Home / BERANDA / MENYIAPKAN GENERASI MILLENIAL INDONESIA PECINTA DAN PENGAMAL AL-QUR’AN

MENYIAPKAN GENERASI MILLENIAL INDONESIA PECINTA DAN PENGAMAL AL-QUR’AN

Assalamualaikum wrwb.
Gema Musabaqah Tilawatil Qur’an
Pancaran Ilahi
Cinta pada Allah, Nabi, dan Negara,
Wajib bagi kita,
Limpah ruah bumi Indonesia
Adil, makmur, sentausa
Baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur
Pasti terlaksana
Musabaqah tilawatil Qur’an
Wahyu kalam Tuhan
Pancasila sakti dasar Indonesia
Pujaan bangsaku
Gemah ripah tanah air kita
Aman, damai, sentausa
Baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur
Nusantara jaya
Musabaqah tilawatil Qur’an Jaya
Firman suci Tuhan
Pancasila sakti bagi kita semua
Indonesia Jaya
Tumpah ruah alam kaya raya
Bahagia semua,
Baldatun thayyibatun wa Rabbun Ghafur
Cita-cita kita.
Itulah Mars LPTQ, ciptaan Agus Sunaryo, yang berkumandang menyemangati upacara pembukaan, setelah lagu kebangsaan Indonesia. Lagu yang penuh dengan pesan religius dan nasionalisme ke-Indonesiaan dengan semangat dan panduan Al-Qur’an untuk menggapai terwujudnya negeri yang makmur gemah ripah loh jinawi, di bawah siraman ampunan dari Allah ‘Azza wa Jalla.
Segala puji milik Allah Yang Maha Kaya dan Terpuji. Mari kita syukuri semua anugrah dan karunia-Nya. Hanya dengan anugrah dan pertolongan Allah, kita sehat afiat dan dapat melaksanakan aktifitas kita. Semoga semua urusan kita dimudahkan oleh Allah. Shalawat dan salam mari kita senandungkan untuk Rasulullah Muhammad saw, keluarga, dan para sahabat. Semoga kebaikan beliau meluber kepada kita dan para pengikut setia yang berkomitmen untuk meneladani beliau. Beliau adalah uswatun hasanah (teladan yang baik) bagi kita umat beliau yang merindukan kehidupan yang bahagia dan diridhai Allah ‘Azza wa Jalla.
Saudaraku, Lembaga Pengembangan Tilawatil Qur’an (LPTQ) Provinsi Jawa Tengah menggelar even Musabaqah Tilawatil Qur’an (MTQ) Umum ke XXVII, 18-21 Desember 2017 di Asrama Haji Donohudan Boyolali Jawa Tengah. Tema yang diusung adalah melalui “MTQ kita tingkatkan kecintaan, pemahaman, dan pengamalan Al-Qur’an”, sekaligus sebagai even persiapan Kafilah Jawa Tengah dalam menghadapi MTQ Nasional XXVII yang akan digelar tahun 2018 di Medan Sumatra Utara.
Komitmen dan tekad LPTQ Jawa Tengah – setelah pada STQ tahun 2017 di Kalimantan Utara yang lalu melesat dari peringkat ke-8 ke peringkat ke-3, tentu moment MTQ Umum ini akan dijadikan sebagai ajang untuk menyeleksi para calon yang siap “berjuang” untuk bisa naik peringkat Ke-2 atau bahkan bisa menjadi Juara Umum pada MTQ Nasional tersebut. Semua keluarga besar LPTQ, Masyarakat, dan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah sangat menyadari bahwa bukan soal kejuaraan itu yang terpenting, akan tetapi keberkahan, manfaat, dan resonansi dari even MTQ untuk membangun kecintaan masyarakat terhadap Al-Qur’an adalah merupakan niatan dan tujuan yang terpenting. Dengan kecintaan terhadap Al-Qur’an, diyakini akan muncul generasi millenial Indonesia yang akan mampu memahami dengan baik kandungan dan tujuan Al-Qur’an diturunkan di muka bumi ini, agar mampu menjabarkan dan mengimplementasikan hidayah dan petunjuk Al-Qur’an dalam membangun pribadi, karakter, dan budaya masyarakat sesuai dengan peunjuk Al-Qur’an. Tentu, ini merupakan tugas yang teramat berat, namun mulia. Karena itu, kita semua dengan dukungan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, pekerjaan berat ini harus ditunaikan. Bahwa masih ada sebagian ulama yang boleh jadi kurang setuju, Al-Qur’an dimusabaqahkan, kita sama-sama bisa memahami dengan baik. Akan tetapi mashlahat, manfaat, dan resonansi dari pelaksanaan MTQ dan kumandang ayat-ayat Al-Qur’an, diharapkan akan membuka hati dan fikiran generasi muda millenial.
Generasi millenial sekarang ini, meski tidak seluruhnya, banhak yang disibukkan dengan smartphone, gadget, dan media sosial, yang bisa menyita waktu generasi muda kita. Apabila para pemimpin bangsa ini, para ulama dan ustadz, sampai terlena untuk mengawal dan memandu generasi muda, maka yang terjadi adalah tercerabutnya nilai-nilai religiusitas dan spirit Al-Qur’an dari kehidupan mereka. Ketika generasi millenial kita sudah terjauhkan dari nilai-nilai dan petunjuk Al-Qur’an, maka kita akan kehilangan suatu generasi yang boleh jadi prilakunya akan jauh juga dari petunjuk Al-Qur’an, mungkin yang berfikiran “liberal” dan serba permisif, LGBT boleh, kawin sesama jenis dianggap modern style, kumpul kebo dianggap lumrah, atau sebaliknya terjebak ke dalam jebakan ideologi “trans-nasional” yang melahirkan bibit-bibit radikalisme dan fundamentalisme, karena melupakan bimbingan tokoh teladan Rasulullah Muhammad saw. yang mengajarkan beragama secara tawasuth (moderat).
Saudaraku, kebetulan saya diamanati menjadi ketua dewan hakim cabang Musabaqah Makalah Al-Qur’an, untuk mengawal para peserta seberapa pemahaman ayat-ayat Al-Qur’an, hadits atau sunnah Rasulullah saw yang menjabarkan ayat-ayat yang relevan dengan isu yang ditulisnya, bagaimana sistematisasi pemikiran dan penguasaan merodologi mereka menyamikannya dalam nalar dan narasi berfikirnya. Mari kita renungkan bersama, rasanya hati ini menjadi “adem ayem” berada dalam suasana MTQ, namun begitu kita keluar dari suasana MTQ, kita menghadapi berbagai fenomena yang mengundang keprihatinan kita bersama. Di mana anak-anak muda kita, yang sebagian mungkin galau, prihatin, dan resah. Praktik-praktik korupsi yang dilakukan oleh para penjahat, koruptor, pencoleng, dan pengkhianat bangsa, yang dengan sistematis, bersekongkol dan berombongan telah merampas, menggelapkan, dan mengompas uang rakyat, dalam berbagai bentuk, modus, dan cara. Semoga fenomena negatif ini akan bisa sirna dan lenyap dari bumi Indonesia.
Saudaraku, khususnya generasi muda millennial yang sedang galau. Terlebih para orang tua yang sedang membimbing anak-anak yang sedang tumbuh dan mencari jati dirinya. Melalui pendidikan keluargalah kita tanamkan kepada anak-anak, pertama, perlunya pendidikan dan kedintaan kepada Al-Qur’an. Rasulullah saw berpesan: خيركم من تعلم القراءن وعلمه artinya “sebaik-baik kamu sekalian adalah orang yang belajar Al-Qur’an dan mengajarkannya (kepada orang lain)”.
Kedua, tanamkan pendidikan akhlak yang mulia (akhlaq al-karimah) yakni akhlak Al-Qur’an, dengan mempelajari, memahami, dan mengamalkan isinya. Al-Qur’an adalah petunjuk bagi umat manusia, agar bisa menapaki jalan yang lurus (الصراط المستقيم) demi meraih kebahagiaan sejati baik di alam fana di dunia ini maupun di alam baqa di akhirat nanti.
Ketiga, tanamkan sifat dan sikap cinta tanah air. NKRI asalah final, dengan Pancasila sebagai dasar negara. Kita isi NKRI kita ini dengan berjuang dan mengisinya dengan mengerjakan yang terbaik untuk bangsa ini.
Keempat, bangsa Indonesia ini harus tetap optimis, tidak ada kamus menyerah dan mengalah dengan berbagai kejahatan yang dilakukan oleh siapapun, baik individu apalagi yang mengatasnamakan lembaga. Kita dukung kesadaran, kegalauan anak-anak muda generasi millennial ini, untuk dapat menemukan jati diri mereka, bahwa pada saatnya Indonesia ini akan mendapatkan generasi emas, memiliki integritas pribadi dan moral yang kuat, tangguh, dan berakhlak terpuji, sehingga ketika mereka nanti menjadi pemimpin bangsa, benar-benar bersih dan mampu memberikan keteladanan.
Saudaraku, semoga kita sebagai orang tua, masih memiliki komitmen dan kesungguhan untuk menyiapkan generasi emas, yang memiliki dasar agama yang kuat, memahami Al-Qur’an, dan mengamalkannya, berakhlak mulia, berintegritas, tidak mudah tergoda oleh ujian materi duniawi yang kian merangsek ke dalam jantung kehidupan pribadi dan sosial kita. Kita musti peduli terhadap kegelisahan, kegalauan, dan keprihatiann generasi muda millennial kita, mereka merindukan masa depan Indonesia yang nyaman, adil, makmur, dan bebas koprupsi.
Allah a’lam bi sh-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.
Asrama Haji Donohudan, Boyolali, 18/12/2017.

Check Also

ZONASI, MENTAL SKTM, DAN GENERASI MILLENIAL

Dua minggu terakhir ini, perhatian kita tersedot pada isu SKTM (Surat Keterangan Tidak Mampu) orang tua akibat dari sistem rayonisasi atau zonasi penerimaan siswa baru pada Penerimaan Peserta Didik Baru (PPDB) sekolah secara serentak di seluruh Indonesia. News.detik.com merilis (Sabtu,7/7/2018) bahwa 100 persen pendaftar yang lolos di SMK Negeri 1 Blora bermodal SKTM. Masih dalam versi detik.com (9/7/2018) merilis, bahwa  ada 78 ribu pendaftar sekolah di Jawa Tengah mengguakan SKTM Palsu. Persisnya 78.065 pendaftar menggunakan SKTM padahal mereka tergolong keluarga mampu. Ini kalau meminjam istilah “millenial”-nya, keluarga model mereka itu, “sumaker” alias maaf tidak enak, “sugih macak kere”.  Merespon berita ini, Gubernur Jawa Tengah Ganjar Pranowo langsung melakukan “sidak” atau inspeksi mendadak, dan langsung mencoret mereka. Sementara yang mendaftar di SMA Negeri, yang menggunakan SKTM ada 62.456 orang, yang benar-benar tidak mampu ada 26.025 pendaftar. Di SMK Negeri, ada 86.436 pendaftar, yang menggunakan SKTM dan yang lolos 44.320 pendaftar. Tema yang sangat bagus, indah, dan strategis, di tengah makin “rusaknya” atau “parahnya” mentalitas miskin sebagian bangsa ini. Fakta dalam PPDB di atas yang menggunakan SKTM, mengungkit keprihatinan kita yang mendalam.  Jika data tribunnews.com yang dipakai, di mana 35.949 orang dari 62.456 orang menggunakan SKTM palsu, maka jika diprosentase ada sebanyak 57,55 % orang tua yang mendaftarkan anaknya dalam PPDB SMA di Jawa Tengah “lebih senang” mengaku miskin atau tidak mampu. Isu tersebut tidak bisa dianggap sepele, karena menyangkut mentalitas atau karakter. Di tengah semangat dan maraknya penguatan pendidikan karakter di masing-masing sekolah, Mendikbud dan Para Petinggi Negara ini, perlu mencari cara, metode, dan pendekatan untuk menanamkan kejujuran kepada peserta didik dan juga para orang tua. Memang tidak mudah sekarang ini, menanamkan kejujuran. Apalagi di tahun politik yang negara kita ini memilih demokrasi langsung atau one man one vote tau satu orang satu suara, berimplikasi pada makin “susahnya” menjadikan kejujuran sebagai prinsip yang harus dijunjung tinggi. Tampaknya ada banyak faktor yang menjadi penyebab. Pihak Sekolah dan Pemerintah Provinsi yang menjalankan aturan dari pusat, tidak bisa menolak dan mengelak dari kewajiban melaksanakan Sistem Zonasi yang ditetapkan oleh Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud). Sistem Zonasi yang diatur melalui Peraturan Mendikbud No. 17/2017 dan berlaku mulai tahun ajaran 2017-2018. Salah satu pernyataan Mendikbud, dengan sistem zonasi, agar semua sekolah menjadi favorit, seakan memang bagus maksudnya. Akan tetapi kalau ditelusuri sesungguhnya ini menafikan dan malawan sunnatuLlah. Boleh jadi vulgarnya, “melawan taqdir”. Karena dunia kompetisi bagi peserta didik menjadi siswa yang berprestasi di sekolah unggul, belakangan ini akan dengan mudah tergusur dan tergeser oleh peserta yang membawa SKTM karena berada di zona sekolah tersebut. Bukan tidak baik, akan tetapi rasanya perlu dievaluasi lagi dan diperbaiki, agar tidak gaduh. Apakah sistem zonasi ini berlaku secara mutlak. Misalnya, sekolah-sekolah SMA yang selama ini difavoritkan masyarakat, akan tetapi berada di tengah-tengah kota di mana warganya sudah tua-tua sementara anak-anak atau cucu-cucunya sudah pindah ke luar kota atau luar daerah, dimungkinkan sekolah tersebut tidak akan menerima peserta didik sesuai dengan kuota yang ditentukan. Mengapa, pertama, karena dan ini sudah tampak nyata, terang benderang, bahwa sistem zonasi pengalaman pertama ini, melahirkan “hiruk-pikuk” munculnya SKTM Palsu. Bukankah jika RT, RW, dan Kelurahan mengeluarkan SKTM Palsu adalah tindakan pidana? Apakah RT, RW, dan Lurah harus menangung risiko dari mengeluarkan SKTM. SKTM-nya benar, akan tetapi “isinya” palsu. Nyatanya ketika mereka yang “palsu” dicoret, tentu setelah divisitasi dan diverifikasi oleh Tim melalui OTS (On The Spot) mereka tidak bisa atau tidak berani memprotesnya. Kedua, mentalitas “miskin” ini timbul, meskipun sebenarnya mereka yang 57,55%  adalah orang-orang yang tergolong mampu, namun mereka merasa “lebih nyaman” mengaku tidak mampu, adalah persoalan serius. Tentu perlu penelitian yang akurat, apakah mereka menggunakan SKTM yang isinya “palsu” karena memang mentalitasnya memang miskin, atau karena “penghargaan SKTM yang berlebihan, sehingga menggeser dan menggusur mereka yang secara intelektualitas lebih tinggi. Ketiga, para peserta didik yang mendaftar SMA, SMK, dan Madrasah Aliyah sekarang ini, adalah generasi millenial yang sudah terbiasa transparan, terutama soal informasi jurnal pendaftaran sekolah. Memang ada yang belum terbiasa, apalagi mereka yang “maaf”, memiliki NEM yang tidak begitu bisa dibanggakan. Keempat, bagi kepala sekolah dalam menjalankan PPDB secara online di satu sisi merasa lebih nyaman, karena jurnal pun terbuka, tidak bisa ditutup-tutupi apalagi “dimainkan”. Akan tetapi sebagian masyarakat apakah itu para “tokoh” atau yang lainnya, terkadang masih belum bisa meninggalkan “budaya” titip dan “bilung” alias “bina lingkungan”. Semoga, mereka yang sempat mendapatkan SKTM namun dicoret karena kenyataannya memang mereka tergolong mampu, mereka akan sadar bahwa sesungguhnya mereka mampu atau “kaya”. Rasulullah saw mendidik, bahwa “orang kaya adalah bukan karena tumpukan harta, akan tetapi orang kaya adalah mereka yang mampu merasa cukup dan mensyukuri anugrah dan karunia Allah Tuhan Yang Maha Pemberi”. Sederhananya, kaya adalah “kaya hati”. Kepada para orang tua, yang sempat merasa menjadi “orang yang tidak mampu” melalui SKTM, bersyukurlah kepada Yang Memberi Rizqi, insyaa Allah, rizqi Anda akan ditambah. Anak-anak kita ang hidup di era millenial ini, membutuhkan kejujuran dan keteladanan kita sebagai orang tua. Allah a’lam bi sh-shawab.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *