akhir. Karena orang yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hanya akan berbicara dan bertutuer kata yang baik. Apabila tidak bisa bertutur kata yang baik, maka lebih baik diam. Karena diam itu adalah emas. Tentu akan lebih baik, apabila kita mampu menggunakan lisan kita untuk hal-hal yang lebih bermanfaat, maka kita bisa menggunakannya untuk berdzikir dan mengingat Allah di mana saja dan kapan saja, berdiri, duduk, dan berbaring. Dengan berdzikir hati kita menjadi nyaman san thuma’ninah. Allah SWT mengingatkan:

الَّذِينَ آمَنُوا وَتَطْمَئِنُّ قُلُوبُهُم بِذِكْرِ اللَّهِ ۗ أَلَا بِذِكْرِ اللَّهِ تَطْمَئِنُّ الْقُلُوبُ

“(Yaitu) orang-orang yang beriman dan hati mereka menjadi tenteram dengan mengingat Allah. Ingatlah, hanya dengan mengingat Allah-lah hati menjadi tenteram”.
Semoga Allah senantiasa melimpahi kita kebenihan hati, kejernihan fikiran, dan kefashihan lisan mampu menjaganya dari omongan dan ucapan yang tidak berguna. Mari kita jaga lisan kita, karena “tajamnya lisan, lukanya tidak terobati”. Meskipun bisa dimaafkan, namun tak terlupakan.

رب اشرح لي صدري ويسر لي امري واحلل عقدة من لساني يفقهوا قولي
Allah a’lam bi sh-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.

Check Also

ZONASI, MENTAL SKTM, DAN GENERASI MILLENIAL

Dua minggu terakhir ini, perhatian kita tersedot pada isu SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) orang tua akibat dari sistem rayonisasi atau zonasi penerimaan siswa baru pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) sekolah secara serentak di seluruh Indonesia. News.detik.com merilis (Sabtu,7/7/2018) bahwa 100 persen pendaftar yang lolos di SMK Negeri 1 Blora bermodal SKTM. Masih dalam versi detik.com (9/7/2018) merilis, bahwa  ada 78 ribu pendaftar sekolah di Jawa Tengah mengguakan SKTM Palsu. Persisnya 78.065 pendaftar menggunakan SKTM padahal mereka tergolong keluarga mampu. Ini kalau meminjam istilah “millenial”-nya, keluarga model mereka itu, “sumaker” alias maaf tidak enak, “sugih macak kere”.  Merespon berita ini, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo langsung melakukan “sidak” atau inspeksi mendadak, dan langsung mencoret mereka. Sementara yang mendaftar di SMA Negeri, yang menggunakan SKTM ada 62.456 orang, yang benar-benar tidak mampu ada 26.025 pendaftar. Di SMK Negeri, ada 86.436 pendaftar, yang menggunakan SKTM dan yang lolos 44.320 pendaftar. Tema yang sangat bagus, indah, dan strategis, di tengah makin “rusaknya” atau “parahnya” mentalitas miskin sebagian bangsa ini. Fakta dalam PPDB di atas yang menggunakan SKTM, mengungkit keprihatinan kita yang mendalam.  Jika data tribunnews.com yang dipakai, di mana 35.949 orang dari 62.456 orang menggunakan SKTM palsu, maka jika diprosentase ada sebanyak 57,55 % orang tua yang mendaftarkan anaknya dalam PPDB SMA di Jawa Tengah “lebih senang” mengaku miskin atau tidak mampu. Isu tersebut tidak bisa dianggap sepele, karena menyangkut mentalitas atau karakter. Di tengah semangat dan maraknya penguatan pendidikan karakter di masing-masing sekolah, Mendikbud dan Para Petinggi Negara ini, perlu mencari cara, metode, dan pendekatan untuk menanamkan kejujuran kepada peserta didik dan juga para orang tua. Memang tidak mudah sekarang ini, menanamkan kejujuran. Apalagi di tahun politik yang negara kita ini memilih demokrasi langsung atau one man one vote tau satu orang satu suara, berimplikasi pada makin “susahnya” menjadikan kejujuran sebagai prinsip yang harus dijunjung tinggi. Tampaknya ada banyak faktor yang menjadi penyebab. Pihak Sekolah dan Pemerintah Provinsi yang menjalankan aturan dari pusat, tidak bisa menolak dan mengelak dari kewajiban melaksanakan Sistem Zonasi yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Sistem Zonasi yang diatur melalui Peraturan Mendikbud No. 17/2017 dan berlaku mulai tahun ajaran 2017-2018. Salah satu pernyataan Mendikbud, dengan sistem zonasi, agar semua sekolah menjadi favorit, seakan memang bagus maksudnya. Akan tetapi kalau ditelusuri sesungguhnya ini menafikan dan malawan sunnatuLlah. Boleh jadi vulgarnya, “melawan taqdir”. Karena dunia kompetisi bagi peserta didik menjadi siswa yang berprestasi di sekolah unggul, belakangan ini akan dengan mudah tergusur dan tergeser oleh peserta yang membawa SKTM karena berada di zona sekolah tersebut. Bukan tidak baik, akan tetapi rasanya perlu dievaluasi lagi dan diperbaiki, agar tidak gaduh. Apakah sistem zonasi ini berlaku secara mutlak. Misalnya, sekolah-sekolah SMA yang selama ini difavoritkan masyarakat, akan tetapi berada di tengah-tengah kota di mana warganya sudah tua-tua sementara anak-anak atau cucu-cucunya sudah pindah ke luar kota atau luar daerah, dimungkinkan sekolah tersebut tidak akan menerima peserta didik sesuai dengan kuota yang ditentukan. Mengapa, pertama, karena dan ini sudah tampak nyata, terang benderang, bahwa sistem zonasi pengalaman pertama ini, melahirkan “hiruk-pikuk” munculnya SKTM Palsu. Bukankah jika RT, RW, dan Kelurahan mengeluarkan SKTM Palsu adalah tindakan pidana? Apakah RT, RW, dan Lurah harus menangung risiko dari mengeluarkan SKTM. SKTM-nya benar, akan tetapi “isinya” palsu. Nyatanya ketika mereka yang “palsu” dicoret, tentu setelah divisitasi dan diverifikasi oleh Tim melalui OTS (On The Spot) mereka tidak bisa atau tidak berani memprotesnya. Kedua, mentalitas “miskin” ini timbul, meskipun sebenarnya mereka yang 57,55%  adalah orang-orang yang tergolong mampu, namun mereka merasa “lebih nyaman” mengaku tidak mampu, adalah persoalan serius. Tentu perlu penelitian yang akurat, apakah mereka menggunakan SKTM yang isinya “palsu” karena memang mentalitasnya memang miskin, atau karena “penghargaan SKTM yang berlebihan, sehingga menggeser dan menggusur mereka yang secara intelektualitas lebih tinggi. Ketiga, para peserta didik yang mendaftar SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah sekarang ini, adalah generasi millenial yang sudah terbiasa transparan, terutama soal informasi jurnal pendaftaran sekolah. Memang ada yang belum terbiasa, apalagi mereka yang “maaf”, memiliki NEM yang tidak begitu bisa dibanggakan. Keempat, bagi kepala sekolah dalam menjalankan PPDB secara online di satu sisi merasa lebih nyaman, karena jurnal pun terbuka, tidak bisa ditutup-tutupi apalagi “dimainkan”. Akan tetapi sebagian masyarakat apakah itu para “tokoh” atau yang lainnya, terkadang masih belum bisa meninggalkan “budaya” titip dan “bilung” alias “bina lingkungan”. Semoga, mereka yang sempat mendapatkan SKTM namun dicoret karena kenyataannya memang mereka tergolong mampu, mereka akan sadar bahwa sesungguhnya mereka mampu atau “kaya”. Rasulullah saw mendidik, bahwa “orang kaya adalah bukan karena tumpukan harta, akan tetapi orang kaya adalah mereka yang mampu merasa cukup dan mensyukuri anugrah dan karunia Allah Tuhan Yang Maha Pemberi”. Sederhananya, kaya adalah “kaya hati”. Kepada para orang tua, yang sempat merasa menjadi “orang yang tidak mampu” melalui SKTM, bersyukurlah kepada Yang Memberi Rizqi, insyaa Allah, rizqi Anda akan ditambah. Anak-anak kita ang hidup di era millenial ini, membutuhkan kejujuran dan keteladanan kita sebagai orang tua. Allah a’lam bi sh-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *