Home / KOLOM DIREKTUR / BELAJAR SABAR DAN KESABARAN PADA NABI IBRAHIM AS

BELAJAR SABAR DAN KESABARAN PADA NABI IBRAHIM AS

Assalamualaikum wrwb.
Saudaraku, mari kita tidak henti mensyukuri anugrah dan karunia Allah yang sangat banyak, yang kita pasti tidak mampu menghitungnya. Karena kasih sayang Allah, hari ini kita sehat afiat dan dapat mengawali aktifitas hari ini dengan bermunajat kepada Allah. Semoga seluruh aktifitas kita, diberi kemudahan dan keberkahan oleh Allah dan bermanfaat bagi kita, keluarga, dan masyarakat pada umumnya.
Shalawat dan salam mari terus kita wiridkan untuk panutan kita Rasulullah saw, pembawa ajaran Islam, ajaran kedamaian, kesabaran, moderat, toleran, menghargai sesama manusia, apapun agama, suku, bahasa, dan golongannya. Semoga syafaat beliau kelak di akhirat akan melindungi kita-kita yang cinta dan berkomitmen meneladani beliau yang merulakan uswatun hasanah bagi hamba-hamba Allah yang merindukan Ridla-Nya dan kehidupan bahagia di akhirat.
Manusia ditugasi oleh Allah menjadi khalifah Allah di muka bumi. Tujuannya, untuk memakmurkan penghuninya. Karena itu, tugas mulia sebagai khalifah-Nya, adalah beriman kepada Allah, mengajak kebaikan dan mencegah kemungkaran dengan cara yang baik (makruf). Mengapa Allah menjelaskan bahwa sabar sampai perlu dijadikan sebagai bagian dari tugas manusia untuk saling berwasiat atau berpesan salam kesabaran.
Ada beberapa kali perintah dalam Al-Qur’an, di antaranya QS. Al-Baqarah:45, “Jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu. Dan sesungguhnya yang demikian itu sungguh berat, kecuali bagi orang-orang yang khusyu'”. QS. Al-Baqarah: 153 “Wahai orang-orang yang beriman jadikanlah sabar dan shalat sebagai penolongmu, sesungguhnya Allah beserta orang-orang yang sabar”. QS. Al-‘Ashr:3 “kecuali orang-orang yang beriman dan mengerjakan amal saleh dan nasehat menasehati supaya mentaati kebenaran san nasehat menasehati supaya menetapi kesabaran”.
Imam al-Ghazali mengatakan, “sabar adalah keteguhan hati dan fikiran dalam menjalankan perintah agama dalam menghadapi rongrongan hawa nafsu. Sabar merupakan kecenderungan hati pada unsur kebaikan (kemalaikatan) dalam diri manusia untuk mampu melawan dorongan nafsu syaitaniyah dan kebinatangan. Dalam KKBI, sabar artinya: 1. tahan menghadapi cobaan (tidak lekas marah, tidak lekas putus asa, tidak lekas patah hati); tabah: ia menerima nasibnya dng –; hidup ini dihadapinya dengan sabar; 2 tenang; tidak tergesa-gesa; tidak terburu nafsu: segala usahanya dijalankannya dengan sabar. Tidak kurang dari 90 kali kata sabar disebutkan salam Al-Qur’an dalam berbagai konteks, pengertian, dan kandungan maknanya.
Di saat 221.000 jamaah saudara kita dalam prosesi pemberangkatan haji ke tanah suci, menunggu saat-saat wuquf dengan sabar, menggugah renungan kita akan teladan Nabi Ibrahim dan Nabi Ismail alaihimassalam.
Setelah melewati hari tarwiyah Nabi Ibrahim as sempat gundah karena malamnya bermimpi mendapatkan perintah untuk menyembelih putranya Ismail as. Padahal Ismail adalah putra yang sangat dicintai karena Allah memberi keturunan kepada Nabi Ibrahim as dalam usia yang relatif sudah tua. Apakah mimpi ini adalah benar perintah wahyu atau hanya godaan syaitan? Pada malam tanggal 9 Dzulhijjah, mimpi serupa dialaminya lagi. Beliau menyembelih putranya Ismail as mimpi yang kedua kalinya. Ini mulai menimbulkan keyakinan dalam hati Nabi Ibrahim as bahwa perintah ini benar berasal dari Allah SWT.
Tanggal 9 Dzulhijjah disebut sebagai hari ‘Arafah artinya pemahaman atau pengetahuan. Nabi Ibrahim AS sudah memahami tentang kebenaran dan tujuan mimpinya. Akan tetapi, Nabi Ibrahim belum melaksanakan perintah dalam mimpinya tersebut. Pada malam tanggal 10 Dzulhijjah Nabi Ibrahim as. kembali mengalami mimpi serupa. Oleh karena mimpi ini telah tiga kali terjadi, maka besoknya (siang hari tanggal 10 Zulhijjah) Nabi Ibrahim AS memutuskan untuk melaksanakan mimpi tersebut setelah terlebih dahulu berdiskusi dengan anak dan isterinya.
Peristiwa tersebut direkam dalam QS. Ash-Shaffat :100-109 sebagai berikut. “Ya Tuhanku, anugrahkanlah kepadaku (seorang anak) yang termasuk orang-orang yang shalih. Maka Kami beri dia khabar gembira dengan seorang anak yang amat sabar. Maka tatkala anak itu sampai (pada umur sanggup) berusaha bersama-sama Ibrahim, Ibrahim berkata: Hai anakku, sesungguhnya aku melihat dalam mimpi bahwa aku menyembelihmu. Maka dikirkanlah apa pendapatmu? Ia menjawab: Hai bapakku, kerjakanlah apa yang diperintahkan kepadamu, insyaa Allah kamu akan mendapatiku termasuk orang-orang yang sabar. Tatkala keduanya telah berserah diri dan Ibrahim membaringkan anaknya atas pelipis(nya), (nyatalah kesabaran keduanya), dan Kami panggillah dia : Hai Ibrahim, sesungguhnya kamu telah membenarkan mimpi itu, sesungguhnya demikianlah Kami memberi balasan kepada orang-orang yang berbuat baik. Sesungguhnya ini benar-benar suatu ujian yang nyata. Dan Kami tebus anak itu dengan seekor sembelihan yang besar. Kami abadikan untuk Ibrahim itu (pujian hang baik) di kalanhan orang-orang yang datang kemudian, (yaitu) kesejahteraan dilimpahkan atas Ibrahim (QS. Ash-Shaffat:100-109).
Saudaraku, dari pengorbanan Nabi Ibrahkm as yang dengan ikhlas menjalankan perintah Allah, maka putranya Nabi Ismail as, siap menjalankan perintah Allah dengan sabar. Allah kemudian menyiapkan tebusan dengan hewan sembelihan yang besar. Dari sinilah, Idul Adlha kemudian ditetapkan sebagai Hari Raya Memperingat Kemenangan Nabi Ibrahim as menjalankan perintah Allah untuk mengorbankan sesuatu yang sangat dicintainya. Di sinilah pesan inti dan hakiki dari makna ketaqwaan seorang hamba kepada Allah Rabbul ‘Izzah. Karena taqwa adalah imtitsalu awamiriLlah wa ijtinabu nawahihi artinya “menjalankan perintah-perintah Allah dan menjauhi larangan-Nya”.
Saudaraku, karena itu bagi Anda yang berkemampuan, bersiaplah dan persiapkan berkorban dengan menyembelih seekor kambing atau seekor sapi untuk tujuh orang. Rasulullah saw mengingatkan:
مَنْ وَجَدَ سَعَةً فَلَمْ يُضَحِّ فَلَا يَقْرَبَنَّ مُصَلَّانَا وبيان علته
رواه أحمد في “المسند ” (16/ 466) والحاكم في المستدرك على الصحيحين (17/ 424)
“Barang siapa mendapatkan kelonggaran, maka ia tidak berkorban (menyembelih hewan kurban) maka janganlah ia mendekati tempat shalat kami” (Ahmad meriwayatkan dalam al-Musnad, dan al-Hakim dalam al-Mustadrak pada dua Shahih).
Dalam riwayat yang lain juga oleh Ahmad dan Ibnu Majah, Rasulullah saw bersabda:
من كان له سعة ولم يضح فلا يقربن مصلانا
“Barang siapa baginya ada kelonggaran dan tidak menhembelih kurban, maka jangankah mendekati tempat shalat kami”.
Pengorbanan manusia sebagai hamba untuk mematuhi perintah agama, membutuhkan kesabaran. Sabar dan kesabaran inilah yang meneguhkan hati untuk mematuhi perintah Allah dan Rasul-Nya. Dalam konteks inilah, ketika di hari nahar dan tasyriq nanti kita menyembelih hewan kurban, maka yang terpenting adalah sikap taqwa kita yang akan diterima oleh Allah bukan daging dan darah hewan.
Allah SWT menegaskan:
لَن يَنَالَ اللهَ لُحُومُهَا وَلَا دِمَاؤُهَا وَلَٰكِن يَنَالُهُ التَّقْوَىٰ مِنكُمْ كَذَٰلِكَ سَخَّرَهَا لَكُمْ لِتُكَبِّرُوا اللهَ عَلَىٰ مَا هَدَاكُمْ وَبَشِّرِ الْمُحْسِنِينَ
“Daging-daging unta dan darahnya itu sekali-kali tidak dapat mencapai (keridlaan) Aklah, tetapi ketaqwaan dari kamukah yang dapat mencapainya. Demikianlah Allah telah menundukkannya untjk kamu sulaya kamu mengagungkan Allah terhadap hidayah-Nya kepada kamu. Dan berilah kabar gembira kepada orang-orang yang berbuat baik” (QS. Al-Hajj: 37).
Semoga, kita semua diberi kekuatan oleh Allah SWT untuk senantiasa sabar dan memiliki kesabaran dalam menjalankan semua perintah Allah dan Rasul-Nya, karena agama mengatur dan memandu jalan hidup kita menuju kebahagiaan dunia dan akhirat. Kita jadikan sabar dan shalat sebagai penolong kita, karena Allah akan senantiasa menyertai hamba-hamba-Nya yang sabar.
Allah a’lam bi sh-shawab.
Wassalamualaikum wrwb.
Ngaliyan, Semarang, 7/8/2017.

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

*